
Toyib mengernyitkan keningnya menatap wajah Diky yang terlihat mendung setelah menelpon Wulan. Pria itu nampak menghela napas panjang.
"Kamu kenapa, Dik? Kamu ada masalah dengan Wulan?"tanya Toyib yang sedang memeriksa buku tagihannya.
"Semalam aku memohon padanya agar kami menikah lebih cepat dari rencana semula. Tapi dia tidak mau. Dia beralasan ingin fokus dulu pada kuliahnya,"sahut Diky seraya memilih baju yang akan di pakainya.
"Terus? Kamu marah padanya?"tanya Toyib seraya memasukkan buku tagihannya ke dalam tas.
"Aku hanya kecewa. Apalagi saat aku tanya apa dia mencintai aku atau tidak. Dia tidak mau menjawab, hanya diam. Aku merasa hanya aku yang menginginkan hubungan ini. Dia tidak punya inisiatif sama sekali untuk bicara dengan aku. Tidak berinisiatif untuk menghubungi aku. Selama kami menjalin hubungan, selalu aku yang lebih dulu mengajak dia bicara, dan selalu aku yang menghubungi dia dulu. Baru tadi dia berinisiatif untuk menghubungi aku. Tapi.. malah hanya ingin menegaskan jawabannya semalam. Dia minta maaf karena tidak bisa memenuhi keinginan ku untuk menikah lebih cepat. Dia tetap kukuh pada pendiriannya. Ingin fokus dulu pada kuliahnya dan menikah setelah mendapatkan gelar sarjana,"ujar Diky seraya memakai kemejanya. Dari suaranya, Diky terdengar sangat kecewa dengan keputusan Wulan.
"Jadi, selama ini kamu tidak tahu, Wulan mencintai kamu atau tidak?"tanya Toyib membuang napas kasar.
Ada rasa kasihan di hati Toyib pada sahabat nya itu. Sudah begitu serius pada Wulan dan tidak perhitungan memberikan apapun untuk Wulan, tapi Wulan sama sekali tidak menunjukkan rasa suka apalagi mengungkapkan cinta pada Diky.
"Tidak. Dia selalu pasif. Tidak banyak bicara. Dan selalu terlihat malu-malu. Aku memaklumi soal itu. Tapi.. aku merasa menyerah saat dia menolak secara halus untuk menikah dengan aku. Padahal, aku ingin menikahi dia, karena aku takut kalau aku sampai khilaf,"
"Kalau kamu merasa berjuang sendirian dalam suatu hubungan, lebih baik kamu lepaskan,"
""Apa maksud kamu, Yib? Hubungan kami ini bukan pacaran lagi. Tapi tunangan. Lagipula, aku sangat mencintai dia, Yib,"
"Hutff.. benar kata orang. Cinta itu buta dan tuli,"sahut Toyib membuang napas kasar, kemudian menatap Diky dengan tatapan yang terlihat serius,"Dengarkan aku Dik, tidak apa-apa berjuang untuk seseorang yang mencintai kamu. Akan tetapi, tidak baik berjuang agar orang mencintai kamu. Walaupun kamu mencintai dia, kamu juga jangan merendahkan harga diri kamu!"
"Lalu aku harus bagaimana, Yib?"
"Cobalah break dulu sama dia!"
"Break?"
"Hum. Walaupun kalian sudah bertunangan, jika keadaannya seperti ini, lebih baik break aja dulu. Agar kalian bisa berpikir lebih tenang untuk memutuskan bagaimana kelanjutan hubungan kalian ke depannya,"
"Aku akan memikirkan saran kamu,"sahut Diky yang tanpa terasa sudah selesai memakai pakaian dan menyisir rambutnya sambil berbicara dengan Toyib.
"Ya, sudah! Ayo sarapan dulu!"ajak Toyib.
__ADS_1
Kedua pria itu pun keluar dari kamar dan berkumpul dengan Dimas dan Ayana yang sudah menunggu mereka berdua.
"Babang kenapa? Kok, mukanya lecek kayak baju di keranjang pakaian kotor begitu?'tanya Ayana tanpa dosa, seraya menyendok nasi.
"Tega kamu, Ay, mengatai babang kamu sendiri seperti itu,"sahut Diky dengan wajah kusut.
"Kenyataan itu memang pahit, Dik. Jadi, mau nggak mau ya, telan aja! Anggap saja obat,"sahut Toyib.
"Galau amat, sih?"celetuk Dimas menyambut sepiring nasi yang diberikan Ayana.
"Amat aja nggak galau,"timpal Toyib,"Jangan lebay, deh!"
"Kok kamu ini kayak bunglon, sih, Yib? Tadi di kamar jadi orang bijak ngasih petuah dan solusi. Sekarang malah jadi ngeledek,"keluh Diky.
"Yee. ilee.. Yang lagi galau sensi banget,"ledek Toyib seraya menerima piring berisi nasi dari Ayana.
"Udah babang! Abang orangnya emang kayak gitu. Nggak usah di ambil hati. Emang babang galau kenapa, sih? Lagi berantem sama Wulan?"tanya Ayana seraya menyodorkan piring berisi nasi pada Diky.
"Dia lagi ngebet kawin, Ay. Tapi nggak ada musuhnya,"sahut Toyib terkekeh tanpa dosa.
"Iya.. iya.. sensi amet. Udah kayak lagi datang bulan aja,"sahut Toyib membuat Diky bertambah kesal.
"Babang ngajakin Wulan nikah? Terus Wulan nggak mau?"tanya Ayana.
"Hum. Dia nggak mau babang ajak nikah. Bahkan saat babang tanya dia cinta apa enggak sama babang, dia diam saja,"sahut Diky dengan wajah sedih.
"Selama ini, 'kan, babang udah nunjukin cinta babang sama Wulan. Babang juga sudah berjuang buat dapetin hati Wulan. Kalau Wulan belum bisa menghargai perjuangan babang, mendingan break aja dulu. Biar pikiran kalian tenang dulu dan bisa berpikir, mau bagaimana hubungan kalian ke depannya,"sahut Ayana memberikan saran.
"Aku setuju dengan Ayana. Coba kalian break berapa bulan gitu. Nanti bakal ketahuan, Wulan suka apa enggak sama kamu,"sahut Dimas.
"Setelah kalian break, kalian komunikasikan lagi tentang hubungan kalian. Jika kamu tetap ingin secepatnya menikah tapi Wulan tidak, mending kamu lepaskan saja si Wulan. Lebih baik melupakan dia sebelum cinta kamu sama dia belum terlalu dalam,"ujar Toyib yang kali ini terlihat serius.
"Benar kata Toyib, Dik. Untuk apa kamu mempertahankan sebuah hubungan jika didalamnya kamu merasa tersiksa. Kalau nggak jodoh, mau dipaksa bagaimanapun tetap tidak akan bisa,"timpal Dimas.
__ADS_1
"Okey, jika menurut kalian itu yang terbaik. Aku akan coba,"sahut Diky yang akhirnya setuju dengan saran tiga orang yang sudah dianggapnya saudara itu.
"Walaupun Wulan sahabat aku, tapi aku tidak sepemikiran dengan Wulan. Aku malah lebih suka menikah muda. Pacarannya halal,"celetuk Ayana.
"Ciee.. ciee.. yang sudah tahu rasanya surga dunia,"ledek Toyib,"Auwh! Sakit, Ay! Masih di pakai ini kaki Abang,"pekik Toyib saat Ayana menginjak kakinya.
"Abang, sih! Suka ngeledek,"sahut Ayana cemberut.
"Cup"
Dimas yang melihat Ayana cemberut malah menjadi gemas dan reflek malah mencium pipi Ayana. Sedangkan Ayana nampak terkejut dengan aksi spontan Dimas itu.
"Haiss...aku sedang galau, kalian malah mesra-mesraan,"gerutu Diky.
"Nasib itu, mah,"sahut Toyib malah terkekeh.
"Sudah, ayo makan dulu!"ucap Ayana. Dan akhirnya mereka pun mulai sarapan.
"Oh, iya, Ay. Lusa, kamu sudah mulai kuliah, ya?"tanya Dimas.
"Iya, kak. Kakak bakal nganterin aku ke kampus, 'kan?"tanya Ayana.
"Aku nggak tahu. Aku belum bisa sepenuhnya berhenti bekerja di perusahaan papa. Masih ada beberapa hal yang harus aku selesaikan di perusahaan papa,"sahut Dimas.
...🌟"Pergi bukan berarti berhenti mencintai tapi kecewa dan lelah karena harus berjuang sendiri."🌟...
..."Nana 17 Oktober"...
Notebook :
•Break dalam hubungan asmara lebih merujuk pada arti 'istirahat'. Artinya mengambil momen sejenak atau beberapa waktu untuk mengistirahatkan diri dan pasangan dari hubungan asmara tersebut.
•Perbedaan break dan putus terletak pada kepastian status hubungan Anda dan pasangan. Saat break, artinya Anda dan pasangan belum resmi putus. Memutuskan hubungan berarti Anda dan pasangan sepakat untuk berjalan masing-masing dan tidak terikat komitmen apa pun lagi.
__ADS_1
.
To be continued