
โค๏ธArea lumayan ๐๐๐. Yang belum cukup umur dan belum punya pasangan halal, harap menepi! Yang tidak suka boleh di skip.โค๏ธ
Dimas menurunkan Ayana di atas ranjang. Saat Ayana ingin kembali turun dari ranjang, Dimas langsung mengungkung tubuh Ayana dan memegang kedua tangan Ayana.
"Masih ingin turun?"tanya Dimas dengan suara berat menatap Ayana dengan wajah yang begitu dekat dengan wajah Ayana.
Ayana menggigit bibir bawahnya, memalingkan wajahnya. Jarak yang begitu dekat dengan Dimas dan posisi dirinya yang berada di bawah kungkungan Dimas membuat Ayana merasa gugup. Jantung Ayana berdetak kencang tidak beraturan.
Dimas bertambah gemas melihat Ayana yang menggigit bibirnya sendiri itu.
"Cup"
Tiba-tiba Dimas mencium bibir Ayana, membuat Ayana terkejut dan tanpa sadar melepaskan gigitan di bibirnya sendiri dan membuka bibirnya. Dimas sudah tidak tahan lagi melihat bibir Ayana, apalagi saat melihat gadis itu menggigit sebelah bibirnya sendiri. Dimas mengecup, mengulum dan menyesap bibir Ayana. Berusaha mengendalikan diri agar tidak berbuat kasar pada Ayana. Dimas menjeda ciumannya saat Ayana mulai kesulitan bernapas.
Tak lama kemudian, Dimas kembali mencium Ayana. Walaupun sudah berusaha mengontrol diri, tapi keinginan dari dalam tubuhnya yang sudah lama di tahan begitu sulit untuk dikontrol. Ciuman Dimas kali ini agak agresif. Merasakan ciuman Dimas yang agak agresif, Ayana pun terpancing untuk membalasnya. Sepasang suami-isteri itu saling mengecup, *******, mengulum dan saling membelit lidah pasangannya.Bertukar saliva hingga terdengar suara decapan-decapan di dalam kamar yang tidak terlalu besar itu.
Saat Ayana mulai kewalahan dengan ciuman nya, Dimas mengalihkan bibirnya ke leher Ayana, membuat gadis itu melenguh dan menggeliat gelisah dalam kungkungan Dimas. Rasa geli dan nikmat bercampur menjadi satu. Membuat aliran darahnya seolah mengalir dengan deras.
"Ughh.. Kak!"lenguh Ayana.
Di kamar sebelah.
"Apa malam ini mereka akan main kuda-kudaan?"gumam Toyib yang terusik dengan suara-suara dari kamar sebelah yang membuat tubuhnya meremang.
Tangan Dimas bergerak membuka satu persatu kancing piyama yang dipakai Ayana, hingga dua gundukan yang masih tertutup kain itu terlihat. Kain penutup dada berwarna hitam yang sangat kontras dengan kulit Ayana yang putih mulus. Dimas menelan salivanya susah payah menatap pemandangan di depan matanya itu.
Sedangkan wajah Ayana nampak memerah saat Dimas menatap tubuhnya dengan mata yang berkabut hassrat. Dimas melepaskan kaos oblong yang dipakainya hingga Ayana bisa melihat otot-otot dada dan perut Dimas yang kotak-kotak seperti roti sobek. Gadis itu menelan salivanya kasar melihat bentuk tubuh pria yang sudah hampir dua minggu tidur di sampingnya itu.
Setiap hari, Dimas menyempatkan diri untuk push up, pull up, squat dan beberapa macam olahraga lainya di belakang rumah kontrakannya. Jadi, wajar saja jika Dimas bisa memiliki tubuh atletis seperti itu. Berbeda dengan Toyib yang lebih suka makan cemilan dan main game online jika ada waktu senggang.
__ADS_1
Dimas kembali mencium bibir Ayana, sedangkan tangannya bergerak melucuti pakaian yang dikenakan oleh Ayana. Tanpa disadari Ayana, tubuh bagian atasnya sudah polos. Dimas menyusuri leher Ayana dengan bibirnya. Sedangkan tangannya mulai memainkan benda kenyal milik Ayana. Ayana melenguh dan bergerak gelisah dalam kungkungan Dimas. Menjambak rambut Dimas saat bibir dan lidah pria itu bermain di dadanya.
"Ughh..kak..."
Lenguh Ayana merasakan sensasi geli dan nikmat yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Hingga Ayana tidak menyadari jika saat ini tubuhnya telah polos tanpa sehelai benang pun yang melekat di tubuhnya. Demikian pula dengan Dimas.
"Aihh... mereka membuat aku tidak bisa tidur. Bubar barisan sudah rasa kantukku,"gerutu Toyib yang dari tadi mendengar suara berisik dari kamar yang ada di sebelah kamarnya. Berbaring tengkurap, Toyib menutup kepalanya dengan bantal agar suara tetangga kamarnya tidak terdengar. Namun malah membuatnya kesulitan bernapas. Mau menutup telinganya dengan earphone pun tidak bisa. Karena Toyib memang tidak suka memakai earphone. Jadi Toyib tidak memiliki earphone.
"Sepertinya besok aku harus membeli earphone,"gumam Toyib membuka bantal yang menutupi kepalanya, membuang napas kasar.
Dimas terus menelusuri tubuh Ayana dengan bibir, lidah dan kedua tangannya. Ayana semakin gelisah saat Dimas membenamkan wajahnya di antara kedua pahanya, membuat Ayana meracau tidak jelas. Ada rasa nikmat yang tidak dapat di jelaskan saat Dimas memainkan bibir, lidah dan jemari tangannya di inti tubuhnya. Gadis itu pun semakin meracau, membenamkan kepala Dimas di antara kedua pahanya.
"Kak.. akhhh.."
Lenguh Ayana meremas rambut Dimas, saat merasakan ada yang hendak keluar dari inti tubuhnya. Tubuh Ayana menegang hingga cairan hangat keluar dari tubuhnya. Terasa sangat nikmat. Napas gadis itu nampak terengah-engah. Dimas kembali mencium bibir Ayana dengan tangan yang merayap ke mana-mana.
Toyib beranjak dari tempatnya berbaring, duduk di atas ranjang seraya mengacak-acak rambutnya sendiri frustasi.
Sedangkan di kamar sebelah, Dimas terus membuat Ayana melenguh. Pria itu nampak begitu betah memainkan dua benda kenyal milik Ayana yang tergolong besar itu. Hingga akhirnya pria itu memposisikan tubuhnya di atas tubuh Ayana.
"Akkhh! Sakit, kak!"pekik Ayana saat Dimas mencoba menyatukan tubuh mereka. Mencengkram lengan Dimas hingga kuku-kukunya menusuk kulit Dimas.
"Tahan sebentar lagi, Ay!"ucap Dimas terus bergerak di atas tubuh Ayana. Mencoba menyatukan tubuh mereka.
"Ughhh..hahh..hahh..lega rasanya,"gumam Toyib di dalam kamar mandi. Akhirnya solo karirnya sukses juga ditemani Tante Lux dan suara erotis dari dalam kamar pengantin baru. Duda beranak satu itu akhirnya keluar juga dan kamar mandi.
"Sudah, kak! Sakit, kak!"pinta Ayana yang nampak benar-benar merasa kesakitan. Pipi gadis itu sudah basah oleh air mata.
"Wah, kayaknya gak bisa bobol gawang nih, si Dimas,"gumam Toyib saat melewati kamar Dimas, tertawa tanpa suara seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
Tidak tega melihat Ayana menangis karena menahan sakit, akhirnya Dimas pun tidak tega dan memilih untuk tidak melanjutkan penyatuan mereka.
"Maaf!"ucap Dimas menghapus air mata Ayana dan merapikan rambut Ayana yang berantakan. Dimas menciumi seluruh wajah Ayana, mengecup bibir Ayana berkali-kali, hingga akhirnya mengecup kening Ayana.
"Tidurlah!"ucap Dimas menutup tubuh Ayana yang polos dengan selimut. Pria itu memungut celana pendeknya, kemudian memakainya.
"Kakak mau kemana?"tanya Ayana saat melihat Dimas berjalan menuju pintu dengan bertelanjang dada.
"Kamar mandi,"sahut Dimas berhenti sebentar menoleh ke arah Ayana, kemudian kembali melanjutkan langkahnya.
Sesampainya di dalam kamar mandi, Dimas menatap masam keris pusaka nya yang masih berdiri tegak. Pria itu kemudian menatap ke arah sabun mandi seraya membuang napas kasar.
Ayana masih diam dengan tubuh yang hanya tertutup selembar selimut. Menatap ke arah pintu, menunggu Dimas yang tidak kunjung kembali ke dalam kamar.
"Sedang apa kak Dimas di dalam kamar mandi? Kenapa sudah lama tapi belum kembali juga?"gumam Ayana.
"Ceklek"
Pintu kamar itu terbuka juga, menampilkan Dimas yang bertelanjang dada. Ayana menggigit bibirnya sendiri saat melihat dada dan perut Dimas yang begitu memanjakan mata.
"Tak"
Dimas mematikan lampu utama, kemudian menyalakan lampu tidur. Pria itu pun naik ke atas ranjang.
"Kenapa melihat aku seperti itu? Apa ingin mencoba lagi?"
...๐ธโค๏ธ๐ธ...
.
__ADS_1
.
To be continued