
Dimas berkeliling kampung untuk menagih cicilan kreditan. Hingga hari beranjak sore dan tagihan Dimas sudah selesai. Dimas berhenti di sebuah warung untuk membeli air mineral dan roti untuk sekedar mengganjal perutnya, sambil mengecek, masih ada atau tidak cicilan konsumen yang belum ditagih nya.
"Bu, ini pakaian ibu,"ucap seorang ibu-ibu berambut keriting pada pemilik warung.
"Oh, iya. Terimakasih, Bu,"sahut pemilik warung menerima pakaian yang sudah dicuci dan di setrika. Kemudian menyerahkan uang lima puluh ribu pada ibu-ibu berambut keriting.
"Saya pengen beli beras, Bu,"ucap wanita berambut keriting tadi.
"Berapa kilo?"tanya pemilik warung itu.
"Dua kilo, saja,"sahut ibu-ibu berambut keriting.
"Bu, beli gulanya sekilo,"ucap seorang ibu-ibu yang baru datang dengan rambut yang di sanggul asal.
"Sebentar. Eh, dengar-dengar, anak dan keponakan Pak Parman kerja di warung pecel lele depan, ya?"tanya pemilik warung pada ibu-ibu yang rambutnya di sanggul asal.
"Iya, Bu. Baru empat hari mereka kerja di warung pecel lele itu, tapi warung pecel lelenya langsung rame. Ibu-ibu tahu, sendiri, 'kan? Anak Pak Parman itu manis, dan keponakan Pak Parman anaknya cantik. Jadi, ya, jadi rame lah, warung pecel lele nya gara-gara dua gadis itu. Mana masih muda lagi. Pokoknya banyak laki-laki yang pada makan di warung pecel lele itu. Sampai pada antri,"sahut ibu-ibu yang rambutnya di sanggul.
Dimas yang tidak sengaja mendengar obrolan ibu-ibu yang sedang bergosip itu pun tampak terkejut.
"𝘼𝙥𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙢𝙖𝙠𝙨𝙪𝙙 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙒𝙪𝙡𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝘼𝙮𝙖𝙣𝙖?"gumam Dimas dalam hati. Berharap bukan istrinya yang sedang di bicarakan oleh ibu-ibu itu. Karena penasaran, Dimas memasang telinga nya baik-baik untuk mendengarkan ibu-ibu yang sedang bergosip itu.
"Eh, tadi saya lihat anak dan keponakan Pak Parman jatuh dari motor. Gara-gara anak-anak yang main kejar-kejaran nyebrang jalan sembarangan. Jadi, anak dan keponakan Pak Parman jatuh dari motor, deh."sahut ibu-ibu berambut keriting.
Dimas yang menguping pembicaraan ibu-ibu itu pun kembali terkejut dan segera menghabiskan roti dan air putih nya.
"Apa mereka terluka?"tanya ibu-ibu yang rambutnya di sanggul asal.
"Anak Pak Parman terluka di siku dan lutut. Kalau keponakan Pak Parman luka di dagu dan kakinya sepertinya terkilir. Soalnya tadi sampai di papah dua orang ibu-ibu,"sahut ibu-ibu berambut keriting.
"Bu, berapa semuanya?"tanya Dimas membuat tiga orang ibu-ibu itu menoleh pada Dimas.
"Air mineral satu botol, sama roti dua, ya?"tanya pemilik warung.
"Iya, Bu,"sahut Dimas.
"Sembilan ribu, nak,"sahut pemilik warung.
"Ini, Bu. Kembaliannya buat ibu saja,"ucap Dimas seraya menyerahkan uang sepuluh ribu lalu bergegas pergi.
"Makasih, nak Dimas,"ucap ibu-ibu pemilik warung itu, tapi Dimas sudah berjalan cepat meninggalkan warung itu.
"Eh, kayak buru-buru sekali nak Dimas itu,"ujar ibu-ibu yang rambutnya di sanggul.
__ADS_1
"Mungkin masih banyak tagihan,"sahut ibu-ibu pemilik warung.
***
Dimas berjalan cepat menuju rumah Pak Parman. Ingin memastikan keadaan gadis SMA yang sudah menjadi istrinya itu.
"Aku harap bukan Ayana yang di bicarakan oleh ibu-ibu itu. Aku tidak rela dia bekerja di warung pecel lele dan menjadi pusat perhatian para mata lelaki,"gumam Dimas semakin mempercepat langkahnya menuju rumah Pak Parman.
Saat sudah tiba di depan rumah Pak Parman, Dimas nampak berhenti sebentar.
"Auwh! Auwh! Auwh! Sakit, nek!"
Dimas mengernyitkan keningnya mendengar suara pekikan Ayana dari dalam rumah Pak Parman.
"Tahan dulu, sebentar lagi selesai,"
"Udah, nek! Sakit banget. Akkh!"
"Sudah! Selesai!"
Dimas menghela napas mendengar suara Ayana dan seorang nenek dari dalam rumah Pak Parman itu. Dimas mengambil handphone dari saku jaketnya, kemudian membuka sebuah aplikasi. Tak berapa lama kemudian, Dimas kembali memasukkan handphone nya ke dalam saku jaketnya, kemudian berjalan menuju pintu rumah Pak Parman.
"Terimakasih, ya, nek,"ucap Bu Lastri pada nenek-nenek yang mengurut kaki Ayana.
"Iya, Nek,"sahut Bu Lastri.
"Assalamu'alaikum!"ucap Dimas membuat dua wanita beda usia itu menoleh.
"Wa'alaikumus salam,"sahut Bu Lastri dan nenek-nenek itu bersamaan.
"Eh, Nak Dimas,"ucap Bu Lastri.
"Ya sudah, nenek pulang dulu,"pamit nenek itu kemudian tersenyum pada Dimas. Dimas pun membalas senyuman nenek itu.
"Iya, nek. Hati-hati di jalan!"pesan Bu Lastri.
"Iya,"sahut nenek itu.
"Nak Dimas, ada apa, ya? Bukannya tanggal cicilan ibu masih lima hari lagi, ya?"tanya Bu Lastri yang merasa belum waktunya dirinya membayar cicilan. Tapi Dimas sudah datang ke rumah nya.
"Iya, Bu. Ibu memang belum waktunya bayar cicilan. Dan saya ke sini bukan buat nagih cicilan. Saya ke sini buat bertemu Ayana. Boleh saya bertemu dengan Ayana, Bu?"pinta Dimas sopan.
"Bertemu dengan Ayana?"tanya Bu Lastri nampak heran saat Dimas meminta ijin untuk bertemu dengan Ayana.
__ADS_1
"Iya, Bu. Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan Ayana,"ucap Dimas dengan wajah serius.
"Ayana tidak bisa jalan, Nak. Nggak bisa keluar dari kamar,"sahut Bu Lastri.
"Bisakah saya menemui Ayana?"tanya Dimas yang nampak mendesak.
"Baiklah. Mari, ibu antar!"ucap Bu Lastri akhirnya mengijinkan Dimas bertemu dengan Ayana. Bu Lastri merasa heran saat Dimas nampak sangat ingin bertemu dengan Ayana.
"Apa masih sakit, Ay?"tanya Wulan yang duduk di samping ranjang menghadap Ayana yang juga duduk di ranjang.
"Sudah mendingan. Tapi nggak tahu kalau dipakai jalan sudah bisa apa belum,"sahut Ayana mengelus pelan pergelangan kaki nya yang terkilir.
"Ay, ada Nak Dimas ingin bertemu dengan kamu,"ucap Bu Lastri membuat kedua gadis itu menatap ke arah pintu. Bu Lastri berjalan masuk ke dalam kamar itu di ikuti Dimas di belakangnya.
Wulan mengernyitkan keningnya menatap Dimas yang masuk ke dalam kamar itu. Merasa heran dengan kedatangan Dimas yang ingin bertemu dengan Ayana.
"Kak.. kak Dimas?"ucap Ayana yang terkejut melihat kedatangan Dimas.
"Aku kemari untuk menjemput kamu,"ucap Dimas, menatap Ayana.
"𝙆𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙠𝙖𝙠 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨 𝙗𝙚𝙧𝙠𝙖𝙩𝙖 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙞𝙩𝙪? 𝘼𝙥𝙖 𝙠𝙖𝙠 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨 𝙞𝙣𝙜𝙞𝙣 𝙒𝙪𝙡𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝙞𝙗𝙪 𝙩𝙖𝙝𝙪 𝙩𝙚𝙣𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙝𝙪𝙗𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙢𝙞?"gumam Ayana dalam hati, menatap Dimas lekat.
"𝘼𝙙𝙖 𝙖𝙥𝙖 𝙞𝙣𝙞? 𝙆𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙨𝙞𝙠𝙖𝙥 𝘼𝙮𝙖𝙣𝙖 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙞𝙩𝙪? 𝙆𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙠𝙖𝙠 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙩𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙗𝙖𝙝𝙬𝙖 𝙙𝙞𝙖 𝙙𝙖𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙠𝙚 𝙨𝙞𝙣𝙞 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙚𝙢𝙥𝙪𝙩 𝘼𝙮𝙖𝙣𝙖?"gumam Wulan dalam hati.
"𝙆𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙉𝙖𝙠 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨 𝙞𝙣𝙜𝙞𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙚𝙢𝙥𝙪𝙩 𝘼𝙮𝙖𝙣𝙖?"gumam Bu Lastri dan hati.
Wulan dan Bu Lastri saling menatap mendengar apa yang dikatakan oleh Dimas.
"A.. aku tidak bisa pulang sekarang, kak. Kakiku terkilir. Aku nggak bisa jalan,"sahut Ayana seraya menundukkan kepalanya.
"𝘼𝙙𝙖 𝙝𝙪𝙗𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙖𝙥𝙖 𝙣𝙖𝙠 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨 𝙙𝙖𝙣 𝘼𝙮𝙖𝙣𝙖?"gumam Bu Lastri dalam hati.
"Lalu, kamu akan tinggal di sini dengan keadaan kamu yang seperti ini? Kamu akan membuat keluarga Pak Parman kerepotan untuk mengurus kamu?"tanya Dimas lembut tapi terasa mengintimidasi.
...🌸❤️🌸...
Kalau sempat, mampir ke novel aku yang baru, ya! Judulnya "Kupu-kupu Malam Tapi Perawan" 🙏🙏🙏🙏🙏
.
.
To be continued
__ADS_1