
Setelah sarapan pagi, Dimas dan Ayana pun pergi ke rumah Geno. Dimas tidak ingin lagi mendengar keributan di rumah kedua orang tuanya hanya karena Delvin yang tidak suka dengan kehadiran Dimas di rumah itu. Memilih hidup tenang tanpa perselisihan dan perdebatan yang terjadi hanya karena harta.
Di teras rumah, Buston, Liliana, Axell dan Delvin menatap mobil yang membawa Ayana dan Dimas pergi dari rumah itu. Terlihat kekecewaan di wajah Buston, Liliana dan Axell. Sedangkan Delvin nampak bingung dengan perasaannya sendiri. Delvin hanya bisa membuang napas kasar. Satu sisi merasa senang karena Dimas pergi dari rumah itu, dan di satu sisi merasa sedih karena tidak akan bisa melihat Ayana setiap hari lagi. Karena dengan perginya Dimas dari rumahnya, berarti Ayana juga ikut pergi.
"Sudah puas kamu karena sudah berhasil membuat kakak pergi dari rumah ini? Aku benar-benar kecewa sama kamu, Vin! Kamu itu manusia yang tidak bisa menghargai orang lain, tidak tahu balas budi dan tidak tahu menempatkan diri. Dimana pun kamu berada, kamu tidak akan disukai orang jika kamu bersikap seperti ini,"ujar Axell yang terlihat kesal, lalu pergi dari tempat itu.
Dengan keberadaan Dimas di rumah itu, Axell berharap bisa lebih dekat dan lebih mengenal Dimas. Tapi Delvin malah membuat Dimas dan Ayana tidak betah berada di rumah itu, karena sikap Delvin yang menunjukkan rasa tidak sukanya pada Dimas.
"Mama juga kecewa sama kamu, Vin. Tidak seharusnya kamu bersikap seperti ini pada Dimas. Padahal mama merasa senang dengan keberadaan Ayana di rumah ini. Tapi, kamu malah membuat mereka tidak betah tinggal di sini,"timpal Liliana ikut pergi meninggalkan Delvin.
"Papa juga kecewa sama kamu, Vin. Benar kata Axell, kamu itu manusia yang tidak bisa di menghargai orang lain, tidak tahu balas budi dan tidak tahu menempatkan diri. Jangankan bersikap baik, bahkan kamu tidak menghargai kakak kamu yang sudah menyelamatkan nyawa kamu dan keluarga kamu. Papa benar-benar kecewa sama kamu,"imbuh Buston yang juga meninggalkan tempat itu hingga meninggalkan Delvin di tempat itu sendiri.
Delvin mengusap wajahnya dengan kasar. Melihat semua orang meninggalkan dirinya. Tidak ada seorang pun yang berpihak pada dirinya.
"Begitu mudahnya dia membuat orang lain menyayangi dirinya dan membenci aku,"gumam Delvin seraya mengepalkan kedua tangannya. Rahang pemuda itu nampak mengeras.
Ayana menyandarkan kepalanya di bahu Dimas seraya memegang lengan Dimas. Bagi Ayana, bahu Dimas adalah tempat paling nyaman bagi Ayana untuk bersandar. Bukan sekedar tempat untuk menyandarkan kepalanya. Tapi Dimas juga tempat untuk menyandarkan hati, cinta dan hidupnya. Segalanya bagi Ayana.
"Kak!"
"Hum,"
__ADS_1
"Aku ingin ke pantai melihat sunset,"ujar Ayana yang sudah lama tidak melihat langit senja bersama Dimas. Terakhir kali melihat senja bersama Dimas adalah sebelum Dimas mengalami kecelakaan, lalu koma.
"Okey. Kita ke pantai,"sahut Dimas yang merasa permintaan Ayana itu tidaklah sulit untuk kabulkan.
Mendengar jawaban Dimas, Ayana langsung duduk dengan tegak menatap Dimas dengan senyuman lebar hingga deretan gigi putihnya yang rapi terlihat.
"Terimakasih!"ucap Ayana langsung meraih tengkuk Dimas dan mencium bibir Dimas beberapa kali.
Dimas sempat terkejut dengan aksi spontan Ayana, namun akhirnya tersenyum lembut pada wanita yang menjadi istrinya itu. Mengusap lembut kepala Ayana yang terlihat bahagia.
"Hanya karena aku mengabulkan keinginan dia untuk pergi ke pantai, dia sudah terlihat sangat bahagia seperti itu,"gumam Dimas dalam hati. Dimas ikut merasa bahagia saat melihat Ayana begitu bahagia.
Sedangkan supir Buston yang mengantarkan sepasang suami-isteri itu terlihat tersenyum tipis seraya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan saat tidak sengaja melihat kemesraan sepasang suami-isteri itu dari kaca dasbor mobil.
Sesampainya di pantai, Ayana mengajak Dimas bermain di pantai. Wanita hamil itu terlihat sangat bahagia. Saat hari beranjak siang, Dimas mengajak Ayana untuk kembali ke hotel. Selain karena cuaca yang terasa semakin panas, juga karena Ayana terlihat sudah lelah. Sebentar lagi juga waktunya makan siang.
Tak lama setelah makan siang, sepasang suami-isteri itu pun tidur karena merasa lelah. Sore harinya mereka kembali pergi ke pantai untuk melihat sunset.
"Ayo, kak! Aku ingin melihat sunset di atas batu karang sana,"ajak Ayana menunjuk ke tempat terakhir kali mereka melihat sunset.
"Tapi, Ay, jalan ke sana agak susah dan tinggi,"sahut Dimas yang mengkhawatirkan keadaan Ayana yang sedang mengandung. Takut wanita hamil itu terjatuh.
__ADS_1
"Aku ingin melihat sunset di atas sana, kak. Please!"pinta Ayana dengan wajah memelas.
Karena tidak tega membuat Ayana bersedih, akhirnya Dimas mengabulkan keinginan Ayana. Dengan hati-hati Dimas menuntun Ayana menuju tempat yang diinginkan oleh Ayana. Hingga akhirnya mereka bisa sampai di tempat yang diinginkan oleh Ayana.
Ayana meminta Dimas duduk di belakangnya seperti terakhir kali mereka duduk di tempat itu. Dimas dan Ayana duduk di batu karang dengan posisi Dimas yang memeluk Ayana dari belakang. Ayana duduk di antara kedua kaki Dimas yang di tekuk mirip seperti posisi berjongkok, tapi dengan bokong yang menempel di atas batu karang.
Lengan kekar Dimas memeluk perut Ayana, sedangkan Ayana menyandarkan kepalanya di dada bidang Dimas. Posisi yang sama persis dengan terakhir kali mereka melihat sunset di pantai itu Bedanya, dulu perut Ayana masih rata, tapi sekarang perut Ayana sudah besar. Keduanya sama-sama menatap indahnya langit senja, sama seperti enam bulan yang lalu.
Rasanya masih terngiang di telinga Ayana kata-kata Dimas saat mereka duduk di tempat itu sekitar enam bulan lalu.
"Terakhir kali kita melihat senja di sini, kakak bilang jika usia kita jauh berbeda. Kakak akan menua lebih dulu dari aku. Lalu kakak bertanya padaku, apakah aku akan tetap mencintai kakak sampai kakak menua nanti? Aku menjawab kalau aku akan mencintai kakak sampai akhir napas ku. Tidak akan ada yang bisa menggantikan posisi kakak di hatiku. Karena seluruh cinta ku sudah aku persembahkan untuk kakak. Tidak ada lagi yang tersisa,"
"Lalu kakak berkata, kakak berharap aku akan tetap mencintai kakak, bagaimana pun keadaan kakak. Walaupun rambut kakak telah memutih, kulit kakak menjadi keriput, dan mungkin gigi kakak pun tak akan bersisa lagi. Lalu aku berkata, apapun keadaannya, aku akan tetap mencintai kakak. Tidak akan pernah meninggalkan kakak. Baik dalam suka dan duka. Dalam tangis maupun tawa. Kita akan tetap bersama. Dan aku telah membuktikannya saat kakak mengalami koma selama enam bulan kemarin. Aku tetap mencintai kakak dan tidak pernah meninggalkan kakak walaupun kakak sedang koma,"
"Waktu itu, aku sempat merajuk saat kakak mengatakan kakak mencintai aku. Sangat mencintai aku. Tapi mungkin kakak tidak akan bisa selalu ada untuk menjaga aku. Kakak bilang, seandainya nanti kakak pergi, maka aku harus cari kebahagiaan ku sendiri. Dan jangan pernah terpuruk karena kepergian kakak. Aku tidak menyangka jika tidak lama dari kita melihat senja di tempat ini, kakak akan mengalami kecelakaan yang membuat kakak mengalami koma selama enam bulan,"ujar Ayana masih memegang lengan Dimas yang melingkar di perutnya.
Dimas hanya terdiam mendengar kata-kata Ayana. Kata-kata Ayana terasa familiar di telinganya. Dimas memejamkan matanya menghirup aroma shampo di rambut Ayana seraya mengelus perut Ayana yang besar.
"Maaf! Karena aku sudah membuat kamu melewati semuanya sendirian. Dan terimakasih, karena tetap berada di sisiku bagaimana pun keadaan ku. Aku akan berusaha membahagiakan kamu dan anak kita semampu ku,"ucap Dimas tulus. Walaupun Dimas belum biasa mengingat memori tentang masa lalunya dengan jelas, tapi Dimas merasa benar-benar nyaman dan bahagia saat bersama Ayana.
...🌸❤️🌸...
__ADS_1
.
To be continued