SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
29. Dianggap Adik


__ADS_3

Toyib sudah selesai mandi, pria itu mengancingkan kemeja nya, bersiap-siap berangkat berjualan keliling.


"Dim, kamu nggak berangkat?"tanya Toyib yang melihat Dimas masih memakai celana pendek dan kaos oblong. Namun walaupun berpakaian sederhana seperti itu, Dimas tetap terlihat tampan.


"Aku nunggu Ayana bagun dulu. Jika dia baik-baik saja, aku akan berangkat. Aku masih khawatir padanya,"sahut Dimas yang merasa belum tenang jika belum tahu bagaimana keadaan Ayana setelah bangun nanti. Sedangkan Dimas tidak tega jika harus membangunkan Ayana.


"Kamu tahu? Tresno jalaran soko kulino, cinta datang karena terbiasa. Cinta juga datang karena rasa iba. Jangan -jangan kamu sudah jauh cinta pada Ayana,"tebak Toyib.


"Mikir mu kejauhan. Jangan jauh-jauh, nanti ilang susah nyarinya,"sahut Dimas.


"Memangnya aku anak kecil yang suka main jauh-jauh dari rumah apa? Aku hanya merasa kalian itu begitu dekat,"ujar Toyib.


"Usia kami jauh berbeda, aku hanya menganggap dia seperti adikku sendiri,"ujar Dimas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak mungkin, 'kan dirinya yang berusia dua puluh tujuh tahun menyukai Ayana yang baru beranjak delapan belas tahun? Tapi... Who knows? (Siapa yang tahu?).


"Iya, iya, adik. Adik ketemu gede,"sahut Toyib kemudian tertawa,"Kamu tahu nggak? Orang Jawa kalau manggil istrinya juga adik,"lanjut Toyib.


"Oh, ya, kemarin kamu di suruh pulang kampung dadakan ada apa?"tanya Dimas mengalihkan pembicaraan.


"Aku dijodohkan dengan seorang gadis yang masih satu kampung dengan kami,"sahut Toyib dengan seulas senyum di bibirnya.


"Gadis? Enak dong! Sudah duda masih dapat gadis,"goda Dimas.


"Covernya sih gadis, tapi nggak tahu isinya,"sahut Toyib.


"Maksudnya?"tanya Dimas seraya mengernyitkan keningnya.


"Yahh.. tahu sendiri lah jaman sekarang. Kalau dulu gadis itu perawan. Tapi sekarang, gadis belum tentu perawan. Walaupun gadis kampung juga belum tentu polos. Tapi aku sih, nggak masalah. Toh, aku juga bukan lagi perjaka. Dapat yang original ya, Alhamdulillah, dapat second ya, syukuri lah. Yang penting dia nanti bisa jadi ibu dan istri yang baik. Itu sudah cukup,"ujar Toyib.


Iya juga, sih. Tapi, kalau begitu penilaian kamu, kenapa kamu harus milih calon istri dari kampung halaman mu? Di jodohkan lagi,"tanya Dimas.


"Kata orang tuaku, kalau satu kampung itu, sedikit banyak sudah tahu bagaimana sifatnya dan juga keseharian nya,"sahut Toyib.


"Iya juga, sih! Memangnya istri kamu yang dulu tidak satu kampung dengan kamu?"tanya Dimas.


"Enggak. Dia dari kampung sebelah kampung ku,"sahut Toyib.


"Cantik mana sama yang sekarang?"tanya Dimas yang jadi seperti kuli tinta yang akan menulis biografi narasumber nya.


"Cantik kan yang dulu dikit. Tapi buat apa cantik kalau bikin sakit hati. Secantik apapun juga bakal keriput juga. Ya, walaupun nggak munafik, kalau jelek, malu mau menggandeng nya waktu kondangan,"ujar Toyib kemudian terkekeh.


"Dasar!"ujar Dimas geleng-geleng kepala.

__ADS_1


"Walaupun punya istri cantik nggak bakal bisa memperbaiki isi dompet dan cenderung menguras isi dompet, tapi paling tidak bisa memperbaiki keturunan,"ujar Toyib sambil menyengir,"Ya sudah, aku berangkat dulu,"pamit Toyib kemudian.


"Oke. Hati-hati!"ucap Dimas.


"Kalau kamu nggak berangkat, hubungan aja aku. Biar kalau ada yang mau kamu tagih bisa aku tagihkan,"ujar Toyib lagi.


"Oke. Makasih,"sahut Dimas.


"Oh iya, kemarin luka di kaki Ayana agak dalam. Mungkin Ayana akan kesulitan untuk berjalan,"ujar Toyib memberitahu.


"Hum. Makasih,"ucap Dimas lagi.


Di dalam kamar, Ayana terbangun, dan perlahan membuka matanya. Beberapa kali mengedipkan matanya karena merasa silau dengan cahaya yang masuk ke dalam retina nya. Ayana turun dari ranjang, bermaksud pergi ke kamar mandi.


"Auwh!"pekik Ayana karena saat berdiri tiba-tiba kakinya terasa sakit, hingga Ayana kembali terduduk di ranjang. Dimas yang mendengar suara Ayana pun bergegas ke kamar Ayana.


"Ay!"panggil Dimas langsung membuka pintu kamar Ayana yang sebelumnya adalah kamarnya,"Kamu kenapa?"tanya Dimas seraya menghampiri Ayana yang meringis menahan sakit.


"Kakiku sakit, kak,"sahut Ayana, masih meringis menahan sakit.


"Apa kamu mau ke kamar mandi?"tanya Dimas seraya memeriksa kaki Ayana. Takut jika kaki Ayana kembali berdarah.


Selama ini Ayana tidak pernah dekat dengan seorang pria pun selain dengan Dimas dan Pak Parman. Bahkan dengan papa dan kakak kandung nya pun jarang berinteraksi. Dan mungkin karena sikap Dimas yang dewasa dan perhatian membuat Ayana merasa nyaman bersama Dimas. Belum lagi Dimas adalah orang yang telah menyelamatkan dirinya. Rasa hormat dan kagum pun tersemat di hati Ayana. Ayana menyadari jika setiap hari dirinya semakin menyukai Dimas. Tapi tidak berani untuk mencintai nya. Usia mereka yang jauh berbeda dan sikap Dimas yang memperlakukan dirinya seperti seorang adik membuat Ayana tidak berani berharap Dimas mencintai dirinya.


"Aku akan mengantarmu ke kamar mandi,"ucap Dimas langsung menggendong Ayana,"Apa kamu ingin sekalian mandi?"tanya Dimas.


"Hum,"sahut Ayana mengalungkan tangannya di leher Dimas. Menatap wajah Dimas yang tampan, membuat degup jantungnya berdetak kencang. Kenapa sekarang dirinya malah menyukai pria yang sering diolok-olok nya sebagai SPd, si sales penjual daster ini? Mungkin benar kata orang, jangan terlalu membenci, nanti cinta.


"Aku akan mengambilkan pakaian kamu. Nanti aku gantung di handle pintu. Kalau sudah selesai panggil saja aku,"ucap Dimas menurunkan Ayana di kamar mandi.


"Hum,"sahut Ayana, lagi-lagi cuma berdehem.


Dimas meninggalkan Ayana di kamar mandi, kemudian mengambilkan pakaian Ayana lengkap dengan pakaian dalamnya.


"Untung saja aku tidak berangkat kerja. Aku akan meminta Toyib menagih ke beberapa orang konsumen ku,"gumam Dimas kemudian mengirim pesan pada Toyib untuk mengambil cicilan pakaian ke beberapa orang konsumennya.


"Kak Dimas!"panggil Ayana dari dalam kamar mandi membuat Dimas bergegas pergi ke kamar mandi.


"Apa sudah selesai?"tanya Dimas, berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Iya,"sahut Ayana.

__ADS_1


"Aku masuk, ya?"tanya Dimas lagi.


"Iya,"sahut Ayana.


Dimas masuk ke dalam kamar mandi dan menggendong Ayana kembali ke kamarnya. Mendudukkan Ayana di pinggir ranjang.


"Luka kamu basah, ya?"tanya Dimas.


"Iya,"sahut Ayana.


"Seharusnya tidak boleh basah,"gumam Dimas menatap kaki Ayana.


"Gimana aku mandi, kak, kalau kakiku nggak boleh basah?"tanya Ayana.


"Iya juga, sih. Biar aku ganti perbannya, sekalian mengobatinya,"ujar Dimas kemudian mengambil kotak obat,"Lukanya lumayan dalam. Kamu jangan terlalu galak pada Toyib! Kemarin dia yang mengobati kakimu. Dia juga sering membelikan kamu cemilan, 'kan? Dia juga menyayangi mu seperti aku menyayangi mu. Kami menganggap kamu seperti adik kami sendiri. Jadi jangan terlalu galak padanya,"ujar Dimas seraya mengobati dan mengganti perban pada luka Ayana.


"Habisnya bang Toyib suka jorok, sih,"sahut Ayana memalingkan wajahnya karena matanya berkaca-kaca. Entah mengapa ngin menangis rasanya saat mendengar Dimas mengatakan dirinya dianggap sebagai adik Dimas. Sayangnya, air mata sialan nya tidak bisa diajak kompromi. Butir-butir kristal bening itu jatuh tanpa bisa ditahannya.


"Kenapa kamu menangis? Apa kaki kamu terasa sakit?"tanya Dimas yang baru saja selesai membalut luka Ayana. Menjadi khawatir saat menatap wajah Ayana yang sudah basah oleh air mata.


"Aku hanya terharu saja. Bahkan kakak kandung ku tidak pernah perduli padaku,"ujar Ayana seraya menghapus air matanya.


"Sudah, jangan menangis! Aku tidak suka melihat kamu menangis,"ujar Dimas merengkuh Ayana dalam pelukannya dan mengelus kepalanya. Namun hal itu malah membuat Ayana semakin menangis.


Dimas masih mengelus kepala Ayana dengan lembut. Hingga beberapa saat kemudian tangis Ayana reda. Dimas merenggangkan pelukannya kemudian menghapus air mata Ayana dengan kedua jari jempolnya. Dan merapikan anak rambut Ayana yang menutupi wajah Ayana.


"Aku lebih suka melihat kamu memarahi Toyib dari pada melihat kamu menangis,"ujar Dimas mengelus kepala Ayana lembut,"Kamu pasti lapar, 'kan? Aku akan mengambilkan sarapan untuk mu,"ujar Dimas kemudian keluar dari kamar itu.


Ayana menatap punggung Dimas yang menghilang di balik pintu dengan tatapan sendu. Hanya bisa menatap tanpa bisa mendampingi. Hanya bisa mencintai tanpa bisa memiliki. Memang benar Ayana menangis karena terharu dianggap adik oleh Toyib dan Dimas. Sekaligus sedih karena Dimas hanya menganggap dirinya sebagai adik, tidak lebih.


...🌟"Cinta itu sederhana jika dua hati saling mencinta."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...


.


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2