SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
198. Sengaja


__ADS_3

Diky keluar dari kantornya. Bermaksud pulang ke kontrakan Dimas. Tempat dirinya tinggal, makan dan tidur beberapa bulan ini.


"Dik!"panggil seorang gadis menghampiri Diky.


"Eh, kamu, Ris. Ada apa?"tanya Diky menatap teman lamanya itu.


"Motor aku mogok. Tuh, di depan,"ucap gadis itu menunjuk ke arah sebuah motor matic.


"Sudah telpon bengkel belum?"


"Belum. Handphone aku lowbat,"


"Ya sudah. Biar di urus sama orang-orang ku. Mau pulang?"


"Hum. Tapi, dompet aku ketinggalan,"ucap gadis itu menyengir bodoh.


"Dasar! Ya sudah, ayo aku antar pulang,"ujar Diky menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Terimakasih!"sahut Risna lalu berjalan mengikuti Diky ke parkiran.


Diky meminta anak buahnya untuk mengurus motor temannya itu. Lalu melajukan motornya untuk mengantarkan gadis itu pulang. Namun dalam perjalanan, Diky melihat Wulan yang sedang mengendarai motor bututnya.


"Wulan? Gadis ini! Sudah aku berikan motor baru, tapi masih saja pakai motor butut itu. Sengaja aku blokir nomor teleponnya dan nomor telepon kedua orang tuanya. Tapi tidak ada inisiatif sama sekali untuk bertanya pada Ayana kenapa nomor aku nggak aktif. Boro-boro mau mendatangi rumah kontrakanku untuk menemui aku, bertanya tentang aku pada Ayana aja enggak. Apakah dia memang tidak mencintai aku sama sekali?"gumam Diky dalam hati.


Diky melajukan motornya mengikutinya Wulan. Risna mengernyitkan keningnya saat melihat jalan yang dilalui Diky bukan jalan menuju rumahnya.


"Dik! Kamu salah jalan. Seharusnya tadi kita belok ke kiri. Kenapa kita malah lurus?"tanya Risna.


"Aku melihat tunangan aku. Kita ikuti dia dulu. Entar aku antar kamu pulang,"sahut Diky dengan mata yang fokus pada Wulan.


"Tunangan kamu? Sejak kapan kamu punya tunangan?"tanya Risna mengernyitkan keningnya.


"Sudah! Diam dulu!"pinta Diky yang tidak ingin konsentrasinya terpecah karena harus meladeni Risna bicara. Akhirnya Risna pun diam.


Diky mengikuti Wulan agak jauh. Hingga akhirnya gadis itu berhenti di toko alat tulis. Diky pun berhenti tidak jauh dari tempat itu. Diky melihat Wulan masuk ke dalam toko alat tulis yang lumayan besar itu.


"Aku minta tolong sama kamu boleh, nggak?"tanya Diky pada Risna.


"Tolongin apaan?"tanya Risna mengernyitkan keningnya. Masih belum turun dari boncengan motor Diky.


"Bantu aku buat tunangan aku cemburu,"


"Hah?! Nggak salah, nih?"tanya Risna nampak terkejut.


"Aku serius. Dulu kamu waktu SMU ikut ekskul teater, 'kan? Aku pengen tahu, dia bakal cemburu apa enggak jika aku jalan sama cewek lain,"

__ADS_1


"Songong Lo, Dik! Mana ada cewek yang nggak cemburu lihat tunangannya jalan sama cewek lain?"


"Mau bantu nggak?"


"Aku nggak mau jadi orang ke tiga. Pacar ku juga nggak kalah ganteng dari kamu,"sahut Risna seraya memalingkan wajahnya.


"Ini cuma pura-pura, doang. Aku juga nggak hobi jadi pebinor. Please! Mau, ya!"pinta Diky memelas.


"Huff.. okey.. okey.. Aku harus bagaimana?"tanya Risna yang akhirnya menyetujui permintaan Diky.


Diky menjelaskan apa yang harus di lakukan Risna dan Risna pun langsung mengerti. Mereka lalu menyusul Wulan ke toko alat tulis. Diky menunggu di parkiran, sedangkan Risna masuk ke toko peralatan tulis. Diky sengaja memarkirkan motornya di depan Wulan memarkirkan motornya.


Lima belas menit kemudian, Diky melihat Wulan keluar dari toko alat tulis itu. Diky pura-pura tidak melihat Wulan, lalu Diky pura-pura menghubungi seseorang.


"Halo! Kamu dimana?"tanya Diky seraya melirik kaca spion motornya. Melihat Wulan yang ada di belakangnya.


"Bang Diky?"gumam Wulan menatap punggung Diky yang sedang menelpon itu.


"Iya, cepetan ke sini! Aku sudah nungguin kamu dari tadi,"ucap Diky kemudian pura-pura menutup teleponnya.


Diky melihat Wulan berjalan pelan mendekati dirinya. Namun Wulan menghentikan langkah kakinya saat Diky melambaikan tangannya pada Risna. Diky melirik ke arah kaca spionnya. Dari kaca spion itu Wulan nampak melihat Risna yang berlari kecil menghampiri Diky.


"Sudah lama, ya?"tanya Risna pada Diky dengan wajah yang di buat seceria mungkin.


"Dik, apa nggak apa-apa kita pergi berdua seperti ini?"tanya Risna sesuai skenario yang di buat Diky secara dadakan tadi.


"Memangnya kenapa?"tanya Diky kembali melirik Wulan dari kaca spionnya.


"Kamu, 'kan, sudah punya tunangan?"


"Baru tunangan. Bukan istri. Lagian dia juga tidak mencintai aku. Aku berniat memutuskan pertunangan kami,"ucap Diky sengaja di buat santai, ingin memanas-manasi Wulan.


"Serius? Kamu mau putus sama dia?"tanya Risna menampilkan wajah senang.


"Serius. Untuk apa aku bertahan jika cinta ku bertepuk sebelah tangan? Aku nggak mau berjuang sendirian. Selama ini, aku sudah berusaha memahami dan mengerti dia. Tapi dia nggak mau ngerti dan memahami aku. Aku sudah beberapa kali mengajak dia nikah. Tapi dia tetap pada pendiriannya. Tidak mau menikah sebelum mendapatkan gelar sarjana. Aku tidak sanggup menunggu dia selama itu. Kamu masih suka, 'kan, sama aku? Kalau kamu mau nikah sama aku, aku bakal putusin dia,"ucap Diky sengaja mengungkapkan isi hatinya agar di dengar oleh Wulan. Dan ingin tahu bagaimana reaksi Wulan.


"Serius, kamu mau menikah sama aku?"tanya Risna tersenyum lebar.


"Jika kamu mau, aku serius. Umur ku sudah tidak muda lagi. Aku ingin berkeluarga. Bukan pacaran. Kita bicara di apartemen ku saja, yuk!"ajak Diky menyodorkan helm pada gadis itu. Diky merasa semakin kecewa karena Wulan hanya diam saja. Tidak menghampiri dirinya, marah-marah seperti pasangan lain yang akan mengamuk jika pasangannya jalan sama cewek lain. Dan terang-terangan berniat selingkuh seperti Diky saat ini.


Tidak lama kemudian Diky meninggalkan tempat itu. Diky yang sempat kecewa mengernyitkan keningnya saat melihat Wulan bergegas menyusul Diky menaiki motor bututnya.


"Ris, peluk aku yang mesra!"pinta Diky yang menyadari Wulan mengikuti mereka berdua.


"Gila Lo, Dik! Gimana kalau calon bini kamu ngamuk?"

__ADS_1


"Biarin aja! Sudah! Cepat peluk aku! Kalau nggak mau, aku turunkan kamu di sini!"ancam Diky.


"Buset, dah! Tega amat kamu sama teman sendiri. Amat aja nggak tega-an. Kamu yang lagi manas-manasi calon bini kamu, kenapa aku yang repot dan jadi korban?"gerutu Risna, tapi tetap menurut memeluk Diky mesra.


"Bang Diky tidak boleh melakukan ini padaku. Dia.. dia sudah mengambil ciuman pertama ku. Dia tidak boleh meninggalkan aku begitu saja,"gumam Wulan terus mengikuti motor Diky yang melaju tidak terlalu kencang. Beberapa kali gadis itu mengusap air matanya.


Diky melajukan motornya tidak terlalu kencang agar Wulan tidak kehilangan jejaknya. Diky sengaja berhenti di pinggir jalan untuk membelikan Risna makanan. Agar Wulan semakin panas.


"Eh, aku beneran kamu ajak masuk ke apartemen kamu?"tanya Risna setelah mereka tiba di parkiran.


"Iya,"sahut Diky singkat.


"Tapi kebetulan juga, sih. Aku tiba-tiba kebelet. Kayaknya kebanyakan makan cemilan yang kamu belikan tadi, deh,"ucap Risna yang memang memakan cemilan yang di belikan Diky di atas motor. Bahkan sengaja menyuapi Diky agar Wulan yang masih setia mengikuti mereka semakin panas.


"Dasar!"sahut Diky sengaja mengacak-acak rambut Risna dengan seulas senyum.


"Buset, dah! Kamu jago akting juga, Dik,"puji Risna.


"Aku ini detektif. Harus multi talenta agar bisa menyelesaikan kasus dengan cepat minim risiko,"sahut Diky jujur adanya.


Wulan yang bersembunyi agak jauh dari keduanya pun tidak bisa mendengar pembicaraan keduanya.


"Bang Diky benar-benar membawa gadis itu ke apartemennya? Aku saja belum pernah sekalipun di ajak ke apartemennya. Bahkan aku tidak tahu jika bang Diky punya apartemen,"gumam Wulan lirih dengan wajah yang terlihat sangat tidak senang.


Cemburu? Mungkin saja. Tapi bukan salah Diky jika Wulan tidak tahu banyak tentang dirinya. Karena Wulan juga tidak bertanya terlalu banyak pada Diky.


Diky dan Risna berjalan menuju apartemen Diky. Diky sengaja memberi tahu pihak keamanan apartemen agar membiarkan gadis yang di sebutkan ciri-ciri oleh Diky masuk.Jika tidak, Wulan tidak akan bisa masuk ke apartemen Diky.


"Apartemen kamu di unit berapa, Dik?"tanya Risna sengaja agak kuat agar bisa di dengar Wulan.


"Tiga lima lima,"sahut Diky ikut mengeraskan suaranya.


...🌸❤️🌸...


Notebook :


•Kegiatan ekstrakurikuler atau ekskul adalah kegiatan tambahan yang dilakukan di luar jam pelajaran yang dilakukan baik di sekolah atau di luar sekolah dengan tujuan untuk mendapatkan tambahan pengetahuan, keterampilan dan wawasan serta membantu membentuk karakter peserta didik sesuai dengan minat dan bakat masing-


•Ekstrakurikuler juga bisa diartikan sebagai kegiatan non-pelajaran formal yang dilakukan peserta didik sekolah atau universitas, umumnya di luar jam belajar kurikulum standar. Kegiatan-kegiatan ini ada pada setiap jenjang pendidikan dari sekolah dasar sampai universitas. Wikipedia


•Teater merupakan kesenian yang memadukan gerak-gerik tubuh, ekspresi, vokal, dan tata panggung. Biasanya seni pertunjukan ini ditampilkan secara langsung di hadapan penonton.


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2