
Diky adalah pria sebatang kara setelah kedua orang tuanya meninggal dunia. Dan tidak memiliki saudara di kota ini. Melihat keakraban di rumah Dimas, Diky jadi pengen juga ikut tinggal bersama ketiga orang itu. Apalagi saat mengetahui kopi susu buatan Ayana sangat cocok di lidahnya dan mendengar Ayana pintar memasak. Diky sangat rindu dengan masakan rumahan. Semenjak ibunya meninggal, Diky tidak pernah merasakan masakan masakan rumahan lagi. Karena itu, Diky berharap bisa tinggal bersama ke tiga orang itu.
Dimas dan Toyib sempat terkejut mendengar permintaan Diky itu. Dimas dan Toyib pun saling bertatapan, seolah sedang berkomunikasi lewat mata mereka.
"Begini, yang tinggal di sini bukan cuma aku dan Dimas, tapi juga ada Ayana. Bagaimana jika kita tanya pada Ayana saja? Karena Ayana tidak mudah akrab dengan orang asing,"ujar Toyib,"Bagaimana menurut kamu, Dim?"tanya Toyib pada Dimas.
"Iya, aku setuju,"sahut Dimas.
Dimas tahu bagaimana rasanya hidup sendiri setelah kedua orang tuanya meninggal. Jadi, Dimas tahu benar, bagaimana nggak enaknya hidup sendirian. Sedangkan Toyib, merasa tidak masalah tinggal dengan siapapun, yang penting saling menghargai dan menghormati privasi masing-masing.
"Terimakasih banyak!"ucap Diky.
"Belum! Kamu belum tentu di terima di rumah ini,"sahut Toyib.
"Tapi sudah ada harapan,"sahut Diky kemudian terkekeh,"Kalau begitu, malam ini, aku menginap di sini, ya? Gimana? Boleh, ya?"pinta Diky.
Toyib dan Dimas kembali saling bertatapan, kemudian keduanya menatap Diky dan mengangguk bersamaan, tanda keduanya setuju jika Diky menginap di rumah mereka malam ini.
"Terimakasih!"ucap Diky dengan senyuman lebar.
"Oh iya, jika kamu ingin tinggal di sini, kamu harus tidur dengan aku. Karena di sini hanya ada dua kamar saja,"ujar Toyib.
'Nggak apa-apa. Itu bukan masalah buat aku. Aku juga jarang pulang, sih. Kalian tahu sendiri, 'kan, apa pekerjaan aku?"ujar Diky.
"Iya, kami tahu. Tapi kamu harus tahu. Ayana suka kebersihan. Jadi, jika Ayana setuju kamu tinggal di sini, kamu harus bersih, tidak boleh jorok!"ujar Dimas memperingati.
"Iya. Kalau masalah itu, sih, beres,"sahut Diky penuh senyuman dan penuh harap.
"Dan satu lagi, jika kamu di ijinkan tinggal di sini oleh Ayana, kamu harus menaati peraturan di rumah ini,"ujar Toyib.
"Oke. Nggak masalah,"sahut Diky.
Seperti biasanya, pagi hari Ayana sudah bangun. Wanita itu bergegas bersih-bersih rumah dan memasak. Setelah selesai membersihkan rumah dan memasak, Ayana pun membersihkan diri.
__ADS_1
Toyib juga terbiasa bangun pagi karena tidak mau melewatkan sarapan bersama Dimas dan Ayana. Setelah selesai mandi, Toyib segera membangunkan Diky, dan menyuruh Diky untuk mandi.
"Kenapa sepagi ini kamu sudah membangunkan aku, Yib?"tanya Diky saat melihat jam masih menunjukkan pukul enam lewat lima belas menit.
"Jika kamu ingin mendapatkan sarapan pagi, maka bangun dan mandilah! Jika kamu terlambat bangun, kamu akan sarapan sendirian. Dan jika kamu tidak mandi dulu, kamu tidak akan diperbolehkan sarapan bersama kami. Sudah kami bilang, 'kan, kalau kamu berada di rumah kami, kamu harus menaati peraturan di rumah kami,"jelas Toyib.
Toyib masih ingat betul, dulu Ayana sering memukul kepala dan tangannya dengan centong nasi atau centong sayur. Gara-gara sebelum mandi, dirinya sudah ingin menyentuh makanan.
"Oke. Demi sarapan bersama, aku akan bangun dan mandi,"sahut Diky bergegas ke kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, semua orang pun berkumpul di meja makan. Ayana terkejut melihat Diky juga berada di meja makan bersama mereka.
"Diky, semalam menginap di sini, Ay,"ucap Dimas yang melihat Ayana terkejut.
"Ohh.. begitu. Aku akan mengambil piring satu lagi,"ujar Ayana bergegas ke dalam dapur untuk mengambil piring dan gelas bersih untuk Diky.
"Emmm.. aromanya harum sekali,"ucap Diky yang sudah duduk di salah satu kursi di meja makan. Pria itu menelan ludahnya kasar saat menatap nasi goreng udang, telor ceplok, lalapan berupa kol, mentimun dan kerupuk udang yang sudah tersaji rapi di atas meja makan.
"Rasanya juga pasti mantap,"sahut Toyib penuh keyakinan.
"Kak, aku nggak tahu kalau bang Diky menginap di sini. Jadi, aku hanya bikin tiga telor ceplok saja,"ujar Ayana seraya menatap Dimas.
"Nggak apa-apa, Ay. Biar nanti telor ceplok punya Abang, Abang potong separuh buat Diky,"sahut Toyib.
"Aku nggak pakai telor juga nggak apa-apa,"kok!"sahut Diky.
Seperti biasanya, Ayana mengambilkan makanan untuk Dimas terlebih dahulu. Diky yang merasa dirinya adalah tamu pun tidak berani menyentuh makanan yang ada di atas meja itu. Apalagi, Toyib dan Dimas terlihat diam saja menatap Ayana yang sedang mewadahi nasi ke dalam piring. Diky merasa aneh karena Ayana tidak memberikan piring pada mereka bertiga. Dan baru mengerti setelah Ayana mengambilkan sepiring nasi goreng untuk Dimas, untuk Toyib dan untuk dirinya. Setelah Ayana mengambil nasi untuknya sendiri, semuanya pun mulai sarapan. Diky mengikuti apa yang dilakukan oleh Dimas dan Toyib.
"Dik, kalau mau nambah ngambil sendiri,"ujar Toyib seraya mengunyah makanannya.
"Iya. Sahut Diky tersenyum tipis, tanpa malu, Diky yang dari tadi makan dengan lahap itu mengambil nasi goreng lagi,"Nasi goreng buatan istri kamu benar-benar mantap, Dim,"ujar Diky dengan senyuman cerahnya.
"Jangan terlalu kenyang, nanti kamu sakit perut, atau mengantuk!"ujar Dimas memperingati.
__ADS_1
"Iya,"sahut Diky kembali makan dengan lahap.
Tak lama, kemudian. Mereka semua sudah. selesai sarapan. Diky nampak puas dengan sarapan pagi ini.
"Oh, iya, Ay. Diky ini anak yatim piatu dan tinggal sendirian. Semalam Diky bicara padaku dan Toyib, dia ingin tinggal di sini bersama kita. Apa boleh?"tanya Dimas seraya menatap Ayana.
"Tapi, kak, kamar kita, 'kan, cuma ada dua,"sahut Ayana.
"Jika diijinkan, Diky akan tidur bersama Abang, Ay,"sahut Toyib.
"Ohh.. begitu. Aku sih, terserah kakak dan Abang saja,"sahut Ayana lagi.
Sebelum tinggal bersama Dimas dan Toyib, Ayana pernah menginap di rumah beberapa orang temannya hanya karena ingin merasakan bagaimana rasanya memiliki keluarga yang hangat. Hingga akhirnya Ayana tinggal lumayan lama di rumah Pak Parman. Karena merasakan kehangatan di dalam keluarga Pak Parman. Mendengar Diky yatim piatu dan hidup sendirian, Ayana pun tidak tega untuk menolaknya. Ayana merasa lebih beruntung dari Dimas dan Diky yang sudah tidak memiliki orang tua lagi. Karena Ayana masih memiliki keluarga yang utuh. Apalagi sekarang sikap keluarganya sudah lebih baik pada dirinya dan Dimas.
Mendengar perkataan Ayana, Diky pun langsung tersenyum lebar,"Jadi, aku boleh tinggal bersama kalian, 'kan?"tanya Diky memastikan. Menatap Dimas, Toyib, dan Ayana bergantian.
"Boleh,"sahut Dimas dan Toyib bersamaan.
"Yes! Yes! Yes!"ucap Diky mengepalkan kedua tangannya lalu mengangkatnya ke atas beberapa kali dengan senyuman lebar.
Ayana mengulum senyum melihat tingkah Diky yang tidak diduganya itu. Sedangkan Dimas dan Toyib menghela napas panjang seraya menggelengkan kepala mereka pelan melihat tingkah Diky itu.
"Semalam, aku melihat kamu sangat keren. Persis seperti detektif-detektif yang ada di televisi. Ternyata, tingkah kamu alay kayak ABG labil,"celetuk Toyib kemudian terkekeh.
"Aku cuma mengekspresikan kebahagiaan ku saja. Sah-sah saja, 'kan?"sahut Diky tanpa malu sedikit pun. Diky benar-benar merasa bahagia karena telah diijinkan tinggal bersama ketiga orang itu. Apalagi setelah sarapan bersama tiga orang itu. Diky merasa kembali memiliki keluarga.
Dimas dan Toyib membantu Ayana membereskan meja makan. Diky yang melihat itu pun ikut-ikutan membantu. Setelah selesai sarapan, Dimas pun mengantarkan Ayana ke sekolah. Toyib bersiap-siap untuk berdagang keliling dan Diky bersiap pergi ke kantor polisi untuk melaporkan kejahatan Noval yang telah merugikan banyak orang dan bahkan membuat beberapa orang meninggal setelah di ambil organ tubuh nya secara paksa.
...π"Tidak harus satu kandung untuk menjadi saudara. Karena terkadang, yang satu kandung pun, tidak mau menganggap saudara."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
__ADS_1
.
To be continued