SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
156. Nekat


__ADS_3

"Sayang, kamu tega menceraikan aku di saat aku masih mengandung? Kamu juga ingin memisahkan aku dengan anak kita?"tanya Bening masih berlutut di lantai dengan wajah yang basah oleh air mata.


Nando menghembuskan napas kasar mendengar kata-kata Bening,"Aku sudah tidak ingin lagi hidup bersama kamu. Kita bercerai saja,"ujar Nando tanpa mau menatap Bening.


"Kenapa kamu menceraikan aku? Apa kamu menganggap aku kotor karena sudah di sentuh pria lain? Aku tidak mau kita bercerai. Aku hanya khilaf, kemudian menjadi korban pelecehan. Dan sekarang kamu malah ingin mencampakkan aku? Kenapa kalian para pria egois sekali? Kalian menganggap kami para istri kotor jika pernah tidur dengan pria lain. Tapi kalian para pria yang berselingkuh di luar sana tidak menganggap diri kalian kotor. Ini tidak adil! Jika kamu tetap ingin menceraikan aku, lebih baik aku dan anak ini mati saja!"ujar Bening yang tiba-tiba bangkit dari duduknya dan meraih pisau buah.


"Hei, apa yang kamu lakukan!"teriak Nando.


Semua orang nampak terkejut melihat aksi nekat Bening itu. Tidak menyangka jika Bening akan berbuat seperti itu.


"Lebih baik aku dan anak ini mati di sini dari pada kamu menceraikan aku,"ucap Bening seraya mengarahkan pisau di perutnya sendiri.


"Apa kamu sudah gila?"bentak Nando yang terkejut sekaligus emosi melihat aksi nekat Bening itu.


"Iya, aku sudah gila. Dan ini karena kamu! Kalian para pria berselingkuh dengan alasan istri kalian tidak bisa melayani kalian dengan baik. Dan menganggap itu lumrah. Tapi saat istri selingkuh karena suami tidak bisa melayani dengan baik, kalian menganggap istri kotor dan tidak berakhlak. Kalian para pria adalah makhluk yang egois!"sergah Bening yang tidak lagi berkata-kata lembut.


"Letakkan pisau itu Bening! Kita bisa bicara baik-baik!"ucap Geno mencoba membujuk Bening.


"Tidak perlu bicara baik-baik! Jika Nando tetap ingin menceraikan aku, maka aku akan mati bersama anak ini!"ancam Bening.


"Baiklah, aku tidak akan menceraikan kamu,"ucap Nando yang merasa tidak memiliki pilihan lain,"Ma, bisa antar aku ke kamar?"pinta Nando yang tidak ingin lagi melihat Bening.


"Baik, akan mama antar,"sahut Hilda yang merasa prihatin dengan putranya itu.


"Ma, tolong antar aku ke kamar tamu, dan tolong minta Bibi untuk memindahkan barang-barang ku ke kamar tamu,"pinta Nando dengan ekspresi wajah yang tidak dapat dijelaskan.


"Baiklah. Mama akan meminta Bibi untuk memindahkan barang-barang kamu,"sahut Hilda menghela napas berat.


"Pa, kami pamit pulang,"ucap Dimas pada Geno.


"Iya, hati-hati di jalan!"ucap Geno yang masih syok dengan ulah Bening.


Akhirnya Dimas, Ayana, Toyib dan Diky memilih pulang karena tidak nyaman dengan situasi saat ini.


"Sebaiknya kamu istirahat!"ucap Geno pada Bening yang masih berdiri mematung dengan pisau di tangannya,"Bik, tolong antar aku ke kamar!"pinta Geno pada seorang pelayan.


"Baik, Tuan,"sahut pelayan itu bergegas mendorong kursi roda Geno.

__ADS_1


"Sialan! Mereka meninggalkan aku di sini sendiri,"gumam Bening yang merasa kesal karena diacuhkan semua orang.


"Klang"


Bening melempar pisau yang di pegangnya dengan perasaan kesal.


"Jangan harap kamu bisa menceraikan aku. Anak ini akan menjadi pengikat di antara kita,"gumam Bening dengan tatapan penuh kebencian.


Bening kembali ke kamarnya dengan perasaan dongkol. Saat membuka pintu kamar, Bening melihat dua orang pelayan di dalam kamarnya.


"Ngapain kalian di sini?"tanya Bening nampak tidak suka.


"Kami di suruh Tuan Nando untuk mengambil semua barang-barang Tuan Nando,"sahut salah seorang pelayan.


"Di mana suamiku?"tanya Bening pada para pelayan itu.


"Tuan Nando ada di kamar tamu,"sahut salah seorang dari pelayan itu.


Bening bergegas pergi ke kamar tamu. Memeriksa satu persatu kamar tamu, hingga Bening menemukan Nando dalam sebuah kamar bersama Hilda.


"Sayang..."


"Tapi, sayang..."


"Nando tidak ingin bicara padamu,"potong Hilda, kemudian menarik tangan Bening keluar dari kamar itu.


"Tapi ma..."


"Tolong, biarkan Nando sendiri,"potong Hilda kemudian menutup pintu kamar itu.


Bening mengepalkan kedua tangannya menatap pintu kamar itu dengan tatapan penuh amarah.


"Dasar mertua sialan! Apa perlu aku membunuhnya, agar dia tidak menghalangi jalanku lagi,"gumam Bening, kemudian meninggalkan tempat itu.


"Nan, apa rencana kamu selanjutnya? Apa kamu benar-benar tidak akan menceraikan Bening?"tanya Hilda menatap sendu wajah putranya.


"Aku akan menceraikan dia setelah anak itu lahir, ma,"sahut Nando dengan wajah yang memendam kekecewaan.

__ADS_1


"Mama akan mendukung keputusan kamu. Dia bukan perempuan yang baik untuk menjadi pendamping hidup kamu,"ujar Hilda seraya menggenggam tangan putranya.


Sementara itu, setelah menempuh perjalanan yang ramai lancar, akhirnya rombongan Dimas sampai juga di rumah kontrakan mereka. Keempat orang itu duduk di ruang tamu.


"Aku kasihan sekali pada Nando,"ujar Toyib yang benar-benar merasa kasihan pada Nando.


"Aku juga, Yib. Dimas beruntung bisa lepas dari Bening,"sahut Diky.


"Iya, aku beruntung. Ternyata Bening benar-benar perempuan yang tidak terduga sifatnya,"sahut Dimas.


"Dan yang pastinya tidak baik. Entah bagaimana nasib kak Nando setelah ini,"sahut Ayana yang duduk di samping Dimas seraya memeluk lengan Dimas.


"Mungkin kakak akan menceraikan dia setelah dia melahirkan nanti,"sahut Dimas.


"Aku rasa juga begitu. Tidak mungkin Nando mau mempertahankan perempuan seperti itu sebagai istrinya,"sahut Diky.


"Bahkan pada ibu kandungnya sendiri juga seperti itu. Jangankan memberikan uang pribadi nya untuk ibunya, dia malah mengkorupsi uang yang di berikan suaminya untuk ibu kandungnya sendiri. Dasar anak durhaka!"sahut Toyib merasa geram dengan Bening.


"Perempuan itu benar-benar pandai bersandiwara. Sial sekali Nando menikahi wanita seperti Bening,"sahut Diky.


"Padahal aku berharap malam ini masalahnya selesai. Tapi nyatanya malah menjadi tambah runyam seperti ini,"sahut Dimas.


"Kita doakan saja agar Nando bisa melewati ujian ini. Semoga diberi jalan keluar yang baik,"ujar Toyib yang merasa kasihan pada Nando.


"Kita ke kamar, kak!"ajak Ayana seraya menggoyang-goyangkan lengan Dimas.


"Sudah, sana! Kelonin sana! Siapa tahu Ayana mau nonton video kamu pas pengen digerayangi si butek itu,"ujar Toyib kemudian terkekeh.


"Dia kelihatan nafsu sekali saat melihat Dimas,"imbuh Diky bergidik ngeri.


"Mana pakai baju saringan tahu, lagi. Sayang sekali kamu tidak bisa melihatnya secara langsung, Dim,"timpal Toyib kemudian terkekeh.


"Berisik!"ketus Dimas kemudian beranjak dari duduknya merangkul Ayana, kemudian membawa Ayana menuju kamarnya.


...🌸❤️🌸...


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2