
"Akkh "
Dimas langsung membalikkan tubuhnya saat mendengar pekikan Axell.
"Axell!"pekik Dimas bergegas menghampiri adiknya yang terduduk di tanah dengan wajah khawatir.
"Di sini ada lubang yang tertutup dedaunan, kak. Kakiku terperosok,"sahut Axell sambil meringis menahan sakit.
Dimas pelan-pelan menarik kaki Axell yang terperosok ke dalam lubang, takut Axell terluka. Karena lubang tempat Axell terperosok kecil, jadi agak sulit mengeluarkan kaki Axell. Setelah beberapa menit akhirnya kaki Axell bisa di keluarkan dari lubang itu.
"Sakit sekali, kak. Sepertinya kakiku terkilir,"ujar Axell dengan wajah yang terlihat menahan sakit.
"Kita bawa ke tukang urut saja, ya? Ayana bilang ada tukang urut di kampung tempat kami mengontrak dulu. Kata Ayana, kalau di bawa ke tukang urut lebih cepat sembuh dari pada dibawa ke rumah sakit,"ujar Dimas yang ingat tentang cerita Ayana bahwa Ayana pernah terkilir dan diurut di seorang dukun kampung tempat mereka mengontrak dulu.
"Terserah gimana kata kakak sajalah,"sahut Axell pasrah.
Dimas memapah Axell ke dalam mobil. Axell sangat senang melihat Dimas yang sangat perhatian dan nampak mengkhawatirkan dirinya. Perhatian dan kasih sayang dari seorang kakak yang tidak pernah dirasakan Axell sebelum bertemu dengan Dimas. Karena selama ini dirinya berperan sebagai anak tertua yang harus menjadi panutan bagi Delvin dan belajar mengelola perusahaan untuk mempersiapkan diri menggantikan Buston kelak.
"Ternyata memang menyenangkan memiliki seorang kakak seperti kak Dimas. Pantas saja banyak orang yang menyayangi kakak. Dia sangat peduli pada orang lain dan terlihat sangat tulus.Seharusnya kami bertemu dari dulu, agar kami bisa menghabiskan waktu lebih banyak lagi,"gumam Axel dalam hati.
"Ayo, masuklah!"pinta Dimas setelah membuka pintu mobil di samping kursi kemudi.
"Eh, kak. Siapa yang akan mengemudikan mobil ini? Aku akan menelpon Delvin, agar kita satu mobil saja sama dia. Dia itu benar-benar tidak punya etika. Dia bahkan meninggalkan kita. Sama sekali tidak mau menunggu kita,"ujar Axell dengan perasaan kesal hendak menghubungi Delvin.
"Tidak usah menghubungi dia! Aku saja yang mengemudikan mobilnya,"
"Tapi, kak! Aku masih khawatir jika kakak yang mengemudi. Kakak baru berangsur sembuh,"
__ADS_1
"Nggak apa-apa. Aku yakin udah nggak apa-apa,",ujar Dimas meyakinkan Axell.
Semenjak Dimas sadar dari komanya, keluarganya memang belum mengizinkan Dimas untuk mengemudikan mobil. Mereka khawatir terjadi apa-apa pada Dimas. Namun, kali ini, mau tak mau akhirnya Axell membiarkan Dimas mengemudikan mobilnya.
Setelah setengah jam perjalan mereka lalui, Axell merasa lega karena sepertinya Dimas baik-baik saja saat mengemudikan mobilnya.
"Eh, kak, itu mobil Delvin. Aku kira dia sudah meninggalkan kita jauh, ternyata ketemu di sini,"
"Aku lihat dia tadi baru keluar dari pom bensin. Dan sepertinya tadi di pom bensin antriannya panjang. Mungkin Delvin lama menunggu antrian,"
"Benarkah? Aku tadi nggak lihat waktu dia keluar dari pom bensin,"
"Kita ikuti saja dia dari belakang,"sahut Dimas.
Dimas melajukan mobil Axell di belakang mobil Delvin, namun dengan jarak yang agak jauh. Beberapa menit berada di belakang mobil Delvin, mereka mendengar suara klakson kereta api dan palang kereta api pun mulai tertutup. Dimas memperlambat laju mobilnya, tapi Delvin malah menambah kecepatan mobilnya.
Delvin berpikir jika kereta apinya masih jauh. Mengingat biasanya petugas penjaga palang pintu kereta api akan menutup palang pintu kereta api saat kereta api masih dalam radius satu kilometer.
Namun sayangnya, sepertinya kali ini petugas penjaga palang pintu kereta api itu terlambat menutup palang pintu kereta api. Karena palang pintu kereta api itu baru mulai di tutup saat kereta sudah dekat.
"Shiitt! Kenapa mobilku malah mogok?"umpat Delvin saat mobilnya malah mogok di tengah-tengah rel,"Kereta apinya sudah semakin dekat. Bagaimana ini? Aku tidak mau mati di sini. Kenapa mobil ini tidak mau hidup, dan tiba-tiba pintunya juga tidak bisa di buka?"gumam Delvin yang terlihat sangat panik karena kereta api sudah semakin dekat.
Delvin kembali mencoba menyalakan mobilnya, tapi mobil itu tidak tetap tidak mau hidup. Pintu mobil itu juga tetap tidak mau terbuka. Semua sistem dalam mobil itu sepertinya macet, tidak berfungsi. Sedangkan suara klakson kereta terus berbunyi dan semakin dekat. Namun apakah semua sistem di mobil itu benar-benar macet?
Mesin mobil tiba-tiba mati di atas rel kereta api bisa disebabkan oleh medan magnet yang dihantarkan dinamo lokomotif ke rel kereta api, dalam radius satu kilometer
Elektromagnetik tidak kompatibel dengan arus listrik di rel kereta, sehingga ketika berinteraksi akan memicu produksi emisi di atas ambang batas. Inilah yang menyebabkan Electronic Control Unit (ECU), yaitu penggerak utama mesin mobil, mati mendadak di tengah rel ketika kereta api akan melintas.
__ADS_1
Selain karena hal-hal diatas, penyebab Delvin tidak bisa menyalakan mobil dan membuka pintu mobil adalah karena Delvin panik. Rasa takut akan mati tertabrak kereta yang semakin dekat membuat Delvin menjadi panik. Jantung Delvin berdetak tidak beraturan, kepalanya pusing, tubuhnya berkeringat dingin, tremor, bahkan terasa seperti kesemutan. Dan hal itu membuat Delvin tidak bisa melakukan semua hal dengan benar.
"Astagaa! Kak, sepertinya mobil Delvin macet. Dan keretanya sudah semakin dekat, kak,"ujar Axell yang jadi khawatir dan panik saat melihat mobil Delvin malah berhenti di tengah-tengah rel kereta api, sedangkan kereta api semakin dekat dan tidak berhenti membunyikan klakson.
"Pegangan yang kuat, Xell!"titah Dimas dengan wajah yang terlihat serius dan fokus menatap ke depan. Tidak terlihat sedikit pun kepanikan di wajah Dimas.
"Kak, kakak mau apa?"tanya Axell yang terlihat semakin panik.
Axell menatap Dimas dan mobil Delvin secara bergantian. Bahkan Axell juga mengalami hal yang sama seperti yang Delvin rasakan. Merasa ketakutan, jantungnya berdetak tidak beraturan, kepalanya pusing, tubuhnya berkeringat dingin, tremor, bahkan terasa seperti kesemutan. Membayangkan mobil Delvin tertabrak kereta api lah yang menyebabkan Axell jadi merasa panik seperti itu.
Axell tidak tahu apa yang akan terjadi pada Delvin, jika mobil Delvin yang tepat berada di tengah rel kereta itu di tabrak kereta api yang akan segera melintas. Yang pastinya akan terjadi hal buruk pada Delvin.
Walaupun Delvin bukan adik yang bisa diandalkan dan akhir-akhir ini susah di atur dan membuat semua orang jengkel. Namun Delvin tetaplah adik Axell yang sejak kecil tumbuh bersama Axell. Banyak hal yang sudah mereka lewati bersama. Banyak kenangan manis di antara mereka. Melihat adik satu-satunya akan ditabrak oleh kereta api di depan matanya, tentu saja membuat Axell merasa panik.
Dimas tidak menjawab pertanyaan Axell. Sebelah tangan pria itu mengatur gigi dan sebelahnya lagi memegang kemudi dengan erat. Sedangkan kakinya sudah siap berada di atas pedal gas. Mata Dimas nampak fokus ke depan, tepatnya ke arah mobil Delvin.
"Aku tidak mau mati di tabrak kereta,"gumam Delvin semakin panik. Menghidupkan mobil, membuka pintu mobil, semuanya tidak bisa.
Suara klakson kereta api semakin terdengar nyaring. Delvin terdiam dengan tubuh yang bergetar hebat. Axell tidak bisa mengedipkan matanya menatap mobil Delvin di depannya.
"Brumm... "
"Brakk"
...🌸❤️🌸...
.
__ADS_1
To be continued