
Bening berjalan ke ruangan rawat suami dan papa mertuanya, saat hari menjelang malam. Bening yakin jika malam ini Dimas pasti datang, walaupun kemungkinan besar bersama Ayana. Tapi Bening akan berusaha membuat Ayana agar tidak mengganggunya mendekati Dimas.
Wanita itu masuk ke dalam ruangan dan melihat Geno, Hilda, Nando, juga Ayana dan Dimas. Dimas nampak sedang menerangkan materi pelajaran pada Ayana. Bening menghampiri Hilda dan memberikan bubur untuk Geno, lalu menghampiri suaminya dan memasang senyuman manis yang palsu.
"Sayang, aku bawakan bubur kesukaan kamu,"ucap Bening agak keras sengaja agar di dengar Dimas,"Biar aku suapin, ya?"tanya Bening agak keras dari yang tadi, bermaksud agar Dimas mendengar dan melihat kemesraannya dengan Nando, sehingga Dimas merasa cemburu. Namun tidak sedetikpun Dimas menoleh apalagi menatap kearahnya dan Nando. Bahkan setelah menjelaskan materi pelajaran Ayana, Dimas malah sibuk dengan laptop Geno.
"Iya,"sahut Nando senang.
Bening menyuapi Nando dengan mata yang sesekali melirik pada Dimas. Bening merasa kesal karena Dimas tidak menatapnya sama sekali. Nando yang disuapi Bening merasa kesal, karena Bening menyuapinya tidak pas di mulutnya. Kadang di pipi, di hidung, di dagu bahkan di hidungnya. Semua itu karena Bening sibuk mencuri pandang pada Dimas. Pria yang lebih tampan dari suaminya.
"Sayang, yang bener nyuapin nya. Bisa masuk hidung aku ini,"protes Nando karena Bening tidak fokus menyuapinya.
"Ah, maaf!"ucap Bening.
Ayana menatap sekilas ke arah Bening dengan salah satu sudut bibir yang di tarik ke atas, menciptakan senyuman miring. Gadis itu mengemasi buku-bukunya kemudian duduk bersandar di bahu Dimas sambil bergelayut manja di lengan Dimas. Melirik istrinya yang bergelayut manja, Dimas menutup laptop Geno.
"Apa sudah mengantuk?"tanya Dimas lembut, mengelus tangan Ayana.
"Belum,"sahut Ayana.
"Sini! Rebahkan kepala kamu di sini!"ucap Dimas seraya menepuk pahanya.
Tanpa mengatakan apapun, Ayana merebahkan kepalanya di pangkuan Dimas. Gadis itu berbaring menghadap ke arah perut Dimas seraya memeluk pinggang Dimas dengan tangan kirinya. Tangan kiri Dimas mengelus kepala Ayana, sedangkan tangan kanannya memegang handphone nya. Melihat pasar saham.
Bening menatap iri pada Ayana yang terlihat mesra dengan Dimas. Beberapa menit kemudian, Nando nampak sudah terlelap karena obat yang diberikan dokter. Begitu pula dengan Geno. Ayana yang merebahkan kepalanya di pangkuan Dimas pun juga terlelap. Sedangkan Hilda masih sibuk dengan handphonenya.Bening berjalan ke arah sofa, dimana Hilda, Dimas dan Ayana berada.
"Dim, bisa temani aku pergi beli soto, nggak? Aku pengen sekali makan soto. Sepertinya ngidam, deh,"ujar Bening berharap Dimas mau menemaninya.
"Kakak ipar bisa pesan online. Tidak perlu repot-repot keluar untuk membelinya,"sahut Dimas setelah menatap Bening sekilas. Pria itu kembali fokus pada handphonenya seraya mengelus kepala Ayana yang baru tidur di pangkuannya.
Bening merasa kesal mendapatkan penolakan dari Dimas, apalagi saat Dimas memanggilnya kakak ipar dan melihat Dimas mengelus kepala Ayana.
"Benar kata Dimas. Tinggal pesan online saja,"sahut Hilda yang masih fokus pada handphonenya.
__ADS_1
"Aku ingin makan langsung di tempatnya, ma. Ini keinginan baby. Tolonglah, Dim, antar aku!"pinta Bening beralasan.
"Kalau begitu, kamu naik taksi saja,"sahut Hilda.
"Aku sedang mengandung cucu mama. Apa mama tidak khawatir jika aku keluar malam sendirian?"tanya Bening dengan wajah yang dibuat memelas.
"Mama sedang ada kerjaan. Ada orderan besar di butik mama,"sahut Hilda.
"Dim, tolong antar aku, Dim!"pinta Bening lagi.
"Maaf, ma. Apa mama membawa supir? Ayana baru saja tidur, jika aku memindahkannya, Ayana pasti akan terbangun,"ujar Dimas yang memang enggan untuk mengantar Bening.
"Tidak. Tapi mama akan menelepon dia, agar kesini dan mengantar Bening untuk membeli soto,"ujar Hilda bermaksud menelpon supir pribadinya. Tapi Bening langsung memegangi tangan Hilda.
"Ma, jika menunggu supir dari rumah ke sini, bakalan lama, ma. Aku pengennya sekarang. Dari sore tadi, aku tidak makan karena tidak berselera. Sekarang aku sudah lapar sekali, ma. Aku ngidam makan soto. Apa mama tidak kasihan jika cucu mama kelaparan, dan nantinya jadi ileran karena ngidamnya nggak kesampaian?"ujar Bening mencoba mempengaruhi ibu mertuanya.
"Dim, tolong antar sebentar, Dim!"pinta Hilda.
"Tapi kasihan Ayana jika harus dibangunkan, ma,"ujar Dimas.
"𝙈𝙖𝙖𝙛, 𝘼𝙮! 𝘼𝙠𝙪 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙖𝙣𝙜𝙪𝙣𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙢𝙪,"gumam Dimas dalam hati.
Dimas menghela napas panjang. Tangan kiri Dimas terlihat ingin memindahkan kepala Ayana dari pahanya. Namun dengan sengaja, tangan kanannya diam-diam merayap menggelitik pinggang Ayana.
"Kakak,"gumam Ayana yang masih memejamkan matanya. Gadis itu meraih tangan Dimas yang menggelitik pinggangnya dan malah memeluknya. Bening yang melihat itu pun merasa kesal pada Ayana.
"𝙄𝙨𝙨𝙝𝙝.. 𝙙𝙖𝙨𝙖𝙧 𝘼𝙮𝙖𝙣𝙖 𝙨𝙞𝙖𝙡𝙖𝙣! 𝙆𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖, 𝙨𝙞𝙝, 𝙙𝙞𝙖 𝙢𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙡𝙪𝙠 𝙩𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨?"gumam Bening, menatap tidak suka pada Ayana.
"Mama lihat sendiri! Ayana memeluk tanganku,"ujar Dimas.
Hilda menghela napas panjang, kemudian mendekati Ayana,"Ay, bangun, Ay! Ay!"panggil Hilda seraya menepuk pelan pipi Ayana.
"Ada apa, ma?"tanya Ayana yang sudah terbangun, tapi masih mengantuk.
__ADS_1
"Kakak ipar kamu ingin makan soto dari tempatnya langsung. Mama mau minta tolong Dimas buat mengantarkan kakak iparmu,"ujar Hilda.
Ayana menghela napas berat. Ayana merasa sangat dongkol karena dibangunkan cuma karena Bening ingin makan soto. Gadis itu menatap ke arah Bening yang memasang wajah memelas dengan perasaan muak.
"𝘿𝙖𝙨𝙖𝙧 𝙜𝙖𝙩𝙚𝙡! 𝙈𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙨𝙖𝙟𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙘𝙖𝙧𝙞 𝙘𝙖𝙧𝙖 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙚𝙠𝙖𝙩𝙞 𝙨𝙪𝙖𝙢𝙞 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜,"gumam Ayana dalam hati.
"Ya sudah. Ayo kita pergi!"ajak Ayana.
"Bukankah kamu masih mengantuk, Ay? Lebih baik, kamu tidur saja lagi,"ujar Bening agar Ayana tidak ikut.
"Iya, Ay. Lebih baik, kamu lanjutkan tidur saja,"timpal Hilda yang tidak tahu tentang hubungan Dimas dan Bening di masa lalu.
"Tidur lagi? Aku tidak bisa tidur jika tidak ada kak Dimas. Lagian, mana rela aku , suamiku pergi dengan perempuan lain?"ujar Ayana terus terang.
"𝘿𝙖𝙨𝙖𝙧 𝘼𝙮𝙖𝙣𝙖 𝙨𝙞𝙖𝙡𝙖𝙣! 𝙎𝙚𝙡𝙖𝙡𝙪 𝙨𝙖𝙟𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙜𝙖𝙣𝙜𝙜𝙪,"umpat Bening dalam hati.
"𝘿𝙖𝙨𝙖𝙧 𝙪𝙡𝙖𝙩 𝙗𝙪𝙡𝙪 𝙠𝙚𝙜𝙖𝙩𝙚𝙡𝙖𝙣! 𝙆𝙖𝙢𝙪 𝙥𝙞𝙠𝙞𝙧 𝙖𝙠𝙪 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙞𝙖𝙧𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙪𝙖𝙢𝙞𝙠𝙪 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙙𝙚𝙠𝙖𝙩𝙞,"Ayana pun mengumpat Bening dalam hati.
"Ay, Bening bukan orang lain, Ay! Dia adalah kakak ipar kamu. Biarkan Dimas mengantar kakak ipar mu,"ujar Hilda.
"Kenapa tidak naik taksi saja? Kenapa harus minta antar pada suamiku?"tanya Ayana.
"Ini sudah malam. Masa kamu tega, jika kakak ipar kamu yang sedang mengandung pergi sendiri,"sahut Hilda yang sudah termakan kata-kata Bening.
"Kamu lanjutkan tidur,. aja, Ay! Tempat beli sotonya belum tentu dekat. Bisa saja nanti pulangnya larut malam. Bukankah kamu besok mau sekolah? Kalau kamu kurang tidur, nanti kamu kesiangan,"bujuk Bening agar Ayana tidak ikut bersama dirinya dan Dimas. Bening tidak ingin kebersamaannya dengan Dimas di ganggu oleh Ayana.
...🌟"Mencintai itu sah-sah saja. Selama yang mencintai dan yang dicintai sama-sama belum ada yang punya 🌟...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
__ADS_1
To be continued