SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
186. Terharu


__ADS_3

"Astagaa!"ucap Ibu Bening saat melihat isi amplop itu.


Ibu Bening, atau mulai sekarang kita panggil saja Bu Ningsih karena Bening sudah di PHK oleh author.


Bu Ningsih nampak terkejut melihat amplop tebal yang berisi uang dan sepucuk surat itu. Dengan tangan yang terlihat tremor, Bu Ningsih mengambil surat yang berada di atas tumpukan uang itu kemudian membacanya.


Untuk Bu Ningsih.


Aku tidak pandai merangkai kata. Jadi, aku langsung pada intinya saja. Aku mohon maaf yang sebesar-besarnya pada ibu karena tidak bisa menjadi suami yang baik untuk putri ibu.


Di dalam amplop ini ada sedikit uang untuk ibu. Mungkin bisa bermanfaat untuk ibu. Dan di dalam kotak ini ada perhiasan yang pernah aku berikan pada Bening. Semua aku berikan kepada ibu sebagai ahli warisnya. Jika ibu ingin menjualnya, di dalamnya ada surat-surat lengkapnya agar ibu bisa menjualnya sesuai dengan harga pasaran.


Jika ibu membutuhkan sesuatu, jangan sungkan untuk menghubungi aku! Aku akan membantu ibu semampuku.


Itu saja yang bisa aku sampaikan pada ibu. Jika ada kata atau kalimat ku yang tidak sengaja menyinggung perasaan ibu, aku mohon maaf! Semoga ibu selalu sehat dan bahagia!


...Nando...


Tanpa terasa Bu Ningsih menitikkan air mata setelah membaca surat dari Nando. Menantu yang dikhianati dan dan hampir dibunuh putrinya beserta seluruh keluarganya itu sama sekali tidak membenci dirinya. Bahkan masih sangat memperhatikan dirinya.


"Bening sebenarnya sangat beruntung karena bisa menikah dengan Nak Nando yang baik hati. Tapi karena tidak mau bersyukur dengan apa yang dimilikinya, Bening menjadi serakah. Jika saja Bening mau bersyukur atas semua yang dimilikinya, hidupnya pasti akan sangat bahagia,"gumam Bu Ningsih seraya mengusap air mata yang tidak bisa di bendung nya.


Bu Ningsih menghitung uang yang ternyata jumlahnya adalah seratus juta. Setelah itu membuka satu persatu kotak perhiasan yang ada di dalam kotak itu. Ada perhiasan yang terbuat dari emas kuning, ada pula yang terbuat dari emas putih. Bahkan adapula yang bertahtakan berlian. Jika di lihat dari surat-suratnya, semua perhiasan itu jika dijual bisa menghasilkan uang sekitar tujuh ratus juta. Total dengan uang tunai yang diberikan Nando jadi sekitar delapan ratus juta. Sedangkan uang Bu Ningsih sendiri yang didapatkan Bu Ningsih dari Nando setiap bulan, masih ada sisa sekitar tujuh juta. Bu Ningsih semakin sedih melihat semua pemberian Nando itu.


"Bagaimana aku bisa membalas kebaikan Nak Nando ini? Jika aku diberi umur panjang, aku ingin diberikan kesempatan untuk membalas kebaikan Nak Nando,"gumam Bu Ningsih seraya mengusap air matanya.


Wanita itu membereskan semuanya dan menyimpannya dengan rapi. Wanita paruh baya itu tidak tahu akan di apakan uang dan perhiasan sebanyak itu. Niat awalnya kembali ke kampung adalah agar bisa berkumpul dengan keluarganya, yaitu adiknya dan keponakannya. Ingin membuka warung makan dengan uang yang dimilikinya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan membantu perekonomian adiknya. Namun malah berakhir diusir adiknya.

__ADS_1


Setelah mendapatkan uang sebanyak itu dari Nando, sekarang Bu Ningsih jadi bingung harus di pakai untuk usaha apa. Karena kelelahan, Bu Ningsih pun tertidur. Udara terasa dingin karena hujan tadi dan juga karena dinding rumah yang hanya terbuat dari anyaman bambu alias geribik yang sudah usang pula. Membuat Bu Ningsih meringkuk di bawah selimut.


Keesokan harinya, Bu Ningsih terbangun dan menemukan Rengganis sudah pulang dari membeli makanan untuk mereka berdua.


"Ibu sudah bangun? Aku sudah membeli makanan untuk kita berdua. Aku nanti harus pergi ke rumah Bu lurah untuk beres-beres rumah. Aku akan pulang siang nanti. Apa.., apa ibu akan tinggal di sini bersama aku? Jika ibu ingin tinggal di sini, aku akan membawakan makan siang untuk ibu. Tapi jika ibu tidak ingin tinggal bersama ku, aku juga tidak apa-apa,"ujar Rengganis menundukkan kepalanya, tersenyum tipis, senyum yang nampak di paksakan.


"Jika kamu tidak keberatan, ibu akan tinggal di sini bersama kamu,"ucap Bu Ningsih membuat Rengganis langsung mengangkat wajahnya.


"Be.. benarkah?"tanya Rengganis untuk memastikan apa yang didengarnya barusan tidak salah.


"Iya. Ibu akan tinggal bersama kamu,"ucap Bu Ningsih dengan seulas senyum.


"Terimakasih, Bu!"ucap gadis itu dengan wajah cerah,"Boleh aku memeluk ibu?"tanya gadis itu ragu.


Bu Ningsih tidak menjawab, tapi wanita paruh baya itu merentangkan kedua tangannya dengan mata yang berkaca-kaca. Karena Bening yang merupakan putri kandungnya sendiri saja tidak pernah memeluk dirinya. Tapi gadis yang baru di kenalnya semalam ini malah ingin memeluknya.


"Eh, kenapa badan ibu terasa panas? Ibu demam?"tanya Rengganis nampak khawatir pada Bu Ningsih,"Aku masih punya obat untuk demam. Ibu makan dulu! Setelah itu, minum obatnya. Hari ini, ibu nggak usah kemana-mana dulu! Istirahat saja di rumah,"ujar Rengganis nampak khawatir. Gadis itu bergegas mengambil obat. Tidak berapa lama kemudian, gadis itupun kembali.


"Ibu cuma sedikit demam. Mungkin karena kelelahan menempuh perjalanan selama setengah hari, setelah itu keliling kampung untuk mencari tempat tinggal. Jadi ibu agak sedikit demam,"sahut Bu Ningsih yang semakin terharu karena perhatian Rengganis. Bahkan Bening tidak pernah merasa khawatir jika dirinya sakit.


"Namanya sakit tetap harus minum obat, Bu. Karena sakit itu nggak enak. Ayo, ibu makan dulu. Aku buatkan teh hangat untuk ibu,"sahut Rengganis lembut.


Mendengar kata-kata Rengganis, Bu Ningsih jadi teringat kata-kata Bening saat dirinya sakit.


"Kalau sakit berobat! Biar cepat sembuh. Aku nggak punya waktu untuk mengurus ibu. Kalau ibu sakit, siapa yang akan beres-beres rumah? Masa iya, harus aku yang beres-beres rumah? Ogah aku!"


Itulah ucapan Bening jika dirinya sakit. Sangat berbeda dengan gadis yang ada di depannya ini yang bahkan ingin membuatkan teh hangat untuk dirinya. Sedangkan Bening, sampai putrinya itu meninggal, Bu Ningsih belum pernah merasakan bagaimana rasanya teh buatan Bening.

__ADS_1


"Apa pekerjaan kamu?"tanya Bu Ningsih.


"Apa saja, Bu. Serabutan. Beres-beres rumah orang, bantu-bantu masak, nyuci sama menyetrika baju juga. Kalau pas musim tanam dan panen, kalau ada yang ngajak ya, ikut,"sahut gadis yang kulitnya hitam karena terbakar matahari itu.


"Kamu lulusan apa?"


"Aku lulusan SMA, Bu,"


"Kenapa tidak mencari kerja di kota saja?"


"Aku tidak punya uang, Bu. Mencari pekerjaan, 'kan, juga butuh uang untuk makan, minum dan tempat tinggal sementara. Sudah diterima pun, juga harus punya uang untuk biaya hidup sebelum menerima gaji. Aku nggak punya tabungan untuk itu semua, Bu. Mau nyari kerja lewat handphone pun, aku nggak punya handphone. Jangankan handphone, bisa makan sehari-hari saja aku sudah senang, Bu,"sahut gadis itu menghela napas panjang,"Tapi ibu jangan khawatir! Karena ada ibu di sini, rejeki aku pasti akan bertambah banyak. Aku pasti bisa mencukupi kebutuhan hidup kita berdua. Aku akan bekerja lebih keras lagi, agar kita bisa makan makanan yang lebih bergizi,"ucap gadis itu terlihat antusias.


Bu Ningsih semakin terharu dibuatnya. Gadis ini berniat menghidupi dirinya dengan penuh semangat. Sedangkan putri kandungnya sendiri menganggap dirinya sebagai beban.


"Maaf, sejak kapan orang tua kamu meninggal?"


...🌸❤️🌸...


Notebook :


•Tremor adalah gerakan gemetar yang tidak terkendali yang muncul berulang kali tanpa disadari dan muncul pada salah satu atau beberapa anggota tubuh. Lebih sering, tremor muncul pada tangan, tetapi kondisi ini juga bisa muncul pada bagian tubuh lainnya, seperti kaki bahkan kepala.


•Dalam bahasa gaul, kata tremor digunakan untuk merespon orang-orang yang mengalami shock atau usai kejadian yang tidak diduganya. Biasanya, bentuk tremor dapat berupa gemetar pada tangan, hingga mengalami situasi panik.


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2