SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
94. Siapa Dimas?


__ADS_3

Dimas, Ayana dan Toyib pergi ke ruangan lain yang telah disiapkan untuk ketiganya agar ketiga orang itu bisa beristirahat. Sedangkan Hilda sendiri beristirahat di ruangan rawat Geno dan Nando. Meminta ranjang tambahan untuk beristirahat di ruangan itu. Sedangkan Geno dan Nando dijaga oleh seorang perawat.


Keesokan harinya, Dimas, Toyib dan Ayana bangun pagi-pagi sekali karena Ayana akan masuk sekolah. Sebentar lagi Ayana akan mengikuti ujian akhir Nasional, jadi Ayana harus fokus pada sekolahnya.


"Ma, kami pamit pulang dulu. Ayana harus sekolah. Aku juga ada pekerjaan. Setelah Ayana pulang sekolah nanti, kami akan kesini lagi,"ucap Dimas.


"Aku juga pamit, Tante,"ucap Toyib.


"Iya, terimakasih! Hati-hati di jalan!!"ucap Hilda tulus.


"Iya, ma,"


"Iya, Tante,"


Sahut Ayana, Dimas, dan Toyib bersamaan. Akhirnya ketiga orang itupun meninggalkan ruangan tempat Geno dan Nando di rawat. Hilda hanya bisa menghela napas panjang menatap ketiganya keluar dari ruangan itu.


"Untung saja ada mereka. Jika tidak ada mereka, entah bagaimana repot nya aku mengurusi papa dan Nando sendirian, apalagi mencari donor darah untuk papa dan Nando. Sepertinya Dimas itu orang yang cerdas. Semalam dia begitu lincah mengurus administrasi dan juga bicara dengan polisi. Tingkah laku, cara bicara, aura dan wibawanya seperti orang yang terpelajar. Sangat tenang dan bijaksana. Pantas saja Ayana sampai nekat mau bunuh diri karena ingin menikah dengan Dimas. Berada di dekat pria itu memang terasa nyaman. Seperti saat aku berada di dekat papa,"gumam Hilda yang sudah melihat bagaimana cara Dimas semalam mengurus semua tanpa mau merepotkan dirinya. Persis seperti apa yang dilakukan oleh Geno saat bersama dirinya.


Selama ini Hilda tidak terlalu memperhatikan semua yang ada pada diri Dimas. Hilda terlalu terpaku pada pekerjaan Dimas yang hanya berprofesi sebagai sales pakaian keliling.


***


Sore harinya, Dimas dan Ayana kembali ke rumah sakit. Saat masuk ke dalam ruang rawat Geno dan Nando, Hilda dan sekretaris Geno sudah ada di dalam ruangan itu.


Geno sudah sadar beberapa jam yang lalu. Pria paruh baya itu mengalami patah di bagian kaki dan tangan kanannya. Nando juga sudah sadar, tapi keadaan pria itu lebih parah. Patah di tangan kanannya dan di divonis dokter mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya untuk sementara waktu.


"Bagaimana keadaan papa?"tanya Ayana.


Sekretaris Geno menatap Ayana yang bergelayut manja di lengan seorang pria berwajah tampan dengan aura yang berkarisma, tenang dan berwibawa.


"Masih sakit, Ay. Sepertinya papa akan lama menginap di rumah sakit ini,"ujar Geno lesu.


"Tuan, bagaimana dengan kantor? Kami sangat membutuhkan, Tuan. Apalagi tinggal beberapa hari lagi adalah jadwal kita meluncurkan produk baru,"ujar sekretaris Geno yang bernama Adit itu.

__ADS_1


Geno nampak memijit pelipisnya sendiri kemudian menatap Dimas,"Dim, bisa nggak, papa minta tolong sama kamu?"tanya Geno.


"Katakan saja, pa! Jika aku bisa, akan aku bantu,"ucap Dimas.


Adit nampak mengernyitkan keningnya mendengar kata-kata Geno barusan. Dan pria paruh baya itu semakin mengernyitkan keningnya saat mendengar pria di samping Ayana itu memanggil Geno papa. Setahu Adit, Geno hanya memiliki satu putra dan satu putri, yaitu Nando dan Ayana. Lalu siapa pria ini? Itulah yang ada dalam pikiran Adit.


"Tolong kamu wakili papa. Untuk sementara waktu tolong pimpin perusahaan papa,"ucap Geno membuat semua orang yang ada di ruangan itu terkejut. Tentu saja terkecuali Dimas dan Ayana.


"Pa, apa papa tidak salah bicara? Apa yang bisa dia lakukan di perusahaan kita?"tanya Nando yang sangat terkejut dengan perkataan papanya.


"Papa yakin Dimas bisa menggantikan papa,"sahut Geno yakin.


Semenjak berbincang dengan Dimas di ruangan kerjanya waktu itu, Geno sering mengobrol dengan Dimas via telepon mengenai dunia bisnis dan juga produk yang akan diluncurkan perusahaan Geno. Dari sana, Geno yakin jika Dimas bisa menggantikan dirinya memimpin perusahaannya sampai keadaannya pulih. Walaupun sampai saat ini Geno tidak pernah tahu apa latar belakang pendidikan Dimas. Tapi Geno sangat yakin jika Dimas pernah berkecimpung di dunia bisnis.


"Tapi, pa..."


"Jangan menentang keputusan papa! Papa tahu apa yang harus papa lakukan,"ucap Geno memotong kata-kata Nando.


Nando akhirnya hanya bisa diam dengan hati yang terasa dongkol. Sedangkan Hilda, walaupun terkejut dengan keputusan Geno, tapi Hilda yakin bahwa Geno tidak akan gegabah mengambil keputusan. Apalagi keputusan tentang perusahaan yang sudah dirintis Geno dari nol selama bertahun-tahun. Hilda yakin jika Geno sudah mempertimbangkan semuanya dan merasa Dimas mampu. Semenjak semalam bersama Dimas, Hilda juga merasa bahwa latar belakang pendidikan Dimas pasti bukan sekedar lulus SMA seperti yang dirinya duga. Dari cara bicara, tingkah laku dan aura yang dipancarkan oleh Dimas, sepertinya Dimas orang yang berpendidikan tinggi.


"Apa kepala papa terkena benturan keras saat kecelakaan kemarin? Yang benar saja, menyuruh sales pakaian keliling menjadi CEO di perusahaan. Apa papa mau membuat perusahaan bangkrut?"gerutu Nando lirih.


"Baiklah, pa. Aku akan bantu papa sebaik yang aku bisa,"sahut Dimas.


"Terimakasih, Dim! Papa yakin kamu mampu menggantikan papa,"ucap Geno tersenyum senang.


"Aku akan menggantikan papa sampai papa sudah bisa kembali bekerja,"sahut Dimas.


Dimas takut membuat Nando semakin membenci dirinya jika dirinya terus bekerja di perusahaan papa mertuanya itu. Dimas tidak mau Nando merasa tersaingi dengan kehadirannya di perusahaan papa mertuanya.


"Iya. Terimakasih!"ucap Geno, lalu menatap Adit,"Dit, mungkin kamu bertanya-tanya, siapa Dimas ini. Perkenalkan, ini adalah Dimas Anggara, menantuku, suami putriku Ayana,"ucap Geno terlihat bangga saat memperkenalkan Dimas pada Adit, sekretarisnya.


"Saya Adit, sekretaris Tuan Geno,"ucap Adit mengulurkan tangannya pada Dimas. Akhirnya pertanyaan dalam hati pria itu terjawab sudah. Walaupun akhirnya memunculkan pertanyaan lain. Yaitu, kenapa Ayana sudah menikah, sedangkan setahu Adit, Ayana masih duduk di bangku SMA.

__ADS_1


"Saya Dimas. Mulai besok, mohon bimbingan dari bapak!"ucap Dimas penuh kerendahan hati. Adit pun tersenyum tipis, kemudian mengangguk.


"Dimas sudah tahu tentang produk yang akan kita luncurkan. Bahkan beberapa hal yang aku perbarui juga atas saran dan ide dari Dimas,"ujar Geno antusias.


"Oh, kalau begitu, berarti Tuan Dimas sudah tahu lumayan banyak. Jadi nanti, saya tidak perlu menjelaskan terlalu banyak lagi pada Tuan Dimas,"ujar Adit.


"Aku pikir juga seperti itu,"sahut Geno.


"Kamu berikan saja laptop ku pada Dimas. Biar Dimas bisa mempelajari apa saja yang harus dilakukannya mulai besok,"ujar Geno.


"Baik, Tuan,"sahut Adit lalu menyerahkan laptop Geno yang dibawanya tadi pada Dimas. Setelah itu Adit pamit undur diri.


Geno menjelaskan beberapa hal pada Dimas dan juga memberikan password laptopnya pada Dimas. Setelah mendapatkan penjelasan dari Geno, Dimas duduk di sofa di sebelah Ayana yang sedang belajar. Geno, Hilda dan Nando nampak terkejut saat melihat Dimas mengetik di laptop Geno dengan cepat. Bahkan Geno dan Nando yang setiap hari memegang laptop pun tidak bisa mengetik secepat Dimas.


"Apa dia benar-benar mengetik di laptop itu?"gumam Nando lirih.


"Kak, bisa kakak jelaskan cara menyelesaikan soal nomor lima ini?"tanya Ayana menyodorkan bukunya pada Dimas.


Dimas meletakkan laptop yang dari tadi di pangkuannya di atas meja, lalu menjelaskan pada Ayana cara menyelesaikan soal yang ditanyakan oleh Ayana. Dimas begitu lancar menjelaskan tentang cara menyelesaikan soal yang ditanyakan oleh Ayana, membuat Geno, Nando dan Hilda kagum. Ketiga orang itu hanya diam memperhatikan sepasang suami-isteri itu. Terlihat sangat akrab dan harmonis.


"𝘼𝙠𝙪 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙠𝙞𝙣 𝙥𝙚𝙣𝙖𝙨𝙖𝙧𝙖𝙣 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙡𝙖𝙩𝙖𝙧 𝙗𝙚𝙡𝙖𝙠𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙚𝙣𝙙𝙞𝙙𝙞𝙠𝙖𝙣 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨 𝙞𝙣𝙞. 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨 𝙨𝙚𝙡𝙖𝙡𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙝𝙞𝙣𝙙𝙖𝙧 𝙟𝙞𝙠𝙖 𝙙𝙞 𝙩𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙩𝙚𝙣𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙩𝙖𝙧 𝙗𝙚𝙡𝙖𝙠𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙚𝙣𝙙𝙞𝙙𝙞𝙠𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖,"gumam Geno dalam hati.


"𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙚𝙡𝙖𝙨𝙠𝙖𝙣 𝙘𝙖𝙧𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙮𝙚𝙡𝙚𝙨𝙖𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙤𝙖𝙡 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙞𝙩𝙖𝙣𝙮𝙖𝙠𝙖𝙣 𝘼𝙮𝙖𝙣𝙖 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙡𝙖𝙣𝙘𝙖𝙧. 𝘼𝙠𝙪 𝙗𝙖𝙝𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙡𝙪𝙥𝙖 𝙢𝙖𝙩𝙚𝙧𝙞 𝙩𝙚𝙣𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙚𝙡𝙖𝙟𝙖𝙧𝙖𝙣 𝙞𝙩𝙪,"gumam Nando. Rasanya tidak percaya dengan apa yang dilihat dan didengarnya.


"𝙎𝙞𝙖𝙥𝙖 𝙨𝙚𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧𝙣𝙮𝙖 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨 𝙞𝙣𝙞? 𝘼𝙥𝙖 𝙡𝙖𝙩𝙖𝙧 𝙗𝙚𝙡𝙖𝙠𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙚𝙣𝙙𝙞𝙙𝙞𝙠𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖?"gumam Hilda semakin penasaran.


...🌟"Orang cerdas, banyak bekerja dari pada bicara. Sedangkan orang bodoh lebih banyak bicara dari pada bekerja."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❤️🌸...


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2