
Dimas baru saja tiba di rumah kontrakannya. Pria itu bergegas masuk ke dalam rumah dan berjalan menuju kamarnya.
"Kakak pulang lebih cepat?"sapa Ayana dengan senyuman lebar di bibirnya saat melihat Dimas pulang lebih cepat dari biasanya.
"Hum. Aku mandi dulu, ya?"sahut Dimas bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Ayana terlihat senang karena Dimas pulang lebih awal dari biasanya.
"Ay, aku akan pergi kerumah papa. Ada beberapa hal yang harus aku diskusikan bersama papa. Apa kamu mau ikut?"tanya Dimas yang baru saja keluar dari kamar mandi, dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Rambut pria itu masih terlihat basah.
Ayana yang sedari tadi memainkan handphonenya pun, mengalihkan pandangannya pada Dimas yang sedang memilih baju di dalam lemari.
"Apa kakak akan pulang malam?"tanya Ayana seraya menghampiri Dimas yang masih berdiri di depan lemari pakaian.
"Sepertinya iya, Ay,"sahut Dimas.
"Greb"
Tiba-tiba Ayana memeluk Dimas dari belakang, mencium aroma segar dari tubuh Dimas yang baru saja selesai mandi. Bahkan tangan Ayana sudah meraba dada dan perut rata Dimas.
"Ay, jangan memancing ku!"ucap Dimas memperingati. Pria itu memegang kedua tangan Ayana yang bergerak nakal di tubuhnya.
"Aku sebenarnya malas ke rumah papa, kak. Aku jadi badmood kalau lihat si butek itu,"sahut Ayana yang malah menempelkan pipinya di punggung Dimas. Dan jangan di tanya, dua bukit kembar milik Ayana pun menempel sempurna di punggung Dimas.
"Si butek? Siapa si butek?"tanya Dimas seraya mengernyitkan keningnya, menoleh ke belakang.
"Mantan pacar kakak itu. Harusnya namanya itu butek, bukan bening. Namanya Bening, tapi otaknya kotor. Sudah punya suami juga masih mencari cara untuk mendekati mantan pacar,"gerutu Ayana dari balik punggung Dimas.
Dimas tersenyum tipis kemudian menarik tangan Ayana lembut, membawa Ayana agar berdiri berhadapan dengan dirinya. Pria itu menangkup kedua pipi Ayana hingga Ayana menatapnya.
"Kamu takut aku tergoda sama dia? Nggak bakalan, Ay. Aku sudah merasakan dikhianati oleh dia. Mana mungkin aku membiarkan dia mendekati aku lagi dan mengulangi kesalahan ku di masa lalu. Percayalah! Hatiku hanya milikmu,"ujar Dimas menatap lekat manik mata Ayana,"Mama sudah melihat keadaan kamu setelah kejadian kemarin. Tapi papa, 'kan belum bertemu dengan kamu, Ay. Walaupun tidak mengatakannya, tapi papa pasti ingin bertemu dengan kamu, Ay,"lanjut Dimas setelah mereka terdiam untuk beberapa saat.
Setelah mengetahui kejadian Ayana yang dihadang di jalan oleh Noval kemarin, Hilda memang menyempatkan diri untuk menengok Ayana walaupun sebentar. Namun Geno yang kakinya belum pulih tidak bisa ikut menengok Ayana.
"Baiklah. Aku akan ikut dengan kakak,"sahut Ayana kembali meraba dada dan perut Dimas.
"Kamu jangan nakal, ya!"ujar Dimas kembali memegang tangan Ayana.
"Ini milikku, 'kan? Kenapa kakak tidak mengijinkan aku memegang dan merabanya. Aku sangat suka merabanya,"ujar Ayana dengan suara manjanya.
"Iya, ini milik kamu. Tapi masalahnya, jika kamu merabanya, kamu akan membangunkan yang di bawah sana,"ucap Dimas seraya menatap pangkal pahanya sendiri sekilas,"Memangnya kamu siap untuk menidurkannya, jika dia bangun?"tanya Dimas menatap Ayana serius.
__ADS_1
"Dia bisa bangun jika aku meraba dada kakak?"tanya Ayana tersenyum penuh arti.
"Mau mencobanya?"tantang Dimas.
Mendengar kata-kata Dimas, Ayana tersenyum miring pada Dimas.
"Brakk"
"Auwh!"pekik Dimas saat tiba-tiba Ayana mendorong dada Dimas dengan kuat, hingga Dimas jatuh terlentang di ranjang.
"Kita lihat! Kakak bohong atau tidak,"ucap Ayana kembali tersenyum miring, langsung mengungkung tubuh Dimas dan mencium bibir Dimas dengan agresif.
Mendapatkan serangan dadakan agresif dari Ayana, Dimas malah dengan senang hati mengimbangi nya. Membalas ciuman Ayana dengan sebelah tangan memeluk tubuh Ayana yang ada di atas tubuhnya sedangkan tangan sebelahnya menyusup di balik baju kaos oblong yang dipakai Ayana. Mulai bergerilya di tubuh Ayana. Ayana pun tidak mau kalah, tangan wanita muda itu juga mulai merayap di tubuh Dimas yang hanya memakai handuk di pinggangnya.
Ayana melepaskan pagutannya untuk mengatur napasnya yang hampir tersengal. Dengan cepat Dimas membalikkan tubuh Ayana.
"Nakal, ya!"ucap Dimas kemudian menciumi leher Ayana, lalu berpindah mencium bibir Ayana.
Jemari Ayana yang nakal pun tidak tinggal diam, merayap di dada dan perut Dimas, bahkan melepaskan handuk yang melilit di pinggang suaminya itu. Meraba sesuatu di bawah sana yang mulai terbangun.
Akhirnya sore itu, sepasang suami-isteri itu pun bergulat di atas ranjang. Suara ******* dan lenguhan pun terdengar di dalam kamar sepasang suami-isteri itu.
Suara dari handphone Toyib yang sedang main game online. Toyib nampak fokus pada layar handphonenya.
"Woi, tolongin woi! Aku di kepung!"ucap Toyib pada teman-teman mainnya.
"Ughh.. Kak.."
Suara lenguhan Ayana membuat Toyib mengernyitkan keningnya.
"Aihh... sepertinya aku harus main game di bawah pohon jambu lagi. Aku selalu lupa untuk mampir ke counter membeli headset,"gumam Toyib menghela napas panjang seraya beranjak dari duduknya, berjalan keluar dari dalam kamarnya.
"Brakk"
"Auwh! Sakit!"pekik Toyib yang kakinya tersandung kaki sofa karena berjalan dengan mata yang fokus pada layar handphonenya.
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam saat Dimas, Toyib dan Ayana makan malam. Rambut Ayana dan Dimas masih terlihat setengah kering saat mereka makan malam bersama. Toyib hanya menghela napas menggelengkan kepalanya pelan menatap sepasang suami-isteri itu.
"Yib, aku dan Ayana akan pergi ke rumah papa Geno. Ada beberapa hal yang harus aku diskusikan dengan papa Geno,"ujar Dimas di tengah-tengah makan malam mereka.
"Kalian akan menginap?"tanya Toyib.
__ADS_1
"Sebenarnya, aku malas menginap di rumah papa, bang. Tapi, kakak bilang, mungkin akan agak lama mendiskusikan soal pekerjaan dengan papa. Jadi kami akan menginap,"sahut Ayana.
"Ya sudah, tidak apa-apa,"sahut Toyib.
Setelah selesai makan malam, Dimas dan Ayana pun segera bersiap untuk pergi ke rumah Geno.
Di rumah Geno, keluarga itu baru saja selesai makan malam.
"Ma, temani papa duduk di teras depan ma,"pinta Geno.
"Kenapa tidak di ruang keluarga saja, pa?"tanya Hilda, karena sebelumnya Geno tidak pernah duduk di teras depan rumah mereka.
"Dimas akan ke sini, ma. Katanya dia punya kabar gembira untuk kita,"ucap Geno antusias.
"Kira-kira berita bahagia apa, pa?"tanya Hilda antusias.
"Papa juga tidak tahu. Papa sangat penasaran,"sahut Geno.
"Ya sudah, ayo mama temani,"ucap Hilda lalu mendorong kursi roda Geno.
"Sayang, apa kamu tidak penasaran, berita bahagia apa yang akan di sampaikan oleh Dimas?"tanya Bening.
"Aku penasaran. Ayo, kita ikuti papa!"ajak Nando. Bening pun mendorong kursi roda Nando mengikuti Hilda.
Waktu sudah menunjukkan hampir pukul delapan malam, tapi Dimas dan Ayana belum juga tiba di rumah Geno.
"Tuan, ada tamu. Orang itu bilang, dia adalah papanya Tuan Noval,"ucap satpam yang berjaga di pintu gerbang rumah Geno.
"Papanya Noval?"gumam Geno seraya mengernyitkan keningnya.
"Untuk apa ayah anak bajingan itu ke sini?"ujar Hilda penuh kebencian.
"Pasti ingin membicarakan soal kasus Noval,"sahut Nando.
"Apa dia ingin berdamai dengan kita? Mungkin dia merasa tidak akan menang. Karena Dimas telah menyewa pengacara terbaik di negeri ini untuk menangani kasus ini,"duga Geno.
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
__ADS_1