SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
17. Di Kejar


__ADS_3

Acara pertunangan Nando dan Bening pun dimulai. Keduanya saling memasangkan cincin. Setelah acara memasangkan cincin selesai, para tamu undangan pun menikmati pesta pertunangan itu. Ada yang berdansa, mengobrol, dan ada pula yang menikmati makanan yang dihidangkan. Sedangkan Nando dan Bening nampak sedang berdansa dengan beberapa pasangan lain yang ikut berdansa.


"Ma, ada beberapa pebisnis muda yang hadir di sini. Ajaklah Ayana menghampiri mereka dan kenalkan pada mereka,"ujar Geno, papa Ayana.


"Memangnya papa mau kemana?"tanya Hilda.


"Papa akan ke ruang kerja papa dulu sebentar. Sekretaris papa bilang ada beberapa berkas yang harus segera papa periksa. Karena papa besok akan pergi keluar kota,"jelas Geno.


"Baiklah. Papa tenang saja, mama akan memperkenalkan Ayana pada para pebisnis muda itu,"sahut Hilda antusias.


"Ya sudah. Mama urus saja. Mama tahu, 'kan, mana saja yang masih singel?"tanya Geno.


"Tentu saja,"sahut Hilda. Sebelumnya, Hilda sudah mencari informasi. Siapa saja pebisnis muda yang kaya dan masih singel yang akan mereka undang dalam pesta ini. Jadi Hilda sudah tahu yang mana saja orang yang harus diperkenalkan pada Ayana.


"Mama dan papa memperlakukan aku seperti barang dagangan,"celetuk Ayana yang merasa sedang dijajakan seperti barang dagangan. Tidak ada kebahagiaan di wajah gadis belia itu.


"Diam kamu! Tidak usah protes! Jika kamu ingin bahagia dan tidak hidup kesusahan, turuti apa kata kami!"ucap Geno pelan, tapi penuh penekanan. Mengingat saat ini banyak orang di sekeliling mereka.


"Papa lakukan saja pekerjaan papa. Biar aku yang mengurus anak ini,"ujar Hilda yang juga merasa geram pada Ayana.


"Mama urus anak badung ini baik-baik! Jangan sampai mempermalukan kita!"ujar Geno memperingati, kemudian pria itu berlalu meninggalkan anak dan istrinya itu.


"Ayo ikut mama! Ingat apa yang akan mama lakukan jika kamu tidak menurut sama mama! Buang wajah masam kamu itu! Dan senyum lah yang manis!"titah Hilda.


Ayana memasang senyum palsu di wajahnya. Senyum yang dipaksakan saat mamanya mengenalkan dirinya pada beberapa pebisnis muda yang berusia sekitar 25 - 30 tahun. Yang menurut Ayana lebih cocok menjadi Om nya dari pada menjadi suaminya. Mengingat usianya yang baru menginjak delapan belas tahun.


Ada beberapa orang pebisnis muda yang nampak tertarik pada Ayana karena wajah Ayana yang cantik. Namun karena usia Ayana yang masih muda, mereka nampak enggan untuk berhubungan dengan Ayana. Bagi para pria berkarir, terlalu ribet pacaran sama gadis yang masih sekolah. Karena biasanya gadis yang masih sekolah itu alay, labil, manja, dan emosian. Gadis seperti itu akan menyita banyak waktu mereka. Sedangkan mereka para pria berkarir tidak punya banyak waktu untuk meladeni sikap yang seperti itu. Mereka akan memilih wanita yang sudah dewasa sehingga bisa memahami dan mengerti kesibukan mereka.


Setelah memperkenalkan Ayana pada beberapa pebisnis muda akhirnya ada seorang pemuda yang nampak tertarik untuk mengobrol dengan Ayana. Pemuda itu nampak berusaha mengajak Ayana mengobrol, tapi Ayana hanya menanggapi seadanya saja.


Hilda merasa tidak mengenal pemuda itu. Tapi dari setelan jas, sepatu dan arloji yang dipakai nya, Hilda dapat memastikan jika pemuda itu adalah orang kaya.


"Tan, boleh nggak, kalau aku ajak Ayana jalan-jalan. Sebelum pukul sepuluh malam, aku akan membawanya kembali ke sini,"pinta pemuda itu pada Hilda sopan.

__ADS_1


"Ma!"ucap Ayana seraya menarik gaun mamanya sambil menggelengkan kepalanya. Memberi isyarat jika dirinya tidak mau pergi dengan pemuda itu.


"Oh, boleh. Tentu saja boleh,"ujar Hilda mengijinkan, tanpa menghiraukan Ayana yang nampak tidak suka.


"Terimakasih, Tan,"ucap pemuda yang bernama Noval itu.


"Pergilah dengan nya! Sepertinya dia orang kaya. Jangan buang kesempatan bagus ini!"bisik Hilda penuh penekanan.


Mau tak mau, akhirnya Ayana pergi bersama Noval.Noval sangat senang saat Hilda mengijinkan dirinya membawa Ayana jalan-jalan.


'"Kamu pengen jalan-jalan kemana?"tanya Noval pada Ayana saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Kalau aku, sih, sebenarnya nggak mau kemana-mana,"sahut Ayana jujur dan terlihat malas.


"Ya sudah, kita pergi ke suatu tempat yang bakal buat kamu senang. Aku tahu, tempat kesukaan gadis seusia kamu,"ucap Noval nampak percaya diri.


Ayana tidak menanggapi perkataan Noval dan memilih diam. Hingga beberapa menit kemudian Noval menepikan mobilnya.


"Kenapa berhenti di sini?"tanya Ayana saat Noval berhenti di depan sebuah apotek.


"Iya,"sahut Ayana singkat.


Noval pun keluar dari dalam mobil dan berlari kecil ke apotik. Tidak lama kemudian, pemuda itu sudah kembali dengan membawa kantong plastik. Namun Ayana tidak bisa melihat obat apa yang dibeli oleh Noval. Ayana juga nampak enggan untuk bertanya tentang obat apa yang dibeli Noval.


"Kita mau kemana?"tanya Ayana.


"Bersenang-senang,"jawab Noval seraya mengedipkan sebelah matanya dengan genit. Noval nampak tersenyum-senyum sendiri. Sesekali melirik Ayana dengan senyuman smirk.


"Kenapa kamu ngebut?"tanya Ayana karena Noval melajukan mobilnya semakin cepat.


"Biar kita cepat sampai,"sahut Noval dengan senyum penuh arti.


Tiba-tiba Ayana merasa tidak nyaman berada satu mobil dengan Noval. Ayana melihat gelagat yang tidak baik dari pemuda yang ada di sampingnya itu.

__ADS_1


"Em.. Aku pengen ke kamar mandi. Bisa berhenti di SPBU terdekat nggak?"pinta Ayana yang entah mengapa sekarang merasa takut jika Nova akan melakukan hal yang tidak diinginkan nya.


"Tahan sebentar, ya, sayang! Sebentar lagi kita sampai,"ucap Noval yang berubah menjadi genit, semakin membuat Ayana ketakutan.


"𝙆𝙚𝙢𝙖𝙣𝙖 𝙙𝙞𝙖 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙖𝙬𝙖 𝙖𝙠𝙪? 𝘼𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙧𝙖𝙨𝙖 𝙙𝙞𝙖 𝙥𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙣𝙞𝙖𝙩 𝙟𝙖𝙝𝙖𝙩 𝙥𝙖𝙙𝙖𝙠𝙪. 𝙅𝙞𝙠𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙢𝙖𝙠𝙨𝙖 𝙙𝙞𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙪𝙧𝙪𝙣𝙠𝙖𝙣 𝙖𝙠𝙪, 𝙙𝙞𝙖 𝙥𝙖𝙨𝙩𝙞 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙪𝙧𝙪𝙣𝙠𝙖𝙣 𝙖𝙠𝙪. 𝘽𝙖𝙜𝙖𝙞𝙢𝙖𝙣𝙖 𝙞𝙣𝙞?"gumam Ayana dalam hati. Mencoba mencari cara agar Noval mau menurunkan dirinya.


"Aku sudah nggak tahan. Tolong berhenti sebentar. Kalau tidak, aku bakal ngompol di mobil, nih!"ucap Ayana sambil memegang perut bagian bawah nya. Wajah Ayana terlihat gelisah seperti menahan sesuatu. Tapi bukan gelisah karena kebelet. Ayana gelisah karena firasat nya mengatakan jika pemuda di samping nya itu akan berbuat yang tidak baik padanya.


"Hais, merepotkan sekali! Sebentar, aku carikan tempat dulu,"dengus Noval yang kemudian memperlambat laju mobilnya dan berniat menepikan mobilnya di tepi jalan yang terdapat sebuah pohon besar, tidak terlalu jauh dari pertokoan yang baru saja mereka lewati.


Ayana memperhatikan sekeliling tempat itu. Tangan nya bergerak melepaskan sabuk pengaman. Setelah Noval menghentikan mobilnya dan membuka kunci pintu mobil, Ayana pun bergegas keluar dari mobil dan menutup kembali pintu mobil itu. Dengan cepat Ayana melepaskan sepatu high heels yang dipakai nya dan langsung berlari sekencang-kencangnya ke arah pertokoan yang baru saja mereka lewati.


Noval yang sedari tadi mengamati Ayana pun terkejut melihat gadis itu berlari berlawanan arah dengan mobilnya. Merasa terlalu lama jika harus memutar balik mobilnya untuk mengejar Ayana, pemuda itu pun memilih keluar dari mobilnya dan berlari mengejar Ayana.


"Hei, berhenti! Kamu mau kemana?"teriak Noval sambil mengejar Ayana.


"Berhenti!"teriak Noval.


Ayana terus berlari tanpa memperdulikan teriakan Noval yang juga terus mengejarnya. Gadis itu berlari memasuki gang di pertokoan itu.


"Dia terus mengejar aku. Bagaimana ini? Aku sudah tidak kuat lagi berlari,"gumam Ayana yang sudah semakin kelelahan karena terus berlari. Sedangkan Noval masih terus mengejarnya.


Ayana berlari tak tentu arah dengan bertelanjang kaki. Tidak perduli dengan apa yang terinjak oleh kakinya. Saat ini Ayana hanya ingin kabur sejauh-jauhnya dari Noval.


Karena sudah sangat lelah berlari, Ayana akhirnya bersembunyi di balik tumpukan kardus yang berantakan.


"Sial! Kemana gadis itu? Aku sudah terlanjur membeli obat kuat, dia malah kabur. Padahal aku tadi sudah sangat bersemangat. Aku belum pernah mencicipi gadis muda dan cantik seperti dia,"gerutu Noval seraya membungkuk mengatur napasnya.


...🌸❤️🌸...


.


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2