
Dimas, Toyib dan Diky sudah duduk di tempat mereka masing-masing. Seperti biasa, Ayana mengambilkan nasi untuk ke tiga pria itu.
"Tok! Tok! Tok!"
Suara ketukan di pintu utama membuat keempat orang di dalam ruangan makan itu saling memandang. Seolah saling bertanya, siapakah orang yang bertamu ke rumah mereka itu.
"Biar aku saja yang lihat ke depan,"ucap Diky langsung beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu utama.
"Siapa yang datang, ya, Dim?"tanya Toyib karena jarang ada yang bertamu ke rumah mereka.
"Mana aku tahu. Oh, iya, nanti Diky suruh laporan ke RT, bilang kalau dia bakal tinggal di sini,"ujar Dimas.
"Iya, benar. Diky belum laporan ke RT,"sahut Toyib.
Sedangkan di depan, Diky membuka pintu dan melihat seorang wanita paruh baya yang berpakaian modis dan terlihat masih cantik berdiri di depan pintu itu. Wanita itu nampak mengernyitkan keningnya menatap Diky.
"Maaf, ibu cari siapa, ya?"tanya Diky sopan.
"Saya mencari Dimas,"sahut wanita paruh baya itu yang tidak lain adalah Hilda. Hilda nampak bingung saat melihat yang membukakan pintu rumah itu bukan Dimas, Ayana atau Toyib.
"𝘼𝙠𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙧𝙪𝙢𝙖𝙝, '𝙠𝙖𝙣? 𝙋𝙚𝙧𝙖𝙨𝙖𝙖𝙣, 𝙧𝙪𝙢𝙖𝙝𝙣𝙮𝙖 𝙗𝙚𝙣𝙚𝙧𝙖𝙣 𝙞𝙣𝙞, 𝙙𝙚𝙝! 𝙏𝙖𝙥𝙞, 𝙨𝙞𝙖𝙥𝙖 𝙥𝙚𝙢𝙪𝙙𝙖 𝙞𝙣𝙞? 𝘼𝙠𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙥𝙚𝙧𝙣𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙡𝙞𝙝𝙖𝙩 𝙙𝙞𝙖 𝙨𝙚𝙗𝙚𝙡𝙪𝙢𝙣𝙮𝙖,"gumam Hilda dalam hati.
Melihat penampilan Diky yang hanya memakai kaos oblong, dan celana pendek, Hilda menjadi bingung. Karena penampilan Diky tidak seperti seorang tamu. Tapi seperti orang yang tinggal di rumah itu. Sedangkan setahu Hilda, hanya Toyib yang tinggal bersama Dimas dan Ayana.
"Ohh.. mencari Dimas? Mari masuk, Bu! Silahkan duduk! Akan saya panggilkan orangnya,"ucap Diky mempersilahkan Hilda.
"Terimakasih,"ucap Hilda ikut masuk, lalu duduk di sofa. Sedangkan Diky bergegas kembali ke ruangan makan.
"Siapa perempuan itu? Dia masih terlihat cantik walaupun sudah berusia paruh baya. Apa hubungannya dengan Dimas? Jangan bilang, dia adalah Tante-tante girang yang suka mencari pemuda tampan! Hiiii..."gumam Diky bergidik ngeri memikirkan Dimas menjadi simpanan Tante-tante girang.
"Siapa, Dik?"tanya Toyib saat melihat Diky masuk ke ruangan makan. Belum ada yang mulai makan karena masih menunggu Diky.
__ADS_1
"Ada perempuan cantik yang nyariin Dimas,"ucap Diky membuat Dimas mengernyitkan keningnya.
Semua orang menatap Dimas. Diky menatap Dimas dengan perasaan penasaran. Toyib menatap Dimas penuh rasa curiga. Sedangkan Ayana, raut wajah Ayana sudah berubah menjadi suram. Menatap Dimas dengan aura yang terasa dingin. Dimas yang ditatap semua orang di ruangan itu dengan berbagai macam ekspresi itu pun menjadi salah tingkah.
"Kenapa kalian menatap aku seperti itu?"tanya Dimas pada ketiga orang yang menatapnya itu.
"Kamu tidak menyelingkuhi adikku, 'kan?"tanya Toyib seraya memicingkan sebelah matanya.
"Kakak jangan macam-macam, ya?!"ucap Ayana dengan wajah garang.
"Kalian jangan berpikir yang macam-macam!Aku akan melihat siapa orang itu,"sahut Dimas bergegas beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ruangan tamu. Ayana pun mengekor di belakang Dimas. Begitu pula dengan Toyib dan Diky.
"Mama? Ada apa mama datang ke sini malam-malam begini? Apa terjadi sesuatu?"tanya Dimas terlihat cemas begitu melihat Hilda. Pria itu bergegas menghampiri Hilda, menyalaminya dan mencium punggung tangan Hilda.
Ayana dan Toyib bernapas lega saat melihat siapa yang datang. Ayana dan Toyib pun ikut menyalami dan mencium punggung tangan Hilda. Sedangkan Diky mengernyitkan keningnya karena tidak tahu siapa perempuan yang menjadi tamu mereka itu. Apalagi saat Dimas, Ayana dan Toyib nampak sangat menghormati wanita yang dipanggil Dimas mama itu. Karena seingat Diky, orang tua Dimas sudah meninggal. Namun karena semua orang menyalami dan mencium tangan Hilda, mau tidak mau, Diky pun melakukan hal yang sama.
"Tidak apa-apa. Mama tadi baru saja pulang dari arisan. Dan tempatnya melewati daerah kalian ini. Jadi mama berinisiatif mampir ke sini,"sahut Hilda seraya tersenyum tipis..
"Ini siapa, ya? Kok mama tidak pernah melihat dia sebelumnya?"tanya Hilda menatap ke arah Diky. Dari tadi Hilda sudah penasaran dengan Diky.
"Ini teman aku, ma. Dia adalah detektif yang aku minta untuk menyelidiki Noval kemarin,"sahut Dimas.
"Apa? Jadi dia detektif terkenal yang tidak mau menunjukkan diri itu?"tanya Hilda yang nampak terkejut.
Ya, selama ini, Diky memang tidak pernah menunjukkan diri ke publik. Kalaupun harus bicara di depan publik, Diky selalu mewakilkannya pada asisten nya. Diky tidak ingin wajahnya dikenali banyak orang. Pemuda itu merasa jika banyak orang yang mengenalinya akan membuat pergerakannya dalam menyelidiki kasus menjadi kurang leluasa.
"Iya, ma,"sahut Dimas. Sedangkan Diky hanya tersenyum tipis pada Hilda.
"Wahh.. mama tidak menyangka bisa bertemu dengan detektif terkenal yang misterius itu. Mama beruntung sekali,"ujar Hilda yang nampak kagum.
"Ah, Tante bisa aja,"sahut Diky tersenyum tipis.
__ADS_1
"Mama pasti belum makan, 'kan? Kebetulan kami baru mau makan malam. Ayo masuk, kita makan malam bersama!"ajak Ayana mengalihkan pembicaraan.
"Wahh.. kebetulan mama memang belum makan,"sahut Hilda tersenyum cerah.
"Ya sudah, ayo, kita ke ruangan makan, Tan!"ajak Toyib.
Akhirnya Dimas Toyib, Diky dan Hilda pun duduk mengitari meja makan itu. Hilda tersenyum melihat menu masakan yang tersaji di atas meja makan itu.
"Aku akan mengambil piring untuk mama,"ujar Ayana bergegas menuju dapur.
"Ngomong-ngomong, nak Diky tinggal di sini, juga?"tanya Hilda yang dari tadi sudah penasaran karena melihat Diky yang memakai baju rumahan.
"Iya, ma. Diky ini anak yatim piatu, dan tidak memiliki saudara di kota ini. Mulai kemarin, dia tinggal di sini,"sahut Dimas.
"Ohh.. begitu,"sahut Hilda seraya mengangguk angguk kecil.
Akhirnya malam itu Hilda makan bersama di rumah anak dan menantunya. Mereka mengobrol di sela-sela makan mereka. Hangat. Itulah yang dirasakan oleh Diky dan Hilda saat makan malam bersama dengan Dimas, Ayana dan Toyib. Beberapa menit kemudian, makan malam pun selesai. Mereka duduk di ruang keluarga untuk mencerna makanan yang baru saja masuk ke dalam perut mereka.
"Ay, mama benar-benar minta maaf. Mama dulu memaksa kamu untuk menjalin hubungan dengan Noval, Mama tidak menyangka, jika Noval dan papanya itu adalah seorang kriminal. Mama benar-benar menyesal,"ucap Hilda yang semakin merasa bersalah jika mengingat dulu pernah memaksa Ayana untuk menjalin hubungan dengan Noval. Apalagi setelah hari ini mengetahui siapa sebenarnya Noval dan ayahnya Noval.
"Mama tidak perlu merasa bersalah seperti itu. Semua ada hikmahnya. Jika malam itu mama tidak memaksa aku untuk pergi dengan Noval, aku mungkin tidak akan di tolong kak Dimas. Dan kak Dimas tidak akan menjadi suamiku,"ujar Ayana tersenyum tipis. Duduk menempel pada Dimas seraya memeluk lengan Dimas seperti biasanya.
"Kamu semakin dewasa, Ay. Terimalah, Dim! Kamu sudah mendidik Ayana dengan baik. Maafkan mama yang selama ini selalu menghina dan merendahkan kamu. Mama benar-benar minta maaf,"ucap Hilda tulus.
"Aku sudah memaafkan mama sebelum mama meminta maaf padaku. Aku mengerti, sebagai orang tua, mama pasti ingin putri mama bahagia dan hidup berkecukupan. Tidak ingin putri mama hidup menderita. Itu hal yang lumrah, ma. Jika aku nanti sudah memiliki putri yang sudah dewasa, aku pasti juga berpikir seperti itu,"sahut Dimas yang memang tidak pernah merasa marah, benci, apalagi dendam pada ibu mertuanya itu.
"Terimakasih, Dim!"ucap Hilda tulus.
...🌸❤️🌸...
.
__ADS_1
To be continued