SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
222. Tidak Bisa Menolak


__ADS_3

"Pasti, Pak. Saya akan memperlakukan Wulan dengan baik. Oh, ya, Pak, bapak sudah bertahun-tahun bekerja di toko sembako. Apa bapak tidak berniat untuk berhenti dan membuka toko sembako sendiri?"tanya Diky yang sudah mengetahui apa pekerjaan kedua mertuanya.


"Apa maksud Diky bertanya seperti ini padaku? Apa dia ingin membukakan toko sembako untuk aku?"gumam Pak Parman dalam hati.


"Apa Diky bermaksud membukakan toko sembako untuk kami?"gumam Bu Lastri dalam hati. Sedangkan Wulan nampak mengernyitkan keningnya menatap suaminya.


"Bapak nggak apa-apa walaupun kerja di toko orang. Bapak masih betah, kok,"sahut Pak Parman yang berhati-hati menjawab pertanyaan menantunya itu.


Jika Pak Parman menjawab ingin berhenti dan membuka toko sendiri, jelas-jelas dirinya belum punya tabungan untuk membuka toko sendiri. Kalau bilang pengen berhenti tapi belum punya modal yang cukup, takutnya Diky akan memberikan modal untuk membuka toko. Karena itulah, Pak Parman menjawab masih betah bekerja di toko tempatnya bekerja sekarang.


Sudah banyak yang diberikan Diky pada keluarganya. Bahkan untuk pesta pernikahan Wulan, Pak Parman dan Bu Lastri tidak mengeluarkan uang serupiah pun. Pak Parman tidak enak hati jika sampai Diky juga membukakan toko sembako untuknya.


"Sebaiknya bapak berhenti saja dari pekerjaan bapak sekarang. Saya akan membukakan toko sembako sendiri untuk bapak dan ibu. Jadi bapak tidak perlu bekerja pada orang lain. Ibu juga tidak perlu mencuci serta menyeterika baju orang lain lagi. Ibu bisa membantu bapak di toko sembako yang akan saya bukakan nanti,"ujar Diky serius.


"Nahh.. benar, 'kan, dugaanku,"gumam Pak Parman dalam hati.


"Ternyata dugaanku benar,"gumam Bu Lastri dalam hati.


"Apa bang Diky malu punya ayah mertua yang bekerja di toko dan ibu mertua yang bekerja sebagai buruh cuci, gosok?"gumam Wulan dalam hati. Wulan menundukkan wajahnya seraya memilin ujung baju yang dipakainya.


"Nggak usah, Dik. Kamu sudah terlalu banyak menghabiskan uang untuk bapak, ibu dan Wulan. Bahkan biaya pernikahan pun, kamu semua yang menanggungnya. Simpan saja uang kamu. Kebutuhan kalian kedepannya akan semakin banyak,"sahut Pak Parman yang merasa malu karena sudah terlalu banyak yang diberikan Diky untuk keluarganya.


"Aku menawari bapak karena aku merasa sanggup untuk memberikannya pada bapak dan ibu. Bukan karena aku tidak suka apalagi merasa malu dengan pekerjaan bapak dan ibu. Tapi karena sekarang aku juga anak bapak dan ibu, jadi aku ingin kehidupan bapak dan ibu lebih baik lagi. Aku sudah tidak memiliki orang tua lagi, selain kalian dan orang tua Ayana. Sebagai seorang anak, mana tega aku melihat bapak bekerja keras mengangkat barang-barang yang berat dan melihat ibu mencuci dan menyetrika baju orang lain. Karena itu, aku ingin membukakan toko untuk bapak dan ibu. Agar bapak dan ibu tidak perlu bekerja terlalu keras. Bapak dan ibu tidak perlu merasa tidak enak hati padaku karena masalah uang. Jika bapak dan ibu merasa sungkan padaku dan tidak enak hati karena memakai uangku, berarti bapak dan ibu menganggap aku ini orang lain. Bukan menantu bapak dan ibu,"ujar Diky yang tidak lagi berbicara formal pada Pak Parman dan Bu Lastri. Mengatakan apa yang ada di dalam hatinya.


"Ternyata aku salah sangka pada Abang,"gumam Wulan dalam hati.


"Kalau begitu, terserah kamu saja. Bapak dan ibu akan menuruti apa katamu,"ujar Pak Parman pasrah. Kata-kata Diky barusan membuat Pak Parman tidak bisa menolak Diky lagi.

__ADS_1


"Kalau begitu, bapak ingin aku bangunkan toko sembako di mana? Di kampung ini, atau di tempat lain?"tanya Diky yang akhirnya bisa membujuk Pak Parman. Sedangkan Bu Lastri hanya mengikuti apa kata suaminya saja.


"Di depan rumah ini saja. Biar tidak jauh,"sahut Pak Parman.


"Kalau di depan rumah itu terlalu kecil, Pak. Biar nanti aku tanyakan tanah kosong di sebelah rumah kita ini, saja,"sahut Diky.


"Eh.. itu tanahnya lebar dan panjang banget, Dik. Ibu rasa, kalau dibeli sebagian pasti tidak boleh. Dan kalau di beli semua, pasti mahal,"sahut Bu Lastri.


"Aku berniat membeli semuanya, Bu. Karena aku ingin membuat toko grosir dan eceran buat bapak dan ibu. Sisa tanah di belakangnya kita tanami sayuran dan membuat kolam untuk beternak ikan. Pasti menyenangkan jika makan sayuran yang kita tanam dan ikan hasil budidaya kita sendiri,"sahut Diky antusias.


"Kalau membeli tanah itu, nanti kamu akan terlalu banyak mengeluarkan uang, Dik. Toko di depan rumah juga sudah cukup buat bapak dan ibu,"sahut Pak Parman.


"Nggak apa-apa Pak. Itu, 'kan, dipakai buat usaha, bukan buat foya-foya. Uangnya tidak akan hilang, tapi malah semakin bertambah. Lagi pula, letaknya sangat strategis. Jika kita membuka toko sembako grosiran di sini, pasti akan laris. Rumah bapak ini terletak di tengah-tengah kampung dan ramai dilewati orang. Pasti usaha bapak dan ibu akan cepat berkembang,"sahut Diky yang membuat Pak Parman dan Bu Lastri tidak bisa bicara lagi.


"Ya sudah. Terserah kamu saja. Bapak dan ibu nurut aja apa kata kamu. Kalau kamu ingin bertemu dengan yang punya tanahnya, bapak bisa mengantarkan kamu,"ujar Pak Parman.


"Ya, sudah. Kalian istirahat sana! Sudah malam. Sepertinya Wulan sudah mengantuk,"ujar Bu Lastri yang melihat mata Wulan nampak sudah merah.


Diky menoleh pada Wulan. Dan benar saja, mata Wulan sudah merah karena mengantuk. Akhirnya sepasang pengantin baru itu pun masuk ke dalam kamar.


"Beruntung sekali kita memiliki menantu seperti Diky, Pak"ujar Bu Lastri setelah Diky dan Wulan masuk ke dalam kamar.


"Iya, Bu. Ternyata bapak tidak salah menilai orang. Diky benar-benar menantu yang baik,"puji Pak Parman.


"Halahh.. kemarin bapak memukulinya sampai babak belur,"


"Kemarin itu, 'kan, bapak lagi emosi, Bu,"kilah Pak Parman.

__ADS_1


"Tapi, emosi bapak kemarin itu membahayakan. Gimana kalau kemarin sampai terjadi apa-apa pada Diky? Yang rugi, 'kan, kita, Pak. Beruntung Diky itu anaknya baik dan tidak pendendam. Gimana kalau dia nggak jadi menikahi Wulan karena sakit hati pada bapak?"


"Sudahlah, Bu! Bapak memang salah. Kemarin bapak benar-benar emosi. Yang penting sekarang, Diky, 'kan, sudah menjadi menantu kita,"


"Iya. Tapi lain kali kalau menyelesaikan masalah itu jangan pakai emosi!"


"Iya.. iya.. Bu! Padahal, ibu sendiri juga masih emosi pada janda terkaya di kampung kita,"


"Bapak memang pintar ngeles. Sudah seperti bajaj aja,"ujar Bu Lastri yang malah membuat Pak Parman tertawa.


Sedangkan di dalam kamar Wulan. Diky dan Wulan nampak duduk di tepi ranjang.


"Bang, terimakasih, ya, atas semua yang sudah Abang berikan untuk keluarga ku!"ucap Wulan tulus.


"Terimakasihnya jangan secara lisan, dong!"


"Maksud Abang?"


Diky tersenyum, lalu memeluk Wulan yang duduk di sampingnya.


"Kalau mau mengucapkan terimakasih, nanti saja kalau kamu sudah selesai datang bulan. Sekarang, kasih DP nya aja dulu,"ucap Diky mengecup pipi Wulan, membuat wajah Wulan memerah.


Tidak membuang-buang waktu, keesokan harinya Diky langsung menemui pemilik tanah di sebelah rumah mertuanya, bersama Pak Parman. Setelah berhasil membeli tanah itu, Diky langsung menghubungi orang-orang yang akan merancang bangunan dan yang akan membangun toko yang akan diberikan Diky untuk Pak Parman.


...🌸❤️🌸...


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2