
Dimas memijit pelipisnya sendiri melihat Delvin yang katanya adik satu ayah dengan dirinya itu. Pemuda yang terlihat membencinya dan menyukai istrinya. Seolah mencari celah untuk menjatuhkan dirinya dan terlihat tidak mau menerima dirinya di tengah-tengah keluarganya. Entah apa alasannya. Iri pada dirinya karena semua keluarga mereka nampak memperhatikan dan menyayangi dirinya? Merasa tersisih karena kehadiran dirinya? Atau dengki karena dirinya yang memiliki Ayana sebagai istrinya? Hal itulah yang ada di dalam hati Dimas yang bisa melihat dengan jelas dari tatapan Delvin bahwa pemuda itu menyukai Ayana dan membenci dirinya.
Sedangkan Ayana nampak menghela napas berkali-kali mendengar perdebatan keluarga suaminya itu. Ayana semakin tidak senang dan tidak respek pada Delvin. Sikap Delvin yang menunjukkan kebenciannya pada Dimas lah penyebabnya. Jujur, Ayana lebih respect dan sudah lumayan dekat dengan Axell. Karena melihat Axell menghormati dirinya dan Dimas sebagai kakaknya. Walaupun usianya lebih muda dari Axell, tapi Axell tetap memanggil dirinya kakak ipar, karena dirinya adalah istri dari kakak Axell. Sikap peduli dan hormat yang ditunjukkan oleh Axell selama ini untuk Dimas juga terlihat tulus.
Jauh berbeda dengan Delvin yang sejak bertemu dengan Ayana sudah menunjukkan rasa sukanya pada Ayana. Berani melamar Ayana yang jelas-jelas sudah bersuami dan sedang mengandung. Bahkan setelah tahu jika Ayana adalah kakak iparnya dan suaminya masih hidup. Walaupun saat itu Dimas sedang koma, namun tak pantas rasanya Delvin berbuat seperti itu.
"Maaf jika aku ikut bicara. Tapi apa yang dikatakan oleh kak Dimas adalah benar. Yang lebih berhak atas perusahaan mama adalah anak-anak mama. Lagi pula, kami sudah memiliki usaha sendiri,"ucap Ayana yang tidak ingin terjadi pertengkaran karena harta.
Bagi Ayana, apa yang dimilikinya bersama dengan Dimas saat ini sudah lebih dari cukup. Mereka tidak perlu mengemis pada siapapun untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka. Jadi Ayana benar-benar tidak tertarik dengan harta milik keluarga mertuanya itu. Bahkan Ayana tidak tertarik dengan harta yang dimiliki keluarganya sendiri.
Yang Ayana pikirkan saat ini adalah, Ayana merasa tidak rela jika Dimas terpilih menjadi pemimpin perusahaan mertuanya. Karena jika Dimas terpilih menjadi pemimpin perusahaan papa mertuanya, maka waktu kebersamaan mereka akan menjadi sedikit. Sedangkan Ayana sudah merasa cukup dengan aset yang saat ini dimiliki Dimas dengan kerja kerasnya sendiri.
"Inilah yang membuat mama tidak bisa membedakan kalian dengan anak kandung mama. Kalian selalu rendah hati dan tidak serakah. Walaupun Dimas bukan anak kandung mama dan hanya anak tiri mama, mama tetap akan memperlakukan Dimas seperti anak kandung mama. Dengan demikian, mama akan membagi harta yang mama miliki menjadi tiga untuk kalian semua dan sama rata,"ujar Liliana membuat Delvin terkejut dan membulatkan matanya.
"Ma, apa mama tidak salah?"tanya Delvin yang nampak tidak suka dengan keputusan Liliana.
"Mama sudah memikirkan semuanya. Dan itulah keputusan mama. Dan kalian tidak punya hak untuk protes,"sahut Liliana tegas.
"Dasar Dimas sialan! Apa yang sudah di katakan nya pada mama, hingga mama memperlakukan dia seperti itu?"gumam Delvin dalam hati merasa sangat kesal pada Dimas.
"Mama tidak perlu melakukan itu. Tidak usah merasa berhutang budi padaku. Bukankah sebagai sesama manusia memang harus tolong menolong? Jadi, mama tidak perlu sampai membagi warisan padaku,"sahut Dimas yang tidak ingin ada konflik hanya karena warisan.
"Jangan munafik! Bilang saja kalau kamu senang bisa mendapatkan warisan dari mamaku,"sinis Delvin yang membuat Buston, Liliana dan Axell menjadi semakin geram pada Delvin.
"Jaga mulut kamu Delvin!"bentak Buston.
"Dasar tidak punya etika!"ketus Axell.
__ADS_1
"Kalian setuju atau tidak, mama akan tetap membagi rata harta yang mama miliki. Jika Dimas tidak mau, mama akan memberikan bagian Dimas pada anaknya,"ucap Liliana tidak mau dibantah.
Akhirnya pembicaraan keluarga malam itu hanya menimbulkan kekecewaan. Kekecewaan Delvin atas sikap keluarganya yang lebih membela Dimas dari pada dirinya. Dan kekecewaan Buston, Liliana dan Axell pada sikap Delvin.
Dimas hanya bisa menghela napas berkali-kali setelah masuk ke dalam kamarnya. Kenyataan bahwa adik satu ayahnya ternyata tidak menyukainya dan membenci dirinya membuat Dimas kepikiran.
Ayana duduk di samping Dimas, lalu menggenggam tangan Dimas dengan hangat. Dimas pun menoleh menatap Ayana.
"Kak, kita pindah ke rumah papa dan mamaku saja, ya? Atau kalau tidak, kita kembali ke rumah kontrakan kita saja,"usul Ayana yang tidak ingin Dimas merasa tertekan karena sikap Delvin. Apalagi Dimas baru sembuh dan saat ini Dimas masih belum bisa mengingat masa lalunya.
"Apa kamu merasa tidak nyaman tinggal di sini?"tanya Dimas lembut.
"Aku hanya merasa tidak suka dengan sikap Delvin yang seperti tidak menerima kehadiran kakak di rumah ini. Bahkan terlihat jelas kalau dia membenci kakak. Asalkan kita bisa mengelolanya dengan baik, aset yang kita miliki sekarang sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan kita dan anak kita nanti. Kita tidak perlu mengemis warisan dari siapapun untuk mencukupi kebutuhan hidup kita. Aku ingin hidup tenang tanpa perdebatan, kak,"ucap Ayana jujur adanya.
"Baiklah. Aku akan membicara tentang hal ini dengan papa dan mama. Tidak enak jika kita keluar dari rumah ini tanpa bicara dulu dengan papa dan mama,"
"Ya, sudah. Ini sudah malam. Ayo, tidur!"ajak Dimas yang melihat waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
"Kakak mau, 'kan, tidur memeluk aku seperti tadi siang?"pinta Ayana ragu
"Hum,"sahut Dimas tersenyum tipis.
"Terimakasih!"ucap Ayana dengan senyuman lebar, lalu mengecup bibir Dimas sekilas.
Dimas sempat terkejut dengan aksi cepat Ayana itu, namun sesaat kemudian pria itu tersenyum lembut.
"Dia ini wanita yang begitu manis, imut dan menggemaskan. Tidak pernah mengeluh, dan semua permintaannya hanya sebuah permintaan sederhana. Dan hal itu sudah bisa membuat dia terlihat sangat bahagia. Apa karena itu aku mencintai dia?"gumam Dimas dalam hati.
__ADS_1
Sejak melakukan hubungan suami-istri tadi siang, Dimas merasa tidak terlalu canggung lagi pada Ayana. Ayana juga terlihat lebih ceria dari sebelumnya. Tidak ada lagi ekspresi sendu, apalagi sedih di wajah ibu hamil itu.
"Kenapa kamu mencintai aku?"tanya Dimas yang saat ini sudah berbaring bersama Ayana. Memeluk Ayana dari belakang sesuai dengan keinginan Ayana.
"Aku tidak tahu kenapa aku mencintai kakak. Tidak ada alasan yang membuat aku mencintai kakak. Tapi aku selalu merasa nyaman dan bahagia jika bersama kakak,"jawab Ayana jujur adanya, seraya memegang tangan Dimas yang memeluknya dari belakang.
"Eh, dia bergerak,"ucap Dimas terlihat excited saat merasakan pergerakan janin dalam kandungan Ayana,"Apa sakit?"tanya Dimas nampak khawatir.
"Enggak kok. Cuma sakit sedikit waktu dia menendang saja,"jawab Ayana tersenyum tipis. Padahal tadi siang Dimas sudah menanyakan hai itu. Tapi sekarang menanyakannya lagi saat merasakan pergerakan janin dalam kandungan Ayana.
Keduanya terus mengobrol hingga akhirnya mereka terlelap. Hari ini Ayana merasa sangat bahagia karena perubahan sikap Dimas padanya. Hingga ibu hamil itu terlelap dalam senyuman. Begitu pula Dimas yang terlihat lebih rileks dari sebelumnya.
...πππ...
...Cinta tak butuh alasan. Karena jika ada alasan untuk mencintai, maka akan ada alasan untuk berhenti mencintai....
...Cinta itu dirasakan dan perlu pembuktian, bukan cuma dipikirkan dan diucapkan....
...Cinta tidak memerlukan alasan ataupun imbalan, cinta hanya butuh balasan....
...πΈβ€οΈπΈ...
..."Nana 17 Oktober"...
.
To be continued
__ADS_1