
Sesuai rencana semalam, hari ini Ayana akan pergi ke rumah Pak Parman. Ayana membereskan rumah dan memasak sesuai request bang Toyib, yaitu memasak soto ayam. Dimas baru saja kembali dari luar saat semua pekerjaan Ayana sudah selesai. Sedangkan Toyib sudah berangkat sejak lima belas menit yang lalu.
"Ay!"panggil Dimas dari ruang tamu.
"Iya, kak,"sahut Ayana yang tak lama kemudian muncul dari ruangan makan.
"Ay, sini!"panggil Dimas seraya menepuk tempat duduk yang ada di sebelahnya.
"Ada apa, kak?"tanya Ayana penasaran.
Dimas mengeluarkan sebuah kotak dari dalam sebuah kantong plastik yang baru saja dibawanya pulang.
"Ini, aku belikan handphone buat kamu. Tidak terlalu bagus memang. Tapi bisa buat sarana komunikasi kita. Besok sore kalau mau pulang, aku telpon kamu. Kita pulang bareng. Karena aku besok juga masih jualan keliling ke kampung Pak Parman,"ujar Dimas seraya membuka kotak handphone kemudian mengeluarkan handphone dari dalam kotak dan menyodorkannya pada Ayana.
"Maaf, kak! Aku tidak bisa menerima ini, kak. Kakak tidak perlu membelikan aku handphone segala. Kakak pinjami uang buat bayar sekolah dan mengijinkan aku tinggal di sini saja, aku sudah sangat senang dan bersyukur. Kakak tidak perlu sampai membelikan aku handphone seperti ini,"ujar Ayana tidak enak hati.
"Jangan menolaknya, Ay. Sekolah juga perlu handphone untuk mengerjakan tugas dan juga masih banyak keperluan yang lainnya yang berhubungan dengan sekolah yang membutuhkan handphone,"ujar Dimas yang memang benar adanya. Masih menyodorkan handphone itu pada Ayana.
"Tapi, kak.. ini pasti sudah banyak mengurangi tabungan kakak,"ujar Ayana tidak enak hati.
Ayana tidak menyangka jika Dimas sampai mau membelikan dirinya handphone baru. Walaupun mungkin harganya hanya berkisar sekitar tiga sampai empat juta, namun uang sebanyak itu pasti sangat berharga bagi Dimas yang berprofesi sebagai pedagang keliling itu.
"Tidak, kok. Ini nggak terlalu mahal. Asalkan kamu belajar dengan baik, aku tidak akan merasa sia-sia membelikan kamu handphone ini. Aku malah merasa sedih jika kamu tidak mau menerima pemberian ku yang tidak terlalu mahal ini. Jadi tolong diterima, ya!"pinta Dimas penuh harap, masih menyodorkan handphone baru itu pada Ayana.
"Baiklah, aku akan menerimanya. Aku akan belajar dengan keras dan sungguh-sungguh. Aku tidak akan mengecewakan kakak,"ucap Ayana antusias. Akhirnya menerima handphone pemberian Dimas setelah mempertimbangkan beberapa hal.
"Jangan terlalu dipaksakan juga. Tapi berusaha lah sebaik yang kamu bisa,"ujar Dimas kemudian mengacak-acak rambut Ayana gemas,"Aku sudah menyimpan nomor ku dan nomor Toyib di handphone mu. Ya sudah, ayo siap-siap berangkat!"ajak Dimas.
"Iya,"sahut Ayana senang.
Akhirnya Dimas dan Ayana pun berganti pakaian, mengunci jendela dan pintu belakang dan bersiap-siap berangkat. Setelah siap semua, mereka keluar dari dalam rumah dan mengunci pintu utama.
"Eh, Nak Dimas! Mau berangkat, ya? Ini yang katanya adik Nak Dimas itu, ya?"tanya seorang ibu-ibu.
"Iya, Bu,"sahut Dimas singkat.
"Kok pakai masker?"tanya ibu-ibu itu lagi.
__ADS_1
"Adik saya alergi debu, Bu,"sahut Dimas beralasan.
Sesuai keinginan Dimas, Ayana keluar dengan menggunakan masker yang menutupi wajahnya, topi, jaket dan celana panjang. Sehingga hanya mata Ayana saja yang terlihat. Posesif? Tidak, anggap saja protektif. Lalu apa bedanya posesif dan protektif?
Perbedaan utama dari Protektif dan Posesif adalah bagaimana cara seseorang menunjukkannya. Seseorang yang protektif tidak akan menghalangi atau membatasi hal yang pasangannya sukai, namun selalu berusaha untuk tetap melindungi pasangannya. Sedangkan orang yang posesif akan membatasi semua kegiatan pasangannya dengan berbagai macam alasan.
"Eh, Nak Dimas! Ini adiknya yang dibicarakan Mak Er itu, ya? Kok, nggak pernah keluar rumah?"tanya ibu-ibu yang lain.
"Adik saya tidak terlalu suka keluar rumah, Bu,"sahut Dimas.
"Kak Dimas! Berangkat kerja, ya?"tanya seorang gadis terlihat centil membuat Ayana kesal.
"Dim, adiknya, ya? Kok pakai masker? Lagi flu, ya?"tanya seorang pria.
Pertanyaan -pertanyaan itu terus saja ada di sepanjang jalan saat mereka keluar kampung itu, hingga akhirnya mereka mendekati gerbang kampung. Ayana nampak seperti ragu untuk melanjutkan melangkahnya, saat mulai dekat dengan gerbang kampung tempat dirinya di kelilingi preman jalanan. Dimas yang menyadari ada yang tidak beres dengan Ayana pun merangkul Ayana dengan tangan kirinya. Karena di bahu kanan Dimas ada tas besar yang berisi barang dagangan nya.
"Tidak apa-apa. Ada aku,"ucap Dimas menenangkan. Ayana mendongakkan kepalanya menatap mata Dimas yang terlihat teduh kemudian mengangguk pelan.
Keduanya berjalan keluar dari gerbang kampung dan menunggu angkutan umum. Saat naik angkutan umum pun, Dimas nampak menjaga Ayana dari para pria yang ada di angkutan umum itu. Ayana merasa sangat kagum dengan sikap Dimas itu.
Setelah setengah jam menaiki kendaraan umum, akhirnya Dimas dan Ayana pun tiba di gerbang kampung Pak Parman. Keduanya berjalan kaki masuk ke kampung itu. Mampir sebentar di sebuah warung, lalu melanjutkan langkah kaki mereka hingga tiba di persimpangan jalan.
"Aku akan keliling sambil nagih ke arah kiri. Kamu nggak apa-apa, 'kan, ke rumah Pak Parman sendirian?"tanya Dimas.
"Iya, kak. Nggak apa-apa, kok!"sahut Ayana.
"Ya sudah. Aku kesana dulu, ya! Besok sore aku ke sini buat dagang sekaligus buat jemput kamu,"ujar Dimas.
"Iya, kak,"sahut Ayana patuh.
Akhirnya keduanya pun berpisah di persimpangan jalan. Dimas ke arah kiri dan Ayana ke arah kanan. Ayana melangkahkan kakinya dengan riang. Sudah hampir dua minggu Ayana tidak bertemu dengan Pak Parman sekeluarga. Setelah beberapa menit melangkahkan kakinya, akhirnya Ayana tiba di depan rumah Pak Parman. Ayana membuka masker dan topinya kemudian melangkah masuk ke pekarangan rumah Pak Parman.
"Assalamu'alaikum ibu! Wulan! Aku pulang!"ucap Ayana seperti yang sering diucapkan oleh Pak Parman.
"Wa'alaikumus salam,"terdengar suara sahutan dari dalam rumah. Dan tak lama kemudian Wulan pun keluar di susul oleh Bu Lastri.
"Ay! Akhirnya kamu pulang juga!"ucap Wulan langsung memeluk Ayana.
__ADS_1
"Akhirnya anak gadis ibu satunya pulang juga,"ucap Bu Lastri ikut memeluk Ayana.
"Ayo, masuk!"ajak Bu Lastri merangkul Ayana masuk ke dalam rumah.
"Bapak masih kerja, ya?"tanya Ayana.
"Iya. Seperti biasa, nanti sore bapak baru pulang,"sahut Bu Lastri.
"Wulan, ibu, ini tadi aku beli roti dan gorengan di depan, ada juga es kelapa muda,"ucap Ayana menunjukkan dua kantong plastik berisi roti, gorengan dan es kelapa muda yang di belikan Dimas tadi.
Saat di jalan tadi, Dimas mengajak Ayana mampir di sebuah warung yang menjual roti, gorengan, dan es kelapa muda. Kata Dimas tidak enak jika datang tidak membawakan oleh-oleh walaupun hanya sedikit dan tidak mahal. Ayana merasa apa yang dikatakan oleh Dimas ada benarnya. Seperti Pak Parman yang selalu membawa makanan saat pulang dari bekerja. Walaupun terkadang hanya kacang rebus, tapi sudah cukup membuat Bu Lastri, Wulan dan Ayana merasa senang. Sederhana tapi terasa begitu berharga.
"Kenapa repot-repot bawa oleh-oleh segala, sih, Ay!"ucap Bu Lastri sambil meraih gorengan yang di berikan Ayana.
"Nggak repot kok, Bu,"sahut Ayana tersebut.
"Alahh.. bilangnya saja nggak usah repot-repot, tapi dimakan juga,"sindir Wulan pada Bu Lastri.
"Ya 'kan, mubazir kalau nggak dimakan, Lan,"sahut Bu Lastri yang sedang mengunyah gorengan nya.
"Bisa aja, ibu ini,"celetuk Wulan. Sedangkan Ayana hanya tersenyum, sudah lama dirinya tidak merasakan kehangatan ini.
"Bapak pasti senang, kalau tahu kamu sudah pulang,"ujar Bu Lastri.
"Aku juga sudah kangen sama bapak Bu,"sahut Ayana.
...π"Bahagia itu sederhana, yang rumit itu hati manusia."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
.
To be continued
__ADS_1