
"Ahh.. aku ada ide,"ucap Diky tiba-tiba seraya menjentikkan jari jempol dan jari telunjuknya.
"Ide apa?"tanya Toyib seraya melirik sekilas ke arah Diky yang wajahnya berubah cerah.
"Kamu besok kerja, nggak?"tanya Diky tanpa menjawab pertanyaan dari Toyib.
"Kerja lah. Tapi dari siang. Aku cuma nagih, doang,"sahut Toyib.
"Pas banget. Besok kamu bantu aku!"ucap Diky terlihat antusias.
"Bantu apa?"tanya Toyib mengernyitkan keningnya menatap Diky.
"Besok aku kasih tahu. Aku akan membuat kita tinggal di sini dengan suasana dan perasaan aman, nyaman dan juga tentram,"sahut Diky dengan wajah cerah.
"Abang!"suara cempreng Ayana terdengar dari dalam rumah.
"Ayo, masuk! Sudah selesai,"ujar Toyib beranjak dari duduknya di ikuti Diky.
"Hafal banget!"celetuk Diky, kemudian terkekeh. Namun Toyib tidak meresponnya.
"Yib, Dik, cepetan ganti baju!"pinta Dimas yang baru keluar dari dalam kamarnya. Pria itu sudah memakai kaos oblong, celana jeans, dan jaket kulit. Wajah tampannya terlihat cerah dan segar.
"Memangnya, kita mau ke mana?"tanya Toyib seraya mengernyitkan keningnya.
"Sudah, ikut saja! Malam ini, kita tidak akan makan malam di rumah ini,"ujar Dimas.
"Abang, kenapa masih di sini? Cepetan ganti baju!"pinta Ayana yang sudah memakai pakaian dengan warna yang serupa dengan Dimas. Kaos oblong, celana jeans dan jaket kulit untuk wanita.
"Iya.. iya..,"sahut Toyib bergegas masuk ke dalam kamar diikuti oleh Diky. Tak lama kemudian, kedua orang pria itu sudah keluar. Diky memakai kemeja yang di lapisi jaket kulit dan Toyib memakai t-shirt yang juga di lapisi jaket kulit.
Dimas yang membonceng Ayana memandu jalan, sedangkan Diky yang membonceng Toyib mengikuti Dimas dari belakang. Setelah berkendara sekitar satu jam, mereka sudah tiba di sebuah rumah yang terlihat megah. Melihat motor Dimas, security yang berjaga di gerbang rumah pun membukakan pintu gerbang.
"Ini rumah siapa, Yib?"tanya Diky seraya mengamati rumah di depan mereka itu.
"Kamu, 'kan, detektif, masa nggak tahu,"sahut Toyib.
"Aku, 'kan, tidak menyelidikinya. Jadi, mama aku tahu,"sahut Diky.
"Ayo, masuk, bang!"ajak Ayana.
__ADS_1
"Ini rumah kedua orang tua Ayana. Papa Geno mengundang kita makan malam bersama di sini,"jelas Dimas.
"Oohh.. rumah Ayana,"sahut Toyib dan Diky bersamaan. Kedua pria itu masuk ke.dalam rumah mengikuti langkah Dimas dan Ayana.
"Kalian sudah datang? Ayo, masuk!"ucap Geno terlihat senang melihat kehadiran empat orang itu. Keempat orang itupun mencium punggung tangan Geno bergantian.
"Eh, kalian sudah datang? Ayo, langsung ke ruangan makan, saja!"ajak Hilda yang baru saja muncul dan melihat empat orang itu. Hilda nampak tersenyum cerah.
Dimas mendorong kursi roda Geno menuju ruangan makan. Mereka duduk mengelilingi meja makan, dan tak lama kemudian, Nando dan Bening pun masuk ke dalam ruangan itu.
"𝘿𝙞𝙖? 𝙋𝙚𝙧𝙚𝙢𝙥𝙪𝙖𝙣 𝙨𝙞𝙖𝙡𝙖𝙣 𝙞𝙣𝙞, 𝙠𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙖𝙙𝙖 𝙙𝙞 𝙨𝙞𝙣𝙞?"gumam Diky dalam hati, menatap tidak suka pada Bening yang sedang mendorong kursi roda Nando.
"𝙊𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙞𝙠𝙖𝙩𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙩𝙚𝙢𝙖𝙣 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨 𝙞𝙩𝙪, 𝙩𝙚𝙧𝙣𝙮𝙖𝙩𝙖 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧-𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝘿𝙞𝙠𝙮,"gumam Bening saat melihat Diky sudah duduk di salah satu kursi meja makan itu menatapnya dengan tatapan datar.
"Oh, iya, Dik, perkenalkan! Ini suami Tante, panggil saja Om Geno, yang ini putra Tante, kakaknya Ayana, namanya Nando dan di sebelahnya itu adalah Bening, istrinya Nando,"ujar Hilda memperkenalkan keluarganya pada Diky.
"Saya Diky, Om, kak!"sapa Diky pada Geno dan Nando tanpa menyapa Bening.
Geno dan Nando mengangguk kecil seraya tersenyum tipis pada Diky.
"Terimakasih, sudah mau datang memenuhi undangan Om. Ayo, makan dulu!"ajak Geno.
"𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨 𝙥𝙞𝙣𝙩𝙖𝙧 𝙗𝙖𝙣𝙜𝙚𝙩, 𝙨𝙞𝙝, 𝙢𝙚𝙧𝙖𝙬𝙖𝙩 𝙙𝙞𝙧𝙞! 𝙒𝙖𝙟𝙖𝙝𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙠𝙞𝙣 𝙡𝙖𝙢𝙖 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙠𝙞𝙣 𝙩𝙖𝙢𝙥𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙞𝙣𝙖𝙧. 𝙏𝙪𝙗𝙪𝙝𝙣𝙮𝙖 𝙥𝙪𝙣 𝙩𝙚𝙧𝙡𝙞𝙝𝙖𝙩 𝙥𝙧𝙤𝙥𝙤𝙧𝙨𝙞𝙤𝙣𝙖𝙡. 𝙏𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙉𝙖𝙣𝙙𝙤 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙙𝙪𝙙𝙪𝙠 𝙙𝙞 𝙠𝙪𝙧𝙨𝙞 𝙧𝙤𝙙𝙖. 𝙏𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙡𝙖𝙜𝙞 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙜𝙖 𝙗𝙚𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙩𝙪𝙗𝙪𝙝𝙣𝙮𝙖,"gumam Bening dalam hati. Terlihat sekali kekaguman Bening pada Dimas.
"𝙋𝙚𝙧𝙚𝙢𝙥𝙪𝙖𝙣 𝙞𝙣𝙞, 𝙢𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙨𝙖𝙟𝙖 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙗𝙚𝙧𝙪𝙗𝙖𝙝. 𝙎𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙥𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙪𝙖𝙢𝙞 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙢𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙢𝙚𝙡𝙞𝙧𝙞𝙠 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨, 𝙢𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙨𝙖𝙟𝙖 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙙𝙪𝙡𝙪,"gumam Diky dalam hati nampak tidak suka melihat Bening.
"𝙋𝙖𝙣𝙩𝙖𝙨 𝙨𝙖𝙟𝙖 𝘼𝙮𝙖𝙣𝙖 𝙢𝙖𝙡𝙚𝙨 𝙥𝙪𝙡𝙖𝙣𝙜, 𝙞𝙩𝙪 𝙥𝙚𝙧𝙚𝙢𝙥𝙪𝙖𝙣 𝙣𝙜𝙜𝙖𝙠 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙜𝙖 𝙢𝙖𝙩𝙖𝙣𝙮𝙖. 𝙎𝙪𝙖𝙢𝙞 𝙖𝙙𝙖 𝙙𝙞 𝙨𝙖𝙢𝙥𝙞𝙣𝙜𝙣𝙮𝙖, 𝙩𝙖𝙥𝙞 𝙢𝙖𝙩𝙖 𝙟𝙚𝙡𝙖𝙡𝙖𝙩𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙡𝙞𝙧𝙞𝙠 𝙡𝙖𝙠𝙞 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜,"gumam Toyib dalam hati, Toyib juga tidak suka melihat Bening terus menerus mencuri pandang pada Dimas.
"𝘽𝙚𝙣𝙞𝙣𝙜 𝙢𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙨𝙖𝙟𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙘𝙪𝙧𝙞 𝙥𝙖𝙣𝙙𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨,"gumam Hilda merasa kesal pada menantu nya itu.
"'𝘽𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙠𝙖𝙩𝙖 𝙢𝙖𝙢𝙖, 𝘽𝙚𝙣𝙞𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙧𝙡𝙞𝙝𝙖𝙩 𝙨𝙪𝙠𝙖 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨,"gumam Geno dalam hati, menghela napas panjang melihat kelakuan menantunya itu.
Sedangkan Dimas dan Ayana nampak makan dengan tenang. Terkadang Dimas mengambilkan lauk untuk Ayana. Terkadang juga Ayana yang mengambilkan lauk untuk Dimas. Terlihat sangat mesra. Sedangkan Nando, hanya tersenyum tipis melihat kemesraan Dimas dan Ayana.
Beberapa menit kemudian, acara makan malam itu, pun selesai. Geno membawa mereka semua ke ruangan keluarga sambil berbincang ringan.
"Om tidak mengira, bisa mengundang detektif yang terkenal dan sibuk seperti kamu untuk makan malam di rumah, Om,"ujar Geno membuka obrolan.
"Om terlalu memuji,"sahut Dik tersenyum tipis.
__ADS_1
"Terimakasih banyak karena kamu telah mengungkap kejahatan Dandy dan juga Noval. Om akan memberikan kamu hadiah untuk itu,"ujar Geno.
"Tidak usah Om. Aku sudah di bayar oleh Dimas,"tolak Diky secara halus.
"Sudah, terima saja! Pamali kalau nolak rejeki. Iya, nggak, Om?"tanya Toyib pada Geno seraya terkekeh kecil.
"Iya. Bener kata Toyib,"sahut Geno ikut terkekeh.
"Ya sudah, kalau Om memaksa,"sahut Diky dengan seulas senyum.
"Nah, gitu. Jangan di tolak! Kalau di tolak itu nggak enak, tapi kalau di terima enak,"sahut Toyib dengan seulas senyum.
"Itu, sih, prinsip Abang,"celetuk Ayana yang duduk menempel pada Dimas, memeluk lengan suaminya itu seolah takut kabur.
"Realistis aja, Ay!"sahut Toyib terkekeh kecil.
"Iya, Ay. Realistis aja, yang penting nggak materialistis,"sahut Diky melirik ke arah Bening sinis. Sedangkan Bening nampak acuh.
"Oh iya, kamu tinggal di mana, Dik?"tanya Geno.
"Aku tinggal bersama Dimas, Ayana, dan Toyib, Om,"sahut Diky tersenyum tipis.
"Oh, ya? Sejak kapan?"tanya Geno nampak terkejut.
"Sebelum melaporkan tindakan kriminal Noval dan Tuan Dandy kemarin, Om,"sahut Diky.
"Jadi, kamu tinggal dengan tiga orang pria dalam satu rumah, Ay?"tanya Bening dengan ekspresi terkejut yang dibuat-buat.
"Memangnya kenapa?"tanya Ayana dengan tatapan tidak suka. Ayana tahu benar, kakak iparnya itu pasti akan mencari celah untuk menjelek-jelekkan dan memojokkan dirinya.
"Enggak apa-apa, sih. Cuma.. Kamu memang tinggal bersama suami kamu, tapi juga tinggal bersama dua orang pria yang tidak ada hubungan apa-apa dengan kamu. Status mereka hanya teman dari suami kamu. Pasti, kamu sering berada di rumah dengan salah satu atau kedua pria ini saat Dimas masih di kantor. Sedangkan kamu masih muda dan cantik. Apa kamu tidak takut dengan penilaian orang? Kamu tidak takut jika... jika salah satu di antara kalian ada yang khilaf?"ujar Bening dengan suara yang di buat selembut mungkin.
Mendengar penuturan Bening itu, tentu saja membuat semua orang yang ada di ruangan itu menatap Bening dengan tatapan tidak suka.
"Apa maksud kamu? Apa yang sebenarnya ingin kamu katakan?"
...🌸❤️🌸...
.
__ADS_1
To be continued