SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
34. Bercanda


__ADS_3

Hari sudah beranjak sore saat Dimas mengirim pesan pada Ayana. Dimas mengatakan akan menunggu Ayana di simpang jalan tempat mereka berpisah kemarin. Ayana pun langsung mengambil barang-barangnya yang sudah di kemasnya tadi siang.


"Lan, aku mau pulang sekarang,"ujar Ayana memakai tas ranselnya.


"Mau pulang sekarang?"tanya Wulan.


"Iya.Besok kita ketemu di sekolah,"sahut Ayana.


"Aku antar sampai ke jalan raya, ya?"tawar Wulan yang tidak tega melihat Ayana membawa tas ranselnya yang isinya penuh dan menenteng sebuah kardus yang lumayan berat.


"Nggak usah, Lan! Aku jalan kaki, aja,"sahut Ayana yang tidak ingin Wulan tahu jika dirinya janjian bertemu dengan Dimas di persimpangan jalan.


Malu rasanya jika Wulan tahu dirinya sekarang tinggal dengan sales keliling yang sering diolok-olok nya sebagai SPd alias Sales Penjual daster. Belum lagi Ayana takut Wulan berprasangka macam-macam jika tahu Ayana tinggal bersama Dimas dan Toyib. Maklumlah, masyarakat pasti akan mengganggap dirinya bukan perempuan baik-baik jika tahu dirinya tinggal bersama dua pria yang notabene bukan siapa-siapa nya. Karena itu Ayana tidak mengatakan pada Wulan jika sebenarnya dirinya tinggal bersama Dimas dan Toyib.


"Jangan menolak! Lihat! Barang bawaan kamu banyak dan berat gitu. Mana tega aku membiarkan kamu jalan kaki sampai ke jalan raya,"ujar Wulan yang bersikeras mengantarkan Ayana. Tidak tega jika sahabatnya sampai kesusahan karena membawa barang bawaan yang berat.


"Ya sudah. Aku kirim pesan dulu sama kakakku, ya!"ujar Ayana yang ingin memberitahu Dimas jika dirinya akan diantar oleh Wulan sampai jalan raya. Akan sulit rasanya mencari alasan untuk menolak bantuan Wulan.


Ayana


Kak, Wulan memaksa mengantarkan aku sampai jalan raya


^^^Dimas^^^


^^^Ya sudah, nggak apa-apa. Aku tunggu kamu di jalan raya.^^^


Ayana


Kak, tolong jagan sampai Wulan tahu kalau aku tinggal bersama kakak dan bang Toyib, ya! Aku takut Wulan akan berpikir macam-macam tentang aku.


^^^Dimas^^^


^^^Iya, tenang saja! Aku dan Toyib akan merahasiakan hal ini. Nanti kamu duluan aja naik angkutan umum nya. Setelah itu baru aku menyusul. Biar Wulan tidak curiga.^^^


Ayana


Terimakasih, kak!


^^^Dimas^^^


^^^🤗^^^


Setelah berbalas pesan dengan Dimas, Ayana pun pamit pada Bu Lastri. Wulan pun mengantar Ayana ke jalan raya. Setelah sampai di jalan raya, Ayana nampak celingukan mencari Dimas. Hingga suara notifikasi di handphonenya berbunyi. Ayana pun segera melihat pesan yang masuk.


^^^Dimas^^^

__ADS_1


^^^Aku ada di sebelah kiri kamu. Pakai Hoodie warna hitam. Sebegitu kamu naik angkutan umum, aku akan menyusul.^^^


Ayana


Iya.


Ayana melihat sekilas seorang pria yang memakai Hoodie berwarna hitam berdiri tidak terlalu jauh dari nya. Ayana pun merasa lega.


"Ay, yang itu bukan, angkutan umum nya?"tanya Wulan menunjukkan mobil angkutan umum yang berwarna hijau.


"Iya,"sahut Ayana.


Ayana pun melambaikan tangannya pada angkutan umum itu. Wulan membantu Ayana membawakan kardus Ayana. Setelah Ayana masuk, Dimas pun menyusul Ayana masuk. Pria itu tidak membawa barang dagangan nya. Memakai Hoodie, menutup kepalanya dan memakai masker, sehingga Wulan tidak mengenali Dimas. Wulan melambaikan tangannya pada Ayana hingga mobil angkutan umum itu semakin jauh. Kemudian Wulan menaiki motor nya kembali ke rumah nya.


"Sini, biar tas kamu aku pangku,"ucap Dimas mengambil tas ransel yang ada di pangkuan Ayana.


"Kakak nggak bawa barang dagangan, kakak?"tanya Ayana yang duduk di sebelah Dimas.


"Aku takut kamu bawa banyak barang, karena itu aku nggak bawa barang dagangan. Tadi cuma nagih aja,"sahut Dimas.


Beberapa menit kemudian, mereka pun tiba di gerbang kampung tempat kontrakan Dimas. Dimas membawa tas ransel dan juga kardus yang dibawa oleh Ayana.


"Biar aku saja yang bawa kardus nya, kak,"ucap Ayana yang melihat Dimas sudah memakai tas ranselnya.


Di dalam masker yang dipakainya,. Ayana tersenyum bahagia mendapatkan perlakuan seperti itu dari Dimas.


"𝙎𝙖𝙮𝙖𝙣𝙜, 𝙙𝙞𝙖 𝙘𝙪𝙢𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣𝙜𝙜𝙖𝙥 𝙖𝙠𝙪 𝙖𝙙𝙞𝙠,"gumam Ayana dalam hati.


Ayana yakin, wanita yang menjadi istri Dimas nanti pasti akan sangat bahagia memiliki suami seperti Dimas. Pria yang dewasa, perhatian, penyayang, dan gentle menurut Ayana.


Orang yang mencintai mu adalah orang yang selalu kagum dengan semua kelebihan mu dan tidak pernah mempermasalahkan kekurangan mu. Karena cinta tidak mencari yang sempurna, tapi mencari yang bisa membuat kita merasa sempurna saat bersamanya. Karena dia melengkapi kekurangan kita. Begitu pula dengan kita yang melengkapi kekurangannya.


Tak lama kemudian keduanya pun tiba di rumah kontrakan Dimas. Ayana yang tidak membawa apa-apa pun segera membuka pintu dengan kunci yang diberikan Dimas.


"Akhirnya sampai juga,"ujar Ayana langsung duduk di kursi ruang tamu melepaskan penatnya.


Dimas meletakkan barang-barang Ayana di dalam kamar Ayana. Setelah itu Dimas mengambil air dingin dan dua buah gelas ke ruang tamu.


"Minumlah! Kamu haus, 'kan?"tanya Dimas menyodorkan segelas air dingin pada Ayana. Kemudian menuang air di gelas satunya lagi dan meminumnya.


"Terimakasih, kak!"ucap Ayana yang selalu terharu dengan perhatian Dimas. Pria itu begitu perhatian dan pengertian. Memberikan apapun yang diinginkan Ayana sebelum Ayana memintanya.


"Hei, gadis tengil! Akhirnya kamu pulang juga,"ucap Toyib yang baru saja pulang.


"Abang bawa apa?"tanya Ayana yang melihat Toyib membawa kantong berwarna hitam.

__ADS_1


"Buah mangga di belah dua. Jangan bangga jadi yang kedua!"ujar Toyib meletakkan kantong plastik yang ternyata isinya adalah buah mangga.


"Buah duku dari Palembang, ogah di madu, mending cari yang bujang,"sahut Ayana.


"Pinter juga kamu bikin pantun, Ay,"ujar Dimas tertawa kecil,"Oh ya, kamu ngambil jurusan apa, Ay?"tanya. Dimas.


"Ambil jurusan ke hati kak Dimas aja lah,"sahut Ayana kemudian memalingkan wajahnya yang memerah. Sedangkan Dimas nampak tersenyum canggung.


"𝙐𝙨𝙖𝙝𝙖 𝙗𝙪𝙖𝙩 𝙙𝙞𝙖 𝙟𝙖𝙩𝙪𝙝 𝙘𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙣𝙜𝙜𝙖𝙠 𝙖𝙥𝙖-𝙖𝙥𝙖, '𝙠𝙖𝙣? 𝙉𝙜𝙜𝙖𝙠 𝙙𝙤𝙨𝙖, '𝙠𝙖𝙣? 𝙏𝙤𝙝, 𝙗𝙚𝙡𝙪𝙢 𝙖𝙙𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙪𝙣𝙮𝙖. 𝙎𝙖𝙮𝙖𝙣𝙜, 𝙠𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙘𝙤𝙬𝙤𝙠 𝙨𝙚𝙨𝙚𝙢𝙥𝙪𝙧𝙣𝙖 𝙞𝙣𝙞 𝙣𝙜𝙜𝙖𝙠 𝙙𝙞 𝙚𝙢𝙗𝙖𝙩,"gumam Ayana dalam hati.


"Ciee.. cieee.. udah berani merayu, nih!"ledek Toyib kemudian terkekeh.


"Bercanda,"ujar Ayana menyengir bodoh, padahal dalam hatinya serius.


Setelah semua perhatian dan kebaikan Dimas padanya yang membuat dirinya baper, Ayana memutuskan untuk mendekati Dimas. Sayang, makhluk Tuhan yang bening dan perhatian kayak Dimas dilewatkan begitu saja. Tapi kalau Ayana mendekati Dimas secara terang-terangan, terus ditolak, 'kan jadi canggung jika tetap tinggal serumah. Sedangkan Ayana saat ini masih harus tetap tinggal di tempat ini agar bisa melanjutkan sekolahnya. Jadi, Ayana memutuskan untuk mendekati Dimas perlahan-lahan. Kita sebut saya pakai mode senyap. Membuat Dimas mencintai dirinya secara perlahan-lahan.


"Serius juga nggak apa-apa. Dari pada Dimas jadi Jodi, alias jomblo abadi,"sahut Toyib kemudian tertawa.


"Sialan, kamu, Yib!"ketus Dimas.


"Mana mungkin kak Dimas mau sama ABG kayak aku,"ujar Ayana kemudian terkekeh. Membuat rasa canggung Dimas agak berkurang.


"Jadi, kamu ambil jurusan apa?"tanya Dimas lagi. Menepis rasa canggung nya.


"IPS, kak. Kalau dulu tahu bakal begini, seharusnya aku masuk SMK saja. Biar setelah lulus bisa langsung siap kerja. Tapi, ya sudahlah. Nggak apa-apa. Sudah terlanjur,"ujar Ayana pasrah.


"Sekarang kelas berapa, Ay?"tanya Toyib.


"Naik kelas 12, bang,"sahut Ayana.


"Sebentar lagi lulus, dong? Langsung lamar aja, Dim!"ujar Toyib kemudian tertawa.


"Apaan sih, kamu ini, Yib? Asal nyablak aja itu mulut,"ketus Dimas kemudian pergi meninggalkan ruangan itu.


...🌟"Cinta juga butuh perjuangan dan pengorbanan. Bukan sekedar keberuntungan."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❤️🌸...


.


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2