
Nando melajukan mobilnya ke kampus tempat adiknya menuntut ilmu. Mencari informasi tentang jadwal kuliah Rengganis melalui kenalannya yang menjadi dosen di kampus itu. Dan kebetulan sekali, menurut teman Nando itu, saat ini Rengganis ada jadwal kuliah dan sekitar tiga puluh menit lagi akan selesai.
Nando menunggu Rengganis di luar pintu gerbang kampus itu. Setelah tiga puluh menit menunggu, akhirnya Nando melihat Rengganis keluar dari kampus itu.
"Susah banget mencari ojek online. Ini semua gara-gara ban motorku bocor ditengah jalan tadi,"gumam Rengganis yang sedang mencari ojek online. Gadis itu berdiri di samping gerbang kampus seraya memesan ojek online yang belum dapat juga.
"Nis, bisa kita bicara?"
Rengganis nampak terkejut mendengar suara pria yang tiba-tiba ada di depannya. Suara yang terdengar tenang dan berwibawa. Gadis yang menunduk fokus pada handphonenya itu mengangkat wajahnya dan melihat Nando yang berdiri di depannya.
"Bi.. bisa,"sahut Rengganis tergagap karena terkejut. Tidak menyangka jika Nando akan menghampiri dirinya di kampusnya.
Jujur, Rengganis merasa segan pada Nando, karena Nando tidak banyak bicara dan terlihat berwibawa. Dan hal itu membuat Rengganis merasa canggung.
Semenjak mengalami kecelakaan dan meninggalnya Bening, Nando memang menjadi lebih dewasa. Tidak banyak bicara yang tidak bermanfaat, dan tidak suka menghina orang lain seperti dulu, tidak lagi sombong, lebih fokus pada pekerjaannya, dan lebih tenang dalam menjalani hidup. Hal itulah yang membuat aura wibawa Nando keluar dengan sendirinya.
"Ayo, ke mobil ku! Kita akan mencari tempat yang nyaman untuk bicara,"ujar nando masih dengan suara yang mengalun tenang.
"Iya,"sahut Rengganis yang entah mengapa seperti terhipnotis oleh duda itu. Rengganis menurut begitu saja dan berjalan mengikuti langkah kaki Nando.
Nando membukakan pintu mobil bagian penumpang yang ada di sebelah kursi kemudi untuk Rengganis. Setelahnya, Nando bergegas masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya menuju sebuah kafe.
"Bagaimana kuliahmu? Apa sulit?"tanya Nando membuka obrolan.
"Tidak, kak,"sahut Rengganis jujur.
Karena Rengganis memang cerdas ditambah lagi rajin belajar, jadi tidak ada mata kuliah yang sulit bagi Rengganis.
Sepanjang perjalanan, Nando mengajak bicara Rengganis agar gadis itu tidak merasa canggung pada dirinya. Dan ternyata hal itu efektif. Rengganis terlihat lebih santai, dan tidak terlalu segan pada Nando.
Tak lama kemudian, mereka tiba di kafe yang di tuju Nando. Keduanya memesan kue dan minuman sebagai teman untuk mengobrol.
"Nis, aku minta maaf karena kemarin mamaku tiba-tiba melamar kamu. Dan soal lamaran itu, mau menerima ataupun menolaknya, itu terserah pada kamu. Jika kamu memang tidak menyukai aku, jangan ragu untuk menolak lamaran mamaku,"
"Aku tidak ingin kamu menerima lamaran itu karena kamu merasa tidak enak hati, apalagi karena merasa terpaksa. Jangan pula menerima lamaran itu karena kamu merasa berhutang budi padaku karena aku pernah menolong kamu. Kamu berhak menentukan hidup mu sendiri dan kamu berhak bahagia. Jadi, jangan memutuskan sesuatu karena terlalu banyak memikirkan dan mempertimbangkan perasaan orang lain dari pada perasaan kamu sendiri,"ujar Nando dengan suara tenang.
Tanpa disadari Nando, kata demi kata yang keluar dari mulut Nando itu malah membuat Rengganis merasa kagum pada Nando.
"Aku mengerti, kak. Kalau begitu, bolehkah, aku bertanya?"tanya Rengganis memberanikan diri.
__ADS_1
"Silahkan!"sahut Nando tetap terlihat tenang.
"Tapi, aku mohon kakak menjawab pertanyaan ku dengan jujur,"
"Okey, aku akan menjawabnya dengan jujur,"
"Apakah... apakah kakak tidak menyukai aku?"tanya Rengganis ragu, memberanikan diri untuk menatap Nando yang duduk di depannya.
Rengganis hanya ingin tahu, apakah Nando menyukai dirinya atau tidak. Agar Rengganis bisa mengambil keputusan yang tepat. Jika Nando tidak menyukai dirinya, maka Rengganis akan menolak lamaran itu. Tapi jika Nando menyukai dirinya, maka Rengganis akan menerima lamaran itu dan belajar mencintai Nando.
"Dia benar-benar berterus terang. Tapi aku menyukainya,"gumam Nando dalam hati.
Nando tersenyum tipis mendengar pertanyaan Rengganis. Pria itu menatap Rengganis dengan tatapan lembut. Senyuman dan tatapan yang sukses membuat Rengganis terpesona.
"Kenapa kamu menanyakan tentang hal itu?"
Jujur, Nando menyukai sikap Rengganis yang berterus terang itu.
"Karena.. karena jawaban kakak akan menjadi bahan pertimbangan bagiku untuk mengambil keputusan,"sahut Rengganis menundukkan kepala dan pandangannya dengan wajah yang memerah. Gadis itu tersipu malu mendapatkan tatapan lembut dan senyuman tipis dari duda tampan di depannya itu.
"Astagaa.! Dia terlihat semakin tampan saat tersenyum seperti itu,"gumam Rengganis dalam hati.
"Okey, aku akan menjawabnya dengan jujur. Aku menyukai mu, tapi aku tidak ingin menikah dengan orang yang tidak menyukai aku. Jadi, jika kamu tidak menyukai aku, kamu jangan menerima lamaran itu,"ucap Nando yang malah membuat wajah Rengganis semakin memerah.
"Dia begitu bijaksana dan menyukai aku. Bagaimana aku bisa menolak lamarannya? Benar kata ibu, sulit mencari pria yang baik di zaman sekarang. Dan jika sekarang ada pria baik-baik yang melamar aku, bodoh sekali jika aku menolaknya,"gumam Rengganis dalam hati.
"Terimakasih atas jawaban kakak. Jika kakak menyukai aku, aku akan menerima lamaran itu,"ucap Rengganis menatap Nando sebentar, kemudian langsung menundukkan wajahnya yang memerah.
Nando terkejut sekaligus bahagia saat mendengar perkataan Rengganis. Tidak menyangka gadis itu akan menerima lamaran dari mamanya untuk dirinya saat ini juga.
***
Setelah mendengar jawaban dari Rengganis, akhirnya keluarga Nando melamar Rengganis secara resmi. Nampak kebahagiaan di wajah semua orang, bahkan Bu Ningsih sampai menangis karena terharu Rengganis mau menerima lamaran Nando.
Bu Ningsih berharap, Rengganis bisa menjadi istri yang baik untuk Nando untuk mengurangi rasa bersalahnya pada Nando dan keluarga Nando. Karena kejahatan putrinya pada Nando dan keluarganya di masa lalu.
Tak lama dari acara lamaran itu, pernikahan Nando pun digelar. Kali ini pernikahan Nando tidak digelar terlalu mewah seperti sebelumnya saat menikah dengan Bening. Namun, tetap saja tidak mengurangi kebahagiaan semua orang.
Tak lama dari resepsi pernikahan Nando dan Rengganis, Ayana pun melahirkan. Setelah usia bayi Ayana satu bulan, Axell juga menikah dengan gadis yang dijodohkan oleh kedua orang tuanya. Pesta pernikahan Axell pun di gelar secara besar-besaran.
__ADS_1
Di tengah meriahnya pesta, Delvin menghampiri Dimas yang sedang duduk bersama Toyib dan Diky. Sedangkan Ayana nampak sedang asyik mengobrol dengan Wulan dan Bunga sambil menggendong bayinya. Delvin duduk di sebelah Dimas dan memberanikan diri untuk bicara.
"Kak, aku tahu, selama ini aku telah bertindak bodoh dan kekanak-kanakan. Dan mungkin selama ini kakak merasa kesal padaku. Dengan setulus hati, aku minta maaf atas sikapku yang tidak baik kepada kakak selama ini,"ucap Delvin tulus. Menyesali sikapnya selama ini yang malah membuat semua orang membenci dirinya.
Dimas sempat terkejut mendengar permintaan maaf dari Delvin, begitu pula dengan Toyib dan Diky. Namun sesaat kemudian Dimas tersenyum lembut pada Delvin.
"Semua orang pernah melakukan kesalahan. Tapi, jika kita menyesal dan mau memperbaiki diri, itu adalah sebuah kemajuan. Aku memaafkan kamu,"ucap Dimas, lalu memeluk Delvin.
Delvin membalas pelukan Dimas dengan perasaan lega dan haru. Setelah mengumpulkan keberanian dan membuang egonya, akhirnya Delvin berhasil meminta maaf pada Dimas. Toyib dan Diky yang melihat hal itupun merasa senang.
Setelah hampir di tabrak kereta api kemarin, Delvin menjadi lebih banyak diam dan tidak lagi menunjukkan kebenciannya pada Dimas. Namun Delvin belum berani untuk meminta maaf pada Dimas. Hingga baru saat inilah Delvin berani meminta maaf pada Dimas.
***
Di dalam kamar Dimas dan Ayana. Dari samping, Dimas memeluk Ayana yang sedang duduk seraya memangku bayi mereka.
"Dia lucu sekali,"ucap Dimas seraya mengelus kepala putranya.
"Saat kakak koma dan dokter mengatakan kemungkinan kakak untuk sadar kecil, aku hampir putus asa. Aku tidak menyangka jika kita bisa berkumpul seperti sekarang ini,"
"Maaf, aku telah membuat kamu sedih selama aku koma. Dan terimakasih karena tetap setia di sisiku bagaimanapun keadaan ku,. Aku mencintai mu,"ucap Dimas memeluk hangat anak dan istrinya.
...πππ...
...Aku bisa bersembunyi dari kesalahanku, tapi tidak dari penyesalanku. Aku dapat bermain dengan dramaku, tetapi tidak dengan karmaku....
...Penyesalan tidak dapat mengubah masa lalu, dan kekhawatiran tidak dapat mengubah masa depan....
...Rasa sesal mengajarkan kita agar lebih bijak dan berhati-hati dalam melangkah. Karena tidak semua hal bisa diulang kembali....
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
Terimakasih banyak pada semua reader yang sudah menyempatkan waktunya untuk membaca dan memberikan dukungan untuk karya recehan ku ini sampai akhir. Mohon maaf, jika ada kata yang kurang berkenan di hati reader.
Jika ada waktu, mampir ke karya aku yang lain, ya! Love you all.πππππ
.
__ADS_1
THE END