SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
92. Drama


__ADS_3

"Cari siapa?"tanya pria itu menelisik penampilan Bening dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Aku ingin bertemu Dimas. Apa benar ini rumah kontrakan Dimas?"tanya Bening menjadi ragu jika rumah itu adalah rumah kontrakan Dimas.


"Apa itu mobil kamu?"tanya pria itu menunjuk pada mobil Bening, tanpa menjawab pertanyaan Bening.


"Iya. Jadi, apa benar Dimas tinggal di sini?"tanya Bening lagi. Walaupun sebenarnya Bening agak merasa takut saat pria di depannya itu menanyakan tentang mobilnya.


Pria itu menengadahkan tangannya pada Bening, tanpa menjawab pertanyaan Bening.


"Apa?"tanya Bening saat melihat pria itu menadahkan tangannya pada dirinya.


"Akan aku beri informasi jika kamu memberikan aku uang,"ucap pria itu masih menadahkan tangannya.


Bening menghela napas berat mengeluarkan dompetnya dari sling bag miliknya, kemudian mengambil uang lima puluh ribu dan memberikan uang itu pada pria di depannya itu.


"Cuma segini? Tambah lagi! Jika tidak, aku tidak akan memberikan informasi,"ucap pria itu yang melihat Bening memakai pakaian bagus dan mengendarai mobil yang lumayan mewah untuk datang ke tempat itu.


Bening mendengus kesal kemudian memberikan uang seratus ribuan pada pria itu.


"Ini baru benar,"ucap pria itu setelah mendapatkan uang seratus lima puluh ribu.


"Jadi, Dimas tinggal di sini atau tidak?"tanya Bening yang merasa kesal.


"Dimas yang bekerja sebagai sales pakaian keliling itu, 'kan?'"tanya pria itu.


"Iya,"sahut Bening antusias.


"Dia memang tinggal di sini. Tapi itu satu hari yang lalu. Sekarang Dimas sudah tidak tinggal di sini lagi,"sahut pria itu seraya bersandar di kusen pintu.


"Lalu, di mana Dimas tinggal sekarang?"tanya Bening yang menjadi kecewa karena Dimas sudah pindah.


Pria itu kembali menadahkan tangannya dan terpaksa Bening kembali memberikan uang seratus ribuan pada pria itu.


"Aku dengar pindah ke kampung lain, tapi tidak terlalu jauh dari kampung ini,"sahut pria itu.

__ADS_1


"Apa nama kampungnya?"tanya Bening.


"Aku tidak tahu,"sahut pria itu kemudian berbalik masuk ke dalam rumah itu dan menutup pintunya.


"Lumayan! Dibangunin buat dikasih uang dua ratus lima puluh ribu,"gumam pria itu kemudian mencium uang di tangannya dengan senyum lebar.


"Sialan! Uang dua ratus lima puluh ribu melayang, tapi nggak bisa dapetin informasi apapun,"gerutu Bening menatap kesal ke arah pintu yang sudah tertutup di depannya.


Wanita itu berusaha bertanya pada beberapa orang di sekitar tempat itu tentang tempat tinggal Dimas yang baru, tapi tidak ada yang tahu dimana Dimas pindah rumah kontrakan.


Dengan membawa rasa kecewa, akhirnya Bening memilih melajukan mobilnya menuju apartemen tempat ibunya tinggal. Apartemen yang diberikan Nando untuk nya sebelum menikah.


***


Hari beranjak malam. Dimas dan Ayana baru saja terlelap saat handphone Ayana berdering.


"Ay, handphone kamu berdering,"ucap Dimas yang terbangun dari tidurnya karena mendengar dering handphone Ayana. Namun Ayana tetap terlelap memeluk dirinya. Akhirnya Dimas meraih handphone Ayana.


"Mama? Ada apa malam-malam begini mama menelpon Ayana?"gumam Dimas setelah membaca siapa nama pemanggil di handphone istrinya dan melihat jam di layar handphone itu yang menunjukkan pukul sebelas malam. Tanpa membangunkan Ayana, Dimas menerima panggilan itu.


"Halo, Ay! Cepat ke rumah sakit xx sekarang juga! Papa dan kakakmu mengalami kecelakaan lalu lintas, Ay. Saat ini papa dan kakak kamu dalam perjalanan ke rumah sakit,"ujar Hilda memotong kata-kata Dimas. Dari sambungan telepon, suara perempuan paruh baya itu terdengar panik.


"Kami akan segera ke sana, ma,"ucap Dimas.


"Ah, iya. Cepatlah ke sana! Mama juga sedang dalam perjalanan ke sana,"pinta Hilda yang baru menyadari jika yang mengangkat telepon adalah Dimas. Perempuan itu kemudian mengakhiri sambungan teleponnya,"Cepat sedikit, Pak!"pinta Hilda pada supir pribadinya.


"Iya, nyonya,"sahut supir Hilda. Sedangkan Bening juga ada di dalam mobil itu, duduk di samping Hilda.


Tadi pagi, Geno dan Nando pamit ke luar kota untuk urusan bisnis. Karena banyak pekerjaan di kantor, keduanya nekat pulang malam hari setelah urusan mereka selesai. Namun tidak disangka, mereka mengalami kecelakaan lalu lintas saat dalam perjalanan pulang.


"Ay! Ay! Bangun, Ay!"panggil Dimas menepuk pelan pipi Ayana yang masih terlelap memeluknya.


"Emm.. masih ngantuk, kak,"gumam Ayana yang memang baru tidur satu jam yang lalu. Gadis itu malah mengeratkan pelukannya pada Dimas.


"Kita harus segera pergi ke rumah sakit, Ay. Papa dan kak Nando mengalami kecelakaan,"ucap Dimas pelan, agar Ayana tidak terlalu terkejut mendengar kabar itu.

__ADS_1


"Apa? Papa dan kakak kecelakaan?"tanya Ayana terkejut.


"Iya. Ayo, kita bersiap pergi ke rumah sakit,"ajak Dimas.


Ayana dan Dimas pun segera bersiap ke rumah sakit. Toyib yang belum tidur pun terkejut saat melihat sepasang suami-isteri itu keluar dari kamar mereka dengan pakaian yang terlihat hendak pergi.


"Kalian mau kemana malam-malam begini?"tanya Toyib.


"Papa dan kakak kecelakaan, Yib. Kami akan kerumah sakit sekarang,"ucap Dimas.


"Aku ikut,"ucap Toyib bergegas memakai celana panjang, mengambil dompet dan memakai jaket kulit.


Kedua orang pria itu akhirnya melajukan motor mereka ke rumah sakit dengan laju yang lumayan cepat. Di atas kecepatan rata-rata.


"Pegangan yang kuat, Ay!"pinta Dimas pada Ayana mengingat kecepatannya mengendarai motor saat ini lebih cepat dari biasanya saat membonceng Ayana.


"Iya,"sahut Ayana.


Beberapa menit kemudian mereka telah tiba di rumah sakit. Mereka langsung menuju UGD. Mereka baru saja akan masuk ke dalam rumah sakit itu bertepatan dengan ambulance yang baru saja berhenti dan ternyata membawa Geno. Dan di belakangnya lagi membawa Nando. Kebetulan juga Hilda dan Bening juga baru saja sampai. Akhirnya Dimas menemani Hilda melakukan pendaftaran dan juga mengurus administrasi nya. Bahkan juga berbicara dengan beberapa orang polisi yang menyelidiki penyebab terjadinya kecelakaan. Sedangkan Toyib, Ayana dan Bening menunggu di depan UGD. Ayana duduk di antara Toyib dan Bening.


Setelah selesai mengurus administrasi, Hilda dan Dimas segera kembali ke UGD. Ayana yang melihat Dimas pun segera beranjak dari duduknya.


"Kak!"panggil Ayana.


"Akkhh!"pekik Bening yang bangkit dari duduknya sambil memegangi kepalanya. Tiba-tiba Bening terhuyung hendak jatuh.


Dengan cepat Ayana menyambar tubuh Bening agar tidak jatuh. Tidak ingin suaminya menyentuh Bening.


"Bening!"ucap Hilda terlihat khawatir.


"π˜Ώπ™–π™‘π™–π™’ π™ π™šπ™–π™™π™–π™–π™£ π™¨π™šπ™₯π™šπ™§π™©π™ž π™žπ™£π™ž π™Ÿπ™ͺπ™œπ™– π™’π™–π™¨π™žπ™ π™’π™šπ™’π™—π™ͺ𝙖𝙩 𝙙𝙧𝙖𝙒𝙖 π™ͺ𝙣𝙩π™ͺ𝙠 π™’π™šπ™£π™˜π™–π™§π™ž π™₯π™šπ™§π™π™–π™©π™žπ™–π™£,"gumam Ayana yang sangat yakin jika Bening hanya pura-pura pingsan agar bisa dipeluk Dimas yang memang sudah dekat dengan mereka.


...🌸❀️🌸...


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2