
Dimas menatap Ayana yang tertunduk saat Ayana memanggil dirinya.
"Ada apa?"tanya Dimas lembut.
"Kak, aku.. aku minta maaf karena telah memaksa kakak menikahi aku. Aku tidak ingin bertemu dengan pria brengseek itu. Aku takut tidak bisa melarikan diri seperti dulu. Aku juga tidak mau Pak Parman kehilangan pekerjaannya karena aku. Setelah mengurung, tidak memberi aku makan dan juga memukuli aku, mama mengancam akan membuat Pak Parman kehilangan pekerjaannya jika aku tetap keras kepala tidak mau menemui Noval. Karena itu, aku terpaksa memaksa kakak menikahi aku. Jika kakak tidak menyukai aku. Aku tidak akan memaksa kakak untuk terus bersamaku. Kakak boleh menceraikan aku, kapanpun kakak mau,"ucap Ayana seraya mengusap pipinya yang sudah basah oleh air mata.
Dimas sempat terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Ayana. Ternyata itu alasannya mengapa gadis ini begitu nekad ingin menikah dengan dirinya. Ayana pasti merasa sangat tertekan dengan apa yang di alaminya kemarin.
"Kamu ini bicara apa? Apa kamu pikir pernikahan itu sebuah permainan?"ujar Dimas menghela napas panjang menatap wajah Ayana yang terlihat pucat,"Akan aku buatkan teh untuk kamu,"ucap Dimas, kemudian melangkah menuju dapur.
Tidak lama kemudian, Dimas kembali ke kamar itu membawa secangkir teh untuk Ayana. Pria itu duduk di tepi ranjang di samping Ayana yang ternyata masih menangis.
"Kenapa masih menangis?"tanya Dimas meletakkan teh yang dibawanya kemudian mengusap air mata Ayana dan merapikan anak rambut Ayana yang menutupi wajahnya.
"Kakak pasti membenci aku, 'kan? Karena aku telah memaksa kakak untuk menikahi aku,"ucap Ayana masih menangis.
"Iya. Aku benci saat melihat kamu menangis. Jadi, jika tidak ingin aku membenci mu, berhentilah menangis dan minum tehnya, agar perut mu terasa hangat,"ucap Dimas kembali menghapus air mata Ayana, kemudian memberikan secangkir teh yang dibuatnya tadi pada Ayana.
Ayana meminum teh yang diberikan oleh Dimas hingga habis setengahnya. Kemudian berhenti meminum nya.
"Sudah?"tanya Dimas. Ayana hanya menganggukkan kepalanya tanpa berani menatap Dimas,"Tidurlah! Agar cepat sembuh,"ujar Dimas membantu Ayana merebahkan tubuhnya.
Keduanya tidur terlentang di bawah selimut yang sama. Ukuran ranjang yang tidak terlalu besar membuat mereka berbaring berdekatan. Keduanya hanya diam tanpa bicara apapun atau pun melakukan apapun. Entah mengapa tiba-tiba merasa canggung. Padahal biasanya tidak pernah merasa canggung seperti saat ini. Karena sudah merasa lelah, akhirnya mereka pun tertidur.
Dimas terbangun lebih dulu, menatap Ayana yang berbaring di sampingnya. Gadis itu masih terlelap dalam tidurnya. Wajahnya masih pucat, dan Dimas juga merasakan tubuh Ayana agak panas saat tanpa sengaja tangan Dimas menyenggol tangan Ayana.
"Kenapa hidupnya bisa seperti ini?"gumam Dimas mengusap kepala Ayana dengan tatapan iba.
Dimas turun dari ranjang dan memperbaiki selimut Ayana. Pria itu keluar dari kamar berniat menyiapkan sarapan.
"Wahh.. pengantin baru sudah bangun aja. Atau jangan-jangan memang nggak tidur semalaman,"ledek Toyib menaik turunkan sebelah alisnya menatap Dimas.
"Berisik! Kalau udah kepengen, kawin sana!"ketus Dimas yang sedang memanggang roti.
__ADS_1
"Yee.. pengantin baru kok, ambekkan. Kawin sih, mudah, nikah yang susah,"sahut Toyib.
"Apa bedanya kawin sama nikah?"gumam Dimas seraya membalik roti nya.
"Ya beda, lah! Kalau nikah itu butuh modal buat mas kawin. Kalau kawin, 'kan, tinggal masuk kamar,"ujar Toyib enteng.
"Plak "
"Auwh!"pekik Toyib saat tiba-tiba Dimas memukul lengannya.
"Omongan kamu itu ngeres!"ketus Dimas.
"Memangnya pasir apa, pakai ngeres segala? Laki bini kok, sama-sama hobi mukul,"gerutu Toyib seraya mengusap lengannya yang di pukul Dimas.
"Udah, mending cuci muka dan kumur-kumur sana! Itu mulut udah mirip hawa naga,"celetuk Dimas.
"Kayak situ sudah pernah ketemu naga, yang aslinya aja. Yang ada, setiap hari juga ngeliat naga dalam celana,"gerutu Toyib.
"Dasar mesum!"umpat Dimas yang merasa kesal pada Toyib. Kerena bicaranya selalu menjurus ke urusan ranjang. Sedangkan Toyib malah tertawa seraya masuk ke kamar mandi.
"Auwh! Kamu pasti nyumpahin aku, ya, Dim?"pekik Toyib yang terpeleset saat baru saja masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan Dimas malah tertawa terbahak-bahak melihat Toyib terlentang di lantai kamar mandi.
"Makannya, kalau jalan hati-hati!"ujar Dimas kembali tertawa.
"Bukannya nolongin, malah ngetawain. Hadeuhh.. encok ini! Siapa yang pengantin baru, siapa yang encok?"gerutu Toyib berusaha berdiri.
"Maaf, ya! Nggak bisa bantu, lagi sibuk,"sahut Dimas menahan tawa seraya membalik roti nya.
"Dasar teman nggak ada akhlak!"gerutu Toyib.
"Mending sekalian mandi, gih! Udah terlanjur basah juga, tuh,"sahut Dimas.
"Duda seperti aku kalau mandi pagi-pagi begini dingin. Beda sama pengantin baru. Kalau dingin tinggal peluk-pelukan,"ujar Toyib seraya menutup pintu kamar mandi, masih menyempatkan diri untuk menggoda Dimas.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Dimas sudah selesai memanggang roti. Pria itu beranjak ke kamar dan melihat Ayana masih terlelap. Dimas pun memilih untuk membersihkan diri. Mengambil bajunya di kamar Toyib.
"Kamu bawa, nih, baju kamu ke kamar kamu. Masa baju kamu bakal kamu taruh di sini. Kamu sudah punya istri, jadi taruh baju kamu di kamar kamu dan istrimu,"ujar Toyib saat masuk ke dalam kamarnya dan melihat Dimas sedang mengambil pakaian di lemari. Toyib nampak menggosok rambutnya yang masih basah.
"Iya, sabar! Nanti aku pindahkan,"sahut Dimas berjalan keluar dari kamar Toyib.
"Dasar pengantin baru,"gumam Toyib tersenyum seraya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.
Toyib duduk di kursi meja makan sambil sarapan saat Dimas baru selesai mandi.
"Ayana belum bangun?"tanya Toyib sambil mengunyah roti panggang buatan Dimas.
"Tadi, sih, belum. Badannya agak demam,"sahut Dimas.
"Wah, kamu bobol gawang secara paksa, ya? Bisa sampai demam begitu,"ujar Toyib menghela napas menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Apanya yang di paksa? Sembarangan kalau ngomong! Dari kemarin Ayana memang sudah sakit,"ujar Dimas ikut duduk di salah satu kursi meja makan dan mengambil roti bakar.
"Ah, iya. Kemarin wajahnya memang terlihat pucat,"sahut Toyib yang mengingat wajah Ayana semalam.
"Ternyata saat dipaksa pulang kemarin, Ayana di kunci di dalam kamar, dipukuli dan tidak diberi makan serta minum oleh mamanya. Karena Ayana menolak bertemu dan pergi bersama cowok yang menjadi penyebab dia trauma itu. Karena itu Ayana jadi masuk angin,"ujar Dimas nampak menghela napas.
"Apa? Tega sekali ibu mertua kamu itu,"sahut Toyib.
"Dan yang bikin Ayana nekad memaksa aku menikahi dia adalah mamanya mengancam akan membuat Pak Parman dipecat dari tempatnya bekerja jika Ayana tidak mau bertemu dengan pria brengseek itu,"imbuh Dimas yang merasa kesal.
"Pantesan Ayana nampak sangat frustasi dan putus asa,"gumam Toyib merasa prihatin,"Aku harap kamu bisa membahagiakan Ayana, Dim! Aku sudah menganggap Ayana seperti adikku sendiri. Aku sangat menyayangi Ayana. Tolong jangan pernah menyakiti hatinya, karena aku tidak akan terima,"ucap Toyib dengan tatapan serius.
"Aku tidak bisa berjanji, tapi aku akan berusaha semampu aku untuk membahagiakan dia,"sahut Dimas.
...🌸❤️🌸...
.
__ADS_1
.
To be continued