SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
246. Ingin Pelukan


__ADS_3

Setelah beberapa jam menunggu, Akhirnya lampu di atas pintu ruangan operasi itu pun padam. Menandakan bahwa operasi telah selesai. Semua orang menatap pintu ruangan operasi itu. Menunggu seseorang keluar dari ruangan itu untuk memberikan kabar tentang berhasil atau tidaknya operasi yang dijalani Dimas.


"Ceklek"


Pintu ruangan operasi itu terbuka, dokter yang selama ini bertanggung jawab untuk merawat Dimas pun keluar di ikuti dokter yang didatangkan Buston dari luar negeri.


"Bagaimana keadaan putra saya, dok?"tanya Buston tidak sabar.


Semua orang yang dari tadi menunggu di depan ruangan operasi itu juga nampak tidak sabar menunggu jawaban dari dokter.


"Operasinya berjalan lancar. Sejauh ini semuanya baik-baik saja. Tapi, kami belum bisa memastikan kapan Tuan Dimas akan sadar. Semua tergantung kehendak dari Tuhan,"sahut dokter yang bertanggung jawab merawat Dimas.


Mendengar jawaban dari dokter itu, semuanya pun bernapas lega. Bahkan Ayana sampai menitikkan air mata karena merasa senang suaminya selamat.


Selesai menjalani operasi, Dimas dipindahkan ke ruangan lain. Ayana masih setia menunggu suaminya itu kembali sadar.


"Aku sangat merindukan kakak,"gumam Ayana dalam hati seraya menggenggam jemari tangan Dimas.


Ayana sangat merindukan saat-saat kebersamaannya dengan Dimas. Rindu bersenda gurau, bermanja-manja pada Dimas dan rindu tidur dalam dekapan suaminya itu.


"Ay, istirahatlah dulu! Biar mama yang menjaga suamimu,"ucap Hilda seraya mengelus kepala Ayana.


"Benar kata mama, Ay. Sebaiknya kamu istirahat. Jangan sampai kamu sakit. Jika kamu sakit, kasihan bayi di dalam kandungan kamu,"timpal Nando.


"Iya,"sahut Ayana seraya mengelus perutnya yang sudah besar. Walaupun masih ingin menunggu Dimas sadar, namun Ayana juga menyadari jika dirinya harus istirahat, agar dirinya dan janin dalam kandungannya tetap sehat.


Ayana baru saja menyelesaikan tugas kampusnya saat waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Semenjak selesai dioperasi tadi siang, Dimas belum juga sadar. Ayana duduk di kursi yang ada di samping ranjang Dimas dan menggenggam jemari tangan Dimas. Sedangkan Hilda nampak duduk di sofa seraya mengecek orderan yang masuk ke butiknya.


"Ma! Tangan jemari tangan kakak bergerak-gerak, ma!"ucap Ayana dengan ekspresi yang sulit diartikan saat merasakan jemari tangan Dimas yang dipegangnya mulai bergerak-gerak.


Ayana nampak senang dan penuh harap suaminya segera sadar. Sedangkan Hilda bergegas menghampiri putrinya dan melihat jemari tangan Dimas benar-benar bergerak-gerak.


"Kak!"panggil Ayana saat melihat bola mata Dimas mulai bergerak-gerak, hingga perlahan mata Dimas mulai terbuka.


"Kak!"panggil Ayana lagi dengan mata yang berkaca-kaca menatap Dimas. Tanpa terasa Ayana menggenggam erat jemari tangan Dimas.

__ADS_1


Melihat mata Dimas yang perlahan terbuka, Hilda pun bergegas menekan tombol untuk memanggil dokter. Dimas nampak masih menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya. Bibir Ayana tersenyum, tapi wajahnya basah oleh air mata.


"Kak!"panggil Ayana lagi, tapi Dimas belum merespon. Dimas memandang Ayana dan Hilda yang tersenyum padanya secara bergantian.


"Kalian.. siapa?"tanya Dimas dengan suara lemah.


Ayana dan Hilda nampak terkejut mendengar pertanyaan Dimas itu. Untuk sesaat ibu dan anak itu saling bertatapan.


"Apa yang terjadi?"tanya dokter yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu.


"Dok, Dimas sudah sadar. Tapi... "


"Tolong menepi dulu! Biar saya periksa keadaan Tuan Dimas,"pinta dokter itu, hingga Ayana dan Hilda pun menjauh dari ranjang Dimas, agar dokter yang datang bersama seorang perawat itu bisa lebih leluasa memeriksa Dimas.


"Keadaan Tuan Dimas sudah membaik. Semuanya normal. Tinggal memulihkan kondisi tubuhnya saja. Nanti akan kita lakukan diterapi, agar otot-otot yang sudah lama tidak digerakkan bisa berfungsi sebagai mestinya,"ujar dokter itu terlihat senang.


"Dok, tapi, tadi Dimas bertanya siapa kami. Apa Dimas.."Hilda menggantung kata-katanya, nampak ragu untuk melanjutkan apa yang ingin dikatakannya.


Mendengar kata-kata Hilda, dokter itu pun menatap Dimas,"Apa Tuan ingat, siapa nama Tuan?"tanya dokter itu.


Dimas terdiam dan tampak sedang mengingat-ingat,"Saya tidak bisa mengingat apapun, dok,"ucap Dimas seraya memegangi kepalanya.


Ayana dan Hilda mendekati Dimas yang menatap keduanya seperti menatap orang asing.


"Kak, nama kakak adalah Dimas. Aku Ayana. Istri kakak. Dan ini, mamaku. Mama Hilda,"ucap Ayana yang sebenarnya ingin menangis saat mengetahui Dimas kehilangan ingatannya, alias amnesia. Namun Ayana tetap berusaha untuk tegar.


Dimas menatap Ayana dan Hilda secara bergantian. Tatapan mata pria itu kemudian tertuju pada perut Ayana yang membesar.


Ayana terdiam saat Dimas menatap perutnya yang membesar. Saat ini, bahkan suaminya tidak bisa mengingat namanya sendiri. Lalu, bagaimana suaminya ini akan mengakui dirinya sebagai istrinya dan bayi yang ada di dalam kandungannya itu adalah anaknya? Itulah yang ada di hati Ayana.


Malam itu semua menjadi hening. Dimas kembali tertidur. Sedangkan Hilda hanya bisa menghela napas berkali-kali melihat putrinya tidur miring membelakangi dirinya.


Semenjak Dimas di operasi dokter yang didatangkan Buston dari luar negeri, Ayana tidak lagi tidur seranjang dengan Dimas. Hingga di ruangan itu ada tiga ranjang. Ranjang tempat Dimas, ranjang Ayana dan satu lagi untuk orang yang menjaga Ayana dan Dimas.


Keesokan harinya, Dimas menjalani pemeriksaan menyeluruh dan melakukan terapi agar tubuhnya yang sudah lama tidak digerakkan itu biasa bergerak normal seperti biasanya.

__ADS_1


Dalam beberapa hari, perkembangan kesehatan Dimas maju dengan pesat. Ayana menunjukkan foto-foto kebersamaan mereka. Ayana juga menceritakan apa saja momen bahagia yang mereka lewati saat mereka bersama. Tapi Dimas tetap tidak bisa mengingat apapun Bahkan Dimas masih terlihat canggung saat bersama dengan Ayana.


"Hari ini Dimas sudah boleh pulang. Papa harap, kalian mau pulang ke rumah papa dan mama. Tapi, mau atau tidak, itu terserah kalian. Papa tidak memaksa,"ucap Buston yang sebenarnya penuh harap Dimas dan Ayana mau menginap di rumahnya.


"Aku terserah pada kakak saja,"ucap Ayana tersenyum tipis menatap Dimas.


"Boleh papa memberi usul. Jika boleh, papa ingin kalian bergantian menginap di rumah papa dan mama serta di rumah kedua orang tuamu, Dim. Kamu sudah sering ke rumah papa dan sering menginap, mungkin kamu bisa sedikit mengingat masa lalumu,"ujar Geno.


"Aku, terserah pada kalian saja,"sahut Dimas.


"Okey, kalau begitu, saya setuju dengan Pak Geno. Dimas dan Ayana lebih baik menginap bergantian di rumah kita berdua. Biar adil,"sahut Buston.


Akhirnya mereka semua setuju Ayana dan Dimas menginap bergantian di rumah Geno dan Buston. Dan sekarang, sepasang suami-isteri itu pun menginap di rumah Buston.


Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Dimas duduk bersandar di headboard ranjang seraya membaca buku tentang bisnis. Ayana perlahan naik ke atas ranjang. Wanita hamil itu perlahan merebahkan tubuhnya. Karena perutnya yang besar, Ayana memang harus hati-hati dalam bergerak, agar tidak menyakiti janin dalam kandungannya. Dimas melirik Ayana yang sudah berbaring. Pria itu pun meletakkan bukunya di atas nakas, lalu menyalakan lampu tidur dan mematikan lampu utama.


Untuk beberapa menit, sepasang suami-isteri itu sama-sama diam. Namun sama-sama belum bisa tidur.


"Kak, bisakah.. kakak memeluk aku?"tanya Ayana ragu dengan suara pelan.


Sudah enam bulan lebih Ayana tidak merasakan pelukan dari Dimas. Bahkan semenjak Dimas sadar, belum sekalipun pria itu memeluk Ayana. Sebagai wanita hamil, tentu saja ingin di manja-manja oleh suaminya. Tapi semenjak tahu dirinya mengandung, hingga saat ini kandungannya sudah tujuh bulan, belum sekalipun Ayana merasakan pelukan suaminya. Jadi wajar bukan, jika Ayana ingin dipeluk oleh suaminya?


"Aku... maaf! Aku belum terbiasa dengan keberadaan kamu,"ucap Dimas jujur adanya.


"Tidak apa-apa. Aku tidak akan memaksa kakak,"ucap Ayana lirih, kemudian berbaring membelakangi Dimas.


Dimas pun berbaring membelakangi Ayana. Pria itu masih merasa canggung tidur seranjang dengan Ayana yang baginya adalah orang asing.


Ayana menangis tanpa suara. Ingin sekali dipeluk suaminya, tapi suaminya malah menolaknya. Kecewa? Tentu saja. Tapi apa daya, tidak mungkin dirinya memaksa Dimas untuk memeluknya bulan?


...๐ŸŒŸSakit itu adalah, saat orang yang kamu cintai dan mencintai mu tiba-tiba melupakan mu."๐ŸŒŸ...


..."Nana 17 Oktober"...


...๐ŸŒธโค๏ธ๐ŸŒธ...

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2