
Makan malam baru saja selesai. Seperti biasanya, mereka akan duduk bersama di ruangan keluarga agar makanan yang baru saja masuk ke dalam perut mereka bisa di cerna dengan sempurna.
Dimas fokus pada layar laptopnya, jemari tangan pria itu bergerak lincah di papan keyboard laptopnya. Ayana duduk di sebelah Dimas sedang membaca buku dan Toyib sedang menonton video-video pendek di salah satu aplikasi yang sering di tonton emak-emak jaman now. Sesekali duda muda itu nampak tertawa.
Satu jam kemudian, Ayana sudah mulai menguap. Toyib menghela napas panjang melirik ke arah Ayana. Wanita muda itu nampak sudah lelah. Dimas melirik ke arah istri kecilnya itu.
"Sudah mengantuk?"tanya Dimas seraya membelai kepala istrinya dengan lembut.
"Hum. Temani aku tidur, kak! Aku pengen tidur di peluk kakak,"pinta Ayana seraya menggoyang-goyangkan lengan Dimas dengan mata yang sudah terlihat merah dan sayu.
"Udah! Sana! Kelonin dulu sana! Tapi jangan digarap lagi! Kasian tuh, kelihatannya sudah capek banget,"ujar Toyib yang kasihan melihat Ayana yang nampak kelelahan.
Dimas menutup laptopnya dan meletakkannya di atas meja,"Ayo, aku temani!"ujar Dimas bangkit dari duduknya, kemudian menarik tangan Ayana lembut agar istrinya itu bangkit dari tempat duduknya.
Dimas merangkul Ayana masuk ke dalam kamar mereka. Keduanya berbaring di atas ranjang. Ayana langsung masuk ke dalam pelukan Dimas, memeluk tubuh suaminya itu seraya memejamkan matanya. Dimas membelai rambut Ayana dengan lembut
Beberapa menit kemudian, Ayana sudah terlelap dalam dekapan Dimas. Dimas mengecup puncak kepala Ayana dengan lembut dan penuh kasih sayang. Setelah merasa Ayana sudah tidur dengan nyenyak, Dimas melepaskan pelukannya dengan perlahan agar tidur Ayana tidak terganggu. Merapikan anak rambut Ayana, kemudian mengecup kening Ayana dengan lembut dan penuh cinta. Menyelimuti tubuh Ayana, kemudian beranjak turun dari ranjang dan keluar dari kamar itu. Kembali ke ruangan keluarga yang masih ada Toyib di sana.
Dimas kembali duduk di tempatnya tadi, dan kembali memangku laptopnya. Kembali bekerja dengan jemari tangan yang bergerak cepat di atas keyboard laptopnya.
"Dim!"panggil Toyib seraya menatap Dimas.
__ADS_1
"Hum,"sahut Dimas tanpa menoleh ke arah Toyib, tetap fokus pada layar laptopnya.
"Kamu sudah pikirkan masak-masak belum, tentang rencana kalian ke depannya?"tanya Toyib, membuat Dimas menghentikan gerakan jemarinya di atas keyboard laptopnya, lalu menatap Toyib.
"Maksud kamu?"tanya Dimas agar Toyib bertanya lebih spesifik.
"Maaf, ini mungkin terlalu pribadi. Tapi karena aku sudah menganggap kamu dan Ayana seperti saudaraku sendiri, aku ingin mengatakan ini,"ujar Toyib menghela napas sebentar.
"Katakan lah! Jangan ragu!"pinta Dimas.
Dimas melihat Toyib nampak serius, tidak bercanda seperti biasanya. Sikap duda muda itu selalu jelas. Hingga Dimas bisa membedakan, kapan Toyib bercanda dan kapan Toyib bicara serius. Dan kali ini, Dimas yakin duda muda itu bicara serius.
"Begini, kamu, 'kan sudah menyentuh Ayana. Sedangkan kamu tahu sendiri kalau usia Ayana baru delapan belas tahun. Apa kalian memakai pengaman saat kalian melakukannya?"tanya Toyib menatap lekat wajah Dimas.
Dimas terkejut dengan pertanyaan Toyib. Menyadari kemana arah pembicaraan Toyib. Pasalnya semenjak mengambil kesucian Ayana, hingga detik ini Dimas melakukan hubungan suami-istri dengan Ayana tanpa memakai pengaman.
Melihat ekspresi wajah dan juga Dimas yang terdiam, Toyib pun sudah tahu jawaban dari pertanyaannya tadi.
"Aku sarankan kalian memakai pengaman. Kamu memang sudah pantas jika memiliki anak, tapi Ayana.."Toyib menjeda kata-katanya sebentar seraya menghela napas panjang,"Mengingat usia Ayana saat ini, sangat berisiko jika dia mengandung dan melahirkan. Apalagi saat ini Ayana masih sekolah. Walaupun tinggal sekitar tiga bulan lagi. Melihat kamu begitu bersemangat menggempur Ayana, aku rasa ada kemungkinan besar Ayana akan cepat hamil. Jika sebelum lulus Ayana sudah hamil, aku takut akan berpengaruh pada kesehatannya, dan tentunya pada sekolahnya. Masalahnya, ada sebagian ibu hamil yang mengalami mual dan muntah saat di awal kehamilan. Maaf jika aku ikut campur dalam masalah pribadi kalian. Tapi ini semua aku utarakan karena aku sudah menganggap kalian seperti saudara ku sendiri. Aku harap, kamu memikirkan hal itu,"ujar Toyib panjang lebar, berharap Dimas tidak tersinggung dengan kata-katanya.
"Aku mengerti. Terimakasih telah mengingatkan aku. Aku terlalu menikmati kebersamaan dan kebahagiaan ku dengan Ayana, hingga melupakan masalah sepenting ini. Aku memang belum ingin memiliki anak. Selain karena Ayana masih sekolah dan masih terlalu muda, aku juga masih ingin menikmati kebersamaan ku bersama Ayana."ujar Dimas menghela napas panjang.
__ADS_1
"Memang ada sebagian orang merasa kurang nikmat saat melakukan hubungan suami-istri dengan memakai pengaman. Tapi kalian bisa memilih satu dari beberapa macam jenis alat kontrasepsi yang akan kalian gunakan,"ujar Toyib yang sudah berpengalaman.
"Aku kurang setuju jika Ayana harus memakai alat kontrasepsi, apalagi meminum obat kontrasepsi. Ada beberapa kejadian, wanita yang belum pernah memiliki anak meminum obat kontrasepsi, malah mengakibatkan kandungannya menjadi kering hingga sulit, bahkan akhirnya tidak bisa memiliki anak. Aku tidak masalah jika kami tidak memiliki anak dari pernikahan kami. Kami bisa mengadopsi anak. Tapi, sebagai seorang wanita, Ayana pasti ingin memiliki anak dari rahimnya sendiri. Karena itu, aku akan memilih memakai pengaman saja. Saat dia tidak subur, kami bisa melakukannya tanpa pengaman,"ujar Dimas panjang lebar.
"Itu terserah kamu. Pilih yang rasanya nyaman bagi kalian.Oh, iya, bagaimana trauma Ayana sekarang? Apa sudah ada perkembangan yang lebih baik?"tanya Toyib.
"Sudah lebih baik. Dia sudah tidak terlalu takut lagi jika ada angin, hujan dan juga kilat, petir. Akhir-akhir ini psikolog mencoba untuk menghilangkan ketakutan Ayana saat bertemu dengan orang-orang yang pernah berniat melecehkan dia dulu. Kami belum tahu bagaimana hasilnya, sebelum Ayana bertemu secara langsung dengan orang-orang itu,"ujar Dimas yang memang masih rutin membawa Ayana ke psikolog. Ingin Ayana sembuh sepenuhnya dari traumanya.
"Baguslah, semoga Ayana cepat sembuh. Oh, iya, Dim. Kamu harus hati-hati dengan mantan pacar kamu yang gagal move on itu. Aku takut dia merusak kebahagiaan kalian. Sepertinya dia begitu bersemangat untuk mengejar kamu. Wajahnya sih, cantik. Namanya Bening, sebening wajahnya, tapi tidak sebening hatinya. Hatinya keruh, butek,"ujar Toyib.
"Aku juga bingung, bagaimana cara menghadapi dia agar tidak mengejar-ngejar aku lagi. Melihat perangai kak Nando, jika aku mengungkapkan tentang hubungan kami di masa lalu pada keluarga Ayana, aku takut kak Nando malah akan menceraikan dia. Jika kak Nando menceraikan dia, dia akan semakin bebas mengejar aku,"ujar Dimas menghela napas panjang.
"Aku juga tidak bisa memberikan saran untuk masalah kamu yang satu itu. Hanya menghindar, itulah satu-satunya jalan untuk mengatasi masalah ini untuk sementara waktu ini,"ujar Toyib ikut menghela napas panjang.
Di sisi lain, seorang pria berambut gondrong menghampiri Noval yang sedang duduk di depan meja bartender klub malam miliknya. Pria itu duduk di sebelah Noval.
"Bagaimana? Kamu sudah mendapatkan informasi yang aku inginkan?"
...🌸❤️🌸...
.
__ADS_1
To be continued