SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
173. Berteduh


__ADS_3

Setelah menonton di bioskop, Dimas dan Diky membawa Ayana jalan-jalan ke mall. Ayana membeli apapun yang di inginkannya. Sedangkan Wulan hanya diam tidak membeli apapun. Namun setiap kali Ayana melihat Wulan menyukai sesuatu, tapi hanya melihatnya saja, Ayana selalu berkata pada Diky...


"Babang, ini cocok, deh, sama Wulan,"


"Babang, beliin Wulan ini, dong!"


"Babang, nggak mau beliin Wulan ini?"


"Babang, sepertinya Wulan suka, deh, sama yang ini,"


"Babang, biasanya Wulan suka sama ini,"


Begitulah cara Ayana meminta Diky membelikan apa yang di sukai Wulan. Diky juga nampak tidak perhitungan dan membelikannya untuk Wulan.


Wulan berusaha menolak, tapi Diky tetap saja membelikan nya untuk Wulan. Sedangkan Dimas membiarkan Ayana membeli apapun yang di sukainya. Dimas dan Diky persis seperti dua orang kakak yang sedang mengasuh adik mereka.


Setelah puas berbelanja dan makan apapun yang di sukai Ayana dan Wulan, Dimas dan Diky memutuskan untuk pulang. Sedangkan barang belanjaan Ayana dan Wulan sudah di bawa oleh anak buah Diky agar tidak merepotkan saat naik motor nanti.


"Kami langsung pulang ke rumah, ya, Dik? Kamu tidak apa-apa, 'kan, jika harus sendirian mengantar Wulan pulang?"tanya Dimas saat mereka tiba di parkiran.


"Tidak apa,"sahut Diky.


"Babang harus mengantar sahabat ku pulang dengan selamat!"pesan Ayana.


"Tenang saja! Babang pastikan, calon istri babang pulang dengan selamat,"sahut Diky penuh percaya diri.


Sedangkan Wulan memalingkan wajahnya yang terlihat memerah karena mendengar kata-kata Diky barusan.


Ayana menarik lengan baju Diky. Diky yang lebih tinggi dar Ayana pun menunduk seraya mengernyitkan keningnya. Ayana mendekatkan bibirnya ke telinga Diky.


"Jangan babang apa-apain itu anak orang. Belum halal!"bisik Ayana memperingati Diky.


"Dasar anak kecil!"ucap Diky kemudian mengacak-acak rambut Ayana gemas.


"Babang! Aku bukan anak kecil! Babang bikin rambut aku berantakan,"proses Ayana bersungut-sungut seraya merapikan rambutnya yang acak-acakan,"Kak, lihat, nih! Rambut ku jadi acak-acakan karena babang Diky,"adu Ayana pada Dimas.


"Dasar tukang ngadu!"cibir Diky hendak mengacak-acak rambut Ayana lagi karena merasa gemas. Namun tangan Diky langsung di tahan oleh Dimas.

__ADS_1


"Issh.. kamu ini, Dik! Antar Wulan pulang sana!"gerutu Dimas kemudian membantu merapikan rambut Ayana.


"Iya.. iya.."sahut Diky.


Wulan hanya tersenyum melihat interaksi ke tiga orang itu. Ketiganya terlihat hangat dan akrab.


"Kamu tambah manis kalau tersenyum,"ucap Diky menatap Wulan yang tersenyum. Wulan yang mendapat pujian dari Diky pun, wajahnya kembali memerah.


"Ishh.. bikin gemes, deh!"gumam Diky dalam hati. Benar-benar gemas melihat wajah Wulan yang memerah.


"Gula, kali, manis! Lan, kalau buatin kopi buat Babang Diky nggak usah pakai gula! Suruh minum kopinya sambil lihat kamu aja! Soalnya, nanti kalau di kasih gula, pas lihat kamu kopinya entar malah kemanisan,"celetuk Ayana membuat Dimas gemas lalu mencubit hidung Ayana.


"Ya nggak gitu juga kali konsepnya,"sahut Diky.


"Sudah, ayo, pulang!"ajak Dimas merangkul pinggang Ayana menuju motor mereka.


"Sampa jumpa, Lan!"ucap Ayana seraya melambaikan tangannya.


"Sampai jumpa!"sahut Wulan tersenyum tipis.


"Ayo, aku akan mengantar kamu pulang,"ucap Diky seraya memakaikan helm untuk Wulan.


Selama ini Wulan tidak pernah dekat dengan pria manapun karena ibunya mengancam akan berhenti menyekolahkan Wulan jika Wulan ketahuan pacaran. Karena itulah, Wulan belum pernah berpacaran. Diky adalah pria pertama yang dekat dengan dirinya.


"Aku adalah calon suami kamu, Lan. Kenapa kamu tidak mau berdekatan dengan aku?Peluk aku! Jika kamu tidak mau memeluk ku, aku akan mencium kamu di sini!"ancam Diky membuat nyali Wulan menciut.


Wulan akhirnya terpaksa memeluk perut Diky. Diky tersenyum lebar di balik helm full facenya, lalu melajukan motornya.


Sikap Wulan yang nampak enggan berdekatan dengan dirinya membuat Diky merasa mereka seperti orang asing. Karena itu, Diky iseng-iseng mengancam Wulan dan nyatanya berhasil.


"Di ancam gitu saja dia menurut. Aku jadi gemas sekali padanya,"gumam Diky dalam hati, sekarang tahu bagaimana caranya menghadapi Wulan.


"Aku belum pernah seperti ini. Aku malu sekali. Dadaku benar menempel di punggung bang Diky,"gumam Wulan dalam hati yang merasa tidak nyaman karena dadanya benar-benar menempel sempurna di punggung Diky.


Di tengah perjalanan, tiba-tiba langit menjadi semakin gelap dan angin bertiup kencang. Titik-titik air pun mulai berjatuhan.


"Gawat! Aku harus segera mencari tempat yang bisa di jadikan tempat untuk berteduh,"Diky melajukan motornya lebih cepat karena posisi mereka saat ini berada di jalanan yang tidak ada rumah penduduknya. Sehingga mereka tidak akan bisa menemukan tempat untuk berteduh di sekitar tempat itu.

__ADS_1


"Gimana ini? Sudah mulai gerimis. Mana rumah ku masih jauh lagi,"gumam Wulan yang semakin mengeratkan pelukannya pada Diky karena Diky melajukan motornya semakin cepat.


Saat hujan mulai turun dengan deras, Diky menghentikan motornya di sebuah warung makan yang sudah tutup dengan lampu yang tidak begitu terang di bagian teras.


"Kita berteduh di sini dulu, ya?"tanya Diky seraya melepaskan helm nya.


"Hum,"sahut Wulan turun dari motor, lalu melepaskan helm nya.


Keduanya duduk di kursi panjang yang ada di teras warung itu. Sedangkan hujan nampak semakin deras, bahkan kilat dan petir pun bersahutan. Angin juga bertiup kencang. Jalanan di depan mereka nampak sepi dari lalu lalang kendaraan.


Melihat Wulan melipat kedua tangannya di depan dada. Diky yang mendekatkan bibirnya di telinga Wulan,"Kamu kedinginan?"tanya Diky yang hembusan napasnya terasa hangat di leher Wulan, membuat bulu kuduk Wulan jadi berdiri.


"Se.. sedikit,"sahut Wulan yang menjadi gugup karena wajah Diky begitu dekat dengan wajahnya.


"Apa?"tanya Diky kembali mendekatkan bibirnya di telinga Wulan. Diky tidak terlalu mendengar apa yang dikatakan oleh Wulan karena suara derasnya hujan. Namun tindakan Diky itu malah semakin membuat Wulan merinding.


"Sedikit,"ucap Wulan agak mengeraskan suaranya.


Jantung Wulan berdegup kencang. Tidak pernah sedekat ini dengan seorang pria. Baru kali ini pula jalan berdua dengan seorang pria. Jantung Wulan semakin berdetak tidak beraturan saat tiba-tiba Diky memeluknya dari samping. Wulan pun berusaha melepaskan pelukan Diky.


"Diam! Atau aku akan mencium kamu,"ancam Diky tersenyum miring. Mendengar ancaman Diky, Wulan pun diam tidak berani lagi bergerak.


"Ya Tuhan..! Aku merasa seperti baru saja selesai berlari memutari lapangan sebanyak sepuluh kali,"gumam Wulan dalam hati.


Ada perasaan hangat dan nyaman saat Diky memeluknya, sekaligus merasa jantungnya berdebar kencang tidak beraturan.


Diky tersenyum tipis melihat wajah Wulan yang tertunduk. Wajah gadis dalam pelukannya itu terlihat tegang.


"Dia menggemaskan sekali,"gumam Diky dalam hati, menatap lekat wajah Wulan yang berada di dalam pelukannya.


Diky menelan salivanya susah payah saat melihat bibir gadis yang duduk di sebelah kanannya itu. Walaupun cahaya lampu di teras itu tidak terlalu terang, tapi Diky masih bisa melihat bibir Wulan yang berwarna pink.


"Deg"


Jantung Wulan terasa berhenti berdetak saat tiba-tiba tangan kanan Diky memegang dan mengangkat wajahnya hingga mata mereka saling bertatapan.


...🌸❤️🌸...

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2