SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
126. Makna Tersirat


__ADS_3

๐ŸŒธ Woro-woro, bab ini sedikit ๐Ÿ๐Ÿ. Sebaiknya dibaca setelah berbuka puasa.๐ŸŒธ


Setelah mengantarkan Geno ke kamarnya, Dimas pun bergegas menuju kamar Ayana. Pria itu bahkan berlari kecil menaiki anak ,tangga. Dimas membuka pintu kamar Ayana, dan melihat Ayana masih membaca buku pelajaran. Ayana pun menatap Dimas saat pria itu masuk ke dalam kamar.


"Ay, kamu belum tidur?"tanya Dimas seraya berjalan menuju lemari pakaian.


"Aku nunggu kakak,"sahut Ayana.


"Tunggu sebentar, ya!"pinta Dimas mengambil pakaian dari dalam lemari, kemudian bergegas masuk ke dalam kamar mandi.


Tidak berapa lama kemudian, Dimas sudah keluar dari dalam kamar mandi menggunakan kaos oblong dan celana pendek. Pria itu mematikan lampu utama, sedangkan Ayana menyalakan lampu tidur yang berada di atas nakas.


Dimas merebahkan tubuhnya di samping Ayana yang sudah lebih dulu merebahkan tubuhnya. Pria itu merengkuh Ayana dalam pelukannya.


"Cup"


"Cup"


"Cup"


Dimas mengecup bibir Ayana beberapa kali. Tersenyum tipis seraya mengelus bibir Ayana yang baru saja di kecupnya dengan jari jempolnya.


"Kakak tidak lagi kepengen, 'kan?"tanya Ayana seraya memicingkan sebelah matanya.


"Memangnya kenapa kalau aku kepengen?"tanya Dimas, masih mengelus bibir Ayana.


"Tadi sore, kakak, 'kan baru aku kasih,"sahut Ayana.


"Memangnya nggak boleh kalau minta lagi?tanya Dimas,"Aku sangat suka dengan caramu membangunkan dia,"bisik Dimas di telinga Ayana, membuat tubuh Ayana meremang.


"Kakak ingin aku puaskan?"tanya Ayana seraya mengelus leher Dimas dengan jemari tangannya. Membuat Dimas mendesis dengan tatapan mata sayu merasakan tubuhnya meremang karena jemari nakal istri kecilnya itu.


"Aku ingin, mumpung kamu belum datang bulan,"sahut Dimas.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan memuaskan kakak. Tapi ada syaratnya,"ucap Ayana dengan jemari yang sudah menyusup ke dalam kaos oblong yang dipakai Dimas. Meraba otot-otot dada Dimas.


"Katakan! Aku akan memenuhinya,"ucap Dimas seraya mengelus pipi Ayana yang halus.


"Aku ingin, hari Minggu nanti, kakak mengajakku pergi ke pantai,"sahut Ayana.


"Oke, deal,"sahut Dimas cepat.


Ayana tersenyum miring. Perlahan Ayana mendorong dada Dimas yang saat ini berbaring miring menghadap dirinya, hingga akhirnya Dimas berbaring terlentang. Ayana melepaskan kaos oblong yang di pakai Dimas, kemudian mengikat kedua tangan Dimas dengan kaos oblong itu.


"Ay, kamu mau apa?"tanya Dimas melihat Ayana mengikat kedua tangannya. Bahkan Ayana mengikatnya di headboard ranjang. Tapi Dimas malah pasrah dan membiarkan istrinya melakukan itu.


"Aku akan menyiksa kakak,"ucap Ayana masih setia dengan senyum miringnya.


Setelah mengikat kedua tangan Dimas, dengan cepat Ayana duduk tepat di atas benda kebanggaan Dimas berada. Wanita muda itu melepaskan piyama yang dipakainya, dan juga kain berbentuk kacamata yang menutupi dadanya.


Dimas menelan salivanya susah payah melihat benda favoritnya itu terpampang nyata di depan matanya. Benda yang saat ini ukurannya lebih besar dari ukuran sebelumnya saat Dimas baru menyentuh Ayana.


"Ay, kamu benar-benar menyiksa ku,"keluh Dimas yang tidak bisa memegang benda favoritnya itu karena Ayana mengikat kedua tangannya di headboard ranjang.


Ayana meraba tubuhnya sendiri dengan gaya yang erotis, terutama kedua bukit kembarnya, kemudian mendesah dengan ekspresi yang terlihat sangat menikmati.


"Ay.. Jangan menyiksa aku seperti ini!"keluh Dimas yang menjadi semakin gelisah.


Dimas benar-benar tidak tahan melihat Ayana meraba tubuhnya sendiri dengan gaya erotis, bahkan mendesah.


Ayana menghentikan aksinya, kemudian melucuti pakaian Dimas dan juga pakaiannya sendiri. Wanita muda itu mulai menggerayangi tubuh Dimas, bahkan memainkan sesuatu di bawah sana, hingga Dimas melenguh dan mendesah dan semakin gelisah.


"Ay, lakukan, Ay! Aku sudah tidak tahan lagi!"pinta Dimas dengan mata sayu penuh hasraat.


Melihat ekspresi wajah Dimas, akhirnya Ayana memulai penyatuan mereka. Wanita itu bergerak liar di atas tubuh Dimas, hingga Dimas meracau dan bergerak gelisah dalam kungkungan Ayana. Pria itu merasakan kenikmatan yang meledak-ledak saat Ayana terus bergerak seraya mencumbui tubuhnya.


Dimas berusaha melepaskan ikatan tangannya. Tidak tahan ingin menyentuh setiap inci lekuk tubuh Ayana. Akhirnya Dimas berhasil melepaskan ikatannya dan langsung menyerang tubuh Ayana. Keduanya bergulat semakin panas. Bahkan setelah mereka mendapatkan pelepasan yang pertama, Dimas langsung membalikkan posisi mereka dan kembali memulai pergulatan panas mereka.

__ADS_1


Keesokan harinya, Ayana tidak bangun untuk memasak, karena kelelahan melayani suaminya semalam. Setelah membersihkan diri, keduanya pun berjalan menuju ruangan makan. Dimas menarik kursi untuk duduk Ayana, kemudian duduk di sebelah Ayana. Geno dan Hilda mengulum senyum saat melihat leher Dimas penuh dengan bercak kemerahan. Nando menelan salivanya susah payah karena bercak merah di leher Dimas mengingatkan Nando jika sudah lama dirinya tidak bercinta dengan Bening. Sedangkan Bening nampak susah payah bersikap biasa, walaupun dalam hatinya merasa sangat kesal melihat bercak merah di leher Dimas, yang sudah dapat di pastikan siapa pelakunya yang telah membuat leher Dimas di penuhi bercak kemerahan seperti saat ini.


"๐˜ฟ๐™–๐™จ๐™–๐™ง ๐™Ÿ๐™–๐™ก๐™–๐™ฃ๐™œ๐™œ! ๐˜ผ๐™ฅ๐™– ๐™™๐™ž๐™– ๐™ž๐™ฃ๐™œ๐™ž๐™ฃ ๐™ข๐™š๐™ข๐™—๐™ช๐™–๐™ฉ ๐˜ฟ๐™ž๐™ข๐™–๐™จ ๐™ข๐™–๐™ก๐™ช? ๐˜ฟ๐™ž๐™ข๐™–๐™จ ๐™–๐™ ๐™–๐™ฃ ๐™—๐™š๐™ ๐™š๐™ง๐™Ÿ๐™–, ๐™—๐™–๐™œ๐™–๐™ž๐™ข๐™–๐™ฃ๐™– ๐™Ÿ๐™ž๐™ ๐™– ๐™จ๐™š๐™ข๐™ช๐™– ๐™ค๐™ง๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™ข๐™š๐™ก๐™ž๐™๐™–๐™ฉ ๐™จ๐™š๐™ข๐™ช๐™– ๐™ฉ๐™–๐™ฃ๐™™๐™– ๐™ฎ๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™™๐™ž๐™– ๐™—๐™ช๐™–๐™ฉ? ๐˜ฟ๐™–๐™จ๐™–๐™ง ๐™—๐™ค๐™™๐™ค๐™!"gerutu Bening dalam hati. Benar-benar kesal saat melihat banyaknya tanda yang di buat Ayana di leher Dimas.


Sedangkan Dimas sendiri tentu saja tidak berani membuat tanda di leher Ayana. Mengingat Ayana masih sekolah. Apa kata dunia jika para murid dan guru melihat leher anak SMA di penuhi kiss mark? Karena itu, Dimas memilih membuat tanda di tempat yang tidak bisa terlihat oleh orang lain selain dirinya. Jangan di tanya berapa banyak pria itu membuat tanda. Bahkan punggung Ayana pun dipakainya untuk melukis dengan bibir dan lidahnya.


Ayana sendiri, selain sangat suka membuat tanda di leher suaminya juga memang sengaja menunjukkan pada orang lain jika Dimas sudah ada yang punya. Dengan kata lain, memberikan stempel kepemilikan. Dan Dimas juga tidak pernah protes dengan ulah istrinya yang selalu membuat tanda baru di lehernya itu. Sama sekali tidak merasa malu karena yang melakukannya adalah istri sahnya. Selain itu, tanda yang selalu di buat Ayana malah membuat para karyawati di kantor Geno menjadi enggan untuk mendekati Dimas. Apalagi sejak awal bekerja di perusahaan Geno, Dimas terang-terangan mengaku sudah memiliki istri.


"Kamu mau mengantarkan Ayana ke sekolah, Dim?"tanya Geno di tengah-tengah sarapan mereka karena melihat Ayana sudah memakai baju putih abu.


"Iya, pa,"sahut Dimas singkat.


"Bareng sama aku saja, Ay! Aku mau pergi ke apartemen untuk mengunjungi ibuku. Kebetulan jalannya searah dengan sekolah kamu,"sahut Bening yang benci melihat Ayana selalu menempel pada Dimas.


"๐˜ผ๐™ ๐™ช ๐™ž๐™ฃ๐™œ๐™ž๐™ฃ ๐™ข๐™š๐™ฃ๐™˜๐™–๐™ง๐™ž ๐™˜๐™š๐™ก๐™–๐™ ๐™™๐™–๐™ง๐™ž ๐˜ผ๐™ฎ๐™–๐™ฃ๐™–, ๐™ช๐™ฃ๐™ฉ๐™ช๐™  ๐™ข๐™š๐™ฃ๐™œ๐™๐™–๐™ฃ๐™˜๐™ช๐™ง๐™ ๐™–๐™ฃ ๐™๐™ช๐™—๐™ช๐™ฃ๐™œ๐™–๐™ฃ ๐˜ผ๐™ฎ๐™–๐™ฃ๐™– ๐™™๐™–๐™ฃ ๐˜ฟ๐™ž๐™ข๐™–๐™จ,"gumam Bening dalam hati.


"Terimakasih! Tapi aku lebih suka di antar suamiku,"sahut Ayana tersenyum tipis. Senyuman yang dipaksakan.


"Kantor Dimas dan sekolah kamu, 'kan, nggak searah, Ay. Apa kamu tidak kasihan pada Dimas yang harus menempuh perjalanan lebih lama karena kamu?"tanya Bening yang ingin menggiring pemikiran semua orang bahwa Ayana adalah istri yang tidak pengertian dan merepotkan suami.


"Terimakasih atas perhatian kakak ipar. Tapi, aku tidak percaya kepada sembarang orang untuk mengantar istriku. Aku merasa lebih tenang jika aku bisa mengantarkan nya sendiri,"sahut Dimas membuat Bening memegang sendok dan garpu nya dengan erat.


Dimas tentu saja tidak ingin Bening mendekati Ayana. Dimas tidak mau Bening, menghasut, mencuci otak Ayana atau membuat Ayana kesal. Karena itu, Dimas akan menjauhkan dirinya dan juga istri kecilnya dari Bening.


"Ohh.. begitu, ya,"ujar Bening memaksakan diri untuk tersenyum. Bening merasakan ada makna tersirat dari kalimat Dimas.


"๐™๐™ž๐™™๐™–๐™  ๐™ฅ๐™š๐™ง๐™˜๐™–๐™ฎ๐™– ๐™ ๐™š๐™ฅ๐™–๐™™๐™– ๐™จ๐™š๐™ข๐™—๐™–๐™ง๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™ค๐™ง๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™ช๐™ฃ๐™ฉ๐™ช๐™  ๐™ข๐™š๐™ฃ๐™œ๐™–๐™ฃ๐™ฉ๐™–๐™ง ๐™ž๐™จ๐™ฉ๐™ง๐™ž๐™ฃ๐™ฎ๐™–? ๐˜ผ๐™ฅ๐™– ๐™ข๐™–๐™ ๐™จ๐™ช๐™™ ๐˜ฟ๐™ž๐™ข๐™–๐™จ? ๐˜ฟ๐™ž๐™– ๐™ž๐™ฃ๐™œ๐™ž๐™ฃ ๐™ข๐™š๐™ฃ๐™œ๐™–๐™ฉ๐™–๐™ ๐™–๐™ฃ ๐™—๐™–๐™๐™ฌ๐™– ๐™–๐™ ๐™ช ๐™—๐™ช๐™ ๐™–๐™ฃ๐™ก๐™–๐™ ๐™ค๐™ง๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™ฎ๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™—๐™ž๐™จ๐™– ๐™™๐™ž๐™ฅ๐™š๐™ง๐™˜๐™–๐™ฎ๐™–? ๐™Ž๐™ž๐™–๐™ก๐™–๐™ฃ!"gerutu Bening dalam hati merasa kesal.


...๐ŸŒธโค๏ธ๐ŸŒธ...


.Notebook :


โ€ขJangan lupa sajen buat author, ya! Nggak perlu cari kemenyan dan bunga tujuh rupa. Cukup tempelin jempol buat like dan tinggalkan jejak di kolom komentar. GRATIS!

__ADS_1


To be continued


__ADS_2