SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
31. Peduli Dan Perhatian


__ADS_3

"Sudah nih, acara cium-ciuman nya? Aku baru dapat beberapa jepretan, nih! Ada posisi yang lebih hot lagi nggak?"tanya Toyib tanpa dosa.


"Apaan, sih, kamu Yib? Bukannya nolongin kami, tapi malah memfoto kami,"gerutu Dimas,"Cepetan, hapus fotonya!"titah Dimas mencoba merebut handphone Toyib.


"Eiets.. nggak dapet, nggak dapet!"ledek Toyib yang berhasil menghindar saat handphone nya ingin di rebut oleh Dimas.


"Berikan handphone kamu!"titah Dimas yang masih ingin merebut handphone Toyib.


"Nggak mau!"sahut Toyib kemudian malah berlari menjauhi Dimas.


"Hapus nggak?!"ujar Dimas yang mengejar Toyib.


"Nggak mau!"teriak Toyib terus berlari menuju kamarnya.


"Brakk"


Toyib malah mengunci kamarnya dari dalam.


"Toyib! Cepat hapus fotonya!"titah Dimas seraya menggedor-gedor pintu kamar Toyib.


"Hapus sendiri di handphone kamu!"ucap Toyib dari dalam kamarnya kemudian tertawa setelah mengirimkan foto hasil jepretan nya tadi ke handphone Dimas, membuat Dimas mendengus kesal.


Merasa usahanya merebut handphone Toyib sia-sia, akhirnya Dimas kembali ke ruang makan dan melihat Ayana yang sedang mengepel lantai.


"Sudah sore. Mandilah! Bajumu basah. Biar aku saja yang mengepel lantainya,"ujar Dimas.


"Nggak apa-apa, kak. Biar aku saja,"sahut Ayana yang tidak tahu lagi bagaimana menggambarkan perasaannya saat ini. Karena insiden tadi, ada rasa malu, senang, deg-degan dan entah apalagi saat mengingat tanpa sengaja mereka terjatuh dan berciuman.


"Sudah, biar aku saja. Kamu mandi sana! Aku tidak mau kamu masuk angin karena baju kamu basah!"ucap Dimas merebut kain pel dari Ayana.


Akhirnya mau tidak mau Ayana pun masuk ke kamarnya untuk mengambil baju ganti kemudian mandi. Sedangkan Dimas sendiri merasa bingung dengan perasaannya sendiri. Kenapa jantungnya berdegup kencang setiap kali tanpa sengaja berciuman dengan Ayana?


"Aku tidak mencintainya, kan?"gumam Dimas lirih. Tidak yakin dengan perasaan nya sendiri.


Hari terus berganti, dan tidak terasa sebentar lagi Ayana akan masuk sekolah. Seperti biasanya, Ayana menyiapkan makanan untuk makan malam mereka bertiga. Semenjak ada Ayana di rumah itu, Dimas dan Toyib bisa makan dengan teratur. Tidak perlu memasak dulu atau harus membeli makanan dulu.


Toyib yang tidak bisa memasak pun sangat senang dengan kehadiran Ayana di rumah kontrakan mereka itu. Karena biasanya Toyib hanya akan makan mie instan jika malas membeli makanan. Karena Dimas hanya memasak di pagi hari untuk sarapan dan sore hari untuk makan malam. Itupun kalau tidak malas dan tidak capek. Karena itulah Toyib sangat senang ada Ayana di tengah-tengah mereka yang sudah mereka anggap sebagai adik mereka sendiri. Bahkan tidak jarang Toyib meminta Ayana memasak makanan yang diinginkannya.


"Ay, tiga hari lagi kamu masuk sekolah, kan?"tanya Dimas setelah mereka selesai makan malam.


"Iya, kak,"sahut Ayana seraya mengambil buah jeruk di atas meja.


"Lalu bagaimana pakaian dan buku-buku kamu?"tanya Dimas ikut mengambil buah jeruk, begitu pun dengan Toyib.

__ADS_1


"Rencananya besok pagi aku akan mengambil perlengkapan sekolah ku di rumah Pak Parman. Aku ingin menginap di sana semalam. Boleh, 'kan, kak?"tanya Ayana masih mengupas buah jeruknya.


"Tidak boleh! Siapa yang akan memasak dan beres-beres rumah jika kamu menginap di sana?"sahut Toyib cepat.


"Bang Toyib cuma makanan saja yang di pikirkan. Aku akan beres-beres rumah dan memasak sebelum aku pergi. Aku akan memasak agak banyak biar bisa sampai malem tetap ada lauk,"sahut Ayana.


"Nah, begitu baru benar. Tapi aku mau di masakin soto ayam, ya?"pinta Toyib antusias.


"Iya aku masakin. Kalau Abang beliin bumbu sotonya. Soalnya stok bumbu sotonya habis,"ujar Ayana.


"Ayamnya masih, nggak?"tanya Toyib,"Aku nggak mau kalau dimasakin soto tahu kayak kemaren,"ujar Toyib. Ya, dua hari yang lalu Dimas nggak sempat belanja. Dan karena bahan masakan tinggal tahu, akhirnya Ayana masak soto tahu.


"Alahh.. walaupun soto tahu tapi makannya tetep nambah, 'kan?"cibir Ayana.


"Ya, gimana. Orang lapar,"kilah Toyib.


"Alasan,"cibir Ayana lagi.


"Jadi masih nggak ayamnya?"tanya Toyib lagi.


"Ayamnya masih. Tenang saja, asal ada bumbu instan nya, bakal aku masakin soto ayam,"sahut Ayana kemudian memakan buah jeruknya.


Ya, jaman sekarang, jika tidak bisa meracik bumbu masakan, tinggal beli bumbu instan. Mudah, praktis dan tentunya.. lezaatt. Jadi tidak ada alasan tidak bisa memasak.


"Kamu tahunya cuma makan saja,"ujar Dimas geleng-geleng kepala.


"Tapi aku, 'kan ngasih uang buat belanja,"sahut Toyib bangga.


"Ngasih uang belanja 50 ribu aja bangga,"sahut Dimas kembali geleng-geleng kepala.


"Lima puluh ribu kalau buat beli makanan di warung, 'kan dapat tiga bungkus. Sama saja, 'kan kalau aku ngasih uang belanja 50 ribu,"sahut Toyib sambil mengunyah buah jeruknya.


"Iya, tapi kan nggak bisa nambah plus makan buah,"sahut Dimas.


"Iya, juga, ya!"sahut Toyib menyengir bodoh,"Ya sudah, mulai besok uang belanja dari aku 60 ribu, deh. Hitung-hitung aku suka nambah kalau masakannya enak,"ujar Toyib kembali memasukkan buah jeruk ke dalam mulutnya.


"Emang Abang ingat, kapan Abang makan tapi nggak, nambah?"cibir Ayana karena jarang sekali Toyib makan nggak nambah.


"Nggak tau. Lupa,"sahut Toyib kemudian tertawa. Membuat Dimas dan Ayana hanya bisa menghela napas.


"Jadi gimana, nih? Boleh nggak kalau besok aku menginap di rumah Pak Parman?"tanya Ayana lagi.


"Boleh,"sahut Dimas dan Toyib kompak.

__ADS_1


"Nah, gitu, dong!"seru Ayana.


"Besok berangkat bareng aku saja. Dan jangan lupa! Setiap keluar dari rumah ini kamu harus pakai jaket , topi dan masker. Aku juga akan membelikan seragam baru untuk kamu,"ujar Dimas terdengar posesif.


"Wihh.. Posesif banget kamu, Dim,"celetuk Toyib yang merasa Dimas agak berlebihan.


"Aku cuma tidak mau terjadi hal buruk pada Ayana. Kamu nggak lihat kalau Ayana ini cantik? Di luar sana banyak mata pria yang akan melihatnya. Tidak semua pria di luar sana pria baik. Jadi lebih baik berjaga-jaga. Apalagi sekarang Ayana adalah tanggung jawab kita berdua. Sedangkan kita juga harus bekerja berjualan keliling. Tidak bisa selalu menjaga Ayana,"jelas Dimas.


"Iya, kamu benar juga,"sahut Toyib setelah mendengar penjelasan Dimas.


"Aku akan menuruti kata kak Dimas,"sahut Ayana yang merasa tidak keberatan dengan pengaturan Dimas. Sebenarnya Ayana juga masih agak takut keluar rumah karena insiden waktu itu. Tapi tidak mungkin selamanya dirinya akan berdiam di dalam rumah bukan?


"Lalu naik apa Ayana ke sekolah?"tanya Toyib.


"Aku akan menyuruh Bu Nur buat antar jemput Ayana. Dia ngojek, 'kan?"tanya Dimas.


"Yang janda anak dua itu, ya? Yang suaminya meninggal gara-gara digebukin warga karena di sangka maling,"sahut Toyib.


"Iya. Sekalian membantu dia mendapatkan penghasilan tetap. Kasihan, anaknya ada dua. Satu SD dan satunya lagi SMP. Ibunya yang jualan gorengan keliling itu juga sudah tua,"sahut Dimas.


"Iya, aku setuju. Aku tidak percaya sama tukang ojek cowok,"sahut Toyib.


Tapi keduanya malah terkejut saat menyadari Ayana sedang menangis.


"Kenapa kamu menangis?"tanya Dimas dan Toyib bersamaan.


"Aku hanya terharu. Kalian sangat peduli dan perhatian padaku. Sedangkan keluarga ku sendiri tidak pernah peduli padaku,"sahut Ayana membuat Dimas memegang tangan kanan Ayana dan mengelus kepala Ayana. Sedangkan Toyib memegang tangan kiri Ayana sambil mengelus lengan kiri Ayana.


Ayana merasa sangat senang dan terharu mengetahui Dimas dan Toyib sangat perhatian pada dirinya. Memikirkan keselamatan dirinya hingga begitu detail. Sedangkan keluarga nya sendiri sama sekali tidak peduli dirinya pulang atau tidak. Dan tidak mengkhawatirkan dirinya sama sekali. Bahkan mempercayakan dirinya pada pria yang berniat buruk padanya. Tapi dua pria yang notabene adalah orang asing bagi Ayana malah sangat memperhatikan dan peduli pada dirinya. Mereka memperlakukan dirinya seperti keluarga sendiri. Sama seperti keluarga Pak Parman.


Kita harus percaya! Jika Tuhan menutup satu pintu, maka Tuhan akan membuka pintu yang lain. Walaupun keluarga Ayana tidak perduli dengan Ayana, tapi ada keluarga Pak Parman, Dimas dan Toyib yang peduli padanya.


...🌟"Kepedulian dan perhatian tidak kalah berharganya dari uang."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...


.


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2