SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
48. Masih Ganteng Aku


__ADS_3

"Iya. Saya di paksa bertemu dengan seorang pemuda yang ingin dijodohkan dengan saya, yang ternyata berniat melecehkan saya. Tapi orang tua saya tidak percaya dengan apa yang saya katakan,"jelas Ayana.


"Kenapa bisa begitu?"tanya dokter itu.


"Kejadian ini terjadi sekitar enam bulan yang lalu. Saya melarikan diri dari orang yang akan dijodohkan dengan saya yang berniat jahat pada saya itu. Tapi malah bertemu tiga preman yang ingin melecehkan saya. Dan saya mengalami trauma karena hal itu. Bahkan sampai saat ini, kedua orang tua saya tidak pernah tahu jika saya mengalami trauma,"jelas Ayana panjang lebar.


"Kenapa orang tuamu bisa tidak tahu jika kamu mengalami trauma?"tanya dokter itu heran.


"Karena semenjak saya melarikan diri dari waktu itu, saya tidak pernah pulang. Selama enam bulan saya tinggal bersama pacar saya. Saya tidak mau pulang karena takut dipaksa bertemu dengan pria brengseek itu. Tapi kemarin orang tua saya membawa paksa saya untuk pulang,"jelas Ayana yang diselipi kebohongan. Mengatakan sudah punya pacar, tapi nyatanya belum.


"Apa buktinya kalau kamu mengalami trauma?"tanya dokter itu tidak bisa percaya begitu saja.


"Dokter bisa menghubungi dokter Darlis. Pacar saya sudah beberapa kali membawa saya ke sana untuk mengobati trauma saya,"sahut Ayana.


"Kebetulan saya kenal dengan dokter Darlis. Dia adalah teman saya. Saya akan buktikan, kamu bohong atau tidak. Siapa namamu?'tanya dokter itu seraya mengambil handphonenya dari saku bajunya.


"Ayana Maharani,"sahut Ayana.


Dokter itu pun akhirnya menelpon psikolog Ayana. Setelah beberapa menit bicara dengan psikolog Ayana, akhirnya dokter itupun mengakhiri panggilan teleponnya. Dokter itu kemudian menatap Ayana seraya menghela napas berat..


"Kenapa saya harus berbohong kalau kamu sedang hamil?"tanya dokter itu.


"Agar saya mempunyai alasan untuk menikah dengan pacar saya. Karena hanya itu cara satu-satunya untuk keluar dari rumah ini,"sahut Ayana.


"Lalu bagaimana dengan sekolah kamu?"tanya dokter itu lagi.


"Saya akan tetap sekolah. Saya tidak ingin mengecewakan pacar saya. Karena selama ini dia yang terus memotivasi saya agar terus bersekolah. Bahkan dia yang membiayai sekolah dan hidup saya selama enam bulan ini,"jawab Ayana.


"Saya periksa kamu dulu,"ujar dokter itu.


Dokter itu masih belum menyetujui apa yang diinginkan Ayana. Selama diperiksa, Ayana terus membujuk dan memohon pada dokter itu. Hingga akhirnya dokter itu selesai memeriksa dirinya.


"Tekanan darah normal. Hanya saja asam lambung kamu naik, hingga menyebabkan kamu masuk angin, mual dan muntah,"ujar dokter itu memberikan beberapa obat pada Ayana.


"Dari siang sampai pagi, mama mengunci saya di kamar dan tidak memberi saya makanan bahkan air minum pun tidak. Karena itu saya masuk angin,"ujar Ayana membuat dokter itu menghela napas.


"Baiklah, saya akan mengatakan kalau kamu mungkin sedang mengandung. Dan saya akan merekomendasikan orang tua kamu untuk memastikannya ke rumah sakit. Jadi, sebelum kamu di periksakan kerumah sakit dan kamu ketahuan tidak hamil, sebaiknya kamu segera menjalankan rencana kamu. Saya hanya bisa membantu sampai di situ,"ujar dokter itu.


"Terimakasih, dok!"ucap Ayana dan dokter itu hanya mengangguk pada Ayana, lalu meninggalkan kamar Ayana.


"Bagaimana keadaan putri kami, dok?"tanya Hilda yang sudah lama menunggu. Sedangkan Ayana mengintip dari lantai atas. Ingin tahu apa yang akan dikatakan oleh dokter pada orang tuanya. Masih ragu apakah dokter itu mau membantunya.

__ADS_1


"Apa kemarin selama seharian anda tidak memberi makan putri anda?"tanya dokter itu membuat Geno terkejut dan menoleh pada Hilda.


"Ah, iya. Saya kemarin terlalu marah padanya,"sahut Hilda membuat Geno menghela napas panjang.


"Apa putri anda punya trauma?"tanya dokter itu lagi.


"Tidak ada, dok,"jawab Hilda yakin,"Memangnya kenapa, dok?"tanya Hilda lagi.


"Anda memukuli putri anda sendiri. Saya bisa melaporkan anda atas tindakan KDRT,"ujar dokter itu lagi tanpa menjawab pertanyaan Hilda.


"Jangan, dok! Saya kemarin benar-benar khilaf,"ujar Hilda nampak panik


"Mama memukuli Ayana?"tanya Geno yang memang tidak tahu, karena bekas pukulan di tubuh Ayana tertutup baju. Nampak guratan kekecewaan di wajah Geno.


"Lalu, sebenarnya putri saya sakit apa, dok?"tanya Hilda tanpa merespon pertanyaan Geno.


Dokter itu nampak menghela napas, kemudian berkata,"Menurut prediksi saya, kemungkinan putri anda sedang mengandung. Tapi untuk lebih akuratnya, kalian bisa memeriksanya ke rumah sakit. Siapa tahu prediksi saya salah. Dan tolong jangan melakukan KDRT lagi, atau saya akan melaporkan anda ke pihak yang berwajib. Saya permisi,"ujar dokter itu kemudian meninggalkan rumah itu dengan perasaan kecewa.


Ayana yang mendengar pembicaraan orang tuanya dengan dokter itu pun merasa senang dan bergegas kembali ke kamarnya dengan tubuh yang terasa lemas.


Setelah dokter pergi, Geno dan Hilda pun bergegas masuk ke kamar Ayana.


"Katakan, Ay!"pinta Geno dengan suara berat.


"Ada apa ini?"tanya Nando yang tiba-tiba muncul.


"Anak badung ini, pulang-pulang hamil,"ketus Hilda membuat Nando membulatkan matanya.


"Katakan, Ay! Siapa yang menghamili kamu?"tanya Geno sekali lagi.


"Kak Dimas,"sahut Ayana menundukkan kepalanya,"π™ˆπ™–π™–π™› 𝙠𝙖𝙠, 𝙖𝙠π™ͺ π™©π™šπ™§π™₯𝙖𝙠𝙨𝙖 π™’π™šπ™‘π™–π™ π™ͺ𝙠𝙖𝙣 π™žπ™£π™ž π™₯𝙖𝙙𝙖 𝙠𝙖𝙠𝙖𝙠. π™Žπ™šπ™’π™€π™œπ™– 𝙠𝙖𝙠𝙖𝙠 𝙒𝙖π™ͺ π™’π™šπ™’π™–π™–π™›π™ π™–π™£ 𝙖𝙠π™ͺ,"gumam Ayana dalam hati.


"Antar kami pada orang itu!"titah Geno dengan ekspresi wajah yang suram.


Dengan tubuh yang masih lemas, Ayana berjalan di papah Geno menuju mobil diikuti oleh Hilda dan Nando.Nando mengemudikan mobil, Geno duduk di sebelah Nando, sedangkan Hilda dan Ayana duduk di kursi penumpang.


"Aku jadi penasaran, seperti apa pacar kamu itu. Aku yakin, aku pasti lebih tampan dari pacarmu itu,"ujar Nando percaya diri, sedangkan Ayana hanya menatap sinis pada Nando melalui kaca spion dalam mobil.


"Apa pekerjaan pacarmu itu?"tanya Geno.


"Papa tanya saja nanti pada orangnya langsung,"sahut Ayana.

__ADS_1


"Jangan-jangan pacar kamu itu pengangguran. Lihatlah! Rumahnya pun masuk perkampungan seperti ini. Percuma punya wajah yang cantik kalau nggak bisa cari cowok kaya,"cibir Nando tapi Ayana hanya diam. Nando menduga bahwa pacar adiknya pasti orang miskin, mengingat saat ini mereka memasuki sebuah kampung.


Cuaca malam itu terasa dingin, dan langit pun tertutup awan. Akhirnya mobil Nando pun terparkir di depan sebuah rumah sederhana.


"Ini rumahnya?"tanya Hilda nampak membuang napas kasar.


"Iya,"sahut Ayana membuat Hilda kecewa. Geno nampak menghela napas panjang sedangkan Nando nampak tersenyum meremehkan.


Geno berdiri di depan pintu rumah itu bersama Hilda seraya mengetuk pintu. Sedangkan Nando dan Ayana berdiri di belakang Geno dan Hilda. Setelah mengetuk pintu beberapa kali, akhirnya pintu itupun terbuka, menampilkan seorang pria yang memakai kaos oblong dan celana pendek.


"Itu pacar kamu? Masih ganteng aku,"bisik Nando pada Ayana, sedangkan Ayana hanya diam. Ya, memang, lebih tampan Nando sedikit dari pria yang membuka pintu itu.


"Maaf, mau cari siapa?"tanya pria yang tidak lain adalah Toyib.


"Apa kamu yang bernama Dimas?"tanya Geno dengan tatapan tajam dan wajah yang terlihat suram dan kedua tangan yang mengepal erat.


"Oh, cari Dimas?"ujar Toyib kemudian menoleh ke dalam rumah,"Dim, ada yang nyari kamu, nih!"teriak Toyib karena merasa tidak senang dengan Geno yang datang dengan tatapan tajam dan wajah yang terlihat suram.


Tak lama kemudian Dimas pun keluar membuat Nando menelan salivanya kasar. Pria yang berjalan menghampiri mereka itu jauh lebih tampan dari dirinya.


"Maaf, dengan siapa, ya? Ada perlu apa mencari saya?"tanya Dimas sopan.


"Jadi kamu yang namanya Dimas?"tanya Geno dengan suara berat.


"Iya, saya Dim.."


"Bugh"


"Bugh"


"Bugh"


"Papa! Jangan!"


...🌸❀️🌸...


.


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2