
Dimas mengendarai motornya meninggalkan perusahaan Geno. Baru satu hari bekerja, tapi pria itu langsung terkenal di perusahaan Geno. Posisi tinggi karena menggantikan Geno, wajah tampan, tubuh proporsional tidak sombong, dan juga cerdas, membuat perhatian semua orang tertuju pada Dimas. Semua orang di perusahaan itu juga terlihat sangat kagum, segan dan respek pada Dimas.
Setelah beberapa menit berkendara, Dimas memarkirkan motornya di pekarangan rumah kontrakannya. Pria itu berjalan menuju kamarnya. Saat masuk ke dalam kamar, Dimas tidak melihat Ayana. Tapi dari dalam kamar mandi, Dimas mendengar suara gemericik air dan juga suara cempreng Ayana yang sedang bernyanyi. Pria itu tersenyum tipis, melepaskannya jas, dasi, dan kemeja yang dipakainya. Hingga saat ini, pria itu hanya memakai celana panjang saja.
Dimas duduk di tepi ranjang seraya mengecek handphonenya. Tidak lama kemudian, Ayana pun keluar dari kamar mandi. Gadis yang hanya memakai bathrobe itu menatap suaminya yang sedang fokus pada layar handphonenya.
"Kakak sudah lama pulang?"tanya Ayana seraya berjalan menghampiri Dimas.
"Baru, Ay,"sahut Dimas meletakkan handphonenya, menatap Ayana dengan senyuman di bibirnya, lalu menarik tangan Ayana.
"Kakak mandi dulu, sana!"pinta Ayana yang malah menarik Dimas ke kamar mandi.
"Cup"
Dimas mencuri ciuman di pipi Ayana sekilas, lalu masuk ke.kamar mandi. Ayana hanya tersenyum melihat tingkah suamimu itu seraya memegang pipinya yang baru saja di kecup Dimas. Gadis itu segera memakai pakaiannya, menyisir rambutnya, lalu bergegas ke dapur membuat minuman untuk Dimas.
"Ay, lagi bikin apa?"tanya Toyib yang baru saja masuk ke dapur.
"Bikin jus buah. Abang mau?"tawar Ayana.
"Mau, dong! Banyakin es batunya,. Ay!"pinta Toyib.
"Hum,"sahut Ayana.
"Dimas sudah pulang, Ay?"tanya Toyib lagi.
"Sudah, bang. Lagi mandi,"sahut Ayana.
Ayana membuat dua gelas jus dari campuran beberapa macam buah-buahan. Satu gelas diberikan pada Toyib, dan satu gelas lagi di bawa ke dalam kamar. Saat Ayana masuk, Dimas baru saja selesai memakai celana panjangnya. Belum memakai baju atasan.
"Ini, aku buatkan jus buah untuk kakak,"ucap Ayana menyodorkan segelas jus buah yang dibuatnya tadi.
"Terimakasih!"ucap Dimas mengambil gelas yang disodorkan oleh Ayana, kemudian mengecup bibir Ayana sekilas.
Dimas meminum jus buah buatan Ayana seraya memeluk pinggang Ayana. Sedangkan Ayana malah meraba dada bidang suaminya yang berotot itu.
"Jangan memancing, Ay!"ucap Dimas seraya meletakkan gelas jus itu di meja rias Ayana yang saat ini dekat dengannya.
__ADS_1
"Cuma pegang doang, masa nggak boleh,"sahut Ayana yang malah mengalungkan tangannya di leher Dimas.
"Masalahnya, kamu bukan cuma pegang, tapi juga menggoda,"sahut Dimas mencubit hidung Ayana gemas.
"Apa sudah ada yang melihat kakak bertelanjang dada seperti ini, selain aku?"tanya Ayana serius.
"Hum,"sahut Dimas seraya melingkarkan kedua tangannya di pinggang Ayana.
"Siapa? Jangan bilang si ulat bulu itu pernah melihat kakak bertelanjang dada seperti ini?"tanya Ayana dengan suara dan ekspresi wajah yang nampak tidak suka.
"Toyib. Sebelum kamu tinggal dengan kami, aku dan Toyib tidak pernah bawa baju ganti setiap akan mandi. Kami hanya bawa handuk doang,"sahut Dimas.
"Pantesan Abang suka lupa bawa baju saat akan mandi,"sahut Ayana.
"Habis makan malam, kita ke rumah sakit, ya? Ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan dan laporkan pada papa,"ujar Dimas membuat Ayana tiba-tiba tidak bersemangat.
"Aku malas ketemu sama mantan pacar kakak itu. Dia itu selalu mencari kesempatan untuk bertemu dan berduaan dengan kakak. Dan juga selalu mencari kesempatan untuk menghina, merendahkan dan memojokkan aku,"sahut Ayana menundukkan kepalanya dengan wajah yang terlihat kesal.
"Jika ada dia di sana, kita akan langsung pulang setelah aku bicara dan melaporkan semua pekerjaan aku hari ini pada papa,"ujar Dimas.
"Baiklah,"sahut Ayana pasrah.
"Bagaimana pekerjaan menantu ku hari ini, Dit?"tanya Geno nampak tidak sabar. Begitu pula dengan Hilda yang duduk di sebelah ranjang Geno, dan Nando yang duduk di ranjangnya sendiri.
"Maaf Tuan, sebenarnya, apa latar belakang pendidikan Tuan Dimas? Dan apa pengalaman kerjanya?"Adit tidak menjawab pertanyaan Geno, tapi malah balik bertanya.
Seharian bersama Dimas, Adit sangat kagum dengan cara kerja Dimas yang cekatan dan profesional. Bahkan pekerjaan yang biasanya di selesaikan Geno dalam waktu dua sampai tiga hari, bisa di selesaikan Dimas dalam waktu satu hari. Bahkan sudah mengadakan meeting dengan para kepala divisi. Dimas bergerak dengan cepat, tepat, dan tentunya efisien di waktu. Dan hal itu benar-benar membuat Adit kagum. Tapi saat Adit menanyakan tentang latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja Dimas, pemuda itu hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaannya.
"๐๐ช๐๐๐ ๐ ๐ช ๐๐ช๐๐. ๐๐๐ฃ๐ ๐๐๐๐ช๐จ ๐จ๐๐ก๐๐จ ๐ฅ๐๐ ๐๐๐๐ฃ ๐ ๐๐ก๐๐ก๐๐ฃ๐ ๐๐ฉ๐ช ๐ข๐๐ฃ๐๐ช๐ง๐ช๐จ ๐ฅ๐๐ง๐ช๐จ๐๐๐๐๐ฃ. ๐๐๐จ๐ฉ๐ ๐๐๐ ๐ผ๐๐๐ฉ ๐๐๐๐ช๐๐ฉ ๐ฅ๐ช๐จ๐๐ฃ๐ ๐๐๐ฃ ๐ ๐๐ง๐๐ฅ๐ค๐ฉ๐๐ฃ ๐ค๐ก๐๐ ๐จ๐๐ก๐๐จ ๐ฅ๐๐ ๐๐๐๐ฃ ๐ ๐๐ก๐๐ก๐๐ฃ๐ ๐๐ฉ๐ช,"gumam Nando dalam hati, tersenyum miris.
"๐ผ๐ฅ๐ ๐ฟ๐๐ข๐๐จ ๐ฉ๐๐๐๐ ๐๐๐จ๐ ๐ข๐๐ฃ๐๐๐ก๐๐ฃ๐ ๐๐ฃ ๐ฉ๐ช๐๐๐จ๐ฃ๐ฎ๐?"gumam Hilda dalam hati.
"Memangnya kenapa? Apa dia tidak bisa melakukan tugasnya dengan baik?"tanya Geno was-was. Apa mungkin penilaiannya tentang Dimas salah? Itulah yang ada dalam hati Geno.
"Bukan seperti itu, Tuan,"sahut Adit.
"Lalu?"tanya Geno tidak sabar. Begitu pula dengan Hilda dan Nando.
__ADS_1
"Menurut saya, Tuan Dimas tidak cocok bekerja di perusahaan kita,"ujar Adit menghela napas panjang mencoba menyusun kata-kata yang pas.
"Kenapa?"tanya Geno semakin penasaran.
"๐ผ๐ฅ๐ ๐จ๐๐ก๐๐จ ๐ฅ๐๐ ๐๐๐๐ฃ ๐ ๐๐ก๐๐ก๐๐ฃ๐ ๐๐ฉ๐ช ๐ข๐๐ข๐๐ช๐๐ฉ ๐ ๐๐ ๐๐๐๐ช๐๐ฃ ๐๐ ๐ฅ๐๐ง๐ช๐จ๐๐๐๐๐ฃ?"gumam Nando dalam hati. Sedangkan Hilda masih diam dengan rasa penasarannya.
"Menurut saya, kariernya akan semakin berkembang jika Tuan Dimas bekerja di perusahaan yang lebih besar. Caranya bekerja sangat profesional, cepat, teliti dan efisien waktu. Caranya dalam memimpin meeting, mengoreksi semua laporan dari setiap divisi pun sangat cepat. Intinya, saya tidak tahu bagaimana lagi memuji menantu anda. Di usia yang masih begitu muda, Tuan Dimas benar-benar bisa menjadi sosok pemimpin yang sempurna. Tidak kalah dengan para pebisnis yang usianya lebih tua darinya,"ujar Adit panjang lebar.
Hilda dan Nando sangat terkejut mendengar penuturan Adit. Rasanya tidak percaya mendengar Adit memuji orang yang selama ini mereka hina.
"Ternyata aku tidak salah menilainya,"ujar Geno dengan seulas senyum di bibirnya.
"Jika Tuan Dimas tetap bekerja di perusahaan kita, saya yakin perusahaan kita akan semakin cepat berkembang, Tuan,"ujar Adit membuat Nando mengepalkan tangannya. Sedangkan Hilda nampak tersenyum tipis.
"Sejak awal, aku sudah mengajaknya bergabung dengan perusahaan kita. Tapi dia tidak mau. Rasanya akan sulit untuk membujuknya agar tetap bergabung dengan perusahaan kita. Dia mengatakan sudah merasa nyaman dengan pekerjaan nya sekarang. Karena ingin menghabiskan banyak waktu dengan putriku. Kamu lihat sendiri, putriku selalu saja menempel padanya,"sahut Geno. Pria paruh baya itu menggeleng-gelengkan kepalanya, tertawa tanpa suara. Mengingat bagaimana putrinya selalu menempel pada menantunya itu.
"Maaf! Memangnya apa pekerjaan Tuan Dimas?"tanya Adit penasaran.
"Dia bekerja sebagai sales pakaian keliling,"sahut Geno menghela napas panjang.
"Sales pakaian keliling? Sayang sekali,",sahut Adit yang terkejut mendengar penuturan Geno.
Notebook :
Karena mulai hari ini umat Islam mulai melaksanakan ibadah puasa, maka, untuk adegan๐๐nya aku skip atau dikurangi dulu. Takut puasanya batal. Reader belum tentu otaknya traveling saat membaca adegan ๐๐nya. Tapi author yang nulis dan ngedit ulang sudah traveling duluan.๐ ๐ ๐คญ๐คญ๐คญ.
Maaf jika, akhir-akhir ini aku jarang bikin kata mutiara. Nulis dua novel sekaligus lumayan bikin keteteran. Jadi suka nggak sempat bikin kata mutiara.Aku lagi berusaha nabung buat pendaftaran anak-anak masuk SMP dan SMA.
Jangan lupa tempelin jempolnya, ya! Dan juga komentarnya. Mungkin bagi reader, komen "Lanjut!" itu sepele. Tapi bagi aku, itu sangat berarti.Terimakasih banyak tetap setia membaca karya author recehan ini. Like dan komen reader semua adalah penyemangat bagiku untuk menulis. ๐๐๐๐๐
Marhaban ya Ramadhan. Mari kita bersama menyambut bulan suci dengan hati yang bersih dan saling memaafkan. Selamat Ramadhan 1444 H. Selamat menunaikan ibadah puasa! Semoga amal ibadah kita diterima Allah SWT. Aamiin.
...๐ธโค๏ธ๐ธ...
.
__ADS_1
To be continued