
"Walaupun Ayana menyembunyikannya, tapi aku bisa melihat kesedihan dan kekecewaan di mata Ayana,"ujar Diky.
"Aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang kamu bicarakan, Dik,"sahut Dimas menatap Diky dengan penuh tanda tanya.
"Yang jelas kalau bicara, Dik! Aku juga tidak mengerti dengan maksud kamu,"imbuh Toyib ikut duduk di salah satu kursi meja makan.
"Ayana benar-benar tidak bercerita jika tadi sore dia hampir celaka?"
"Apa?"tanya Toyib dan Dimas bersamaan.
Diky menghela napas melihat reaksi kedua sahabatnya itu,"Sepertinya Ayana benar-benar tidak bercerita. Pangeran kampus, orang tertampan dan terkaya di kampus tempat Ayana kuliah. Pemuda itu menyukai Ayana dan mengejar-ngejar Ayana sejak hari pertama ospek. Walaupun sudah berulang kali Ayana mengatakan jika Ayana sudah menikah, tapi mahasiswa itu tidak percaya dan tetap mengejar-ngejar Ayana. Dan tadi, mantan pacar mahasiswa itu menghadang Ayana dan Wulan bersama dua orang temannya di jalan yang sepi. Cewek itu ingin memperingati Ayana agar tidak mendekati, apalagi jadian sama pangeran kampus dengan cara melukai Ayana. Dia menyerang Ayana dengan pisau lipat. Sedangkan kedua orang temannya mencoba merebut handphone Wulan yang sedang merekam kejadian itu. Dari vidio live Instagram Wulan itulah aku tahu bahwa mereka dalam masalah. Dan aku cepat-cepat mendatangi lokasi. Saat aku tiba di lokasi Wulan dan Ayana berada, aku melihat Ayana terjatuh dan cewek itu ingin menghujam Ayana dengan pisau lipatnya. Karena takut tidak bisa menyelamatkan Ayana lagi jika harus turun dulu dari mobil, akhirnya aku menembak tangan cewek itu dari dalam mobil. Kami langsung menggelandang tiga cewek itu ke kantor polisi. Kami pulang terlambat karena kami membuat laporan ke kantor polisi. Sepertinya, Ayana agak syok dengan kejadian itu,"ujar Diky panjang lebar.
"Kenapa dia tidak bercerita padaku mengenai hal sebesar ini?"tanya Dimas setelah mendengar penuturan Diky.
"Pantas saja hari ini Ayana nampak berbeda. Walaupun dia berusaha bersikap ceria seperti biasa, aku tetap merasa ada yang berbeda dari Ayana. Dan yang pastinya, dia tidak banyak bicara seperti biasanya. Tapi, apa alasnya tidak menceritakannya pada kami tentang masalah ini, terutama pada Dimas?"tanya Toyib yang tidak mengerti dengan sikap Ayana.
"Padahal aku sudah bertanya padanya. Apa ada yang menganggu pikirannya? Tapi dia tetap tidak mau menceritakan apapun padaku,"sahut Dimas menghela napas panjang.
"Aku rasa, Ayana merasa syok karena mengalami kejadian tadi. Dan dia menjadi sedih dan kecewa kepadamu, Dim,"sahut Diky.
"Kecewa padaku? Kenapa dia kecewa padaku?"tanya Dimas benar-benar tidak mengerti.
"Apa kamu tidak merasa, kejadian ini juga ada kaitannya dengan kamu? Kamu selalu menolak jika Ayana ingin kamu antar ke kampus. Aku rasa, inilah alasan mengapa Ayana ingin sekali kamu antar ke kampus. Dia ingin menunjukkan pada semua orang bahwa dia sudah memiliki kamu. Jika kamu sering mengantarkan dia ke kampus, mungkin itu cowok bakal percaya kalau Ayana sudah memiliki pasangan,"jelas Diky.
"Mana aku tahu jika maksud Ayana ingin aku antar ke kampus adalah untuk menunjukkan pada semua orang jika dia sudah memiliki pasangan dan untuk menghindari cowok yang naksir sama dia?"sahut Dimas.
"Dasar tidak peka!"sergah Toyib dan Diky bersamaan dengan ekspresi wajah yang terlihat geram.
"Eh, kenapa kalian jadi kompak marah padaku?"protes Dimas.
"Karena kamu memang pantas untuk dimarahi!"sahut Diky.
"Kamu sudah membuat adikku sedih dan kecewa,"timpal Toyib.
"Coba ingat! Sudah berapa kali Ayana meminta kamu untuk mengantarkan dia ke kampus? Tapi sekalipun kamu belum pernah mengantarkan dia. Apalagi menjemput Ayana di kampusnya,"ujar Diky.
__ADS_1
"Kamu juga tidak pernah mengantar jemput Wulan,"kilah Dimas.
"Kami sedang marahan. Bagaimana mungkin aku mengantar dan menjemput dia kalau kami sedang marahan? Sedangkan sekarang, aku tidak ingin dekat dengan dia agar aku tidak khilaf lagi sebelum kami menikah"ujar Diky membela diri.
"Selama hidup bersama kamu, Ayana tidak pernah meminta apapun dari kamu, Dim. Dia hanya minta waktu dari kamu. Tapi sekedar untuk mengantar atau menjemput dia saja, kamu tidak punya waktu. Wajar jika dia kecewa pada kamu!"imbuh Toyib.
"Kalian benar. Aku yang salah,"sahut Dimas menghela napas panjang. Dimas baru menyadari jika akhir-akhir ini kurang menyisihkan waktu untuk Ayana. Bahkan Ayana terlihat kesal saat waktu kebersamaannya dengan dirinya diganggu. Seperti saat Geno menelpon waktu itu. Ayana jelas-jelas mengatakan jika tidak ingin waktu kebersamaannya dengan dirinya di ganggu.
"Memang kamu yang salah!"sergah Toyib dan Diky bersamaan. Terlihat kesal pada Dimas.
"Kalau begitu, aku balik dulu ke kamar,"pamit Dimas bergegas pergi meninggalkan kedua orang sahabatnya yang terlihat kesal padanya itu. Sebelum dirinya mendapat amukan dari kedua sahabatnya itu.
Dimas kembali ke kamarnya dan melihat Ayana masih terlelap. Pria itu perlahan naik ke atas ranjang dan membelai rambut istrinya.
"Maaf! Aku tidak peka dan membuat kamu kecewa,"ucap Dimas penuh sesal.
Dimas membaringkan tubuhnya, kemudian merengkuh Ayana dalam dekapannya. Merasa bersalah karena telah mengabaikan permintaan kecil dari Ayana.
Pagi harinya, Dimas terbangun saat merasakan pergerakan Ayana yang berada dalam dekapannya. Ayana mencoba melepaskan dekapan Dimas, tapi Dimas malah mempererat dekapannya.
Perlahan Dimas membuka matanya dan menatap Ayana yang sedang menatapnya.
"Kenapa tidak menceritakan kejadian kemarin padaku?"tanya Dimas dengan suara serak khas bangun tidurnya itu.
Ayana sempat terhenyak mendengar pertanyaan Dimas. Yang artinya Dimas sudah mengetahui tentang kejadian kemarin.
"Aku tidak ingin kakak kepikiran karena masalah itu,"sahut Ayana menundukkan kepalanya, tidak ingin bertatapan dengan suaminya.
"Kita ini suami istri. Kenapa kamu malah menyembunyikannya hal sebesar ini padaku? Kenapa aku harus mengetahuinya dari orang lain? Apa kamu sudah tidak menganggap aku ini sebagai suami kamu lagi?"tanya Dimas yang merasa kecewa karena Ayana tidak jujur padanya. Apalagi malah mengetahui apa yang terjadi pada istrinya sendiri dari orang lain.
"Bukan begitu. Aku hanya tidak mau kakak merasa terbebani dengan masalahku,"sahut Ayana pelan.
Dimas menghela napas panjang, kemudian memegang dagu Ayana dengan jari telunjuk dan jari jempolnya. Mengangkat wajah Ayana agar istrinya itu menatapnya.
"Ay, kenapa kamu bersikap seperti ini? Aku ini suami kamu. Kenapa kamu tidak mengatakan padaku jika ada mahasiswa yang mengejar-ngejar kamu? Kenapa kamu tidak mengatakan secara langsung jika kamu ingin aku antar ke kampus karena kamu ingin menunjukkan pada semua orang jika kamu sudah memiliki pasangan? Katakan apa yang ada di dalam hati secara langsung padaku, Ay. Jangan memberiku kode. Aku bukan brankas yang membutuhkan kode. Aku juga bukan cenayang yang bisa meramalkan isi hati kamu,"ujar Dimas menatap lekat wajah Ayana.
__ADS_1
"Maaf!"ucap Ayana menundukkan pandangannya.
Dimas merengkuh Ayana dalam dekapannya, lalu memejamkan matanya,"Akulah yang seharusnya minta maaf. Aku tidak punya banyak waktu untuk kamu. Ke depannya, aku yang akan mengantarkan kamu kuliah dan menjemput kamu saat pulang kuliah,"
"Kakak tidak perlu melakukan itu,"sahut Ayana.
"Jangan membantah! Berdosa jika membantah suami kamu sendiri,"
"Aku ingin menyiapkan sarapan, kak,"ucap Ayana mengalihkan pembicaraan. Kebetulan juga karena hari semakin terang dan Ayana belum menyiapkan sarapan.
"Biar aku bantu,"ucap Dimas kemudian melepaskan dekapannya pada Ayana.
Sepasang suami-isteri itu akhirnya bangun dan menyiapkan sarapan pagi bersama-sama. Ayana terlihat senang karena Dimas membantunya membuat sarapan.
Dimas menatap Ayana penuh rasa sesal,"Aku seharusnya mengutamakan kamu di atas segalanya. Karena hanya kamu satu-satunya yang aku miliki. Kamu tidak pernah minta yang macam-macam dari ku. Hanya waktu yang kamu pinta dariku. Tapi aku masih saja membuat kamu kecewa,"sesal Dimas dalam hati.
...ππΉπ...
...CINTA ...
...Cinta adalah saat kamu merasa bahagia bersama dengan dia walaupun tidak melakukan apa-apa....
...Saat kamu merasa mampu menghadapi dunia bila kamu bersamanya....
...Saat dia mampu membuatmu merasa menjadi satu-satunya yang sempurna saat bersamanya....
...Ketika kebahagiannya lebih penting daripada kebahagiaanmu sendiri....
...Dan cinta bukanlah bagaimana kita melupakan kesalahannya, tapi bagaimana kita memaafkannya....
...πΈβ€οΈπΈ...
.
To be continued
__ADS_1