
Waktu terus berlalu, hari-hari berlalu menjadi Minggu dan Minggu-minggu berlalu menjadi bulan. Delvin masih penasaran dan sering mencari waktu untuk mendekati Ayana. Tapi Ayana terus saja menghindar.
Sedangkan mahasiswa yang lain, walaupun menyukai Ayana, mereka tidak berani mendekati Ayana. Karena Delvin sang pangeran kampus sekaligus anak dari orang terkaya di negeri ini lebih dulu mendekati Ayana. Kalaupun mereka lebih dulu mendekati Ayana, mereka pasti juga akan mundur jika Delvin ikut bersaing dengan mereka. Karena dari segi apapun mereka akan kalah dibandingkan dengan Delvin. Apalagi ayah Delvin
"Hai, Ay!"sapa Delvin yang diikuti kedua temannya, saat Ayana baru keluar dari toilet kampus.
Delvin sengaja mendekati Ayana pelan-pelan setelah mengetahui Ayana punya trauma pada pria asing. Jadi Delvin akan berusaha agar Ayana bisa menerima kehadirannya secara perlahan.
"Maaf, permisi!"ucap Ayana berjalan meninggalkan Delvin.
"Tunggu!"ucap Delvin menghadang Ayana diikuti kedua temannya yang ikut menghadang. Delvin tidak berani lagi menyentuh Ayana, karena khawatir Ayana histeris dan takut padanya.
"Tolong biarkan aku pergi!"ucap Ayana datar tanpa menatap tiga orang pemuda di depannya itu.
"Ay, aku hanya ingin berteman dengan kamu,"ucap Delvin lembut.
"Kita sudah berteman sejak aku masuk ke kampus ini. Jadi, tolong biarkan aku pergi,"ucap Ayana tetap datar.
"Aku ingin kita menjadi teman dekat,"ucap Delvin yang tidak menyerah mendekati Ayana.
"Maaf! Aku tidak bisa berteman dekat dengan seorang laki-laki. Karena aku harus menjaga hati suamiku,"ucap Ayana jujur adanya.
"Ha..ha.ha. kamu ini bercanda. Jangan menghindari aku dengan alasan konyol seperti itu,"ucap Delvin tidak percaya.
"Kamu menghindari bos Delvin dengan mengatakan sudah menikah?"tanya si gisul tertawa tanpa suara.
"Ayana pengennya langsung di lamar kali, bos!"celetuk si keriting.
"Aku akan melamar kamu, jika kamu mau. Sekarang juga boleh,"ucap Delvin serius.
Ayana menghela napas, kemudian menatap Delvin dengan tatapan datar"Aku tidak bercanda. Aku sudah menikah. Bahkan enam bulan sebelum aku lulus sekolah,"ucap Ayana seraya mengangkat tangannya dan menunjukkan cincin pernikahannya dengan Dimas,"Jadi, tolong jangan dekati aku lagi! Banyak mahasiswi di kampus ini yang cantik dan masih singel. Kenapa kakak mendekatkan aku yang sudah bersuami?"ujar Ayana, kemudian meninggalkan ke tiga mahasiswa itu begitu saja.
"Apa benar, dia sudah menikah?"gumam si gisul menatap Ayana yang semakin menjauh.
"Aku rasa dia cuma menguji bos saja. Biar dikejar-kejar sama bos. Cewek, 'kan, emang begitu. Pura-pura jual mahal. Padahal dalam hati suka,"sahut si keriting.
"Tapi cincin di jari manisnya tadi..."
"Emang cincin bisa membuktikan kalau dia sudah menikah? Banyak yang pakai cincin kek begitu, tapi belum nikah,"ucap si keriting memotong kata-kata si gisul.
"Sudah! Sudah! Cabut, yuk! Ngapain parkir di mari?"ucap Delvin bergegas meninggalkan toilet kampus itu. Si keriting dan si gisul pun bergegas mengikuti Delvin.
***
Malam Minggu ini adalah malam Minggu ke empat Diky tidak mengajak Wulan ngedate. Semenjak terakhir kali Wulan menelpon Diky pagi itupun, Diky tidak menghubungi Wulan sama sekali. Walaupun sekedar chat pun tidak. Bahkan sampai saat ini, nomor handphone Diky tidak dapat dihubungi. Motor yang diberikan Diky pun, sampai saat ini belum di pakai Wulan sama sekali.
__ADS_1
Wulan menatap gamang handphonenya. Menghela napas berkali-kali. Sampai saat ini, Wulan tidak berani menanyakan apapun tentang Diky pada Ayana.
"Lan, sini! Duduk sini!"panggil Bu Lastri saat melihat Wulan keluar dari kamarnya untuk minum.
"Sebentar, Bu. Aku mau minum dulu,"sahut Wulan berjalan menuju lemari es, kemudian mengambil sebotol air minum, dan gelas, lalu ikut duduk bersama Bu Lastri dan Pak Parman yang duduk di kursi meja makan.
"Malam ini kamu nggak keluar sama Nak Diky, Lan?"tanya Bu Lastri menatap Wulan yang sedang menuang air ke dalam gelas.
"Nggak, Bu,"sahut Wulan,"Gimana mau keluar? Bahkan sudah satu bulan bang Diky tidak menghubungi aku sama sekali. Aku benar-benar lost kontak dengan bang Diky. Apa bang Diky masih menganggap aku tunangannya?"gumam Wulan dalam hati seraya meneguk air dari dalam gelas.
"Kamu nggak lagi berantem sama, Nak Diky, 'kan, Lan?"tanya Pak Parman.
"Enggak, kok,. Pak,"sahut Wulan berbohong.
"Lalu kenapa Nak Diky sudah sebulan ini nggak ke sini-sini?"tanya Bu Lastri curiga.
"Ibu, 'kan, tahu, apa pekerjaan bang Diky, Bang Diky lagi nanganin kasus,"dusta Wulan.
"Sesibuk apapun Nak Diky, tidak wajar jika selama satu bulan dia tidak menemui dan mengajak kamu keluar,"ujar Bu Lastri yang merasa curiga jika Wulan ada masalah dengan Diky.
"Bang Diky sering menyempatkan diri untuk bertemu dengan aku di kampus, kok, Bu,"dusta Wulan.
"Beneran? Nggak bohong?"tanya Bu Lastri belum percaya.
"Pemuda seperti Nak Diky itu susah di cari, loh, Lan. Di luar sana pasti banyak yang mau. Jadi, jaga baik-baik tunangan kamu itu,"pesan Pak Parman.
"Benar kata bapak kamu. Jangan sampai Nak Diky berpindah ke lain hati. Kalau nak Diky sampai pindah ke lain hati, kamu bakal nyesel, Lan,"imbuh Bu Lastri.
"Iya. Pak, Bu. Kalau gitu, aku pamit ke kamar dulu, Pak, Bu. Takut bang Diky nge-chat. Soalnya handphone aku di kamar,"ucap Wulan beralasan untuk pergi.
"Ya sudah, sana!"sahut Bu Lastri.
"Akhirnya bisa kabur juga,"gumam Wulan dalam hati.
Keesokan harinya, Wulan pergi ke kampus seperti biasanya. Wulan dan Ayana sekarang jarang bertemu karena mengambil jurusan yang berbeda. Di kampus itu banyak juga mahasiswa yang naksir sama Wulan. Tapi tidak diladeni Wulan. Hatinya terlanjur di bawa kabur Diky.
Banyak mahasiswi yang mencibir Wulan yang penampilannya timpang dengan motor yang dikendarainya. Namun Wulan tidak peduli.
"Pakaian branded, tapi, motor butut,"
Itulah cibir para mahasiswi yang melihat Wulan. Wulan memang memakai pakaian branded yang diberikan Diky. Tapi mengendarai motor butut yang dibelikan kedua orang tuanya.
Setelah selesai mengikuti mata kuliah, Wulan bergegas meninggalkan kampus. Wulan berniat pergi ke toko alat tulis karena ada beberapa alat tulis miliknya yang sudah habis. Namun saat keluar dari toko alat tulis itu, Wulan tidak sengaja melihat seseorang yang berdiri membelakangi dirinya. Sosok yang sangat di kenali nya. Dan Wulan sangat hafal dengan motor yang diduduki orang itu.
"Halo! Kamu dimana?"
__ADS_1
"Bang Diky?"gumam Wulan menatap punggung Diky yang sedang menelpon itu.
"Iya, cepetan ke sini! Aku sudah nungguin kamu dari tadi,"ucap Diky kemudian menutup teleponnya.
Dengan ragu, Wulan berjalan pelan mendekati Diky. Namun Wulan menghentikan langkah kakinya saat Diky melambaikan tangannya. Wulan melihat seorang gadis cantik bertubuh seksi berlari kecil menghampiri Diky.
"Sudah lama, ya?"tanya gadis itu pada Diky dengan wajah ceria.
"Lumayan!"ucap Diky.
"Dik, apa nggak apa-apa kita pergi berdua seperti ini?"
"Memangnya kenapa?"
"Kamu, 'kan, sudah punya tunangan?"
"Baru tunangan. Bukan istri. Lagian dia juga tidak mencintai aku. Aku berniat memutuskan pertunangan kami,"ucap Diky terdengar santai.
Mendengar kata-kata Diky itu, mata Wulan pun berkaca-kaca. Kedua tangan gadis itu meremas baju yang dipakainya.
"Serius? Kamu mau putus sama dia?"tanya gadis itu nampak senang.
"Serius. Untuk apa aku bertahan jika cinta ku bertepuk sebelah tangan? Aku nggak mau berjuang sendirian. Selama ini, aku sudah berusaha memahami dan mengerti dia. Tapi dia nggak mau ngerti dan memahami aku. Aku sudah beberapa kali mengajak dia nikah. Tapi dia tetap pada pendiriannya. Tidak mau menikah sebelum mendapatkan gelar sarjana. Aku tidak sanggup menunggu dia selama itu. Kamu masih suka, 'kan, sama aku? Kalau kamu mau nikah sama aku, aku bakal putusin dia,"ucap Diky membuat air mata Wulan tidak terbendung lagi.
"Serius, kamu mau menikah sama aku?"tanya gadis itu tersenyum lebar.
"Jika kamu mau, aku serius. Umur ku sudah tidak muda lagi. Aku ingin berkeluarga. Bukan pacaran. Kita bicara di apartemen ku saja, yuk!"ajak Diky menyodorkan helm pada gadis itu.
Tidak lama kemudian keduanya meninggalkan tempat itu. Wulan bergegas menyusul Diky yang berboncengan dengan gadis tadi. Gadis itu memeluk Diky mesra.
"Bang Diky tidak boleh melakukan ini padaku. Dia.. dia sudah mengambil ciuman pertama ku. Dia tidak boleh meninggalkan aku begitu saja,"gumam Wulan terus mengikuti motor Diky yang melaju tidak terlalu kencang. Beberapa kali gadis itu mengusap air matanya.
...🌟Aku pernah berharap namun di kecewakan. Pernah berjuang, tapi tak di anggap. Pernah memberikan perhatian, tapi disia-siakan....
...Saat semua perhatian dan perjuanganku tak di hargai, di situlah aku belajar tentang ketulusan hati. ...
...Memilih mundur, lalu melangkah pergi."🌟...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
__ADS_1