
Diky baru pulang saat waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Pekerjaannya memang tidak memiliki waktu dan jam kerja yang tentu. Semakin cepat menyelesaikan pekerjaan akan semakin bagus dan membuat klien puas. Kebanyakan, klien akan memberikan bonus jika pekerjaan mereka selesai lebih cepat.
"Huff.. capek nya!"gumam Diky seraya masuk ke dalam rumah, kemudian duduk di sofa ruang tamu.
"Kamu lama sekali mengantar Wulan pulang, Dik? Kamu mengajak dia ngedate, ya?"tanya Toyib dengan mata dan tangan yang fokus pada handphone nya karena sedang main game.
"Aku cuma sebentar di sana. Anak buahku menelpon dan aku harus segera meluncur ke lokasi penyelidikan,"sahut Diky yang terlihat lelah.
"Jadi, babang belum makan malam?"tanya Ayana yang juga sedang main game di handphone nya sambil tiduran di sofa, merebahkan kepalanya di pangkuan Dimas yang sedang sibuk dengan pasar sahamnya.
"Sudah. Tapi tadi cuma makan sedikit,"sahut Diky yang menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.
"Ya, udah. Makan dulu sana, gih! Masih ada lauk dan nasi,"ujar Ayana.
"Nanti aja Ay. Belum terlalu lapar,"sahut Diky seraya memijit bahunya sendiri.
"Gimana tadi? Ketemu sama Pak Parman enggak?"tanya Dimas menatap Diky sekilas.
"Ketemu,"sahut Diky singkat.
"Gimana responnya, Dik?"tanya Toyib meletakkan handphonenya di atas meja.
"Responnya positif. Mereka juga ramah,"sahut Diky.
"Lalu, bagaimana planning kamu selanjutnya?"tanya Toyib.
"Aku akan ikuti saran dari kamu, Yib. Aku akan melamar dia,"sahut Diky antusias.
"Melamar?"tanya Dimas dan Ayana bersamaan. Sepasang suami istri itu nampak terkejut. Bahkan Ayana yang dari tadi bermanja-manja di pangkuan Dimas beranjak duduk karena mendengar Diky akan melamar Wulan. Sedangkan Dimas langsung meletakkan handphonenya di atas meja.
"Iya. Kenapa? Kok kalian kayak terkejut banget gitu?"tanya Diky mengernyitkan keningnya.
"Memangnya, sudah sejauh apa hubungan kalian?"tanya Dimas. Selama ini Dimas memang tidak tahu sampai dimana hubungan Diky dan Wulan karena kesibukan masing-masing.
"Belum jauh, Dim. Kamu tahu sendiri, aku selalu sibuk dengan pekerjaan ku. Aku tidak punya waktu, untuk pdkt,"sahut Diky.
"Jika begitu, kenapa babang tiba-tiba ingin melamar Wulan?"tanya Ayana mengernyitkan keningnya.
"Aku ingin menjalani hubungan yang serius dengan Wulan. Aku sudah menyelidiki Wulan dan juga keluarga nya. Mereka orang yang sederhana dan baik. Dan setelah tadi bertemu secara langsung dengan kedua orang tua Wulan, aku semakin mantap untuk melamar dia. Apa kira-kira, Wulan menerima aku, jika aku melamar dia, Ay?"tanya Diky, menatap Ayana serius.
__ADS_1
"Aku tidak tahu babang. Soalnya, selama ini Wulan nggak pernah bicara soal babang sama aku,"sahut Ayana.
"Apa tidak sebaiknya jika Ayana mencari tahu dulu gimana perasaan Wulan sama kamu, Dik? Ayana adalah sahabat Wulan dan cukup dekat dengan keluarga Wulan. Ayana juga lumayan lama tinggal bersama mereka. Aku rasa, Ayana bisa mencari tahu bagaimana perasaan Wulan sama kamu. Dan mungkin, juga bisa mencari tahu bagaimana penilaian kedua orang tua Wulan sama kamu,"ujar Dimas memberikan saran, tidak ingin lamaran Diky di tolak oleh Wulan.
Diky tidak menjawab, pria itu nampak berpikir, lalu menatap Toyib dan Ayana secara bergantian. Seolah ingin meminta pendapat dari keduanya.
"Aku akan mencari tahu tentang hal ini, jika babang setuju,"sahut Ayana.
"Aku rasa, saran Dimas ada baiknya, Dik. Walaupun aku yakin jika lamaran kamu nggak bakal di tolak,"sahut Toyib penuh keyakinan.
"Ya sudah, aku, 'kan, libur. Besok biar aku ke sana untuk mencari info lebih detail lagi,"ujar Ayana antusias.
"Oke. Kalau begitu, babang serahkan masalah ini sama kamu, Ay,"sahut Diky memutuskan.
"Oke, aku akan melakukan investigasi lebih mendalam,"sahut Ayana antusias.
"Ishh.. menggemaskan sekali,"celetuk Dimas yang melihat ekspresi Ayana. Pria itu spontan memeluk dan mencium pipi Ayana.
Ayana tersenyum dan malah menoleh pada Dimas, hingga saat Dimas ingin kembali mencium pipi Ayana, bibir Dimas malah mendarat di bibir Ayana.
"Haissh.. kalian bikin aku jadi lapar aja,"celetuk Diky membuang napas kasar. Melihat Dimas mencium pipi Ayana, membuat Diky teringat dengan pipi Wulan yang tersipu malu tadi sore.
"Aku lapar pengen makan orang. Tapi sayangnya belum halal. Jadi, sementara waktu, aku makan nasi aja dulu,"sahut Diky seraya beranjak dari duduknya.
"Kalau sudah ngebet, ngomong, bro!"sahut Toyib kemudian terkekeh. Ayana dan Dimas yang sedang berpelukan pun ikut terkekeh.
"Aku ngebet kawin gara-gara kalian bertiga. Otakku terkontaminasi oleh kalian,"ujar Diky seraya berjalan menuju ruangan makan.
"Nikah dulu, baru kawin,"sahut Toyib kemudian terkekeh.
"Eh, siapa yang bakal mengantarkan aku ke rumah Wulan?"tanya Ayana menatap Dimas dan Toyib bergantian.
"Sama Toyib aja, ya, Ay! Soalnya arah kantor dan rumah Pak Parman, 'kan, beda,"ujar Dimas.
"Iya, kak, nggak apa-apa,"sahut Ayana yang mengerti jika harus berangkat lebih pagi jika Dimas harus mengantarkan dirinya,"Tapi, apa Abang bisa?"tanya Ayana.
"Santai aja! Abang bisa, kok! Asal ada ijin dari yang mulia suami,"sahut Toyib tersenyum tipis.
Keesokan harinya, setelah sarapan, Dimas berangkat ke kantor, Diky juga berangkat bekerja, Toyib dan Ayana juga sudah siap berangkat ke rumah Pak Parman.
__ADS_1
"Aku sudah lama nggak ketemu bapak sama ibu,"ujar Ayana yang terlihat senang saat akan berangkat ke rumah Pak Parman.
"Ini! Pakai dulu helm nya, Ay,"ucap Toyib seraya menyodorkan helm pada Ayana.
"Abang, nanti mampir dulu ke pasar tradisional yang dipinggir jalan dekat lapangan itu, ya!"pinta Ayana seraya memakai helm yang di berikan oleh Toyib.
"Oke, siap. Sudah bawa uang cash belum? Kalau belum, kita mampir ke ATM dulu,"sahut Toyib yang mulai naik ke atas motornya.
"Ah, iya. Hampir saja lupa kalau Abang tidak mengingatkan,"sahut Ayana.
"Ya, sudah. Ayo, berangkat!"ajak Toyib.
"Hum,"sahut Ayana bergegas naik di boncengan motor Toyib.
Keduanya berangkat dan sepanjang perjalanan mengobrol serta bersenda gurau layaknya adik kakak. Toyib juga menemani Ayana belanja di pasar. Membawakan barang belanjaan Ayana. Setelah selesai belanja cukup banyak, mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju rumah Pak Parman. Dan tidak lama kemudian, mereka pun tiba di rumah Wulan.
"Ayana!"pekik Bu Lastri yang sedang menyapu di halaman rumah saat melihat Ayana turun dari motor Toyib. Wanita paruh baya itu tersenyum lebar melihat Ayana.
"Ibuu.. aku kangen sama ibu,"pekik Ayana bergegas menghampiri Bu Lastri dan memeluknya.Toyib hanya tersenyum tipis melihat interaksi keduanya.
"Masuk Nak Toyib!"ujar Bu Lastri.
"Iya, Bu, aku keluarkan barang belanjaan dari jog dulu,"sahut Toyib seraya mengeluarkan barang belanjaan Ayana dari jog motor lalu membawa barang belanjaan yang lumayan banyak itu dibantu Ayana dan Bu Lastri.
"Kamu dari memborong di pasar, Ay?"tanya Bu Lastri melihat Ayana belanja begitu banyak.
"Tadi aku lihat semuanya bagus-bagus, Bu, jadi aku khilaf,"sahut Ayana tertawa kecil.
"Ay, Abang langsung berangkat bekerja, ya? Tagihan Abang hari ini lumayan banyak. Nanti sore Abang jemput,"pamit Toyib.
"Iya, bang. Hati-hati!"ucap Ayana.
"Hum,"sahut Toyib.
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
__ADS_1