
Dimas menghela napas berkali-kali. Pria itu belum juga bisa terlelap setelah hampir setengah jam mencoba untuk tidur. Tidak ada memori apapun di otaknya yang bisa diingatnya. Orang-orang yang mengaku sebagai orang tua, saudara, mertua, sahabat, bahkan istrinya, semuanya terasa seperti orang asing bagi Dimas. Dimas membalikkan tubuhnya hingga posisinya tidur terlentang.
Pria itu menoleh pada wanita yang tidur di sampingnya. Wanita hamil yang mengaku menjadi istrinya, yang selalu ada semenjak dirinya sadar. Melayani dirinya dengan sabar dan telaten dengan perut yang besar yang tentunya memperlambat dan mempersulit gerakannya.
Walaupun sudah banyak bukti yang menunjukkan bahwa wanita itu adalah istrinya. Tapi Dimas masih merasa asing dengan wanita ini. Dimas memejamkan matanya saat Ayana nampak bergerak.
Ayana turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi. Dimas menghela napas menatap wanita yang mengaku sebagai istrinya itu menghilang di balik pintu kamar mandi. Sesaat Dimas menatap ke arah tempat Ayana berbaring. Dimas memicingkan sebelah matanya melihat bantal Ayana yang terlihat basah.
"Kenapa bantalnya basah? Apa dia menangis?"gumam Dimas dalam hati.
Dimas turun dari ranjang dan beranjak keluar dari kamar itu karena merasa haus. Ayana yang keluar dari dalam kamar mandi hanya bisa menghela napas yang terasa sesak di dada melihat tempat tidur yang kosong dan tidak menemukan keberadaan Dimas di kamar itu. Namun entah mengapa Ayana enggan untuk mencari suaminya itu. Memilih kembali membaringkan tubuhnya di atas ranjang dengan posisi miring membelakangi tempat Dimas berbaring.
"Papa mencari mama. Ternyata mama di sini,"ujar Buston dari dalam ruangan makan yang menyatu dengan dapur.
"Mama haus, pa. Di dalam kamar kita air minumnya habis. Jadi, mama terpaksa ke dapur untuk mengambil air. Mama juga lupa meletakkan teko air minum di kamar Dimas dan Ayana. Kasihan jika Ayana harus pergi ke dapur saat merasa harus tengah malam. Tapi kalau ingin mengantarkan teko air minum sekarang, mama takut menganggu istirahat mereka,"sahut Liliana yang sudah selesai mengisi teko air untuk dibawanya ke dalam kamar.
"Iya, ma. Papa rasa Ayana akan enggan untuk meminta bantuan pada Dimas. Dimas masih terlihat canggung dan asing pada Ayana, dan pada kita semua,"sahut Buston yang akhirnya duduk di salah satu kursi meja makan.
Dimas yang hendak masuk ke dapur itu menghentikan langkahnya saat mendengar pembicaraan kedua orang yang mengaku sebagai orang tuanya itu.
"Iya, pa. Mama kasihan pada Ayana. Saat mengetahui dirinya mengandung, Dimas malah koma. Selama enam bulan dengan telaten merawat Dimas. Tapi, setelah Dimas sadar, Dimas malah tidak mengingatnya. Mama nggak bisa membayangkan bagaimana sedihnya hati mama, jika mama di posisi Ayana. Padahal, wanita hamil seperti Ayana itu sangat butuh perhatian dan kasih sayang dari suaminya,"sahut Liliana menghela napas panjang.
"Mau gimana lagi ma. Dimas kehilangan memorinya. Dan setelah sadar, melihat seorang wanita hamil besar mengaku sebagai istrinya. Pasti dia merasa terkejut,"sahut Buston.
"Tapi bagaimanapun, Ayana adalah istrinya, pa. Dimas harus belajar menerima Ayana. Karena Ayana memang istrinya dan bayi dalam kandungan Ayana adalah anaknya. Kasihan Ayana. Di saat mengandung, suaminya malah tidak memberikan kasih sayang dan perhatian padanya,"sahut Liliana menghela napas panjang. Membayangkan bagaimana perasaannya jika berada di posisi Ayana.
"Kita harus bersabar menunggu Dimas terbiasa dengan Ayana dan kita semua, ma,"sahut Buston.
"Ya sudah lah! Kita kembali ke kamar,"sahut Liliana.
Dimas segera bersembunyi saat mendengar sepasang suami-isteri itu hendak keluar dari dapur. Setelah Buston dan Liliana meninggalkan dapur, Dimas masuk ke dapur dan mencari teko untuk diisi air dan dibawanya ke kamarnya.
__ADS_1
"Apa aku menyakiti dia?"gumam Dimas dalam hati setelah mendengar percakapan kedua orang tuanya tadi.
Dimas kembali ke dalam kamarnya dan melihat Ayana sudah berbaring lagi di tempatnya. Dimas meletakkan teko yang dibawanya dan kembali membaringkan tubuhnya. Pria itu tak kunjung bisa memejamkan matanya hingga dini hari baru bisa terlelap.
Ayana bangun pagi, menatap suaminya yang masih terlelap. Tidak berani menyentuh apalagi mencium Dimas seperti biasanya. Ayana bergegas pergi ke dapur untuk memasak. Sudah lama Ayana tidak memasak. Kali ini Ayana akan memasak untuk suaminya setelah enam bulan tidak memasak karena tinggal di rumah sakit untuk menjaga Dimas.
Pukul tujuh pagi, semua orang sudah berada di ruang makan. Termasuk Delvin yang semenjak kejadian dirinya dipukuli Axell di rumah sakit kemarin tidak datang lagi ke rumah sakit. Ada rasa tidak senang dihatinya saat mengetahui kakak satu ayahnya ternyata bisa sadar dari komanya. Padahal Delvin berharap Dimas mati. Namun sekarang malah terlihat sehat, bahkan akan sarapan bersama dirinya di meja makan yang sama.
Buston duduk di kursi menghadap anak istri dan menantunya yang duduk di kanan dan kiri meja makan. Di sebelah kanan meja Liliana, Axell dan Delvin duduk berderet. Sedangkan di sebelah kiri meja, Dimas dan Ayana.
"Oh, iya, Dim, itu adik kamu Delvin. Sebelumnya Delvin juga sering mengunjungi kamu di rumah sakit. Tapi, akhir-akhir ini dia sibuk kuliah dan belajar bekerja di perusahaan kita. Karena itu dia tidak mengunjungi kamu di rumah sakit,"ujar Buston penuh senyuman.
Buston tidak tahu jika Liliana dan Axell melarang Delvin pergi ke rumah sakit sejak Liliana mengetahui jika Delvin menaruh hati pada Ayana.
Dimas menatap ke arah Delvin, tapi Delvin terlihat acuh.
"Jaga sikapmu! Sapa kak Dimas! ucap Axell pelan seraya menginjak kaki Delvin.
Dimas tidak menjawab, pria itu hanya tersenyum hangat pada Delvin. Walaupun Dimas merasa Delvin tidak menyukai dirinya.
"Oh, iya. Kata bibi, pagi ini kamu yang menyiapkan sarapan, ya, Ay?"tanya Liliana penuh senyuman.
"Iya, ma. Semenjak kakak masuk rumah sakit, aku tidak pernah memasak lagi. Semoga masakanku pagi ini rasanya tidak mengecewakan,"sahut Ayana.
"Seharusnya kamu tidak perlu menyiapkan sarapan seperti ini. Kamu tidak boleh kelelahan dan harus banyak istirahat,"ujar Liliana.
"Nggak apa-apa, ma. Aku dibantu bibi, jadi tidak terlalu capek,"sahut Ayana.
"Wahh.. papa jadi penasaran bagaimana rasanya. Sepertinya penampilan dan aromanya sangat menggugah selera. Ayo, kita sarapan!" Buston nampak antusias melihat hidangan yang tersaji di meja makan.
Tidak ada lagi obrolan setelah itu. Ayana mengambilkan makanan untuk Dimas seperti biasanya. Liliana, Buston dan Axell tersenyum tipis melihat Ayana melayani Dimas makan. Sedangkan Delvin nampak iri melihat Ayana yang begitu perhatian pada Dimas. Semua orang nampak menikmati sarapan pagi itu.
__ADS_1
Saat makan, Dimas tidak sengaja melihat Delvin mencuri pandang pada Ayana yang duduk di sampingnya dan di depan Axell. Entah mengapa Dimas merasa agak risih melihat Delvin yang mencuri-curi pandang pada Ayana.
Selesai sarapan, Dimas dan Ayana kembali ke kamar mereka.
"Kamu.. mau kemana?"tanya Dimas ragu saat melihat Ayana nampak bersiap-siap untuk pergi.
Ayana menoleh ke arah Dimas sebentar, kemudian mengambil sling bag nya,"Aku akan pergi ke rumah sakit. Hari ini jadwal aku memeriksakan kandungan ku,"sahut Ayana pelan.
Wajah Ayana terlihat sendu mengingat selama tujuh bulan ini selalu memeriksakan kandungannya tanpa ditemani suami seperti ibu hamil yang lain. Paling Ayana ditemani Hilda atau Liliana. Bahkan seringkali memeriksakan kandungannya sendirian.
"Aku pergi!"pamit Ayana kemudian meraih tangan Dimas dan mencium punggung tangan Dimas, lalu bergegas keluar dari kamar itu.
"Kenapa wajahnya terlihat sendu seperti itu?"gumam Dimas dalam hati.
Dimas keluar dari kamarnya dan tanpa sengaja melihat Delvin menatap Ayana yang berjalan keluar dari dalam rumah.
"Kenapa aku merasa Delvin menyukai Ayana,"gumam Dimas dalam hati melihat Delvin yang akhirnya juga berjalan keluar dari rumah.
Beberapa menit kemudian, Ayana sudah sampai di rumah sakit. Ayana duduk di kursi antrian di depan ruangan dokter kandungan tempatnya memeriksakan kandungannya secara rutin.
Ayana mengelus perutnya yang membesar dengan pelan. Menatap ibu-ibu hamil yang ada di tempat itu ditemani oleh suami mereka masing-masing. Sedangkan dirinya belum pernah sekalipun memeriksakan kandungannya di temani suaminya. Semua ibu hamil ditempat itu terlihat bahagia bersama suami mereka. Ayana hanya bisa tersenyum kecut melihat pemandangan di sekitarnya.
"Nyonya Ayana!"panggil perawat yang keluar dari ruangan dokter kandungan itu.
"Iya,"sahut Ayana.
"Aku temani,"ucap suara bariton seorang pria yang mengejutkan Ayana yang baru saja beranjak dari duduknya, hendak masuk ke ruangan pemeriksaan.
...🌸❤️🌸...
.
__ADS_1
To be continued