SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
39. Takut Khilaf?


__ADS_3

Toyib terus berlari menuju rumah kontrakannya tanpa mempedulikan apapun. Hanya satu hal yang di pikirkan Toyib, yaitu trauma Ayana terhadap angin, hujan dan kilat, petir. Selama berbulan-bulan tinggal bersama, bersenda gurau bahkan hampir setiap hari bertengkar dengan Ayana membuat perasaan persaudaraan perlahan tubuh di hati Toyib.


Duda muda beranak satu itu sudah menganggap Ayana sebagai adiknya sendiri. Bahkan ada saatnya jika Ayana meminta ijin untuk menginap di rumah Pak Parman, Toyib merasa tidak rela. Toyib merasa kesepian jika tidak ada Ayana di rumah. Walaupun sering memarahi dan memukul nya, tapi gadis itu sangat perhatian pada dirinya dan Dimas. Bersama Ayana, Toyib merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang adik perempuan. Karena itu, Toyib sangat mengkhawatirkan keadaan Ayana saat ini.


Dan benar saja, Ayana yang tadinya tidur pun terbangun. Angin yang berhembus semakin kencang, hujan yang mulai turun dan suara kilat dan petir yang mulai terdengar, berangsur membuat wajah gadis itu pucat. Tubuh gadis itu mulai bergetar karena ketakutan.


"Tidak! Tidak!"


"Jangan! Jangan!"


"Akkh!"


Ayana mulai berteriak-teriak dan menutup telinganya dengan kedua tangannya saat terdengar suara kilat dan petir menyambar. Gadis itu bahkan sudah duduk berjongkok di lantai, di samping ranjang, di depan nakas.


Toyib yang baru sampai di rumah pun langsung melempar tasnya, melepaskan jaketnya yang basah dan melemparkannya asal. Pria itu bergegas menuju ke kamar Ayana.


"Ceklek"


"Brak"


'Ay!"


Toyib membuka pintu kamar Ayana yang memang tidak mereka ijinkan di kunci Ayana. Karena takut trauma Ayana kambuh seperti saat ini.


"Duar"


"Akkh!"

__ADS_1


Ayana menjerit dan menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya saat Toyib baru saja membuka pintu. Karena suara petir yang begitu keras. Toyib pun bergegas merengkuh Ayana dalam pelukannya.


"Jangan takut, Ay! Ini Abang! Jangan takut!"ucap Toyib memeluk erat tubuh Ayana yang terasa bergetar hebat karena ketakutan.


"A.. Abang! To.. tolong! A .aku takut! Me.. mereka i.. Ingin menangkap ku!"ucap Ayana meremas erat kaos yang di pakai Toyib.


"Tenang! Mereka tidak akan bisa menangkap mu! Ada Abang bersamamu!"ujar Toyib menenangkan.


"Ay!"tiba-tiba Dimas muncul dengan seluruh tubuh yang basah kuyup.


Beberapa menit yang lalu saat hujan mulai turun, Dimas masih berada di dalam angkutan umum. Dan sama seperti Toyib, Dimas menjadi cemas memikirkan Ayana. Dimas bahkan menyuruh supir angkutan umum itu agar melajukan mobilnya lebih cepat. Mengatakan jika adiknya dalam bahaya. Melihat wajah cemas Dimas, akhirnya supir angkutan umum itu sedikit menaikkan kecepatan laju mobilnya. Karena sangat berbahaya jika melajukan mobil dengan kencang dalam cuaca hujan deras seperti saat itu.


Sama seperti Toyib, begitu turun dari angkutan umum, Dimas langsung berlari bak orang yang sedang di kejar anj*ng. Tidak peduli dengan apapun terus berlari menuju rumah kontrakannya membawa tas besar yang menggantung di pundaknya. Begitu tiba di rumah kontrakannya, Dimas langsung melempar tasnya dengan asal dan berlari menuju kamar Ayana. Dimas membeku saat melihat Toyib sedang memeluk Ayana yang duduk di lantai.


"Dim! Akhirnya kamu pulang juga. Kamu tenangkan Ayana! Aku takut khilaf kalau berduaan dengan dia seperti ini. Aku punya tunangan di kampung. Kalau aku sampai menikahi gadis lain, aku bisa di kutuk jadi anak durhaka sama emak ku. Aku nggak mau dikutuk jadi batu,"ujar Toyib menatap Dimas yang nampak basah kuyup.


"Ya sudah! Cepetan, gih!"ujar Toyib.


Dimas bergegas ke kamar untuk mengganti pakaiannya dan tidak lama kemudian kembali ke kamar Ayana.


"Tolong bantu aku melepaskan pelukan Ayana! Dia memeluk aku erat sekali. Kalau seperti ini terus, bisa bengek aku. Aku nggak biasa di peluk erat seperti ini,"ujar Toyib seraya menatap Ayana yang masih memeluknya.


"Dia mencengkram kaos kamu. Lepaskan saja kaos kamu!"titah Dimas setelah berusaha merenggangkan pelukan Ayana pada Toyib dan Dimas langsung memeluk Ayana dari samping. Tubuh gadis itu masih gemetar ketakutan dengan mata yang terpejam.


Akhirnya dengan susah payah Toyib melepaskan baju kaos yang dipakainya hingga akhirnya terbebas dari Ayana. Dimas langsung menggendong tubuh Ayana ke atas ranjang dan merengkuh tubuh Ayana dalam dekapan nya. Sedangkan Toyib beranjak pergi dari kamar itu dan menutup pintu kamar itu. Toyib menghela napas panjang, pria itu nampak tersenyum seraya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, kemudian pergi dari depan kamar Ayana.


Sebenarnya, apa benar bang Toyib takut khilaf jika memeluk Ayana? Jawabannya adalah tidak. Karena bang Toyib benar-benar sudah menganggap Ayana seperti adiknya sendiri. Lalu kenapa bang Toyib mengatakan takut khilaf jika memeluk Ayana?

__ADS_1


Saat mendengar Dimas datang dan memanggil Ayana, Toyib yang sedang memeluk Ayana langsung menoleh ke arah Dimas.Toyib dapat melihat tatapan kecemburuan di mata Dimas saat dirinya memeluk Ayana. Toyib juga dapat mendengar suara Dimas yang terdengar datar saat bicara pada dirinya setelah melihat dirinya memeluk Ayana. Dimas juga nampak berusaha keras melepaskan pelukan Ayana pada Toyib. Seolah tidak rela gadis nya memeluk pria lain.


Sedikit pun Toyib tidak ada perasaan istimewa pada Ayana, selain perasaan seorang kakak terhadap adik. Toyib benar-benar menyayangi Ayana dan memperlakukan Ayana seperti seorang adik. Tidak lebih. Selain itu, Toyib melihat ada ketertarikan di antara Ayana dan Dimas yang coba di sembunyikan oleh keduanya. Tapi disadari oleh Toyib, dan Toyib pun tidak masalah dengan hal itu. Selain itu, Toyib merasa Dimas lebih berhak pada Ayana karena Dimas lah yang menolong dan membawa Ayana pulang ke kontrakan mereka.


"Kamu terlihat cemburu dan tidak rela melihat aku memeluk Ayana. Sudah seperti itu, masih tidak sadar dan mengelak jika kamu mencintai Ayana. Dasar perjaka tua!"gumam Toyib di dalam kamar, tertawa tanpa suara mengingat ekspresi cemburu Dimas saat melihat dirinya memeluk Ayana tadi.


Terkadang kita tidak menyadari apa yang kita rasakan, atau kadang mencoba menepis dan menyangkal apa yang kita rasakan. Namun mata orang-orang yang telah lama mengenal kita bisa melihat apa yang kita rasakan dari gerak gerik dan tutur kata kita. Dan mungkin benar, jujur pada hati kita sendiri, terkadang memang sulit.


Dimas mendekap erat tubuh Ayana. Entah mengapa Dimas merasa sedih jika melihat Ayana dalam kondisi seperti saat ini. Karena trauma yang di alami Ayana, Dimas selalu merasa cemas jika dirinya tidak ada di samping Ayana saat hujan seperti saat ini.


"Maaf! Aku belum punya cukup uang untuk membawa kamu ke psikolog"ujar Dimas mengecup puncak kepala Ayana yang sudah mulai tenang.


Dimas memang berniat membawa Ayana ke psikolog untuk mengatasi trauma Ayana. Tapi Dimas merasa uang tabungan nya belum cukup untuk membawa Ayana ke psikolog.


...🌸❤️🌸...


.


Notebook :


Psikolog adalah mereka yang mendalami ilmu psikologi, serta telah melanjutkan ke studi profesi untuk menerapkan ilmunya dalam membantu mendampingi, mengenali, serta sedikit menangani masalah kejiwaan atau perilaku seseorang. Fokus dan metode penanganannya adalah mengendalikan faktor pemicu dari sisi non medis.


.


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2