
Diky keluar dari dalam kamarnya dan Toyib. Saat sudah tiba di ruangan tamu, Diky melihat Ayana yang duduk menempel pada Dimas dengan tangan kiri memeluk lengan Dimas dan tangan kanan yang sibuk menggulir layar handphonenya. Wanita muda itu menyandarkan kepalanya di bahu Dimas. Sedangkan Dimas sendiri juga nampak fokus dengan layar handphonenya.
"Ayo, kita berangkat!"ucap Diky membuat atensi sepasang suami-isteri itu beralih pada Diky.
"Sudah tidak sabar rupanya,"ucap Dimas tersenyum tipis.
"Eh, babang sudah pakai parfum belum? Atau jangan-jangan babang lupa membeli parfum yang aku bilang kemarin?"tanya Ayana seraya memicingkan sebelah matanya menatap Diky.
"Eh, iya. Babang jadi lupa. Ini semua gara-gara si Toyib,"ujar Diky langsung memutar tubuhnya hendak kembali ke kamarnya.
"Lah, kenapa jadi menyalahkan aku?"sahut Toyib yang baru saja masuk ke dalam ruangan tamu.
"Soalnya kamu terus-terusan meledak aku. Aku jadi lupa pakai parfum,"sahut Diky bergegas kembali ke kamarnya.
"Dasar! Orang kasmaran memang jadi sering lupa. Eh, malah menyalahkan orang lain,"ujar Toyib menghela napas panjang, kemudian duduk di salah satu sofa.
"Abang nggak mau kemana-mana?"tanya Ayana yang masih bergelayut di lengan suaminya.
"Enggak. Abang ada janji mabar sama teman-teman Abang. Sepuluh menit lagi Abang bakal online dan mulai mabar,"sahut Toyib setelah melirik jam yang menempel di dinding.
"Abang ini seperti ABG saja. Kerjanya main game online melulu,"celetuk Ayana.
"Abang kamu itu, masa kecilnya kurang bahagia, Ay! Jaman dia kecil dulu, 'kan, nggak ada yang namanya game online. Adanya cuma gimebot,"sahut Dimas kemudian terkekeh.
"Alahhh.. kayak situ nggak aja. Situ malah lebih tua dari aku,"cibir Toyib.
"Sudah. Ayo, berangkat,"ucap Diky yang sudah kembali ke ruangan tamu.
"Kamu pakai parfum apa, Dik?"tanya Toyib, karena mencium aroma parfum yang sebelumnya tidak pernah di ciumnya di rumah itu. Dan aroma itu baru ada saat Diky masuk ke dalam ruang tamu.
"Parfum aroma vanilla,"sahut Diky tersenyum lebar.
"Babang pakai seberapa banyak, sih? Sampai baunya kemana-mana,"tanya Ayana seraya menutup hidungnya.
"Jangan terlalu banyak juga makainya, Dik. Malah bikin eneg, tahu,"sahut Dimas yang juga merasa terganggu dengan aroma parfum yang di pakai Diky.
"Nggak tahu, ini anak. Kamu pakai parfumnya kamu semprot di baju dan di badan atau kamu guyur di badan, sih, Dik?"sahut Toyib yang juga merasa Diky memakai parfum terlalu banyak.
"Ganti baju sana, babang! Kebanyakan, tau, makainya!"timpal Ayana yang masih menutup hidungnya.
"Huff... iya.. iya.. aku ganti baju,"sahut Diky kembali lagi ke kamar.
Toyib, Dimas dan Ayana hanya bisa geleng-gelengkan kepala karena kelakuan Diky. Tak lama kemudian, Diky sudah kembali lagi dan sudah mengganti bajunya.
"Sudah!"ucap Diky.
"Sudah ganti baju aja baunya masih,"ujar Ayana menghela napas panjang.
__ADS_1
"Apa aku harus mandi lagi?"tanya Diky membuang napas kasar.
"Kelamaan! Sudah, ayo, berangkat,"ujar Dimas.
"Sudah lumayan, kok. Nggak terlalu bau seperti tadi"sahut Toyib.
Akhirnya Dimas, Ayana dan Diky pun pergi ke rumah Pak Parman untuk menjemput Wulan. Sepanjang perjalanan, Diky merasa sangat bahagia karena hari ini adalah hari pertamanya ngedate dengan Wulan. Beberapa menit kemudian, mereka sudah tiba di depan rumah Pak Parman.
"Eh, sudah pada datang. Ayo, masuk dulu!"ajak Bu Lastri ramah. Mempersilahkan Dimas, Ayana dan Diky masuk. Diky dan Dimas pun duduk di sofa ruang tamu.
"Wulan belum siap, Bu?"tanya Ayana.
"Kamu lihat aja di kamarnya, Ay!"sahut Bu Lastri.
"Iya, Bu,"sahut Ayana bergegas ke kamar Wulan.
"Ehh.. sudah datang. Kok, nggak di buatkan minuman, Bu?"tanya Pak Parman yang baru saja muncul.
"Nggak usah, Pak. Setelah Wulan siap, kami langsung berangkat,"sahut Diky.
"Anak perempuan kalau dandan memang suka lama,"celetuk Bu Lastri.
"Ibu, juga perempuan, loh!"sahut Pak Parman.
"Iya, makannya ibu tahu kalau anak perempuan itu dandan nya lama, Pak,"sahut Bu Lastri.
"Sudah siap belum?"tanya Ayana setelah membuka pintu kamar Wulan.
"Ay, gimana penampilan aku? Bagus nggak, kalau pakai baju ini?"tanya Wulan yang memakai celana jeans dan kemeja.
"Bagus, kok! Aku juga pakai sama kayak kamu. Tapi jangan lupa bawa jaket! Biar nggak kedinginan.Soalnya kita naik motor,"ujar Ayana yang juga memakai jaket.
"Hum,"sahut Wulan.
Tak lama kemudian, Wulan dan Ayana pun keluar dari kamar dan melihat Dimas, Diky, Pak Parman dan Bu Lastri sedang mengobrol.
"Nah, itu sudah siap,"ujar Bu Lastri yang melihat kedua putrinya sudah keluar.
"Kalau begitu, kami pamit, Bu, Pak!"ucap Dimas.
"Iya, hati-hati!"ucap Pak Parman dan Bu Lastri bersamaan.
Pak Parman dan Bu Lastri mengantar ke empat orang itu sampai di depan pintu rumah. Ayana melingkarkan tangannya di perut Dimas. Sedangkan Wulan meletakkan kedua tangannya di atas kedua pahanya.
Pak Parman dan Bu Lastri masuk ke dalam rumah setelah dua pasang pemuda itu jauh.
"Sekarang ibu tidak khawatir lagi, 'kan? Mereka pergi berenmpat. Tidak mungkin berbuat yang tidak-tidak,"ujar Pak Parman.
__ADS_1
"Ya, semoga saja, Pak,"sahut Bu Lastri menghela napas panjang.
Dimas dan diky melajukan motor mereka menuju bioskop. Sesekali Wulan memegang pundak Diky, saat Diky mengerem motornya agar dadanya tidak menempel di punggung Diky.
"Aihh.. gadis ini,"gumam Diky lirih, merasa gemas karena Wulan tidak mau berpegangan pada pinggangnya.
Diky meraih tangan kiri Wulan dan menariknya ke depan, melingkarkan tangan Wulan di perutnya. Memegang tangan Wulan agar tangan Wulan tetap melingkar di perutnya. Wajah Wulan pun memerah karena ulah Diky itu. Gadis itu menggigit bibir bawahnya menahan senyum. Tangan kanannya menyilang di punggung Diky agar dadanya tidak menempel di punggung Diky. Seandainya saja Diky melihat wajah Wulan saat ini, Diky pasti akan semakin merasa gemas. Sayangnya mereka saat ini sama-sama memakai helm dengan posisi berboncengan motor, dan dalam suasana gelap malam.
"Bang Diky memakai parfum aroma vanilla kesukaan ku,"gumam Wulan yang merasa senang menghirup aroma parfum dari tubuh Diky.
Setelah sampai di bioskop, mereka membeli cemilan untuk menemani mereka menonton. Mereka masuk di bioskop dan duduk berjajar. Ayana dan Wulan duduk diantara Dimas dan Diky.
"Aku ingin memanas manasi Diky,"gumam Dimas dalam hati tersenyum smirk.
Dimas sengaja merangkul pundak Ayana dan Ayana pun menyandarkan kepalanya di bahu Dimas. Menonton seraya memakan popcorn. Sesekali Ayana menyuapi Dimas.
"Enak sekali Dimas. Bisa pegang-pegang sesuka hati,"gumam Diky melirik Dimas dan Ayana yang terlihat mesra.
"Ayana sama kak Dimas mesra sekali,"gumam Wulan seraya melirik Ayana dan Dimas.
"Greb"
Wulan terhenyak saat tiba-tiba tangan kirinya di pegang Diky dan di bawa Diky di atas pahanya. Untuk sesaat Wulan dan Diky saling bertatapan. Diky tersenyum tipis menatap Wulan. Wulan tersenyum malu-malu dengan wajah memerah, kemudian menundukkan kepalanya.
"Aihh.. dia ini benar-benar membuat aku merasa gemas,"gumam Diky dalam hati saat melihat Wulan tersenyum malu-malu. Walaupun kondisi ruangan bioskop itu tidak terlalu terang, namun Diky bisa melihat Wulan yang tersenyum malu-malu.
"Aku ingin sekali mencium dia,"gumam Diky dengan tatapan mata mengarah pada pipi dan bibir Wulan yang berwarna pink.
...🌸❤️🌸...
Notebook :
Mungkin ada beberapa orang yang belum tahu.
•MABAR adalah kependekan dari 'Main Bareng'. Singkatan gaul ini biasa digunakan dalam dunia game, terutama Mobile Legend.
•Mabar merupakan sebuah kegiatan bermain game bersama-sama entah itu dengan teman atau dengan rekan bekerja.
•Gimbot.
Gamebot / gimbot adalah permainan genggam yang menggunakan batere dan populer pada tahun 80-90-an.
Game ini aslinya disebut BRICK GAME, sedangkan di Indonesia sendiri ini lebih akrab disebut GIMBOT atau simple aja sebut ini TETRIS.
.
__ADS_1
To be continued