
Hilda baru saja pulang dan segera membersihkan diri.Tidak lama setelah Hilda mandi, Geno pun pulang.
"Apa orang-orang yang kita suruh sudah menemukan anak badung itu?"tanya Geno seraya melepaskan jasnya.
"Belum, pa. Sudah beberapa kali orang-orang kita ke rumah orang yang bernama Parman itu, tapi anak itu tidak ada,"sahut Hilda yang duduk di pinggir ranjang menatap layar handphonenya.
"Beberapa kali si Noval menanyakan Ayana. Dia ingin mengajak Ayana pergi berkencan, tapi anak itu malah tidak ketemu sampai sekarang,"ujar Geno membuang napas kasar.
"Benarkah, pa? Noval ingin mengajak Ayana berkencan? Lalu papa bilang apa pada Noval? Papa tidak bilang kalau kita belum menemukan Ayana, 'kan?"tanya Hilda nampak fokus pada suaminya.
"Tentu saja tidak. Papa bilang kalau Ayana sedang liburan. Apa penilaian Noval terhadap kita jika dia tahu kalau kita tidak mengetahui keberadaan anak kita sendiri? Nama baik kita bisa tercoreng,"sahut Geno nampak kesal.
"Baguslah, kalau papa berkata seperti itu. Kita harus segera menemukan anak itu secepatnya. Sudah jelas Noval suka pada Ayana, jangan menyia-nyiakan kesempatan ini,"ujar Hilda antusias.
"Iya, ma. Noval ini lumayan kaya. Dan kekayaannya itu adalah miliknya pribadi. Beda dari kekayaan orang tuanya. Anak kita Nando saja belum memiliki kekayaan pribadi di usia sekarang ini. Uangnya habis untuk bermain wanita diluar sana,"ujar Geno menghela napas dalam.
"Dan punya tunangan pun dari kalangan orang tidak punya. Seharusnya dengan wajahnya yang tampan itu, dia bisa menggaet putri orang kaya. Tapi malah cari perempuan miskin,"ujar Hilda yang sebenarnya merasa kecewa dengan pilihan Nando.
Hilda ingin kedua anaknya menikah dengan orang kaya agar perusahaan mereka yang tidak terlalu besar itu bisa semakin berkembang dengan dukungan dari keluarga menantunya yang kaya. Tapi nyatanya Nando malah memilih gadis biasa yang menurut Hilda miskin. Sedangkan Ayana malah kabur dari rumah dan sampai saat ini belum diketahui dimana keberadaan nya.
"Kita tidak punya pilihan lain, selain merestui hubungan Geno dengan Bening. Mama tahu sendiri, sebelum berpacaran dengan Bening, Nando selalu gonta-ganti pacar. Bahkan bermain wanita di luar sana. Tapi semenjak pacaran dengan Bening, Nando tidak pernah lagi main wanita di luar sana. Bahkan lebih fokus di kantor karena ada Bening yang menjadi sekretarisnya,"ujar Geno memberi alasan kenapa merestui hubungan Nando dengan Bening yang hanya berasal dari keluarga kalangan menengah ke bawah.
"Ya sudahlah! Sekarang kita hanya bisa berharap mendapatkan menantu kaya dari Ayana,"sahut Hilda menghela napas panjang.
"Apa anak itu tidak menginap di rumah teman-temannya yang lain?"tanya Geno.
__ADS_1
"Mama sudah menyuruh anak buah kita untuk menyelidikinya. Tapi Ayana tidak ada di rumah teman-temannya yang lain yang pernah dia jadikan tempat menginap sebelumnya. Hanya di rumah Pak Parman itulah Ayana betah hingga sampai sekitar satu bulan tinggal di sana. Di tempat teman-temannya yang sebelumnya, Ayana hanya menginap selama satu malam saja,"sahut Hilda.
"Punya anak dua saja susah diatur. Untung Nando sekarang sudah bisa diharapkan. Mama seharusnya mendidik mereka dengan baik, agar mereka menjadi anak yang penurut. Tidak menjadi pembangkang seperti ini,"gerutu Geno yang terkesan menyalahkan Hilda.
"Loh, kenapa papa jadi menyalahkan mama? Mendidik anak itu bukan cuma tugas mama saja, tapi tugas kita berdua. Bukan papa saja yang sibuk, mama juga sibuk dengan butik mama. Bahkan mama jarang meminta uang dari papa. Mama menggunakan uang mama sendiri untuk keperluan mama,"cetus Hilda yang tidak terima disalahkan oleh Geno.
Geno dan Hilda sibuk mencari harta dan mengabaikan anak-anak mereka. Mereka menganggap uang adalah segalanya. Hanya uang lah yang bisa membuat mereka bahagia. Bisa membeli apa saja dan melakukan apa saja dengan memiliki uang. Mereka pikir memberikan uang pada anak-anak mereka sudah cukup. Tanpa berpikir untuk memberikan kasih sayang dan perhatian yang seharusnya mereka berikan.
***
Sudah satu minggu Ayana kembali menjalani aktivitas nya sebagai pelajar. Di antar jemput oleh seorang janda beranak dua.
"Kenapa kamu selalu memakai masker, topi, dan jaket setiap ke sekolah?"tanya Bu Nur sambil fokus melihat jalan yang mereka lalui. Bu Nur sudah lumayan akrab dengan Ayana karena selama satu minggu ini selalu mengantar dan menjemput Ayana.
Bu Nur melihat Ayana yang selalu memakai topi dan masker hingga yang terlihat dari bagian wajahnya hanya matanya saja. Memakai jaket yang panjangnya hampir mencapai lutut. Rok yang panjangnya di bawah lutut dan kaos kaki yang panjangnya sampai lutut. Hanya mata dan tangan saja dari bagian tubuh gadis itu yang tidak tertutup.
Bahkan sampai saat ini, setiap hujan turun Ayana masih ketakutan. Apalagi jika hujan nya di iringi angin, kilat dan petir. Ayana akan merasa sangat ketakutan. Untungnya Dimas yang mengetahui tentang trauma Ayana itu selalu ada buat Ayana. Setiap kali hujan turun, Dimas pasti akan memeluk dan menemani Ayana tidur.
"Ohh begitu. Lalu mengapa kamu tidak pernah keluar rumah?"tanya Bu Nur lagi.
"Karena kejadian aku hampir dilecehkan waktu itu, Kakak dan Abang merasa khawatir jika aku keluar rumah sendirian,"sahut Ayana tanpa menutup-nutupi apapun. Sudah merasa percaya pada Bu Nur.
"Karena itu juga kamu hanya boleh di antar tukang ojek perempuan seperti ibu?"tanya Bu Nur masih terus melajukan motornya.
"Iya. Kata kakak dan Abang akan lebih aman jika tukang ojeknya perempuan,"sahut Ayana.
__ADS_1
"Mereka sangat perhatian, ya, sama kamu? Mereka sangat menyayangi kamu. Kamu harus bersyukur punya kakak seperti mereka,"ujar Bu Nur.
"Iya, Bu. Aku senang mempunyai kakak seperti mereka,"sahut Ayana yang tersenyum di balik maskernya.
"Tapi, apa kamu tidak bosan hanya berdiam diri di rumah saja?"tanya Bu Nur lagi.
"Nggak, kok, Bu. Di rumah aku beres-beres dan bersih-bersih rumah. Aku juga memasak setiap hari. Apalagi semenjak sekolah, aku juga harus belajar. Jadi aku tidak punya waktu luang untuk main,"sahut Ayana yang memang semakin sibuk semenjak kembali sekolah.
"Wahh.. ternyata kamu gadis yang rajin, ya? Pantesan beberapa pemilik warung langganan kakak-kakak kamu bilang, kalau kedua kakak kamu tidak pernah membeli makanan di warung mereka lagi. Ternyata kamu memasak setiap hari.Tidak heran jika kedua kakak kamu itu sangat menyayangi kamu,"ujar Bu Nur yang merasa kagum pada Ayana.
"Mereka memang kakak-kakak yang baik, penyayang dan perhatian Bu. Mereka juga sering membantu aku mengerjakan pekerjaan rumah,"sahut Ayana yang memang merasa dilimpahi kasih sayang dan perhatian oleh Toyib dan Dimas.
Semenjak sekolah, Ayana bagun pagi-pagi untuk memasak sarapan dan makan siang. Setelah beres, berangkat sekolah. Pulang sekolah tidur sebentar lalu mengerjakan tugas. Sore harinya memasak untuk makan malam, dan setelah makan malam kembali belajar.
Dinas dan Toyib juga sering membantu Ayana menyapu dan mengepel lantai. Terkadang juga membantu memasak dan mencuci peralatan memasak dan makan. Mereka mengerjakan semua dengan berbincang dan bersenda gurau. Dan juga sedikit bertengkar. Karena rumah memang sepi jika Ayana dan Toyib tidak bertengkar. Sehingga semua pekerjaan terasa lebih ringan dan menyenangkan.
...π"Tidak semua kebutuhan bisa di beli dengan uang. Karena perhatian, cinta dan kasih sayang bukan kebutuhan yang di per jual belikan."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
.
__ADS_1
To be continued