SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
69. Ada Hubungan Apa?


__ADS_3

"Oh iya, kata ibu tadi, ibu ada perlu. Ada perlu apa, ya, Bu?"tanya Dimas.


"Ah, begini, nak. Sebelumnya ibu minta maaf. Ibu tidak bisa lagi mengantar Ayana sekolah. Sudah seminggu ini ibu bekerja di rumah kepala desa. Ibu bekerja beres-beres rumah nyuci, menyeterika dan memasak dari pagi sampai siang.Jadi ibu tidak bisa mengantar Ayana lagi. Maaf, ya!"ucap Bu Nur tidak enak hati. Karena selama enam bulan ini sudah sangat terbantu mendapatkan uang dari menjadi tukang ojek untuk Ayana.


"Tidak apa-apa, Bu. Kami mengerti. Kebutuhan ibu pasti banyak. Dan pasti kurang jika hanya mengandalkan uang dari mengojek,"sahut Dimas.


"Tapi, kak, nanti siapa yang akan mengantarkan aku sekolah?"tanya Ayana yang duduk di sebelah Dimas. Menatap Dimas dengan ekspresi memelas dengan suara yang terdengar manja, membuat Dimas gemas dibuatnya.


"Nanti Dimas yang bakal mengantarkan kamu sekolah, Ay,"sahut Toyib.


"Benarkah?"tanya Ayana dengan wajah berbinar, menatap Toyib, kemudian kembali menatap Dimas.


"Hum,"sahut Dimas dengan seulas senyum.


"Aku senang kalau di antar kakak,"ucap Ayana langsung memeluk Dimas.


Toyib dan Bu Nur pun tersenyum melihat tingkah Ayana, sedangkan Dimas tersenyum seraya mengelus kepala Ayana.


"Bu, ibu, 'kan, bekerja dari pagi sampai siang. Apa bisa, tetap menjemput Ayana pulang sekolah. Soalnya kalau siang, saya dan Toyib harus bekerja,"ujar Dimas.


"Kalau buat menjemput bisa, nak,"sahut Bu Nur.


"Syukurlah. Jadi kami minta tolong lagi buat jemput Ayana, ya, Bu!"ucap Dimas.


"Iya, nak,"sahut Bu Nur.


"Terimakasih banyak, Bu,"ucap Dimas.


"Sama-sama nak,"sahut Bu Nur.


"Oh iya, Bu. Boleh saya minta tolong satu hal lagi pada ibu?"tanya Dimas.


"Katakan saja, nak! Kalau bisa, akan ibu bantu,"sahut Bu Nur.


"Tolong ibu jangan mengatakan pada siapapun kalau Ayana cantik. Bukan berprasangka buruk pada orang lain, tapi saya dan Toyib meninggalkan Ayana sendiri di rumah untuk bekerja. Jadi saya takut jika ada orang yang bermaksud jahat pada Ayana saat kami tidak ada di rumah,"pinta Dimas yang memang merasa agak khawatir jika meninggalkan Ayana sendirian di rumah. Mengingat Ayana sangat cantik, apalagi saat ini Ayana sudah menjadi istrinya.


"Kelihatan, dah, cintanya,"gumam Toyib lirih, mengulum senyum, sehingga mereka yang ada di ruangan itu tidak terlalu jelas mendengar gumaman Toyib.


"Ah, iya, nak. Ibu tidak akan mengatakan pada siapapun,"sahut Bu Nur.


"Terimakasih, Bu,"ucap Dimas.


Setelah menyampaikan tujuannya menemui Dimas dan Toyib, akhirnya Bu Nur pun pamit pulang.

__ADS_1


Sebenarnya semenjak Mak Er si tukang urut sering membicarakan bahwa Ayana cantik, Dimas merasa khawatir jika meninggalkan Ayana sendirian di rumah. Bahkan Dimas juga meminta Pak ustadz yang telah menikahkan dirinya dengan Ayana agar tidak membicarakan tentang wajah Ayana yang cantik. Dimas juga meminta Pak ustadz untuk merahasiakan pernikahannya dan Ayana, mengingat Ayana yang masih bersekolah.


"Kak, jadi kita akan berangkat pagi-pagi sekali, dong, agar aku tidak terlambat sekolah,"ujar Ayana yang berpikir bahwa mereka akan naik angkutan umum.


"Tidak perlu. Berangkat seperti biasanya saja,"sahut Dimas.


"Abang dan Dimas tadi baru saja pulang dari dealer, Ay. Kami membeli motor,"sahut Toyib.


"Benarkah? Siapa yang beli motor?"tanya Ayana antusias.


"Kami berdua. Abang beli, Dimas juga beli,"sahut Toyib.


"Jadi kakak bakal mengantarkan aku ke sekolah naik motor?"tanya Ayana dengan wajah berbinar menatap Dimas.


"Hum,"sahut Dimas dengan senyum yang menghiasi bibirnya.


"Aku sudah tidak sabar pengen masuk sekolah,"ucap Ayana.


"Tidak sabar mau masuk sekolah apa tidak sabar di bonceng Dimas?"ledek Toyib.


"Dua-duanya,"sahut Ayana cepat.


"Isss.. kok langsung ngaku, sih! Nggak seru tahu,"keluh Toyib.


"Haiss..tahu aja,"sahut Toyib kemudian terkekeh.


***


Pagi ini Ayana nampak bahagia. Pasalnya mulai hari ini, Ayana akan ke sekolah diantar oleh Dimas. Karena memakai rok, gadis itu duduk menyamping melingkarkan tangannya di perut rata suaminya. Menyandarkan kepalanya di punggung lebar suaminya. Memakai helm dengan warna yang sama dengan Dimas. Cuma bedanya, Dimas memakai helm full face, sedangkan Ayana tidak. Tapi Ayana tetap memakai maskernya.


Setelah tiba di depan gerbang sekolahnya, Ayana turun dari motor dan Dimas membantu Ayana melepaskan helm Ayana. Setelah itu, Dimas merapikan rambut Ayana yang agak berantakan karena memakai helm tadi. Terlihat mesra bukan? Kedatangan Ayana yang diantar Dimas pun mencuri perhatian murid-murid di sekolah Ayana. Apalagi, Ayana dan Dimas terlihat begitu mesra.


"Eh, siapa itu yang mengantarkan Ayana?"


"Postur tubuhnya sih, keren. Tapi nggak tahu gimana wajahnya. Helm nya nggak di buka, sih,"


"Mana keliatannya mesra banget lagi,"


"Apa kira-kira cowok Ayana, ya?"


"Jadi penasaran pengen lihat wajahnya,"


"Sepertinya, Ayana sudah punya cowok, bro!"

__ADS_1


"Siapa tahu itu kakaknya. Atau mungkin bapaknya,"


"Iya juga, sih. Nggak keliatan wajahnya, sih!"


Itulah bisik-bisik teman-teman perempuan dan laki-laki Ayana. Terlihat sangat penasaran dengan sosok Dimas.


"Kak, minta uang jajan, dong! Kakak belum kasih aku uang jajan,"pinta Ayana menadahkan tangannya, setelah Dimas merapikan rambutnya.


Dimas mengambil dompet di saku celananya, kemudian mengambil selembar uang kertas berwarna merah.


"Uang di ATM kamu nggak pernah dipakai,"ujar Dimas.


"Biarin. Buat tabungan,"sahut Ayana. Semenjak menikah, Dimas memberi kartu ATM untuk Ayana, tapi belum sekalipun Ayana memakainya. Karena Ayana merasa semua kebutuhannya sudah dicukupi oleh Dimas.


"Nih!"ucap Dimas memberikan selembar uang kertas berwarna merah pada Ayana.


"Makasih, kak!"ucap Ayana dengan senyuman yang tertutup maskernya.


"Hum, belajar yang benar,"sahut Dimas mengelus kepala Ayana, tanpa membuka helmnya.


"Iya,"sahut Ayana mengecup punggung tangan Dimas.


Dimas melajukan motornya meninggalkan sekolah Ayana. Sedangkan Ayana berjalan masuk ke dalam sekolahnya dengan riang.


"Ay, siapa yang mengantar kamu tadi? Kok, bukan ibu-ibu yang biasa mengantar kamu? Apa itu kakak kamu?"tanya Wulan menghampiri Ayana. Tadi Wulan melihat Ayana di antar seorang pria dan Ayana mencium punggung tangan pria itu. Tapi tidak terlihat wajahnya karena memakai helm full face.


"Oh, itu tadi.. Kak Dimas,"sahut Ayana. Ayana tidak mungkin selamanya menyembunyikan hubungannya dengan Dimas dari Wulan. Masalahnya, mulai hari ini Dimas akan mengantarkan dirinya sekolah setiap hari. Dan mulai sekarang, Dimas akan berdagang keliling menggunakan motor. Dan nantinya Wulan pasti mengenali motor yang dipakai Dimas saat Dimas berdagang keliling di kampung Pak Parman.


"Kak..kak Dimas? Sales pakaian keliling itu?"tanya Wulan nampak terkejut.


"Hum,"sahut Ayana mengangguk pelan.


"Kalau boleh tahu. Ada...ada hubungan apa kamu dan kak Dimas?"tanya Wulan ragu, tapi juga penasaran.


Pasalnya waktu itu Dimas menjemput Ayana di rumahnya. Dan tadi, Dimas mengantarkan Ayana ke sekolah, bahkan Wulan melihat Ayana mencium punggung tangan Dimas. Sedangkan Wulan tahu pasti, Ayana baru mengenal Dimas semenjak Ayana tinggal di rumahnya. Bahkan, dulu Ayana dan Dimas selalu bertengkar setiap kali bertemu.


"Sebenarnya... aku dan kak Dimas..."


...🌸❤️🌸...


.


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2