
Dimas dan Toyib nampak sedang makan bersama dengan wajah murung. Memakan makanan yang mereka beli dari warung. Walaupun stok bahan masakan di dalam kulkas masih banyak, tapi Dimas merasa malas untuk memasaknya. Sedangkan masakan yang di buat Ayana tadi pagi sudah mereka makan saat pulang kerja tadi.
"Apa Ayana tidak akan kembali bersama kita lagi, Dim?"tanya Toyib yang nampak tidak berselera makan.
"Aku tidak tahu,"sahut Dimas yang terdengar lesu. Pria itu juga nampak tidak berselera untuk makan.
"Kenapa nasi goreng ini minyaknya banyak sekali? Tidak seperti buatan Ayana,"keluh Toyib.
"Rendangnya juga rasanya nggak seperti masakan Ayana. Ini rendang rasanya malah manis. Sebenarnya ini rendang atau gudeg?"sahut Dimas.
"Aku bisa kena kolesterol jika terus terusan makan masakan warung. Nasi goreng banyak minyak, sambel banyak minyak, ini gorengan juga banyak minyaknya. Apa setelah di angkat, gorengan nya tidak ditiriskan lagi?"keluh Toyib yang menunjukkan bakwan dan tempe mendoan yang terlihat banyak minyaknya.
"Sepertinya masakannya banyak penyedap rasanya, deh,"sahut Dimas.
Terbiasa makan masakan Ayana yang memakai minyak tidak terlalu banyak, membuat kedua pria itu jadi merasa tidak berselera makan saat membeli masakan dari warung yang rata-rata banyak minyaknya. Belum lagi karena masakkan warung yang rata-rata memakai penyedap rasa. Sedangkan Ayana lebih suka memasak menggunakan bumbu yang lebih banyak tanpa menggunakan penyedap rasa. Seperti yang diajarkan oleh Bu Lastri.
Orang tidak terbiasa memakan makanan yang tidak memakai penyedap rasa akan merasa mulut, tenggorokan dan perutnya tidak nyaman saat memakan makanan yang di beri penyedap rasa. Dan orang yang terbiasa makan masakan menggunakan minyak dalam jumlah sedikit dalam masakan juga akan merasa eneg dan tenggorokannya terasa tidak nyaman saat makan makanan yang terlalu berminyak.
"Aku kangen sama Ayana. Kangen sama masakannya, kopi susu dan suteja buatannya. Aku juga rindu suara cemprengnya. Rasanya sepi sekali karena tidak ada yang memarahi aku,"ujar Toyib yang padahal tadi pagi masih bertemu dengan Ayana.
***
Dimas masuk ke kamarnya yang sudah enam bulan ini di tempati oleh Ayana. Menatap handphone Ayana yang diletakkan di atas meja. Di sekolah dilarang membawa handphone, jadi, Dimas tidak bisa mengetahui bagaimana keadaan Ayana sekarang. Karena Ayana tidak membawa handphone.
Dimas membaringkan tubuhnya di ranjang yang masih tertinggal aroma tubuh Ayana. Dimas mengambil handphonenya dan melihat foto yang pernah dikirimkan Toyib. Fotonya dan Ayana dalam posisi berciuman.
"Aku tidak pantas bersanding dengan mu. Tidak berani untuk memilikimu. Tapi aku ingin selalu berada di dekatmu. Melihat mu tersenyum dan tertawa adalah sebuah kebahagiaan bagi ku,"gumam Dimas menghela napas yang terasa berat dan sesak.
__ADS_1
Di dalam kamar Toyib, duda muda beranak satu itu juga nampak belum bisa tidur. Pria itu berkali-kali menghela napas.
"Aku terlalu merasa nyaman dengan kehadiran mu. Aku benar-benar menganggap mu seperti adikku sendiri. Dan saat kamu pergi tanpa berpamitan seperti ini, aku merasa sangat kehilangan mu. Aku tidak rela kamu pergi,"gumam Toyib yang menatap langit-langit kamarnya mengenang kebersamaannya bersama Ayana.
Toyib memang sangat menyayangi Ayana yang sudah dianggapnya sebagai adiknya sendiri. Tidak pernah pelit pada Ayana. Walaupun Ayana suka memukul dan memarahinya, tapi Toyib tidak pernah marah pada Ayana. Seperti kata Dimas, Ayana memarahi dirinya karena Ayana peduli dan perhatian pada dirinya.
Sedangkan Ayana yang saat ini berada di dalam kamarnya pun tidak bisa tidur. Pusing mencari jalan keluar untuk masalahnya. Jika menolak bertemu dan pergi dengan Noval, maka Pak Parman akan terkena akibatnya. Namun bertemu dan pergi dengan Noval, sama saja menyerahkan diri ke mulut buaya. Ayana tidak bisa tidur memikirkan hal itu. Bahkan Ayana tidak mandi, tidak makan dan juga tidak mengganti pakaiannya. Masih memakai kaos kaki, seragam yang lengkap dengan dasinya, bahkan masih memakai jaket yang dibelikan Dimas. Dan saat fajar mulai menyingsing, gadis itu baru bisa terlelap.
"Ceklek"
Pintu kamar Ayana dibuka dari luar. Hilda muncul dari balik pintu dan membuang napas kasar saat melihat Ayana masih tidur.
"Dari kemarin dia tidak mengganti bajunya? Dia tidak mandi? Dasar jorok! Pemalas!"gerutu Hilda saat melihat Ayana masih memakai pakaiannya yang kemarin. Hilda kemudian menghampiri Ayana,"Hei! Bangun! Dasar pemalas! Ayana! Bangun!"teriak Hilda seraya menggoyang-goyangkan tubuh Ayana.
Ayana perlahan membuka matanya. Kepalanya terasa pusing karena baru tidur sebentar. Perutnya juga terasa tidak nyaman karena terakhir makan cuma kemarin pagi saat akan berangkat sekolah. Ayana hanya minum air mineral botolan dari dalam tasnya yang dibelinya kemarin siang.
"Cepat bersihkan dirimu! Mama tunggu di bawah,"ujar Hilda kemudian keluar dari kamar mandi itu. Namun saat Hilda memegang handle pintu tiba-tiba...
"Huek! Huek! Huek!"
Terdengar suara Ayana dari dalam kamar mandi. Gadis itu terdengar sedang muntah-muntah. Hilda berdiri mematung, tangan kanannya memegang kuat handle pintu. Sedangkan tangan kirinya mengepal kuat. Ekspresi wajahnya sulit diartikan. Marah, kecewa, geram, kaget dan entah apalagi.
"Tidak. Dia tidak sedang mengandung. Mungkin Ayana hanya masuk angin karena kemarin tidak aku beri makan. Lagi pula, kemarin dia penuh percaya diri mengatakan jika dirinya bukan perempuan murahan,"gumam Hilda mencoba berpikir positif.
Dengan hati yang berkecamuk, Hilda keluar dari kamar Ayana. Takut jika putrinya hamil? Tentu saja. Enam bulan ini Hilda tidak tahu kemana putri pergi dan bergaul dengan siapa. Hidup di luar sana tanpa membawa apa-apa dari rumah selain baju yang menempel di badan. Bahkan waktu itu handphone pun Ayana tidak membawa. Entah apa yang dilakukan putrinya untuk bertahan hidup di luar sana. Hilda tidak tahu.
Sedangkan di dalam kamar mandi, Ayana hanya memuntahkan cairan yang berwarna kuning. Tidak ada makanan yang dimuntahkan nya. Karena terakhir makan adalah kemarin pagi.
__ADS_1
"Sepertinya aku masuk angin,"gumam Ayana.
Setelah merasa tidak mual lagi, Ayana pun membersihkan diri. Ayana melihat tubuhnya yang penuh dengan tanda kebiruan karena bekas pukulan sapu dari Hilda kemarin.
Ayana menghela napas yang terasa berat. Gadis itu masih belum menemukan solusi untuk masalah yang dihadapinya kali ini. Tidak ada tempat untuk berkeluh kesah dan tidak ada orang untuk berbagai cerita.
Ayana membuka lemari pakaiannya. Memilih baju yang agak tertutup. Selama tinggal dengan Dimas dan Toyib, dua pria itu memberikan baju yang longgar dan juga sopan pada Ayana. Tidak ada pakaian Ayana yang terbuka. Celana yang paling pendek pun panjangnya di bawah lutut.
Setelah memakai pakaian, Ayana pun turun dan berjalan menuju ruangan makan. Geno dan Hilda nampak sudah duduk menghadap meja makan. Ayana pun duduk di salah satu kursi.
Hilda nampak menelisik penampilan putrinya. Wajah yang terlihat pucat, mata yang seperti panda dan tubuh yang terlihat lesu.
Ayana diam tanpa mengatakan apapun. Gadis itu mengambilkan roti tawar dan mengoleskan selai di atasnya. Setelah itu Ayana mulai memakannya.
"Kamu tidak bergaul dengan sembarang pria, 'kan, diluar sana? Tidak tertipu bujuk rayu buaya, 'kan?"tanya Hilda menatap Ayana intens.
...π"Kamu akan menghargai sebuah kebersamaan, saat menyadari betapa rindunya saat berjauhan."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
.
To be continued
__ADS_1