
"Kenapa? Mereka berhak tahu tentang keadaan mu. Mereka adalah keluarga kamu , 'kan? Biarkan mereka menjemput kamu. Atau kamu ingin di jemput oleh orang tua mu?"tanya Dimas lagi.
"Tidak!"
Mendengar Dimas menyebut soal orang tuanya, Ayana tertunduk mengepalkan kedua tangannya, tanpa disadari air matanya menetes, gadis itu menangis. Insiden semalam tidak akan terjadi jika mamanya tidak memaksanya pergi bersama Noval. Pemuda yang berniat melecehkan dirinya. Hingga terpaksa dirinya harus kabur dan sialnya malah bertemu tiga orang preman jalanan yang juga bermaksud sama seperti Noval.
"Hei! Aku hanya mau memberitahu keluarga mu saja. Kenapa kamu malah menangis seperti itu?"tanya Dimas berkali-kali menghela napas. Memang susah menghadapi gadis belia yang masih labil."Aku akan memberitahu Pak Parman kalau kamu ada di sini,"ujar Dimas beranjak dari duduknya.
"Jangan! Mereka bukan keluarga ku. Mereka hanya orang tua teman sekelas ku, Wulan. Aku hanya menumpang di rumah mereka,"ucap Ayana membuat Dimas terkejut.
Dimas tidak menyangka jika Ayana hanya teman sekelas Wulan. Karena Dimas merasa Ayana nampak dekat dengan Wulan dan juga kedua orang tua Wulan. Pria itu hampir tidak percaya saat mengetahui bahwa Ayana bukan siapa-siapa nya keluarga Pak Parman.
"Lalu, bagaimana dengan orang tua mu?"tanya Dimas menatap lekat wajah Ayana.
"Mereka tidak menyayangi aku. Tidak menginginkan aku. Mereka menganggapnya aku sebagai beban untuk mereka. Bahkan semalam.... Ayana menjeda kata-katanya dan memejamkan matanya,"Semalam mereka memaksa aku pergi dengan seorang pemuda yang berniat melecehkan aku. Aku berhasil kabur dari pemuda itu, tapi malah dikejar tiga orang pria yang berniat buruk pada ku,"ujar Ayana berulang kali menghapus air matanya. Dimas memberikan tisu pada Ayana dan gadis itu menghembuskan ingus nya berkali-kali hingga membuat Dimas merasa jijik.
Dimas menghela napas panjang menatap Ayana,"Lalu, kamu mau bagaimana? Mau ke mana?"tanya Dimas yang bingung harus bagaimana menghadapi gadis tengil itu.
"Aku tidak tahu. Aku tidak punya apa-apa dan tidak memiliki tempat tujuan,"ucap Ayana yang juga merasa bingung.
"Hais.. Kamu ini sungguh merepotkan! Aku selalu apes jika bertemu dengan mu,"gerutu Dimas..
"Aku akan pergi jika kamu merasa aku merepotkan kamu. Terimakasih karena sudah menolong aku,"ucap Ayana yang merasa kehadiran nya tidak diizinkan oleh Dimas. Ayana mulai beringsut dari tempatnya berbaring. Membuat Dimas kembali menghela napas. Sepertinya dirinya sudah salah bicara.
Namun gadis itu tiba-tiba berhenti dan menatap pakaian nya,"Ini.. ini bukan bajuku semalam. Si.. siapa yang mengganti bajuku?"tanya Ayana menatap gamang pada Dimas.
"Aku,"ucap Dimas santai tanpa rasa berdosa sedikit pun.
"Ka.. kamu? Dasar mesum! Berani... emp.."Dimas langsung membekap mulut Ayana. Dan Ayana pun meronta berusaha melepaskan diri.
__ADS_1
"Sudah ku bilang jangan berteriak! Orang-orang akan datang ke sini dan menggerebek kita jika mendengar kamu berteriak! Aku memang mengganti pakaian kamu. Tapi aku tidak melihat tubuh kamu. Aku menutup tubuh mu dengan selimut saat aku mengganti bajumu. Lagipula, jika aku tidak mengganti bajumu, kamu akan kedinginan dan tambah sakit. Sudah di tolong masih juga menyusahkan,"gerutu Dimas kemudian melepaskan bekapannya.
Ada rasa berterima kasih, malu, kesal dan juga rasa tidak percaya di hati Ayana pada Dimas. Entah benar atau tidak Dimas tidak melihat tubuhnya. Ayana tidak tahu. Tapi seorang pria dewasa mengganti pakaian gadis sepertinya, tidak yakin rasanya kalau Dimas tidak melihat tubuhnya. Bahkan sekarang Ayana ragu, apa benar dirinya masih suci?
"Ka.. kamu benar-benar tidak melihat tubuh ku, 'kan? Kamu tidak melakukan apapun pada ku, 'kan?"tanya Ayana ragu.
Dimas membuang napas kasar,"Aku tidak melihat tubuh mu. Aku juga tidak melakukan apapun padamu. Jika kamu tidak percaya, kamu bisa tes keperawanan. Itu juga kalau kamu masih perawan,"ujar Dimas menatap remeh pada Ayana.
"Kau! Jangan sembarangan! Aku perempuan baik-baik. Jika benar kamu tidak melakukan apapun padaku, aku pasti masih perawan,"ketus Ayana merasa kesal. Kata-kata Dimas seolah meragukan jika dirinya masih suci.
"Sudah aku bilang, pelan kan suaramu!"ujar Dimas penuh penekanan.
"Terimakasih atas semua kebaikanmu! Aku pergi!"pamit Ayana turun dari ranjang dan berdiri.
"Auwh!"pekik Ayana hampir saja jatuh jika Dimas tidak segera menangkap tubuh nya.
"Sudah ku bilang jangan berteriak!"geram Dimas seraya membantu Ayana duduk di tepi ranjang.
"Kakimu bengkak. Apa semalam kamu terkilir!?"ujar Dimas seraya mengangkat kaki Ayana di pangkuan nya.
"Dengan keadaan seperti ini kamu akan pergi? Kamu masih agak demam dan kakimu juga terkilir. Kamu mau pergi ke mana? Biar aku antar,"ujar Dimas menatap Ayana yang tertunduk.
"Aku tidak tahu,"ucap Ayana juga bingung harus kemana. Karena tidak punya uang, tidak punya tujuan dan juga tidak punya pekerjaan.
Dimas membuang napas kasar mengahadapi Ayana,"Baiklah, sementara ini, kamu tinggal di sini dulu. Sampai kamu memutuskan mau kemana. Kalau di tanya oleh warga sini, katakan jika kamu adalah adikku. Kalau kamu mengatakan kita hanya kenalan, kita akan digerebek warga dan di arak keliling kampung karena dianggap kumpul kebo. Kamu mengerti tidak?"tanya Dimas memperingati.
"Iya,"sahut Ayana tertunduk. Ayana memang tidak punya pilihan lain. Mau ke rumah Pak Parman tidak enak karena tidak memiliki uang. Mau pulang takut diumpankan pada pria yang belum tentu baik. Seperti Noval yang berniat buruk pada dirinya. Hanya di sini, bersama Dimas lah pilihan Ayana satu satunya saat ini.
"Aku akan melapor ke RT kalau kamu adik ku. Dan memanggil tukang urut untuk mengurut kakimu yang terkilir. Dan ingat! Mulai sekarang kamu harus memanggil aku kakak! Jika tidak, orang-orang akan curiga dengan hubungan kita,"ujar Dimas kembali memperingati.
__ADS_1
"Iya,"sahut Ayana hanya bisa pasrah dan menurut pada Dimas.
Dimas keluar dari rumah kontrakan nya, pergi ke rumah Pak RT untuk melaporkan bahwa ada adiknya yang akan tinggal bersama nya. Kemudian pergi ke tukang urut.
"Aduh.. aduh.. sakit Mak!"teriak Ayana yang kakinya sedang diurut. Menahan sakit yang tidak terkira.
"Sabar, neng! Ini karena sudah bengkak mangkanya sakit. Uratnya geser ini,"ujar Mak Er si tukang urut yang usianya sudah enam puluh tahun itu.
"Sudah Mak! Sakit Mak!"pekik Ayana kesakitan. Bahkan gadis itu saat ini sudah menangis karena menahan sakit.
"Gaya aja sok berani! Cuma diurut doang sudah nangis,"ledek Dimas yang malah menertawakan Ayana.
"Dasar SPd, sales penjual daster! Kamu menertawakan aku? Kamu tidak tahu bagaimana sakitnya! Dasar tidak berperasaan!"teriak Ayana melempar Dimas dengan bantal. Dimas malah tertawa sambil menangkap bantal yang dilempar Aryana,"Auwh! Sakit, Mak!"pekik Ayana.
"Ngomong -ngomong, sejak kapan adik nak Dimas ini kesini?"tanya Mak Er si tukang urut.
"Kemarin malam, Mak. Dia kehujanan dan kakinya masuk lobang. Jadinya keseleo, deh!"jelas Dimas.
"Adiknya cantik banget,"puji Mak Er,"Mau, ya, Emak jadikan cucu mantu?"tanya Mak Er blak-blakan,"Cucu emak sudah jadi pegawai tetap di kantor kecamatan,"ujar Mak Er mempromosikan cucunya pada Ayana.
"Adik saya masih kecil, Mak. Masih sekolah. Masih pengen kuliah. Iya, 'kan, Ay?"tanya Dimas. Entah mengapa dirinya berkata seperti itu.
"Iya, Mak. Aku masih sekolah, pengen kuliah. Belum ingin menjalin hubungan dengan siapapun,"sahut Ayana yang memang belum pernah pacaran. Bukan tidak laku. Ayana sangat cantik dan banyak yang naksir. Tapi entah kenapa belum ada pemuda yang nyangkut di hatinya.
...🌸❤️🌸...
.
.
__ADS_1
To be continued