SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
97. Saringan


__ADS_3

Pagi itu, Dimas sedang bersiap mengantarkan Ayana ke sekolah seperti biasanya. Namun kali ini lebih pagi dari biasanya, karena Dimas harus pergi ke perusahaan Geno. Pagi ini, Dimas memakai celana panjang dari bahan kain berwarna hitam dengan stelan kemeja berwarna putih, dasi dan jas berwarna hitam. Rambut Dimas yang biasanya tidak pernah diminyaki, sekarang diminyaki dan di sisir rapi ke belakang. Menampilkan kesan dewasa, berkarisma, dan wibawa yang begitu mendominasi. Sangat berbeda dengan penampilan Dimas biasanya yang selalu berpenampilan kasual.


Dimas menatap dirinya sendiri di depan cermin. Sudah lama dirinya tidak berpenampilan seperti ini. Dimas menyangka, dirinya tidak akan pernah lagi berpenampilan seperti ini. Untung saja Dimas masih menyimpan semua pakaian kantornya dulu. Dan tentunya harga persatu stel nya tidaklah murah, mengingat jabatan Dimas waktu itu adalah COO (Chief Operating Officer).


Dimas keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ruangan makan, dimana Ayana dan Toyib sudah menunggunya untuk sarapan.


"I.. ini kamu, 'kan, Dim?"tanya Toyib saat melihat Dimas dengan penampilan yang belum pernah dilihatnya. Sedangkan Ayana yang baru saja mengambilkan makanan untuk Toyib pun nampak terpesona dengan penampilan Dimas yang semakin tampan.


"Memangnya kalau bukan aku siapa lagi?"sahut Dimas kemudian duduk di salah satu kursi di meja makan.


"Kakak tidak berniat menarik perhatian para karyawati di kantor papa, 'kan?"tanya Ayana dengan wajah cemberut. Ayana menjadi tidak ikhlas Dimas pergi ke perusahaan papanya. Berpenampilan biasa saja sudah banyak yang menggoda Dimas, apalagi jika berpenampilan seperti saat ini.


"Aku di sana untuk menggantikan papa sementara waktu, Ay. Setelah itu aku akan bekerja seperti biasanya,"sahut Dimas.


"Cie.. cie.. ada yang was-was bercampur cemburu, nih!"ledek Toyib.


"Abang! Nggak lucu, tahu!"ketus Ayana menampilkan wajah cemberut dengan suara yang terdengar manja, membuat Dimas dan Toyib menjadi gemas.


"Sudah, ayo sarapan! Aku harus ke perusahaan papa agak pagi, Ay. Soalnya aku belum pernah ke perusahaan papa sama sekali. Nggak usah khawatir! Aku ingat, kok, kalau di rumah punya istri. Cantik lagi,"ujar Dimas menenangkan dan sedikit merayu.


"Dan mungkin juga masih perawan,"gumam Toyib yang masih bisa didengar Dimas dan Ayana. Pria itu nampak mengulum senyum.


"Apaan, sih, bang!"ketus Ayana merasa malu.


"Kebiasaan, deh, mulutnya. Kalau ngomong nggak di saring dulu,"gerutu Dimas.

__ADS_1


"Memangnya dari omongan aku ada santen nya apa? Pakai di saring segala,"sahut Toyib.


"Bukan santen, tapi pasir. Makanya otak dan omongan kamu ngeres melulu,"balas Dimas.


"Haiss... kayak kalian berdua enggak aja. Kalian berdua pasti lebih parah dari aku. Bukan cuma otaknya yang ngeres, tapi tangan, bibir dan lidah kalian itu pasti setiap hari praktek yang ngeres- ngeres,"balas Toyib santai.


"Haiss.. sudahlah! Ngomong sama kamu itu nggak ada habisnya,"sahut Dimas mulai menyantap makanan yang sudah diambilkan Ayana. Sedangkan Toyib malah tertawa.


Setelah sarapan, Dimas pun mengantarkan Ayana ke sekolah. Beberapa menit kemudian, motor Dimas pun sudah berhenti di depan gerbang sekolah Ayana. Ayana nampak enggan untuk turun dari motor Dimas.


"Ay! Sudah sampai, Ay,"ujar Dimas karena Ayana tidak kunjung turun dari boncengannya.


Dengan malas-malasan, Ayana turun dari motor Dimas. Dimas membantu melepaskan helm yang dipakai Ayana. Seperti biasanya, Dimas juga merapikan rambut Ayana.


"Sudah! Jangan cemberut seperti itu! Aku janji nggak akan macam-macam,"ujar Dimas yang menjadi gemas pada Ayana. Walaupun gadis itu memakai masker, tapi Dimas yakin jika istri kecilnya itu pasti sedang cemberut.


"Tidak akan,"sahut Dimas.


"Awas kalau bohong!"ancam Ayana.


"Aku nggak bakalan bohong, Ay! Ya sudah aku ke kantor papa, ya?"pamit Dimas seraya mengelus kepala Ayana. Ingin rasanya Dimas melepaskan helm nya dan mencium istrinya itu.


"Hum,"sahut Ayana.


Dimas melajukan motornya meninggalkan sekolah Ayana menuju perusahaan Geno. Sedangkan Ayana menatap Dimas yang semakin menjauh dengan tatapan tidak rela. Setelah Dimas menghilang dari pandangannya, Ayana baru beranjak masuk ke sekolah nya.

__ADS_1


Setelah beberapa menit melajukan motornya dari sekolah Ayana, akhirnya Dimas sampai di perusahaan Geno. Security yang berjaga di gerbang masuk perusahaan itu pun mempersilahkan Dimas masuk, setelah Dimas mengatakan siapa namanya. Adit sudah memberitahu security yang berjaga di depan agar membiarkan orang yang bernama Dimas masuk ke gedung itu.


Dimas memarkirkan motornya, lalu melepaskan helm, serta jaketnya. Karena suasana yang masih agak pagi, belum banyak karyawan yang datang. Adit nampak sudah menunggu di depan pintu masuk gedung yang menjulang tinggi itu.


"Selamat pagi, Pak Adit!"sapa Dimas yang melihat Pak Adit terdiam menatapnya.


"Se.. selamat, pagi, Tuan! Maaf, saya sampai pangling melihat, Tuan. Hari ini, Tuan terlihat sangat berbeda dari kemarin,"ujar Adit jujur adanya. Pria paruh baya itu sedikit menunduk memberi hormat pada Dimas.


"Bapak bisa saja,"sahut Dimas tersenyum tipis.


Kehadiran Dimas di perusahaan itupun menjadi pusat perhatian semua orang yang sudah datang ke perusahaan itu. Bukan hanya karena wajah tampan dan tubuh Dimas yang terlihat profesional dan gagah, tapi juga karena Adit yang notabene adalah orang kepercayaan Geno, secara langsung menyambut kedatangan Dimas, bahkan Adit nampak sangat menghormati Dimas.


Adit membawa Dimas ke ruangan Geno dan menjelaskan apa saja yang akan menjadi pekerjaan Dimas. Adit nampak senang karena Dimas dengan cepat bisa mengerti. Setelah jam kantor dimulai, Adit pun memperkenalkan Dimas pada orang-orang penting di perusahaan itu. Pembawaan Dimas yang tenang, dengan aura yang berkarisma dan berwibawa membuat para karyawan Geno menjadi sungkan sekaligus hormat pada Dimas. Aura pemimpin begitu terpancar dari wajah pria muda itu.


Pagi itu, Dimas mengumpulkan semua kepala divisi, lalu mengadakan meeting dengan mereka terkait produk yang akan diluncurkan. Meminta mereka memberikan laporan kinerja mereka selama satu bulan kebelakang. Memberikan tugas pada semua orang sesuai bidangnya. Dimas juga meminta mereka yang ada di ruangan meeting itu untuk memberikan saran dan juga kritikan. Memberikan kebebasan pada semua yang hadir untuk berpendapat. Dimas tidak bersikap keras dan dingin seperti kebanyakan CEO pada umumnya. Pria itu bersikap ramah, tapi tegas dan berwibawa. Semua bawahannya tidak merasa takut pada Dimas, tapi merasa segan dan hormat.


Tidak ada yang keluar dari ruangan meeting dengan wajah pucat karena ketakutan. Tidak ada pula yang wajahnya kusut ataupun tertekan. Dimas tidak memarahi orang yang melakukan kesalahan dalam bekerja, tapi mengatakan lebih detail tentang apa kesalahan mereka dan berikan gambaran untuk memperbaikinya. Karena itu, mereka jadi tidak merasa tertekan dengan tugas yang diberikan oleh Dimas. Bahkan bertambah respect pada pria muda itu.


Notebook :


Divisi atau Departemen adalah bagian yang dipimpin oleh kepala divisi (atau disebut juga kepala departemen) yang memiliki tugas untuk memimpin bidang tugas dari departemennya. Ada berbagai departemen atau divisi yang ada di sebuah struktur organisasi perusahaan sesuai dengan karakteristik perusahaan.


...🌸❤️🌸...


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2