
Diky duduk di ruang tamu yang tidak terlalu luas itu. Namun bersih, rapi dan nyaman. Perhatian Diky teralih saat mendengar suara Dimas. Pria itu pun bangkit dari duduknya dan menoleh ke sumber suara.
"Hai, bro!"sapa Diky saat melihat Dimas.
Diky tersenyum lebar melihat Dimas yang sedang menggendong Ayana di punggungnya. Terlihat sangat mesra menurut Diky.
"Eh, kamu, Dik. Duduk!"ucap Dimas dengan seulas senyum di bibirnya. Lalu pria itu menoleh ke arah istrinya yang masih berada dalam gendongannya,"Tolong buatkan minuman, ya!"pinta Dimas seraya mencubit hidung Ayana. Entah kenapa Dimas selalu gemas jika melihat istrinya itu.
"Hum, mau dibuatin apa?"tanya Ayana masih belum turun dari punggung Dimas.
"Mau minum apa, Dik?"tanya Dimas.
"Kalau ada, kopi susu. Kalau nggak ada, kopi saja juga boleh,"sahut Diky.
"Abang juga mau, Ay! Eh, kamu tadi bikin risoles, 'kan? Gorengin, dong!"pinta Toyib.
"Iya,"sahut Ayana,"Kakak mau juga?"tanya Ayana pada Dimas seraya turun dari gendongan Dimas.
"Hum,"sahut Dimas. Ayana pun bergegas pergi ke dapur meninggalkan ke tiga pria itu.
"Yib, kenalkan, ini Diky sahabat ku dari SMA. Dik, ini Toyib, sahabat ku semenjak aku di kota ini. Dia adalah orang yang menolong aku saat aku terpuruk dan baru pindah ke kota ini,"ujar Dimas memperkenalkan kedua orang sahabatnya itu.
Toyib dan Diky pun saling bersalaman dengan senyum di bibir mereka.
"Ayo, duduk!"ajak Dimas,"Yib, Diky ini detektif yang aku mintai tolong untuk menyelidiki klub malam milik Noval,"ujar Dimas memberitahu Toyib.
"Wahh.. seumur hidup, baru kali ini aku bertemu detektif,"sahut Toyib kemudian terkekeh.
"Kamu bisa saja. Rumah kalian tidak terlalu besar, tapi nyaman, Dim,"ujar Diky.
"Istriku memang tidak suka rumah yang terlalu besar. Capek beres-beresnya. Sudah di carikan orang untuk bebantu bersih-bersih, tapi belum ada yang cocok,"ujar Dimas.
"Itu tadi istri kamu?"tanya Diky penasaran.
"Iya,"sahut Dimas singkat.
"Sepertinya asyik, ya, punya istri yang masih belia. Kamu jadi terlihat lebih fresh dan awet muda. Aku jadi pengen cari istri yang masih belia. Biar ketularan awet muda,"ujar Diky kemungkinan terkekeh.
__ADS_1
"Bisa aja kamu,"sahut Dimas ikut terkekeh.
Tak lama kemudian, Ayana sudah keluar membawa tiga gelas kopi susu, sepiring risoles dan sepiring bolu.
"Hemm.. aroma kopinya harum sekali. Kopi apa ini?"tanya Diky yang mencium aroma kopi yang baru saja di letakkan Ayana di depannya.
"Ini kopi asli, Dik. Makanya baunya harum,"sahut Dimas.
"Cobalah, Dik! Kopi susu buatan Ayana ini tidak ada duanya,"ujar Toyib seraya meraih cangkir kopi di depannya. Duda itu menghirup aroma kopi yang masih mengepul dari dalam cangkir itu.
"Hemm.. mantap. Benar sekali kata Toyib. Istri kamu pintar sekali meracik kopi susunya Dim. Takaran antara kopi, gula dan susunya pas banget,"puji Diky yang benar-benar menikmati kopi susu buatan Ayana.
"Syukurlah kalau kamu suka. Itu, dimakan kuenya. Ayana suka bikin kue kalau lagi gabut,"ujar Dimas. Sedangkan Ayana duduk menempel di samping Dimas dan memeluk lengan Dimas seperti biasanya.
"Wahh.. gabut malah bikin kue. Gabut nya bermanfaat, dong,"sahut Diky seraya tersenyum, tanpa sungkan mengambil risoles di atas meja, lalu memakannya.
"Ayana ini pintar memasak dan bikin kue, Dik,"sahut Toyib yang juga mengambil risoles.
"Abang terlalu memuji,"sahut Ayana tersenyum malu, tapi juga senang.
"Tapi benar, kok, kata Toyib. Kuenya enak. Biasanya kalau aku beli risoles, rasanya cuma asin dan kulitnya agak alot. Tapi yang ini, kulitnya lembut, ada rasa gurih dan manis yang rasanya pas,"ujar Diky yang menikmati risoles buatan Ayana.
"Aku ini detektif, Dim. Tidak diam di satu tempat. Sering makan di pinggir jalan sambil melakukan penyelidikan. Jadi aku sudah banyak mencicipi berbagai macam kuliner. Akhirnya aku tahu, di mana saja tempat kuliner yang enak,"sahut Diky yang benar adanya,"Beruntung sekali kamu memiliki istri seperti Ayana, Dim,"lanjut Diky.
"Oh, ya, apa ada sesuatu yang penting hingga kamu datang malam-malam begini?"tanya Dimas.
"Aku datang ke sini untuk melaporkan hasil penyelidikan ku di klub malam milik orang yang bernama Noval itu,"sahut Diky seraya meraih cangkir kopinya, kemudian menyesap kopi susu itu. Diky menjilat bibirnya sendiri seraya menggelengkan kepalanya pelan. Menatap cangkir kopinya, menampilkannya ekspresi bahwa dirinya menikmati kopi susu buatan Ayana.
"Bagaimana hasilnya?"tanya Dimas terlihat serius.
"Penyelidikan detektif yang kamu bayar waktu itu benar. Dan aku sudah mendapatkan bukti-buktinya,"sahut Diky seraya mengeluarkan amplop berwarna coklat dan laptop dari dalam tas ransel yang dibawanya.
Dimas mengambil amplop berwarna coklat itu, kemudian mengeluarkan isi amplop dan melihat banyak foto dari dalam amplop itu. Toyib dan Ayana pun ikut melihat nya.
"Jadi dia benar-benar melakukan perdagangan manusia?"tanya Dimas setelah melihat semua foto dari dalam amplop itu.
"Yap. Dan bukan hanya itu. Dia juga menjual narkoba dan organ tubuh manusia. Kamu lihat video ini,"ujar Diky membalikkan laptopnya ke arah Dimas.
__ADS_1
Dimas, Ayana dan Toyib nampak terkejut mendengar penuturan Diky. Ketiga orang itu begidik ngeri melihat Vidio seorang wanita yang diambil ginjalnya. Di operasi di sebuah kamar kecil yang terlihat tidak terlalu rapi dan bersih. Ada juga Vidio beberapa operasi pengambilan jantung, dan mata. Semuanya terlihat mengerikan. Ayana bahkan memalingkan wajahnya, tidak ingin melihat lebih lanjut Vidio yang di putar di laptop Diky itu.
"Ternyata kekayaan Noval berasal dari bisnis ilegal,"gumam Dimas.
"Walaupun kamu tidak memintaku menyelidiki nya, jika aku tahu ada hal semacam ini, aku pasti menyelidikinya untuk kepentingan umum. Ini benar-benar melanggar hak asasi manusia. Sudah banyak orang yang meninggal setelah organ tubuhnya di ambil Noval. Karena setelah operasi tidak mendapatkan perawatan yang seharusnya. Bahkan aku juga mendapatkan informasi bahwa Noval mengencani banyak wanita, setelah bosan dijadikannya sebagai wanita penghibur. Noval mem-vidiokan saat meniduri mereka dengan berbagai macam gaya. Setelah bosan, vidio itu digunakan Noval untuk mengancam para wanita itu. Hingga akhirnya mereka terpaksa menjadi wanita penghibur,"jelas Diky yang terlihat geram.
"Wahh.. ternyata pria bernama Noval ini benar-benar pria biadab dan berbahaya, Dia pantas mendekam seumur hidup di penjara. Hukuman mati terlalu enak buat dia"sahut Toyib yang juga terlihat geram.
Setelah mendengar semua informasi dari Diky, tanpa sadar Ayana memeluk erat lengan Dimas. Dimas yang merasakan pelukan erat Ayana pun menoleh pada Ayana.
"Ay, kamu kenapa?"tanya Dimas segera merengkuh Ayana dalam pelukannya. Dimas melihat ketakutan di mata Ayana.
"Malam itu, jika aku tidak melarikan diri, dia pasti sudah melakukannya padaku, kak
Aku dengar sendiri, dia ingin melecehkan aku,"ucap Ayana yang tiba-tiba menangis dalam pelukan Dimas. Ayana tidak dapat membayangkan, bagaimana jika malam itu dirinya tidak kabur dari Noval.
"Jangan takut! Kita akan membuat dia membusuk di penjara, hingga dia tidak akan bisa menyakiti kamu ataupun orang lain,"ucap Dimas menenangkan. Tidak menyangka jika reaksi Ayana akan seperti itu.
"Yib, temani Diky dulu, ya. Aku akan menenangkan Ayana,"pinta Dimas.
"Iya,"sahut Toyib yang terlihat khawatir saat melihat Ayana yang nampak ketakutan.
"Dik.. "
"Tidak masalah! Kita bicarakan lagi nanti. Aku ingin mengobrol dulu dengan Toyib. Tenangkan lah istrimu!"ucap Diky memotong kata-kata Dimas.
"Terimakasih!"ucap Dimas langsung menggendong Ayana ke kamar mereka.
"Kasihan sekali Ayana. Pasti malam itu dia benar-benar ketakutan, hingga menjadi trauma seperti itu,"ujar Diky yang merasa prihatin pada istri sahabat nya itu.
"Iya, Dik. Ayana sangat trauma karena insiden itu. Untung nya, trauma Ayana terhadap angin kuat, hujan ,serta kilat petir sudah sembuh. Saat bertemu dengan Noval pun tidak lagi ketakutan seperti dulu. Ayana malah menghajarnya,"jelas Toyib.
"Akan aku pastikan orang yang bernama Noval ini membusuk di penjara,"ucap Diky dengan sorot mata yang terlihat penuh amarah dan kebencian.
...🌸❤️🌸...
.
__ADS_1
To be continued