
Axell mengendarai mobilnya meninggalkan tempat dirinya bertemu dengan kliennya tadi. Namun lalu lintas siang itu lumayan padat. Sehingga perjalanan pun semakin lambat.
"Huff.. Cuaca panas begini, lalu lintas malah padat merayap. Sepertinya aku lebih baik mencari alternatif jalan lainnya,"gumam Axell, kemudian mulai melihat google map di handphonenya.
"Lewat jalan itu lumayan jauh. Tapi, tidak terlalu ramai kendaraan dan kebanyakan yang lewat adalah truk. Lewat jalan itu ajalah, dari pada di sini padat merayap. Walaupun sedikit memutar dan lumayan jauh, tapi lebih baik dari pada lewat sini yang akan memakan waktu lama,"gumam Axell, kemudian berbelok ke arah jalan yang akan dilaluinya.
"Sepertinya pohon-pohon di tepi jalan ini dari di tebang dan di ganti dengan yang baru. Pohon-pohon itu belum terlalu besar dan tinggi,"gumam Axell setelah sekitar lima belas menit berkendara di jalan itu. Hingga pandangan matanya tertuju pada seorang wanita yang memakai celana panjang, jaket dan helm. Wanita itu ditarik seorang pria yang memakai kemeja berlengan pendek ke arah sebuah mobil. Melihat hal itu, Axell pun mengurangi kecepatan mobilnya.
"Kenapa mereka? Apa pasangan yang lagi berantem? Tapi kok, narik-narik cewek kayak gitu?"gumam Axell, kemudian menepikan mobilnya dan menghampiri dua orang yang disangkanya adalah pasangan yang sedang bertengkar itu.
"Lepaskan! Lepaskan aku!"bentak Rengganis masih berusaha untuk melepaskan tangan Tony yang memegang pergelangan tangannya erat sambil terus menarik Rengganis ke arah mobilnya. Sedangkan Rengganis masih terus berusaha melepaskan diri dari Tony.
"Lepaskan dia!"ucap Axell berjalan cepat ke arah Rengganis dan Tony.
"Siapa lu? Nggak usah ikut campur urusan orang!"sergah Tony yang merasa tidak suka dengan kehadiran Axell.
"Kak, tolong, kak! Dia ingin berbuat jahat sama aku!"pinta Rengganis dengan ekspresi yang bercampur aduk. Ada ekspresi takut pada Tony, senang dan penuh harap melihat kehadiran Axell. Ingin Axell membantu dirinya agar lepas dari Tony.
"Lepaskan dia! Apa kamu tidak malu memperlakukan seorang gadis seperti itu!"sergah Axell.
"Pergi sana! Tidak usah ikut campur dengan urusan ku sama cewek ku!"ketus Tony.
"Dia bukan pacar aku, kak! Dia ingin berbuat jahat pada ku. Tolong aku, kak!"ucap Rengganis dengan wajah memelas.
"Walaupun dia adalah cewek kamu, tapi kamu tidak boleh memperlakukan dia kasar seperti itu,"ujar Axell.
"Banyak bacot!"sergah Tony langsung mendorong tubuh Rengganis.
"Brugk"
"Akkhh!"pekik Rengganis yang terduduk di aspal karena di dorong Tony yang merasa emosi pada Rengganis sekaligus Axell.
"Hei! Jangan kasar!"bentak Axell yang tidak sempat menangkap tubuh Rengganis.
"Bugh"
"Bugh"
"Bugh"
Tony langsung menyerang Axell. Meninju Axell, tapi dengan mudah Axell bisa menghindari serangan Tony. Saat Tony ingin menunju wajah Axell, Axell bisa menghindar dan malah Axell yang berhasil menunju wajah Tony. Saat Tony mengarahkan tinju ke perut Axell, lagi-lagi Axell bisa menghindar dan membalas, meninju perut Tony. Tony terus menyerang Axell. Karena sangat emosi, serangan Tony pun dengan mudah bisa di tangkis dan dihindari Axell. Bahkan Axell memberikannya beberapa bogeman di wajah, dan perut Tony.
__ADS_1
"Brukk"
Tony akhirnya terjatuh di aspal setelah berulang kali mendapatkan pukulan dari Axell. Namun tidak sekalipun Tony berhasil memukul Axell. Axell langsung menginjak dada Tony yang jatuh terlentang di aspal.
"Pergi dari sini, sebelum aku membuat kamu tidak bisa bangun lagi!"ancam Axell kemudian menyingkirkan kakinya dari dada Tony.
"Awas saja kamu! Aku akan membalas kamu!" ancam Tony beranjak untuk bangun kemudian dengan tertatih berjalan menuju mobilnya.
"Siapa takut? Aku tunggu pembalasan kamu. Kamu hanya laki-laki pecundang yang beraninya menganiaya perempuan"tantang Axell.
"Akan aku buat kamu menyesal karena telah membuat aku babak belur seperti ini,"gumam Tony dalam hati menoleh ke arah Axell penuh rasa benci.
"Apa lihat-lihat?! Mau aku hajar lagi?!"sergah Axell yang melihat Tony menoleh ke arahnya dengan kilatan mata penuh kebencian.
Tony masuk ke mobilnya, lalu menoleh ke belakang, melihat ke arah mobil Axell. Tony mencatat plat mobil Axell, lalu melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu dengan badan yang terasa remuk karena di hajar Axell.
"Kamu baik-baik saja?"tanya Axell menatap Rengganis.
"Iya. Terimakasih banyak, kak!"ucap Rengganis tulus.
"Tidak perlu sungkan! Sesama manusia harus saling menolong bukan? Maaf, kalau boleh, aku ingin menanyakan hal yang agak pribadi. Apa tadi adalah pacar kamu?"tanya Axell. Tidak enak hati, tapi penasaran.
"Ohh... gitu? Dasar pria brengseek. Dia memang pantas di hajar"ujar Axell seraya melihat ban motor Rengganis yang dua-duanya kempes.
"Iya,"sahut Rengganis singkat.
"Kamu sudah menelpon bengkel?"tanya Axell seraya mengutak-atik handphonenya memesan taksi online.
"Sudah, kak,"
"Sambil menunggu orang bengkel ke sini, kita berteduh di mobil aku aja, yuk!"ajak Axell yang merasakan teriknya matahari.
"Nggak usah, kak. Terimakasih! Aku di sini saja,"ucap Rengganis cepat.
"Jangan takut! Aku tidak akan berbuat yang macam-macam. Aku duduk di kursi penumpang bagian depan dan kamu di kursi penumpang bagian belakang. Kita buka pintu mobilnya, biar kamu percaya kalau aku nggak ada niat lain sama kamu,"ucap Axell yang mengerti kalau Rengganis pasti trauma karena kejadian tadi.
"Baiklah,"sahut Rengganis.
Akhirnya Rengganis mengikuti Axell, melangkah menuju mobil Axell. Axell membuka pintu mobilnya, bagian depan dan belakang. Mereka duduk di dalam mobil dengan pintu yang tetap di buka.
"Oh, ya, nama kamu siapa?"tanya Axell seraya mengambil dua botol air mineral.
__ADS_1
"Rengganis, kak,"
"Nama yang bagus. Aku Axell. Ini, minumlah! Kamu pasti haus, 'kan?"ucap Axell seraya mengulurkan sebotol air mineral pada Rengganis. Tapi, Rengganis nampak ragu untuk mengambilnya.
"Jangan khawatir! Aku tidak memasukkan apapun kok, dalam minuman ini. Lihatlah, ini masih di segel,"ucap Axell yang mengerti kenapa Rengganis nampak ragu untuk menerima sebotol air mineral yang di sodorkan nya.
"Terimakasih, kak!"ucap Rengganis menerima air mineral itu. Rengganis memang sebenarnya haus.
"Kamu dari mana?"tanya Axell setelah meneguk air dalam kemasan botol itu hampir habis.
"Dari kuliah, kak,"sahut Rengganis seraya menutup botol air mineral yang isinya tinggal setengahnya saja.
"Ohh.. kuliah. Yang tadi itu teman kuliah kamu?"tanya Axell seraya membuka jas nya, lalu membuka tiga kancing kemeja bagian atasnya karena merasa panas dan berkeringat setelah menghajar Tony tadi.
"Dia kakak tingkat ku, kak,"
"Ohhh.. gitu. Ehh.. itu sepertinya orang bengkel, deh,"ucap Axell melihat dua orang berseragam dengan logo salah satu merk motor terkenal di negeri ini.
"Ahh, iya, kak,"sahut Rengganis bergegas menghampiri dua orang berseragam itu. Rengganis menyerahkan kunci motornya pada salah satu dari kedua orang itu setelah yang satunya mencatat nama dan alamat Rengganis dan memberikan secarik nota pada Rengganis sebagai tanda bukti Rengganis untuk mengambil motornya nanti. Karena kalau pihak bengkel yang mengantar ke rumahnya, maka biayanya akan semakin mahal.
"Nis, itu taksi yang sudah aku pesankan buat kamu,"ucap Axell saat melihat taksi yang dipesannya sudah datang bertepatan dengan dua orang dari bengkel tadi membawa motor Rengganis.
"Terimakasih, banyak, kak!"ucap Rengganis. Padahal dalam hatinya,"Mampus! Habislah uang jajan pemberian ibu yang aku tabung,"gumam Rengganis dalam hati. Mengingat harus mengambil motor ke bengkel dan membayar taksi yang dipesan oleh Axell untuknya.
"Ini, untuk bayar taksinya,"ucap Axell langsung meraih tangan Rengganis dan meletakkan dua lembar uang berwarna merah di tangan Rengganis.
"Eh, kak! Tidak perlu!"ucap Rengganis yang sempat terkejut. Tapi Axell langsung bergegas melangkah pergi.
"Jaga dirimu baik-baik!"ucap Axell melambaikan tangannya tanpa menghentikan langkahnya, apalagi berbalik menatap Rengganis.
"Terimakasih, kak!"ucap Rengganis sedikit menaikkan nada suaranya.
"Sama-sama,"sahut Axell, kemudian masuk ke dalam mobilnya.
"Dia baik sekali,"gumam Rengganis bergegas masuk ke dalam taksi yang sudah menunggu dirinya.
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
__ADS_1