SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
20. Demam


__ADS_3

Setelah mengganti pakaian Ayana, Dimas mengganti pakaiannya sendiri. Pria itu kembali melihat keadaan Ayana yang ternyata belum sadarkan diri.


"Wajah nya pucat sekali. Pasti karena kedinginan. Sebenarnya apa yang terjadi pada gadis ini? Kenapa bisa sampai di daerah ini? Tapi pakaian yang dia pakai seperti pakaian pesta yang sering dipakai oleh orang-orang kaya,"gumam Dimas merasa iba sekaligus penasaran dengan apa yang terjadi pada Ayana.


Setahu Dimas, Ayana adalah keponakan Pak Parman. Walaupun gadis itu terlihat seperti anak orang kaya, tidak seperti keluarga Pak Parman yang sederhana.


"Jangan! Jangan!"gumam Ayana yang mengigau dalam tidur nya seraya menggelengkan kepalanya. Dalam tidurnya, Ayana nampak gelisah dan ketakutan.


"Bapak, ibu, Wulan"gumam Ayana dengan air mata yang menetes di pipinya.


"Dia pasti merasa ketakutan karena tiga orang preman jalanan tadi,"gumam Dimas semakin merasa iba. Memegang tangan Ayana agar gadis itu merasa tenang.


"Kenapa tangan nya panas sekali,"gumam Dimas yang terkejut saat memegang tangan Ayana yang terasa panas.


Dimas memeriksa dahi Ayana, dan ternyata gadis itu sedang demam. Pria itu menghela napas panjang kemudian menyiapkan handuk kecil, baskom, dan air di dalam termos untuk mengompres Ayana. Menumbuk obat penurun panas kemudian meminumkannya pada Ayana yang masih tidak sadarkan diri.


Ayana terus saja mengigau dan nampak gelisah dan ketakutan. Bahkan menangis dalam tidurnya. Sampai dini hari Ayana tetap saja mengigau. Karena Ayana terus mengigau, sedangkan Dimas sudah merasa sangat lelah menjaga Ayana, akhirnya Dimas memeluk Ayana agar gadis itu tenang. Dan ternyata hal itu berhasil. Ayana menjadi tenang saat Dimas memeluknya, hingga akhirnya Dimas pun ikut tertidur.


Keesokan harinya, Dimas bangun pagi dan bergegas membeli bubur ayam untuk Ayana. Demam Ayana juga sudah turun. Jadi Dimas pun merasa agak tenang. Saat Dimas pulang dari membeli bubur, Ayana belum bangun. Dimas memutuskan untuk membersihkan diri. Saat akan masuk ke dalam kamarnya, Dimas nampak tertegun. Karena biasa hidup bersama Toyib, Dimas lupa jika di kamarnya ada Ayana, jadi Dimas tidak membawa baju ganti saat akan mandi tadi.


"Aku lupa membawa baju ganti. Gadis Tengil itu sudah bangun apa belum, ya? Jika dia sudah bangun dan melihat aku seperti ini, dia pasti akan meneriaki aku mesum,"gumam Dimas yang masih berdiri di depan pintu kamar nya sendiri.


Perlahan pria yang hanya melilitkan handuk di pinggangnya itu membuka pintu kamar nya sendiri. Mengintip apakah Ayana sudah bangun atau belum. Melihat Ayana yang nampak masih terlelap, Dimas pun masuk ke dalam kamarnya hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Dimas mengambil pakaian dalam lemari plastik empat susun miliknya.


Tanpa disadari Dimas, perlahan Ayana membuka matanya, penglihatan Ayana masih belum terlalu jelas. Tubuhnya terasa lemas dan sakit semua. Ayana menatap ke sekeliling tempat nya berada dan matanya langsung membulat saat melihat pria yang sedang bertelanjang dada di depan lemari plastik di sebelah tempatnya berbaring, berdiri membelakanginya.


"Akkh! To..emp..."mendengar teriakkan Ayana, Dimas langsung berbalik dan membekap mulut Ayana yang tadi spontan bangkit dari tempat tidurnya karena terkejut melihat Dimas yang bertelanjang dada. Ayana berusaha meronta, tapi tubuhnya terlalu lemah dan tidak bertenaga.


"Diam! Jangan berteriak! Apa kamu mau kita digerebek warga? Aku semalam sudah menolong kamu dari para preman jalanan. Dan merawat kamu yang demam hingga hampir tidak tidur semalaman. Apa kamu ingin membalas kebaikan ku dengan berteriak hingga warga disekitar sini datang dan memukuli aku karena di tuduh memperkosa kamu?"tanya Dimas masih membekap mulut Ayana.

__ADS_1


Mendengar apa yang dikatakan oleh Dimas, Ayana pun terpaku. Teringat kejadian semalam saat dirinya dikejar-kejar Noval kemudian dikejar-kejar oleh tiga orang preman jalanan. Tanpa terasa Ayana menitikkan air mata dan terisak.


Dimas yang tangan nya membekap mulut Ayana pun terkejut saat merasakan ada air yang menetes di punggung tangannya. Apalagi saat ini punggung Ayana bergetar karena terisak.


"Eh, kenapa kamu menangis?"tanya Dimas menjadi bingung sendiri dan melepaskan bekapannya.


"Sudah, Jagan menangis! Yang penting kamu sekarang baik-baik saja. Aku tadi membeli bubur ayam untuk kamu. Sebaiknya kamu makan dan minum obat biar cepat sembuh,"ujar Dimas seraya beranjak dari duduknya kemudian mengambil bubur ayam yang dibelinya tadi untuk Ayana.


Sedangkan Ayana menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang karena tubuhnya masih terasa lemas dan kepalanya pun terasa pusing. Gadis itu memejamkan matanya. Mengingat semua yang terjadi padanya semalam, membuat Ayana merasa sangat sedih.


Dimas keluar dari kamar itu dan tak lama kemudian membawa bubur ayam di dalam mangkok dan segelas air hangat.


"Ini, makanlah!"ucap Dimas menyodorkan semangkuk bubur ayam pada Ayana dan meletakkan gelas air minum di atas nakas.


Ayana perlahan membuka matanya dan menerima bubur ayam yang diberikan oleh Dimas. Namun saat melihat gerakan Ayana sangat lambat, Dimas mengambil kembali mangkuk berisi bubur ayam itu. Ayana pun menatap Dimas dengan tatapan bingung.


Dengan telaten Dimas menyuapi Ayana. Namun Ayana nampak enggan untuk menatap Dimas. Pria itu terus menyuapi Ayana yang tidak mau menatapnya sama sekali, sampai akhirnya bubur dalam mangkok itu habis.


"Kenapa kamu seperti enggan untuk menatap aku?"tanya Dimas yang penasaran dengan sikap Ayana.


"Karena kamu tidak memakai baju,"jawab Ayana pelan.


"Oh, maaf! Aku lupa,"ucap Dimas menyengir bodoh. Baru menyadari jika dirinya hanya memakai handuk yang dililitkan di pinggangnya.


"Ini, minum lah obat mu!"titah Dimas memasukkan sebutir obat ke mulut Ayana, kemudian memberikan air minum pada Ayana.


"Sudah. Istirahat lah dulu, supaya kamu cepat sembuh,"ucap Dimas membantu Ayana berbaring.


"Akkh!"Ayana kembali berteriak seraya menutup matanya, dan Dimas segera menutup mulut Ayana. Tidak ingin teriakan Ayana di dengar orang dan berujung mereka digerebek warga.

__ADS_1


"Kenapa kamu hobi sekali untuk berteriak? Aku benar-benar akan didatangi warga dan dipukuli habis-habisan jika mereka mendengar teriakkan mu!"ujar Dimas merasa kesal.


Tanpa membuka matanya, Ayana menunjuk ke samping tempat Dimas berada, ke arah tubuh Dimas.


"Astaga!"pekik Dimas saat melihat ke mana arah telunjuk Ayana. Dimas baru menyadari bahwa handuknya ternyata telah melorot. Wajah pria itu memerah karena menahan malu,"Jangan buka matamu!"titah Dimas seraya memakai lagi handuknya dan Ayana pun mengangguk tanda setuju. Bahkan Ayana menutup seluruh tubuhnya dengan selimut sampai seluruh tubuhnya tidak terlihat lagi.


"Jagan buka sebelum aku suruh!"titah Dimas dan Ayana pun kembali mengangguk. Terlihat dari selimut yang dipakainya bergerak.


Dimas bergegas memakai pakaiannya sambil melirik Ayana,"Memalukan sekali! Kenapa harus dia yang pertama kali melihat nya. Harusnya istri ku yang pertama kali melihatnya,"gumam Dimas lirih. Merasa kesal dengan kecerobohan nya sendiri. Pusaka kebanggaan nya yang disembunyikan nya rapat-rapat telah dilihat seorang gadis yang bahkan selalu mengolok-olok dirinya SPd alias Sales Penjual daster.


"Sudah. Kamu boleh membuka selimut mu. Aku ingin tanya sesuatu padamu,"ujar Dimas.


Mau tak mau, Ayana pun membuka selimutnya. Namun tidak berani menatap Dimas. Ayana masih merasa malu dengan insiden tadi.


"Berapa nomor telepon Pak Parman? Aku ingin menelponnya agar Pak Parman menjemput kamu di sini,"tanya Dimas seraya meraih handphonenya.


"Ja, Jagan!"ucap Ayana terkejut mendengar Dimas ingin menelpon Pak Parman agar menjemput dirinya.


"Kenapa? Mereka berhak tahu tentang keadaan mu. Mereka adalah keluarga kamu , 'kan? Biarkan mereka menjemput kamu. Atau kamu ingin di jemput oleh orang tua mu?"tanya Dimas lagi.


"Tidak!"


...🌸❤️🌸...


.


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2