SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
179. Harta Bukan Segalanya


__ADS_3

Waktu liburan yang di tunggu akhirnya datang juga. Ayana nampak sangat senang. Untuk kedua kalinya, keluarganya kembali liburan bersama. Wanita itu nampak sudah tidak sabar menunggu suaminya pulang. Karena sesuai dengan rencana mereka kemarin, mereka akan berangkat setelah Dimas pulang bekerja. Sangking tidak sabarnya, Ayana bahkan sengaja menunggu Dimas di teras depan rumah.


Setelah menunggu sekitar lima belas menit, sebuah taksi nampak berhenti di depan gerbang rumah kedua orang tua Ayana. Ayana mengernyitkan keningnya saat melihat suaminya malah turun dari taksi itu. Ayana nampak terlihat khawatir dan bergegas berlari kecil menghampiri suaminya.


"Kakak kenapa? Motor kakak mana? Kok, kakak naik taksi?"tanya Ayana saat sudah berada di depan Dimas. Wanita itu memperhatikan tubuh Dimas dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ayana takut terjadi sesuatu pada suaminya itu.


Dimas mengecup pipi Ayana beberapa kali karena merasa gemas dengan tingkah istrinya itu, lalu memegang kedua pundak Ayana yang berdiri menghadap dirinya.


"Ban motor aku bocor, aku telpon bengkel untuk mengambilnya. Lalu aku pulang naik taksi online, karena aku sudah sangat rindu dan tidak sabar untuk bertemu dengan istri kecilku yang sangat menggemaskan ini,"ucap Dimas dengan senyuman di bibirnya, lalu mencubit hidung Ayana gemas.


"Gombal!"sahut Ayana, tapi dengan pipi yang memerah.


"Tapi suka, 'kan, di gombalin?"ucap Dimas masih dengan senyuman di bibirnya, kembali mencubit hidung Ayana.


"Au.. ahh! Ayo, cepat masuk!"ucap ayana menarik lengan Dimas masuk ke dalam rumah.


Bening yang tanpa sengaja melihat kemesraan sepasang suami-isteri itupun mengepalkan kedua tangannya.


"Bagaimana caranya agar aku bisa memisahkan mereka? Aku tidak rela melihat mereka bahagia sedangkan aku tidak. Selama aku tidak bahagia, maka tidak ada yang pantas untuk bahagia. Bagaimana pun caranya, aku akan menghancurkan kebahagiaan kalian,"gumam Bening dengan tatapan tajam dan penuh kebencian pada Ayana.


Sedangkan Nando yang juga tidak sengaja melihat kemesraan Ayana dan Dimas pun hanya tertawa tanpa suara. Menertawakan dirinya sendiri karena dulu menganggap bahwa kebahagiaan itu tergantung dari uang yang dimiliki. Nyatanya, Ayana dan Dimas yang hidup sederhana di rumah kontrakan dan setiap hari makan makanan yang di masak Ayana malah terlihat harmonis dan tetap bahagia.


Sedangkan dirinya yang memanjakan Bening dengan segala yang dimilikinya malah tidak bisa membuat mereka bahagia. Bening yang diberikan fasilitas mewah malah berselingkuh dari dirinya di saat dirinya sangat membutuhkan dukungan dari pasangan hidup. Ternyata, kemewahan tidak bisa membuat Bening mencintai dan setia pada dirinya seperti Ayana yang setia dan mencintai Dimas apa adanya.


Walaupun Dimas hanya berprofesi sebagai sales pakaian keliling dan tinggal di kontrakan sederhana di lingkungan perkampungan yang padat penduduk. Ayana tetap mencintai Dimas dan tidak pernah menuntut apapun selain waktu dari Dimas.


Dari semua yang ditemuinya itu, Nando bisa menarik kesimpulan. Bahwa harta bukanlah segalanya dan tidak bisa menjamin seseorang bisa hidup bahagia.


"Suatu hari nanti, aku ingin menemukan pasangan hidup yang mau menerima aku apa adanya. Dan aku juga akan menerima dia apa adanya. Seperti Dimas dan Ayana,"gumam Nando kemudian menghala napas panjang.


Setelah Dimas selesai membersihkan diri, Ayana dan Dimas pun keluar dari kamar mereka dan berkumpul di ruang keluarga bersama dengan yang lainnya.


"Sepertinya, semuanya sudah siap. Ayo, kita berangkat!"ucap Geno antusias.

__ADS_1


"Dim, Ay, kalian naik mobil bersama kami saja, ya! Nggak usah naik motor!"pinta Hilda.


"Kebetulan, motor kakak juga masih di bengkel, ma,"sahut Ayana.


"Ya, sudah. Cepat suruh supir untuk bersiap-siap,"ucap Geno antusias.


"Kalau boleh, biar aku saja yang mengemudi, pa,"ucap Dimas.


Tanpa disadari semua orang, Bening tersenyum menyeringai mendengar Dimas dan Ayana akan berada satu mobil dengan Geno, Nando dan Hilda. Bahkan Dimas yang akan mengemudikan mobilnya.


"Kamu bisa mengemudi?"tanya Geno yang memang tidak tahu jika Dimas bisa mengemudikan mobil.


"Bisa, pa,"sahut Dimas.


"Kebetulan sekali. Ya, sudah! Ayo kita berangkat!"ajak Hilda semakin antusias.


"Emm.. pa, ma, aku nggak bisa ikut. Tiba-tiba aku merasa kurang enak badan,"ucap Bening seraya memijit bahunya sendiri.


"Ya, sudah. Kalau begitu, kamu istirahat saja di rumah!"ucap Hilda.


Akhirnya Geno, Hilda, Nando, Ayana dan Dimas berangkat menuju hotel yang sudah mereka reservasi dengan hati yang bahagia. Walaupun kamar yang sudah di siapkan untuk Bening jadi tidak terpakai karena Bening tidak jadi ikut.


Bening menatap lima orang yang terlihat semakin bahagia karena dirinya tidak jadi ikut pergi itu.


"Nikmati saja kebahagiaan kalian yang tidak akan lama lagi itu! Karena sebentar lagi, kalian akan segera bertemu dengan malaikat maut,"ucap Bening dengan senyuman yang lebih mirip seringai.


Bening berjalan menuju kamarnya dan segera mengganti pakaiannya. Wanita itu nampak sangat bersemangat.


"Sebentar lagi, aku akan menjadi orang kaya. Menjadi nyonya di rumah ini. Akan aku lenyapkan mereka semua. Orang-orang yang tidak pernah menganggap keberadaan ku harus di lenyapkan dari dunia ini,"gumam Bening dengan senyuman liciknya.


"Mama senang sekali karena perempuan itu tidak ikut bersama kita,"ujar Hilda setelah mereka berada di dalam mobil.


"Aku juga senang, ma. Aku sangat tidak suka saat melihat perempuan itu melihat kak Dimas. Bahkan dia terang-terangan menatap kak Dimas, seolah kita semua tidak terlihat oleh dia. Atau mungkin, dia menganggap kita tidak ada,"sahut Ayana yang duduk di sebelah Dimas yang sedang mengemudi.

__ADS_1


"Papa benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran perempuan itu. Dimas jatuh miskin ditinggalkan oleh dia. Lalu menikah dengan Nando sudah dicukupi semua kebutuhannya. Bahkan sangat di manjakan oleh Nando. Tapi malah masih ingin berselingkuh dengan Dimas. Papa benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran Bening,"sahut Geno menghela napas panjang.


"Aku senang sekali karena tidak harus melihat wajahnya yang membuat aku merasa jijik dan muak itu,"ucap Nando yang duduk di belakang kursi pengemudi, di samping Hilda yang duduk di apit Nando dan Geno.


"Kak Nando, kata kak Dimas, kakak mau melanjutkan kuliah di luar negeri, ya?"tanya Ayana seraya menoleh ke belakang menatap Nando.


Mendengar pertanyaan Ayana, Hilda dan Geno pun langsung menoleh kepada Nando dengan perasaan penasaran.


"Ay, ini waktu yang tidak tepat untuk membicarakan tentang hal itu. Kita sedang dalam perjalanan,"ujar Dimas dengan tatapan mata fokus ke arah jalan raya,"Maaf, kak! Aku dan Ayana sepakat bahwa kami tidak akan saling menyembunyikan apapun dan saling terbuka. Jadi aku memberitahu Ayana soal pembicaraan kita waktu itu. Dan maaf, jika Ayana menanyakan hal ini di waktu yang kurang tepat,"ujar Dimas yang merasa tidak enak hati pada Nando.


"Tidak apa-apa. Aku salut dengan komitmen kalian berdua,"sahut Nando yang nampak tidak mempermasalahkan Ayana yang bertanya sekarang ataupun Dimas yang telah menceritakan pembicaraan mereka waktu itu pada Ayana.


"Jadi, apa benar, kamu ingin melanjutkan pendidikan di luar negeri, Nan?"tanya Hilda yang juga merupakan pertanyaan Geno.


"Aku baru berencana, ma, pa. Aku memang ingin membicarakan hal ini dengan kalian. Aku ingin menjauh dari Bening. Seperti yang aku katakan pada Dimas malam itu, melihat dia, membuat aku merasa muak dan hatiku semakin sakit. Aku merasa harga diriku di injak-injak olehnya. Aku memang salah karena tidak bisa memberinya nafkah batin hingga dia mencari kepuasan di luar sana. Tapi aku benar-benar jijik padanya dan tidak ingin lagi bersamanya. Jika dia tidak mengancam membunuh anak itu, sudah lama aku menendangnya dari rumah ini dan dari hidupku,"jawab Nando persis sama dengan yang dikatakan Nando pada Dimas waktu itu.


"Jika kamu merasa itu yang terbaik bagimu, papa setuju,"sahut Geno.


"Mama juga. Mama mendukung keputusan kamu,"imbuh Hilda.


"Aku juga mendukung kakak,"sahut Ayana antusias.


"Awas!"


"Tiiinnnn...."


"Brak"


...🌟"Bahagia itu tidak tergantung dari berapa banyak harta yang kita punya. Karena harta tidak bisa menjamin hidup kita pasti bahagia."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2