
Dimas mengendarai motornya, membonceng Ayana yang memeluk pinggangnya dari belakang. Ayana tersenyum penuh kemenangan mengingat wajah suram Bening setelah melihat leher Dimas tadi. Ayana sangat kesal pada Bening yang selalu mencuri pandang pada Dimas.
Setelah beberapa menit menempuh perjalanan menembus kemacetan di jalan raya, akhirnya sepasang suami-isteri itu, pun sampai di rumah kontrakannya.
"Assalamu'alaikum. Abang, kami pulang,"ucap Ayana dengan suara cemprengnya, membuka pintu rumah kontrakan mereka.
"Wa'alaikumus salam,"sahut Toyib yang baru muncul di ruang tamu,"Akhirnya kalian pulang juga. Abang kesepian di rumah sendirian,"keluh Toyib.
"Issh.. Abang lebay. Abang sudah makan belum?"tanya Ayana.
"Belum, Ay. Abang malas keluar,"sahut Toyib yang memang belum sarapan, sedangkan waktu sudah menunjukkan pukul 8.30 menit.
"Sudah aku duga. Pasti Abang tidak makan dengan teratur. Pasti cuma makan mie instan saja. Ayo, makan dulu! Aku tadi pagi masak banyak. Sengaja mau bawa pulang buat Abang,"ujar Ayana seraya melangkah menuju ruang makan.
"Aihh.. terharu Abang. Kamu perhatian sekali sama Abang,"sahut Toyib yang memang merasa terharu dengan perhatian Ayana padanya. Gadis itu benar-benar menganggap dirinya sebagai kakaknya sendiri. Duda itu berjalan mengekor di belakang Ayana.
"Lebay,"sahut Dimas yang berjalan menuju lemari es, mengambil air mineral.
"Kenapa? Cemburu?"cibir Toyib, tapi Dimas tidak menanggapinya.
Toyib duduk di salah satu kursi meja makan. Ayana mengambilkan makanan untuk Toyib, sedangkan Dimas mengambil air mineral dari lemari es, kemudian duduk di sebelah Toyib.
"Yib, ada nggak, kontrakan di kampung ini yang lebih bagus dari yang kita tinggali ini?"tanya Dimas yang bermaksud mencari rumah kontrakan yang lebih bagus untuk mereka.
"Kenapa? Apa kalian akan pindah dari sini? Mencari rumah kontrakan baru dan meninggalkan aku? Apa kalian merasa tidak nyaman tinggal bersama aku?"tanya Toyib nampak was-was jika sepasang suami-isteri itu ingin berpisah kontrakan dengan dirinya. Jujur, Toyib sudah merasa nyaman tinggal bersama Dimas dan Ayana.
"Bukan, bukan seperti itu. Aku hanya ingin kita tinggal di rumah yang lebih bagus saja,"sahut Dimas menjelaskan maksudnya.
"Ohhh.. aku kira kalian tidak mau tinggal dengan aku lagi,"ucap Toyib lega, mulai memakan makanan yang di letakkan Ayana di depannya.
"Kira-kira ada tidak?"tanya Dimas yang pertanyaan nya belum dijawab oleh Toyib.
"Ada. Tapi, tahu sendiri, lah. Semakin bagus dan besar rumahnya, semakin mahal pula harga kontrakkan nya,"sahut Toyib sambil mengunyah makanannya.
"Jangan yang besar, bang! Capek bebersih nya,"sahut Ayana.
"Ada juga, kok, yang lebih bagus dari ini dan tidak terlalu besar. Cuma kamar dua. Enaknya lagi, kamar mandinya ada tiga. Di dapur ada satu, dan di kamar tidur masing-masing,"sahut Toyib sambil makan.
"Dari mana kamu tahu banyak soal kontrakkan?"tanya Dimas yang merasa Toyib tahu banyak.
"Aku dengar dari para ibu-ibu yang sedang mengobrol di warung, karena saat itu ada yang sedang mencari rumah kontrakan. Jadi, para ibu-ibu itu mengatakan dimana saja ada rumah kontrakan. Lagi pula, kontrakan kita ini juga mau habis, 'kan? Tinggal satu bulan lagi. Nggak nyampe malah. Mungkin tinggal tiga minggu lagi,"sahut Toyib sambil makan.
__ADS_1
"Iya. Karena itu pula aku ingin mencari yang lain. Di sini setiap tahun harganya selalu naik, tapi kalau ada kerusakan, kita sendiri yang di suruh benerin.Kamu mau berangkat kerja, nggak, hari ini?"tanya Dimas.
"Nggak. Aku kemarin pulang hampir malam. Aku masih capek. Memangnya kenapa? Mau nyari rumah kontrakan yang baru?"tanya Toyib.
"Hum,"sahut Dimas.
"Ya sudah, kita cari hari ini saja,"sahut Toyib.
"Kata kamu tadi capek,"sahut Dimas.
"Kalau cuma dekat-dekat sini, sih, nggak capek,"sahut Toyib.
"Ya sudah, sebentar lagi kita berangkat,"ujar Dimas.
"Aku boleh ikut, 'kan, kak?"tanya Ayana,"Aku nggak mau di tinggal sendiri di rumah,"ujar Ayana dengan wajah memelas.
"Tentu saja,"sahut Dimas dengan seulas senyum.
"Pengantin baru. Nempel terus kayak perangko,"sahut Toyib.
Akhirnya hari itu ketiga orang itu mencari rumah kontrakan yang lebih bagus dari yang mereka tinggali saat ini. Kebetulan mereka menemukan tempat yang cocok dengan mereka dan cocok pula dengan harga pertahunnya. Setelah dua hari, mereka akhirnya selesai mengepak semua barang-barang mereka. Mereka pun pun pindah ke kontrakan mereka yang baru.
"Hum. Ada buah mangga dan jambu yang boleh diambil juga,"ujar Dimas.
"Iya, kak. Mana jambu sama mangga nya pada berbuah lagi,"ujar Ayana nampak senang.
"Siang-siang begini, bikin rujak enak, tuh,"celetuk Toyib.
"Ya sudah, Abang sama kakak ambil buah mangga sama jambu sana! Biar aku bikin sambelnya,"ujar Ayana seraya menarik tangan kedua pria yang sedang duduk di sofa itu agar bangkit dari duduk mereka untuk mengambil jambu air dan mangga.
Akhirnya siang itu mereka membuat rujak bersama-sama dan memakannya sambil bersenda gurau.
"Ay, aku mau ke mini market. Kamu mau ikut, nggak?"tanya Dimas.
"Kakak mau beli apa?"tanya Ayana.
"Facial foam. Mau ikut?"tanya Dimas.
"Nggak. Tapi beliin aku es krim, ya, kak?"pinta Ayana.
"Oke,"sahut Dimas mencubit hidung Ayana gemas.
__ADS_1
"Yakin nggak mau ikut?"goda Toyib melihat Dimas yang mulai mengendarai motornya di pekarangan rumah.
"Nggak, ah. Capek, bang,"sahut Ayana yang memang merasa capek setelah pindah rumah.
"Perempuan di sekeliling rumah ini sudah pada curi pandang sama suami kamu, tuh, Ay,"ujar Toyib memang benar adanya.
"Punya suami ganteng itu memang bikin sport jantung, bang,"sahut Ayana menghela napas panjang.
"Hahaha..itu resikonya, Ay,"sahut Toyib.
"Abang tahu nggak? A..."
"Nggak,"potong Toyib cepat.
"Makanya dengerin dulu! Main potong aja,"tukas Ayana kesal.
"Iya..iya,"sahut Toyib yang malah tertawa.
"Aku pengen nulis kisah nyata terus aku kirim ke salah satu stasiun televisi. Judulnya 'Kakak Iparku Adalah Mantan Pacar Suamiku'',"ucap Ayana dengan wajah kesal jika mengingat soal Bening.
"Jangan bilang kakak ipar kamu adalah mantannya Dimas!"ujar Toyib seraya memicingkan sebelah matanya.
"Sayangnya, tidak. Tidak salah lagi maksudnya,"sahut Ayana dengan wajah lesu,"Aku jadi malas lagi untuk pulang ke rumah, bang. Padahal, Papa sudah jauh berubah. Papa selalu memarahi mama dan kak Nando jika mereka menghina kak Dimas. Tapi, sekarang malah nongol mantan kak Dimas. Mana kegatelan lagi, suka curi-curi pandang sama kak Dimas,"curhat Ayana.
"Yang namanya Bening itu, kan?"tanya Toyib memastikan.
"Iya, bang,"sahut Ayana.
"Apa kamu tahu, karier Dimas hancur karena perempuan itu?"tanya Toyib.
"Iya, bang. Kakak sudah menceritakan semuanya pada ku,"sahut Ayana.
"Syukurlah kalau kalian saling terbuka. Kalian harus saling terbuka, jujur dan percaya. Jangan biarkan orang ketiga masuk ke dalam rumah tangga kalian! Jangan berikan celah sekecil apapun! Bicarakan semua masalah baik-baik. Dari sikap dan caranya memperlakukan kamu, Abang sangat yakin jika Dimas sangat mencintai kamu, Ay. Jaga dan pupuk cinta kalian. Kalian sudah Abang anggap seperti saudara Abang sendiri. Abang ikut bahagia jika kalian bahagia,"ucap Toyib menepuk lembut kepala Ayana.
"Iya, bang. Ngomong-ngomong, kenapa Abang bisa menduda?"
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
__ADS_1