SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
230. Panik


__ADS_3

Selain berwisata di Sedudo, Toyib juga mengajak para sahabatnya berwisata ke Batu Lawang, dan juga di tujuh air terjun yang ada di Batu Lawang yang masih berada di daerah Nganjuk. Hawa yang terasa sejuk tanpa polisi, pemandangan yang begitu indah dan memanjakan mata membuat semua sahabat Toyib merasa sangat senang.


Setelah puas berwisata, Dimas dan rombongannya pun akhirnya bersiap kembali ke kota. Mengingat pekerjaan Diky yang tidak bisa ditinggalkan terlalu lama.


"Sayang sekali pekerjaan Diky tidak bisa di tinggal terlalu lama. Telinga ku gatal sekali mendengar anak buahnya yang terus-menerus menghubunginya. Padahal masih banyak destinasi wisata yang ingin aku tunjukkan pada kalian. Yahh.. anggap saja bulan madu,"ujar Toyib.


"Yang sudah kami lihat juga sudah cukup banyak, kok, bang. Lain kali kami akan ke sini lagi untuk berwisata,"sahut Ayana,"Iya, 'kan, kak?"tanya Ayana pada Dimas penuh harap suatu saat bisa kembali berwisata di daerah Toyib..


"Tentu saja. Apa, sih, yang tidak buat kamu?"sahut Dimas dengan seulas senyum seraya mengelus kepala Ayana.


"Kapan kamu akan kembali ke kota, Yib? Dan kamu akan tinggal dimana?"tanya Diky.


"Aku tinggal dua hari lagi di sini. Setelah kembali ke kota, kami sementara akan tinggal bersama Dimas dan Ayana seraya mencari rumah kontrakan yang disukai Bunga ( istri Toyib). Kalian tidak keberatan, 'kan, Dim, Ay?"


"Tentu saja tidak,"sahut Dimas,"Iya, kan, Ay?"tanya Dimas menatap Ayana.


"Iya,"sahut Ayana dengan seulas senyum.


"Kami akan secepatnya mencari rumah kontrakan. Aku sebenarnya sudah mencari. Tapi aku ingin Bunga saja yang memilihnya,"ujar Toyib menoleh pada Bunga. Dan Bunga hanya tersenyum tipis dengan pipi yang memerah.


***


Tony memarkirkan mobilnya di parkiran kampus. Wajah pemuda itu masih terlihat memar setelah di hajar Axell beberapa hari yang lalu. Dendam? Tentu saja rasa itu ada di dalam hati Tony. Namun tidak berani melakukan apa-apa mengingat siapa Axell. Tidak ingin mencari penyakit dengan keluarga orang terkaya di negeri ini.


Tony terlihat sangat kesal saat tanpa sengaja melihat Rengganis yang berjalan keluar dari perpustakaan. Gadis yang membuat dirinya babak belur di hajar Axell.


"Sepertinya gadis itu juga tidak mengenal pemuda yang bernama Axell itu. Aku akan mencari cara untuk balas dendam padanya. Dia sudah membuat aku babak belur seperti ini,"gumam Tony yang menjadi dendam pada Rengganis.


Awalnya Tony ingin menjerat Rengganis yang terlihat polos itu. Tapi ternyata Rengganis sulit untuk di rayu dan tidak mudah untuk diperdaya. Gadis itu terlalu waspada, berhati-hati dalam bergaul, dan sangat fokus pada kuliahnya. Walaupun Rengganis mau bergaul dengan para mahasiswa, tapi Rengganis hanya menganggap mereka sebagai teman saja. Dan hal itu membuat Tony semakin tertarik.


Namun setelah berbagai cara di coba, baik secara halus, bahkan terakhir kali secara kasar. Usaha Tony untuk mendapatkan Rengganis tetap tidak membuahkan hasil sesuai ekspektasi nya. Karena nyatanya hasilnya adalah dirinya babak belur di hajar Axell karena gadis itu.


"Bro! Kemana aja beberapa hari ini nggak masuk kuliah? Terus, itu muka kenapa?"tanya si jabrik seraya menepuk pundak Tony, hingga pemuda yang sedang melamun itu terkejut.

__ADS_1


"Ck. Kamu bikin kaget aja,"decak Tony.


"Itu muka kenapa?"si jabrik mengulangi pertanyaannya.


"Dihajar orang karena si Rengganis itu,"sahut Tony dengan ekspresi kesal.


"Kok, bisa?"tanya si jabrik terlihat heran.


"Terakhir kali kita bertemu kemarin, aku berniat untuk menjebak dia. Tapi, ujung-ujungnya malah gagal. Ada yang nolongin dia dan orang itu menghajar aku sampai babak belur seperti ini,"


"Wah, apes sekali kamu, bro. Jadi, gimana? Kamu menyerah untuk mendekati dia?"


"Aku belum kepikiran. Tapi, aku benar-benar dendam pada itu cewek,"sahut Tony dengan kilat kebencian di matanya.


"Hei! Katanya tadi mau ngantar cewek kamu pulang? Kok, masih ada di sini?"tanya seorang mahasiswa saat melihat temannya. Berjalan melewati Tony dan si jabrik.


"Belum bisa, pulang, bro! Ada razia obat-obatan terlarang,"sahut temannya.


Mendengar percakapan dua mahasiswa itu, Tony pun membulatkan matanya. Pasalnya Tony baru saja mengambil sabu dari seorang pengedar yang akan di jualnya di klub malam nanti malam.


"Razia lagi,"gumam si jabrik kemudian menatap Tony,"Eh, kenapa muka kamu pucat banget, bro? Kalau belum sehat jangan dipaksakan kuliah,"ujar si jabrik, tapi Tony hanya diam saja,"Eh, mau keman, bro?"tanya si jabrik yang melihat Tony malah meninggalkan dirinya tanpa sepatah katapun,"Kenapa itu anak?"gumam si jabrik, menatap Tony yang semakin menjauh dengan tatapan heran.


Tony semakin panik, bingung harus bagaimana. Hingga langkah kakinya terhenti saat berada di depan sebuah kelas dan tidak sengaja melihat Rengganis masuk ke dalam kelas itu. Namun Tony terlihat tidak peduli karena sedang panik memikirkan nasibnya jika sampai tertangkap membawa barang terlarang.


"Bagaimana ini? Tahun lalu aku sudah ketahuan menjadi pengguna. Jika sekarang ketahuan memiliki barang terlarang ini, aku pasti akan di DO dari kampus,"gumam Tony dalam hati. Semakin panik karena kemungkinan sebentar lagi razia itu akan sampai di tempatnya.


Namun tiba-tiba pemuda itu seperti teringat sesuatu. Dengan cepat Tony masuk ke dalam kelas Rengganis. Pemuda itu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan kelas itu. Berkeliling mencari Rengganis. Hingga akhirnya Tony melihat Rengganis yang sedang fokus membaca buku di pojok ruangan.


Dengan hati-hati Tony mendekat gadis itu, mengamati tempat sekitarnya yang tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa mahasiswa saja yang ada di ruangan itu. Mereka nampak sibuk dengan buku atau gadget mereka.


"Brugk"


"Astaga!"ucap Rengganis saat tumpukan buku di depannya roboh.

__ADS_1


"Sorry! Nggak sengaja,"ucap Tony tersenyum miring.


Melihat siapa orang yang membuat tumpukan buku di depannya terjatuh di lantai, Rengganis pun tidak mengatakan apapun. Gadis itu memilih memunguti buku-buku yang akan dibacanya itu dari lantai.


Sedangkan para mahasiswa yang ada di kelas itu hanya menoleh sebentar ke arah Rengganis dan Tony karena mendengar suara buku dan alat tulis yang terjatuh.


"Mau apa lagi dia mendatangi aku? Apa yang ingin dia lakukan padaku? Dia bahkan mendatangi aku di kelasku. Aku harus menjauh dari dia dan waspada pada dia. Aku tidak mau dia kembali mengulangi niat jahatnya padaku,"gumam Rengganis dalam hati seraya memunguti buku-bukunya dan alat tulisnya yang ikut terjatuh bersama buku tadi.


Tony segera mengeluarkan barang terlarang yang di bawanya dari dalam tas ranselnya. Lalu cepat-cepat memasukkan barang terlarang yang rencananya akan di jualnya di klub malam itu ke dalam tas Rengganis.


"Apa kamu merasa senang karena telah membuat aku babak belur seperti ini?"tanya Tony setelah berhasil memasukkan barang terlarang miliknya yang berupa sabu itu ke dalam tas milik Rengganis.


Rengganis yang sudah selesai memunguti buku-buku dan alat tulisnya yang terjatuh karena ulah Tony pun berdiri, lalu meletakkan buku-buku dan alat tulis itu di atas mejanya.


"Semua itu tidak akan terjadi jika kamu tidak berniat jahat padaku,"ucap Rengganis yang sebenarnya merasa takut pada Tony.


"Aku tidak bermaksud jahat. Kamu nya aja yang jadi cewek sok jual mahal. Sok kecantikan. Masih banyak cewek yang lebih cantik dari kamu di kampus ini selain kamu. Jadi, jangan sombong?"ucap Tony seraya menunjuk ke arah Rengganis.


"Maaf! Aku tidak merasa bahwa aku cantik. Apalagi merasa sok kecantikan. Karena seperti kata kamu, banyak cewek cantik di kampus ini dan aku tidak ada apa-apanya. Lagi pula, aku di sini untuk belajar. Karena itu, aku tidak berniat menerima siapapun menjadi pacarku,"sahut Rengganis terdengar tenang. Padahal merasa takut jika pemuda di depannya itu akan berniat jahat pada dirinya.


"Kamu beruntung karena telah selamat dari aku kemarin. Tapi, aku ingin lihat, apa kali ini kamu juga akan seberuntung kemarin?"ujar Tony pelan, tersenyum miring menatap Rengganis. Kemudian pemuda itu pergi meninggalkan kelas Rengganis.


"Apa maksudnya? Apa dia benar-benar ingin berbuat jahat lagi sama aku?"gumam Rengganis yang menjadi khawatir.


...🌸❤️🌸...





Tiga gambar diatas hanya sebagian kecil tempat wisata di Nganjuk. Mungkin bisa menjadi destinasi wisata untuk reader.

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2