
"Bisakah? Bisakah kakak memelukku?"tanya Ayana ragu.
"Apakah dia begitu ingin aku peluk? Hingga dari semalam dia meminta itu dari ku?"gumam Dimas dalam hati.
"Aku.. aku ke kamar mandi dulu,"ucap Ayana yang melihat Dimas terdiam menatapnya. Tidak ingin merasa kecewa mendengar penolakan Dimas seperti semalam.
"Greb"
Tiba-tiba Dimas memeluk Ayana yang hendak beranjak dari duduknya.
"Maaf! Aku tidak bermaksud membuat kamu sedih. Aku hanya merasa asing dan canggung saja padamu dan pada semua orang. Karena aku tidak bisa mengingat kalian, bahkan aku tidak bisa mengingat diriku sendiri. Aku akan belajar membiasakan diri dengan kehadiranmu,"ucap Dimas tulus.
Setelah semalam mendengar pembicaraan kedua orang tuanya dan tadi melihat Ayana duduk di ruang tunggu rumah sakit dengan wajah yang terlihat sendu, Dimas menjadi merasa bersalah pada Ayana.
"Aku.. aku sangat merindukan kakak. Aku sangat takut kehilangan kakak. Jangan tinggalkan aku lagi! Aku sangat mencintai kakak,"ucap Ayana yang akhirnya menangis dalam pelukan Dimas. Memeluk erat suaminya seolah takut kehilangan.
Dalam keadaan mengandung, Ayana harus menunggu suaminya yang memiliki harapan kecil untuk sadar. Menunggu di depan ruangan operasi dengan perasaan tegang. Menunggu apa yang akan dikatakan oleh dokter selesai operasi membuat jantung Ayana rasanya berhenti berdetak. Rasa takut kehilangan Dimas dalam hati Ayana begitu besar, hingga sering kali Ayana bermimpi buruk di tinggalkan Dimas. Namun Ayana berusaha tetap tegar, berpikir positif dan tidak stres agar tidak berpengaruh buruk pada janin yang ada dalam kandungannya.
Semua itu telah dilalui Ayana dalam keadaan mengandung. Dukungan dari orang-orang yang menyayanginya pun berpengaruh besar pada dirinya untuk kuat melewati semua ujian hidup, hingga akhirnya Dimas sadar seperti saat ini. Walaupun sempat merasa kecewa karena Dimas tidak bisa mengingat dirinya, bahkan terlihat canggung padanya.
Tapi, rasa kecewa itu berangsur menghilang, saat Dimas berinisiatif menemani dirinya memeriksakan kandungannya. Apalagi saat melihat Dimas yang nampak bahagia saat melihat gambar janin mereka di layar monitor tadi, bahkan saat ini mau memeluknya.
"Maaf!"ucap Dimas yang merasakan betapa takutnya wanita dalam pelukannya itu kehilangan dirinya. Merasa bersalah karena semenjak dirinya sadar malah seperti enggan disentuh Ayana karena merasa asing dengan Ayana dan semua orang.
__ADS_1
Setelah Ayana terlihat lebih tenang, Dimas merenggangkan pelukannya. Pria itu mengusap wajah Ayana yang basah oleh air mata.
"Entah mengapa hatiku merasa sakit saat melihat kamu menangis,"gumam Dimas dalam hati.
Ayana menengadahkan kepalanya menatap Dimas. Pria itu tersenyum tipis walaupun masih agak sedikit canggung.
Tiba-tiba Ayana menarik tengkuk Dimas dan langsung membenamkan bibirnya di bibir Dimas. Melumatt dan menyesap bibir Dimas yang sudah beberapa hari ini tidak diciumnya.
Dimas diam terpaku di tempatnya mendapatkan serangan mendadak dari Ayana. Namun pagutan bibir wanita di depannya ini begitu terasa nyaman. Seperti dejavu, Dimas memejamkan matanya membalas pagutan lembut bibir Ayana. Entah mengapa Dimas begitu enggan untuk mengakhiri pagutan mereka. Bahkan entah kapan dirinya memegang tengkuk Ayana untuk memperdalam ciumannya. Dimas benar-benar tidak menyadarinya. Terlalu nyaman rasanya pertautan bibir mereka saat ini, hingga ingin menikmati bibir itu lebih lama lagi.
Dimas akhirnya melepaskan pagutannya saat Ayana terlihat mulai kesulitan bernapas. Saling menatap seraya menghirup napas dengan serakah. Entah mengapa Dimas masih ingin menikmati bibir itu, apalagi saat melihat tatapan penuh damba dari Ayana.
"Dokter bilang, keadaan kakak sudah hampir pulih. Dan tidak apa-apa jika kami melakukan aktivitas di atas ranjang. Tidak berdosa, 'kan, jika aku menggoda suamiku sendiri?"gumam Ayana dalam hati.
Sebagai seorang wanita normal, masih muda dan sedang mengandung, tentu saja dorongan untuk melakukan hubungan suami-istri itu ada. Apalagi sebelum Dimas mengalami kecelakaan, mereka rutin dan hampir setiap hari melakukan aktivitas panas di atas ranjang. Jadi, wajar saja jika Ayana ingin disentuh oleh suaminya. Karena itu, saat Dimas mau memeluknya, Ayana tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menggoda suaminya.
Ayana mengusap lembut leher Dimas, sedangkan jemari tangan satunya sudah mulai merayap di dada Dimas. Wanita itu tahu benar di mana saja titik sensitif tubuh suaminya.
Dimas kembali memagut bibir Ayana, tubuhnya terasa meremang karena jemari tangan Ayana yang terus merayap di tubuhnya, dititik-titik yang benar-benar membuat Dimas merasa geli, nikmat, dan gelisah secara bersamaan.
Dengan bibir dan lidah yang masih saling menikmati, Ayana melepaskan satu persatu kancing kemeja yang dipakai Dimas. Melepaskan ikat pinggang suaminya, membuka kancing celana, bahkan menurunkan resleting celana suaminya itu.
Dimas semakin tidak bisa menahan diri saat dengan nakal Ayana memainkan sesuatu di bawah sana dengan jemari tangannya.
__ADS_1
Helai demi helai kain yang menempel di tubuh mereka pun terlepas dan teronggok di lantai. Entah bagaimana ceritanya, yang pasti saat ini Dimas sudah mengungkung Ayana dan bergerak gelisah di atas tubuh Ayana.
Dimas benar-benar merasa dejavu. Yaitu merasa semua perasaan nikmat dan gelisah ini terasa sangat familiar bagi Dimas seolah-olah Dimas sudah pernah mengalami perasaan ini di waktu lampau dengan keadaan yang persis sama. Padahal Dimas merasa apa yang sedang di alaminya sekarang adalah pengalaman pertamanya. Dan hal itu dikarenakan dirinya yang mengalami amnesia. Karena sesungguhnya semua perasaan yang saat ini dirasakannya, dulu memang sering dirasakannya.
Dimas merebahkan tubuhnya di samping Ayana, setelah merasakan puncak kenikmatan dari pergulatan panasnya dengan Ayana tadi. Menutupi tubuh mereka yang polos tanpa sehelai benang itu dengan selimut. Ada perasaan canggung setelah mereka menyelesaikan aktivitas panas mereka tadi.
"Astagaa! Aku benar-benar sudah gila. Aku terhanyut dan melakukannya. Tapi tadi itu benar-benar terasa nikmat,"gumam Dimas dalam hati yang merasa baru pertama kali melakukan aktivitas tadi di dalam hidupnya.
Baru pertama kali ini Dimas merasakan nikmat yang benar-benar membuatnya melupakan segalanya. Hal itu karena Dimas kehilangan seluruh ingatannya, hingga tidak memiliki memori apapun di otaknya.
Dimas menoleh menatap Ayana yang ternyata sudah terlelap. Sepertinya ibu hamil itu kelelahan setelah melakukan pergulatan panas dengan dirinya tadi, hingga akhirnya tertidur. Wajah wanita itu nampak damai dan tenang. Tidak seperti enam bulan yang sudah dilewatinya selama ini. Selalu gelisah dan tampak ketakutan.
"Dia cantik sekali,"gumam Dimas yang merasa tidak bosan menatap wajah Ayana.
Perlahan Dimas merapikan anak rambut Ayana yang menutupi wajah cantik Ayana. Memegang tangan Ayana yang melingkar di pinggangnya.
"Apa dulu aku sangat mencintai dia? Tapi yang pasti, aku melihat dia sangat mencintai aku. Dia terlihat bahagia saat aku menemaninya memeriksakan kandungannya. Dia juga sampai menangis hanya karena aku mau memeluknya. Mengatakan sangat mencintai aku dan takut kehilangan aku. Apa aku begitu berarti di hatinya?"gumam Dimas kemudian memeluk Ayana. Agak kesulitan memeluk Ayana mengingat perut Ayana yang sudah besar. Akhirnya Dimas berpindah posisi memeluk Ayana dari belakang.
Ada rasa nyaman saat memeluk Ayana. Dan entah mengapa Dimas menyukai aroma tubuh wanita yang saat ini dipeluknya itu.
...🌸❤️🌸...
.
__ADS_1
To be continued