
"Ngomong-ngomong, aku sudah telat dua hari, kak,"ucap Ayana santai.
"Deg"
Dimas yang memeluk Ayana seraya memejamkan matanya pun langsung membuka matanya. Perlahan merenggangkan pelukannya, lalu memegang sebelah pipi Ayana, menatap Ayana lekat.
"Kamu.. kamu sudah telat dua hari?"tanya Dimas dengan wajah yang tidak terbaca.
Dimas bingung, mengekspresikan perasaannya. Dimas akan merasa bahagia, sekaligus takut, jika Ayana benar-benar hamil. Tapi tentu saja, perasaan takut yang lebih mendominasi hatinya, jika Ayana benar-benar hamil.
Melihat ekspresi wajah Dimas, Ayana yang wajahnya masih pucat itu malah tertawa kecil,"Kenapa ekspresi kakak seperti itu? Kakak lucu, deh,"celetuk Ayana tanpa beban.
"Ay, jangan bercanda!"ucap Dimas dengan wajah yang berubah menjadi serius.
"Kak, aku sudah biasa telat datang bulan. Telat dua hari, tiga hari itu sudah biasa. Kakak jangan paranoid gitu, dong!"ujar Ayana kembali terkekeh kecil.
Dimas benar-benar gemas melihat istri kecilnya itu. Sudah sakit juga masih bisa bercanda. Akhirnya Dimas menciumi wajah Ayana karena merasa sangat gemas. Terakhir, Dimas memagut bibir Ayana dengan lembut. Dan tentu saja Ayana membalas ciuman Dimas itu. Dimas melepaskan pagutannya dengan perasaan tidak rela. Menatap lekat manik mata istri kecilnya itu.
"Kenapa? Kakak ingin?"tanya Ayana saat melihat Dimas menatapnya dengan lekat.
"Mana mungkin aku memintamu melayani aku, saat keadaan kamu sakit seperti ini? Aku tidak setega itu padamu, Ay,"ucap Dimas mengecup bibir Ayana beberapa kali.
Dimas membaringkan tubuh Ayana, kemudian ikut berbaring memeluk Ayana yang merebahkan kepalanya di dada Dimas. Keduanya hanya diam tanpa membicarakan apapun lagi. Menikmati kebersamaan yang selama satu bulan ini semakin berkurang karena kesibukan Dimas mengurus perusahaan Geno. Ayana memejamkan matanya memeluk Dimas. Sedangkan Dimas memeluk Ayana seraya mengelus kepala Ayana lembut.
"Tok! Tok! Tok!"
"Dim, makanan nya sudah aku beli,"ujar Toyib setelah mengetuk pintu kamar Ayana dan Dimas.
"Iya,"sahut Dimas,"Kamu ingin makan di mana? Di sini atau di meja makan?"tanya Dimas pada Ayana.
"Di meja makan bareng Abang saja,"sahut Ayana.
"Baiklah,"sahut Dimas, bangkit dari tempatnya berbaring lalu menggendong Ayana.
"Kak, aku masih bisa berjalan,"ucap Ayana.
"Kamu masih lemas, Ay,"sahut Dimas tetap menggendong Ayana.
Sesampainya di ruang makan, keduanya melihat Toyib yang sedang menyajikan makanan.
__ADS_1
"Masih muntah-muntah?"tanya Toyib saat melihat Dimas menggendong Ayana. Toyib baru saja selesai memindahkan bakso yang di belinya ke dalam mangkok.
"Udah enggak lagi, bang. Lebih enakan setelah minum teh tadi,"sahut Ayana.
Dimas mendudukkan Ayana di salah satu kursi. Sedangkan Toyib menyodorkan semangkok bakso di depan Ayana.
"Wahh.. bakso bakwan, ya, bang?"ujar Ayana terlihat bersemangat saat melihat semangkok bakso bakwan di depannya.
"Iya. Abang tahu, kamu suka bakso bakwan. Apalagi bakso sosis,"ujar Toyib kemudian terkekeh, membuat Dimas melotot pada Toyib.
"Auwh!"pekik Toyib saat Dimas menginjak kakinya di bawah meja.
"Abang kenapa?"tanya Ayana mendengar Toyib memekik.
"Di injak semut gede, Ay,"sahut Toyib meringis seraya mengelus kakinya yang baru saja diinjak oleh Dimas.
"Mana ada, diinjak semut sakit. Digigit, bang!"sahut Ayana seraya mulai makan.
"Iya, terserah kamu saja lah!"sahut Toyib melirik Dimas yang juga sudah mulai makan.
"Ngomong-ngomong, kapan aku makan bakso sosis, bang? Emang ada gitu bakso sosis?"tanya Ayana dengan wajah polosnya yang masih pucat.
"Uhuk.. uhuk . uhuk.."
"Pelan-pelan makannya, kak!"ujar Ayana seraya mengelus punggung Dimas yang sedang minum dengan wajah khawatir. Sekilas melirik Toyib yang masih tertawa.
"Makanlah, Ay! Setelah itu istirahat. Satu jam lagi kita pergi ke dokter,"ujar Dimas dengan suara agak pelan, tapi dengan aura yang mendominasi.
"Hum,"sahut Ayana singkat. Ayana tahu benar, jika Dimas sudah mengeluarkan aura mendominasi seperti ini, berarti Ayana harus diam.
Satu jam kemudian, Dimas dan Ayana sudah bersiap-siap untuk pergi ke dokter. Dimas lebih memilih naik taksi online, dari pada naik motor, mengingat Ayana yang kurang enak badan.
Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam, akhirnya sepasang suami-istri itu pun tiba di sebuah klinik. Ayana duduk di kursi tunggu, sedangkan Dimas mendaftar. Setelah selesai mendaftar dan beberapa menit menunggu, akhirnya tiba juga giliran Ayana.
"Silahkan berbaring di brankar!"ujar dokter wanita di dalam ruangan itu, saat Ayana dan Dimas masuk ke dalam ruangan itu. Dimas pun memapah Ayana ke arah brankar dan membantu Ayana berbaring.
"Keluhannya apa?"tanya dokter itu mendekat ke arah Ayana.
"Mual dan muntah, dok,"sahut Dimas, membuat dokter itu mengernyitkan dahinya menatap Ayana yang terlihat masih belia.
__ADS_1
"Sudah menikah?"tanya dokter itu mulai memeriksa tekanan darah Ayana.
"Saya suaminya, dok,"sahut Dimas tanpa ragu.
Mendengar pernyataan Dimas, dokter itu pun menghela napas panjang. Tanpa bertanya apapun lagi, dokter itu memeriksa Ayana. Dimas hanya diam memperhatikan saat dokter itu memeriksa perut Ayana. Beberapa saat kemudian, dokter itupun selesai memeriksa Ayana. Dimas membantu Ayana membenahi bajunya, kemudian memapah Ayana untuk duduk di kursi yang ada di depan meja dokter yang sedang menuliskan resep untuk Ayana.
"Jadi, sakit apa istri saya, dok?"tanya Dimas penasaran sekaligus tegang.
"Hanya kecapekan dan masuk angin saja,"sahut dokter itu, membuat Dimas bernapas lega,"Sudah berapa lama kalian menikah?"tanya dokter itu menatap Dimas dan Ayana bergantian.
"Sekitar empat bulan, dok,"sahut Dimas yang sekarang benar-benar merasa lega.
"Mengingat usia istri anda masih terlalu muda untuk mengandung. Saya sarankan untuk menunda kehamilan. Sangat berisiko jika hamil di usia muda. Tidak akan baik bagi ibu dan juga janinnya,"ujar dokter itu seraya menatap Dimas.
"Iya, dok,"sahut Dimas.
Setelah beberapa menit bicara dengan dokter yang memberikan banyak saran untuk Dimas dan Ayana karena Ayana menikah di usia muda, akhirnya Dimas dan Ayana pun meninggalkan ruangan dokter itu dengan perasaan lega.
"Kenapa para lelaki jaman sekarang suka sekali pada daun muda? Bahkan masih sekolah pun di nikahi. Aku yakin jika istrinya tadi masih sekolah. Dan sepertinya usia mereka terpaut sekitar sepuluh tahunan,"gumam dokter itu setelah Dimas dan Ayana keluar dari ruangannya. Tanpa tahu bagaimana ceritanya sepasang suami-isteri itu bisa menikah.
Sesampainya di rumah, Dimas menemani Ayana untuk beristirahat. Setelah Ayana terlelap Dimas pun keluar dari kamarnya.
"Bagaimana, Dim? Ayana sakit apa?"tanya Toyib saat Dimas masuk ke dalam dapur. Sedari tadi Toyib sudah sangat penasaran.
"Hanya kecapaian dan masuk angin saja,"sahut Dimas.
"Syukurlah! Kasian jika Ayana harus hamil di usianya yang masih muda,"sahut Toyib merasa lega.
"Iya. Aku juga merasa lega,"sahut Dimas.
"Oh, iya, bagaimana perkembangan kasus Noval?"tanya Toyib.
"Masih di proses. Tapi aku pastikan, dia akan mendekam lama di penjara, hingga dia tidak akan bisa menganggu Ayana lagi,"ujar Dimas dengan tatapan mata tajam.
"Tapi, kalau cuma karena kasus penculikan dan pelecehan, dia tidak akan lama mendekam di penjara, Dim. Apalagi orang tuanya kaya, dan dia anak satu-satunya,"ujar Toyib.
"Aku tidak akan membiarkan dia lolos begitu saja. Aku sudah meminta teman lamaku untuk mencari bukti-bukti tindak kejahatannya. Sebentar lagi, usahanya akan hancur dan dia akan membusuk di penjara,"ucap Dimas dengan aura yang terlihat suram, membuat Toyib bergidik menatap Dimas.
...🌸❤️🌸...
__ADS_1
.
To be continued