
"Aku.. aku tidak mau mati dengan cara seperti ini,"gumam Delvin dengan bibir yang bergetar.
Suara klakson kereta api semakin terdengar nyaring. Delvin terdiam dengan tubuh yang bergetar hebat. Pemuda itu memejamkan matanya dengan airmata yang membasahi pipinya. Pasrah. Hanya itulah yang saat ini bisa dilakukan oleh Delvin. Tidak bisa melakukan apa-apa lagi.
"Delvin..."gumam Axell dengan bibir bergetar,
Axell tidak bisa mengedipkan matanya menatap mobil Delvin di depannya. Tidak menyangka jika dirinya akan menyaksikan detik-detik yang kemungkinan besar akan merenggut nyawa adik kandungnya.
"Brumm... "
"Kakak..."
"Brakk"
"Cekiiit..."
Tiba-tiba Dimas melajukan mobil Axell dengan kecepatan tinggi membuat Axell memekik karena terkejut. Dan dengan cepat Dimas mengerem mobil itu setelah menabrak mobil Delvin.
Axell tertegun tanpa suara. Pemuda itu syok karena kejadian yang begitu cepat dan menegangkan yang dialaminya. Axell menatap kereta api yang melintas begitu dekat di depan mobilnya. Jantung Axell rasanya berhenti berdetak ketika tiba-tiba Dimas melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menabrak mobil Delvin yang berhenti di tengah rel kereta api. Dan dengan cepat pula Dimas menginjak pedal rem. Axell merasa syok dengan aksi kakaknya itu.
Sedangkan Dimas, pria itu nampak memegangi kepalanya dengan ekspresi yang seperti menahan sakit. Kejadian barusan membuat Dimas teringat kejadian saat dirinya menabrak mobil Liliana untuk menyelamatkan Liliana sebelum mengalami kecelakaan karena truk tronton yang terguling. Kecelakaan yang membuat dirinya terbaring koma selama enam bulan dan kehilangan ingatan.
"Akkhh!"pekik Dimas seraya memegangi kepalanya.
Axell yang mendengar suara pekikan Dimas pun tersadar dari syok nya. Spontan pemuda itu menoleh ke arah kakaknya.
"Kak! Kakak kenapa?"tanya Axell panik sambil memegang lengan Dimas.
__ADS_1
Dimas tidak menjawab, pria itu memejamkan matanya seraya memegangi kepalanya. Dimas merasakan sakit yang begitu hebat di kepalanya hingga akhirnya Dimas pingsan.
"Kak!"pekik Axell yang melihat Dimas pingsan.
Axell tidak bisa melakukan apapun. Menolong Dimas tidak bisa, ingin melihat keadaan Delvin pun tidak bisa karena kakinya yang terkilir. Axell melihat mobil Delvin menabrak besi-besi yang dijadikan pagar di samping jalan. Dan tidak ada pergerakan apapun dari dalam mobil Delvin. Axell tidak tahu bagaimana keadaan adiknya itu.
Dengan tangan tremor, Axell menghubungi Buston. Beberapa kali panggilan Delvin belum juga di angkat. Hal itu karena Buston yang sedang berada di kamar mandi meninggalkan handphonenya di atas meja kerjanya.
"Pa.. angkat, pa!"gumam Axell penuh harap.
"Halo, Xell!"sahut Buston setelah menerima panggilan masuk dari Axell.
Saat kembali dari kamar mandi Buston mendengar suara getar handphonenya. Dan Buston pun langsung menerima panggilan masuk itu saat melihat Axell menghubunginya.
"Pa, kami mengalami kecelakaan. Kak Dimas pingsan, dan Delvin.. aku tidak tahu bagaimana keadaan Delvin,"ucap Axell terdengar panik.
Tapi apa benar Buston benar-benar tenang setelah mendengar ke tiga putranya mengalami kecelakaan? Sebenarnya Buston sangat terkejut mendengar ketiga putranya mengalami kecelakaan. Namun karena mendengar suara Axell yang panik, Buston berusaha bersikap setenang mungkin agar Axell tidak bertambah panik.
"Iya, pa,"sahut Axell.
Lalu lintas di palang pintu kereta api di tempat Axell dan saudara-saudaranya berada itu sebelumnya sepi. Namun karena mobil Axell yang berhenti di tengah jalan, lalu lintas jadi sedikit macet.
Tidak ada yang yang berani menolong tiga bersaudara itu. Namun penjaga perlintasan kereta api segera menghubungi ambulans.
Buston langsung memanggil Saman. Pria itu ingin segera menyusul ke tiga putranya. Buston belum tahu kecelakaan seperti apa yang dialami ke tiga putranya. Namun dari GPS handphone ke tiga putranya, Buston mengetahui jika ketiga putranya itu berada di perlintasan kereta api. Rasa khawatir, cemas, dan takut kehilangan pun menghantui pria paruh baya itu.
"Tuan, sebaiknya kita menuju rumah sakit yang paling dekat dengan tempat Tuan Muda mengalami kecelakaan. Saya sudah mendapatkan informasi dari orang-orang yang kita tugaskan mengawasi Tuan Muda dari jauh. Sekarang mereka sudah berada di lokasi Tuan Muda mengalami kecelakaan,"
__ADS_1
"Menurut petugas penjaga perlintasan kereta api, Tuan Delvin menerobos palang pintu kereta api dan tiba-tiba mobilnya mogok di tengah rel. Namun tiba-tiba mobil Tuan Axell yang ada di belakang mobil Tuan Delvin melaju dengan kecepatan tinggi menabrak mobil Tuan Delvin dan langsung mengerem. Sehingga mobil Tuan Delvin keluar dari lintasan kereta api dan mobil Tuan Axell juga tidak sampai tertabrak kereta api,"
"Tuan Delvin sepertinya syok dan pingsan, tapi tidak mengalami luka yang serius. Sedangkan Tuan Axell kakinya terkilir saat berada di lokasi yang mereka periksa tadi. Dan Tuan Dimas pingsan setelah menabrak mobil Tuan Delvin. Kata Tuan Axell, sebelum pingsan Tuan Dimas memekik kesakitan sambil memegangi kepalanya,"jelas Saman setelah mereka melaju beberapa menit meninggalkan perusahaan Buston.
"Jadi, yang mengendarai mobil Axell adalah Dimas?"tanya Buston setelah mendengar penjelasan Saman.
"Iya, Tuan,"
"Anak itu. Terbuat dari apa hatinya? Padahal selama ini Delvin membencinya. Tidak pernah menghormatinya dan menghargainya sebagai seorang kakak. Tapi dia masih memikirkan bagaimana caranya menyelamatkan anak pemalas tidak tau diri dan etika itu. Dia benar-benar mewarisi sifat ibunya,"gumam Buston menghela napas panjang.
Saman yang mendengar perkataan Buston pun ikut menghela napas panjang.
"Jika setelah kejadian ini Tuan Delvin masih membenci Tuan Dimas dan tidak mau memanggilnya kakak, berarti Tuan Delvin benar-benar tidak punya hati. Seumur hidupnya, dia tidak akan pernah dihargai orang lain. Walaupun dia adalah anak seorang konglomerat sekalipun. Tidak ada yang bisa diandalkan dari Tuan Delvin. Tuan Delvin bagai langit dan bumi dengan Tuan Dimas,"
"Mana bisa Tuan Delvin dibandingkan dengan Tuan Dimas. Dari wajah, fisik, kecerdasan, attitude, tidak ada satupun Tuan Delvin lebih unggul dari Tuan Dimas. Untung saja tuan Axell tidak seperti Tuan Delvin. Sifat Tuan Axell lebih mirip dengan sifat Tuan Dimas. Padahal Tuan Buston dan nyonya Liliana adalah orang-orang yang baik. Tapi kenapa bisa memiliki anak seperti Tuan Delvin,"gumam Saman dalam hati.
Saman tahu benar dengan sifat Dimas. Dimana pun Dimas berada, putra majikannya itu selalu dihormati orang lain karena kecerdasan dan attitude nya. Jika saja Dimas belum menikah, Saman yakin akan banyak pebisnis yang akan menawarkan putri mereka untuk menjadi istri Dimas. Apalagi setelah tahu identitas Dimas saat ini adalah putra sulung Tuan Buston.
Jujur, Saman memang tidak terlalu menyukai Delvin yang manja,.malas dan tidak bisa apa-apa. Delvin sangat berbeda dengan Axell, apalagi Dimas. Walaupun Axell masih kalah jauh dibandingkan dengan Dimas, tapi kepribadian Axell tidak jauh berbeda dari Dimas. Sehingga, jika Axell diperkenalkan sebagai adik Dimas, maka orang-orang akan percaya. Tapi, jika Delvin yang diperkenalkan sebagai adik Dimas, akan banyak yang tidak percaya.
"Aku harap, setelah kejadian ini Delvin bisa berubah. Bisa menerima Dimas sebagai kakaknya dan menghormati serta menghargai Dimas. Layaknya seorang adik menghormati kakaknya. Namun jika dia tetap tidak mau merubah sikapnya pada Dimas, aku akan menghukum dia. Setelah lulus S1 aku akan menyuruh dia melanjutkan kuliah untuk meraih gelar S2 sambil bekerja. Dan aku tidak akan memberikan dia uang selain dari gaji nya. Sesuai dengan ide Axell. Biar dia bisa menghargai uang dan juga orang lain,"ujar Buston yang tadi mendengarkan usulan dari Axell.
"Saya setuju dengan Tuan,"sahut Saman.
...🌸❤️🌸...
.
__ADS_1
To be continued